
Nara setengah berlari mencari Yura di balkon bahkan di kamar mandi. Namun, lelah ia mencari, Yura masih tidak ia temukan. Hingga akhirnya pintu kamar mereka terbuka dan menampakkan wujud Yura di ambang pintu.
"Nana? Apa yang kau cari?" kebingungan.
" Yura, kau dari mana saja? Aku sudah mencari mu dari tadi."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Tanya Yura kembali mengalihkan pertanyaan Nara padanya.
"Kemari lah, duduk di sini sebentar. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu tentang Mike."
"Mike?!"
Ucap Yura bingung, saat tangannya di tarik untuk segera masuk oleh Nara dan menyuruhnya duduk di tepian tempat tidur.
"Ada apa dengan bocah itu?"
Ucap Yura kembali semakin penasaran.
"Apa kau tahu, ternyata Mike sudah duluan tahu kalau ayah dan papa kembali hari ini?!"
"Lalu apa masalahnya?" yura bingung.
" Masalahnya adalah, kenapa Mike tidak mengatakannya pada kita?"
"Ya terus? Mungkin saja dia lupa, ya kan?"
Ucap Yura lagi meyakinkan Nara dan segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tapi dia juga berbohong pada ayah Yura! Di tambah lagi, ini bukanlah yang pertama dia seperti ini."
"Berbohong? Apa maksudmu Nana?"
Ucap Yura semakin bingung dan segera bangun untuk duduk kembali.
"Kau ingat tidak, saat beberapa waktu lalu. Ayah mendapat pesan dari Mike jika waktu itu dia sedang mengikuti tambahan jam pelajaran. Padahal waktu itu saat kau menelfon nya, dia tengah ada di tepian danau. Saat dia kembali, raut wajahnya berbeda dan tidak langsung menemui ayah."
"Karena saat itu dia tengah sakit bukan?"
Ucap Yura memotong penjelasan Nara.
"Tidak Yura! Yang aku maksudkan itu, kenapa dia berbohong dengan mengatakan ada jam pelajaran tambahan. Sat inipun sama halnya dengan waktu itu. Tadi ayah mengatakan jika Mike ada pelajaran tambahan, dan akan pulang sangat terlambat. Tapi nyatanya, dia malah duduk santai di lapangan. Padahal, biasanya saat ayah dan papa tidak di sini dia tidak pernah seperti ini. Bagaimana menurutmu?"
"Hem, kau benar Nana. Apa terjadi sesuatu ya, dengannya?"
Ucap Yura menatap matanya menerawang ke atas, memikirkan keanehan yang terjadi pada Mike.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita bertanya langsung padanya. Kau setuju tidak?"
Ucapnya lagi mengatakan pendapatnya pada Nara, dan sontak gadis itu mengangguk menyetujui ajakan Yura...
***
Setelah meyakinkan niat mereka tadi. Sekarang saatnya Yura dan Nara keluar dari rumah mengemudikan mobil hadiah mereka ke tempat terakhir Mike berada, dan benar saja, pria cantik itu masih berada di sana dan masih dengan posisi yang sama.
"Mike...?!"
Panggil mereka serentak, dan sontak membuat pria itu terkejut melihat kearah mereka.
Setelah tahu jika yang datang itu adalah kedua kakaknya, ia pun kembali merebahkan diri dan memejamkan matanya.
"Mike? Bisakah kita bicara?"
Ucap Nara lembut duduk di sebelah adiknya itu, dan di ikuti oleh Yura di sampingnya.
"Ada apa dengan raut wajahmu itu Kak? Dan apa yang harus kita bicarakan?" menatap bingung.
"Mike, apa kau akhir-akhir ini ada masalah?"
"Apa maksudmu?" semakin bingung.
"Mike, apa kau ada masalah yang belum kau ceritakan pada kami, heh?"
"Mike, jika kau tidak membicarakannya pada kami, bagaimana kami bisa tahu jika kau ada masalah. Ceritakan lah pada kami, agar beban mu bisa sedikit berkurang."
Bujuk Yura kembali menggenggam tangan pria yang sudah di anggapnya seperti adik kandungnya itu.
"Aku tidak apa-apa..."
Ucap Mike setelah sekian detik lamanya ia terdiam. Tapi, bukan Yura namanya jika ia tidak bisa mendapat jawaban dengan pertanyaannya itu.
Sesaat Yura terdiam memikirkan sebuah ide untuk membujuk Mike, hingga akhirnya ide cemerlangnya muncul dan segera melancarkan aksinya.
"Baiklah kalau begitu. Ayo Nana kita pulang, dan kita akan menemui ayah secara langsung. Aku akan mengatakan pada ayah perihal putra kesayangannya ini yang sudah berani berbohong agar tidak menemui ayahnya sendiri, dan malah mengatakan alasan tambahan jam pelajaran. Bukan hanya sekali, tapi ini adalah yang kedua kalinya bukan???"
Sindir Yura yang secara tidak langsung mengancam Mike agar ia mengatakan semuanya, dan Nara yang sadar akan tingkah sahabatnya itupun langsung mengiyakan, dan berdiri mengikuti Yura.
Mike yang mendengar peringatan Yura itupun langsung merasa gugup dan segera berdiri menghentikan kedua kakaknya itu.
"Tidak Kak, jangan katakan pada ayah. Aku mohon...?!"
Rengek nya menggenggam langsung lengan Yura dan matanya yang sudah berlinang.
"Mike?!"
__ADS_1
Ucap Yura tidak percaya dengan respon pria itu, dan langsung saja Yura membawa pria itu ke dalam pelukannya. Sedangkan Nara, saat ini wajahnya begitu cemas melihat tingkah adiknya itu.
"Ada apa Mike? Kenapa kau seperti ini? Katakanlah padaku, apa yang terjadi?"
Ucap Yura gelisah, melihat Mike yang sudah mulai meneteskan air matanya. Yura berulang kali menanyakan keadaan Mike dan menenangkannya. Termasuk Nara yang ikut mengelus lembut kepala adiknya itu...
***
Saat ini, mereka bertiga sudah duduk dengan saling berhadapan di tengah lapangan itu. Yura juga bahkan sudah menyediakan minuman beserta camilan yang di ambilnya dari dalam mobilnya.
"Mike, apa kau sudah bisa memulainya?"
Ucap Nara melihat gelagat Mike yang saat ini tengah gelisah itu.
"Mike, katakanlah. Tidak usah takut, kita pasti punya solusi untuk masalahmu nanti."
Ujar Yura kembali setelah ucapan Nara yang tidak di gubris oleh Mike.
"Aku tidak tahu harus mengatakannya dari mana..."
Ucap Mike pelan, dan sontak Yura menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya ia kembali menggenggam tangan Mike, agar pria itu bisa lebih berani dan tenang untuk menceritakannya.
"Yura, ayahmu... dia..," ragu-ragu.
"Dia kenapa Mike? Teruskan saja, aku siap mendengarkannya." wajah meyakinkan.
"Aku... aku melihatnya 2 bulan lalu." sangat hati-hati.
"Terus...?" semakin tegang.
"Dia bersama seseorang. Seorang gadis yang kira-kira berumur 10 tahun di taman bermain..."
"Benarkah? Apa kau yakin Mike? Tapi, siapa gadis itu? Apa kau mengenalnya?"
Ucap Yura bertubi-tubi melontarkan rasa penasarannya pada Mike.
"Aku tidak tahu kak, tapi mereka begitu akrab. Tapi yang membuatku lebih bingung lagi, gadis cilik itu memanggil ayahmu dengan panggilan papa..."
Sontak Yura terdiam, dan raut wajahnya seketika berubah. Bibirnya bergetar, dan matanya pun memerah.
Nara yang ikut mendengar ucapan Mike itupun sama tidak kalah terkejutnya dengan Yura. Ia bahkan kembali menyentuh lengan Mike, mengisyaratkan jika yang di katakan pria itu benar atau tidak. Tapi tanggapan Mike tetaplah sama.
Yura menggelengkan kepalanya tidak percaya berulang kali. Ia segera berdiri dan mengalihkan pandangannya ke lapangan lepas. Sedang Nara yang sadar akan perasaan sahabatnya saat inipun segera berdiri menyusul Yura dan memeluk gadis itu.
"Nana, apa yang di katakan Mike barusan? Apa aku harus mempercayainya? Tidak, papa tidak mungkin punya putri lain selain aku. Jika memang itu benar, apakah papa berselingkuh dari mama?"
Ucap Yura dengan air matanya yang sudah mengalir di pipi chuby nya...
__ADS_1