My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 36


__ADS_3

Yura berjalan keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya yang basah. Bukannya mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, ia malah memilih untuk berdiri di balkon kamarnya seraya menatap matahari sore yang sebentar lagi akan kembali ke persembunyiannya.


Sejenak ia menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong, sebelum akhirnya ia kembali duduk ke ayunan.


"Kenapa kalian semua melakukan ini padaku? Tidak hanya kau pa, tapi juga dengan Nana. Apa rasanya begitu menyenangkan mengkhianati dan mempermainkan perasaanku?"


Gumamnya pelan seraya kembali terbayang kejadian tadi saat di padang rumput. Tanpa sadar air matanya mengalir keluar, dan iapun tidak sanggul lagi untuk menahan tangisannya hingga membuatnya terisak...


Flashback


Yura masih memperhatikan gadis kecil di depannya yang saat ini tengah kegirangan berlarian ke sana ke mari dengan anjing kecilnya, dan sontak pemandangan itu membuat kedua sudut bibir Yura terangkat ke atas. Tapi, tidak lama seketika raut wajahnya berubah dan bibirnya yang tadi tersenyum sekarang malah berubah kembali datar.


Perlahan, ia bangun dan berjalan mencoba lebih dekat lagi dengan gadis itu. Ia melakukannya bukan penasaran ingin melihat gadis itu, tapi pria paruh baya yang datang menghampirinya itu.


"Papa, ayo kejar aku..."


Teriak gadis kecil itu memanggil pria paruh baya yang tidak jauh darinya dengan panggilan papa. Merasa pendengarannya kurang baik, Yura pun memutuskan untuk lebih mendekat lagi.


"Papa akan mengejar mu, Ana?! Ayo Moli, kita kejar gadis kecil ini. Hahaha..."


Teriak pria paruh baya itu, dan berpura-pura memanggil anjing kecil bernama Moli yang merupakan hadiahnya untuk putri kecilnya itu mengejar Anastasia yang sudah lebih dulu menjauh.


"Papa..."


Ucap Yura lirih, menyebut orang yang saat ini tengah berlarian bersama gadis kecil itu dengan sebutan papa.


Seketika Yura terdiam, tubuhnya gemetar dan bibirnya tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan sepatah katapun. Air matanya semakin deras, dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, iapun langsung pergi berlari dari sana menuju mobilnya.


"Kenapa Pa, kenapa...!!!"


Teriaknya kesal memukul setir mobilnya berulang kali dengan keras. Lengkap sudah kekecewaannya untuk hari ini. Tidak hanya dengan Bram, tapi juga dengan Nara. Gadis yang sudah di anggapnya sebagai saudara bahkan lebih dari itu.

__ADS_1


Yura menangis sejadi-jadinya, hingga membuatnya lelah dan memutuskan untuk segera pulang tanpa tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Yang pasti, saat ini hatinya benar-benar hancur berkeping-keping...


***


Yura menangis di kamarnya. Sedangkan Nara, saat ini tengah berbaring di pangkuan ibunya seraya menceritakan semua kegelisahannya dengan sesenggukan. Liana yang mendengarkan penjelasan putrinya itupun hanya bisa diam dengan sesekali menganggukkan kepalanya.


"Aku harus bagaimana, Bu? Sepertinya dia benar-benar marah dan kecewa padaku. Aku benar-benar menyesal, Bu..."


Ucap Nara sesenggukan di sela tangisannya, dan belaian lembut tangan Liana pun tidak lepas dari kepala putrinya itu.


"Sayang. Untuk masalah ini, ibu tidak bisa ikut campur. Tapi, alangkah sebaiknya kamu memberikan waktu sebentar untuk Yura meredam amarahnya. Tunggulah beberapa saat. Setelah dia reda, barulah kamu menjelaskan semuanya secara perlahan. Apa kau mengerti, sayang?"


"Apakah menurut Ibu, dia akan memaafkan ku? Bagaimana jika dia tetap seperti itu sampai kapanpun?"


Ucap Nara ragu setelah mendengar penjelasan ibunya itu. Bukannya ragu, hanya saja jika di lihat dari bagaimana kecewa dan marahnya saat ini, akan sangat sulit untuk mengembalikan segalanya seperti awal. Di tambah lagi, ini adalah pertama kalinya Yura bersikap seperti itu padanya.


"Yura itu bukan hanya sahabatmu, sayang? Tapi kalian lebih dekat dari pada saudara. Ibu yakin, dia tidak akan mampu untuk marah padamu lebih lama lagi. Karena hubungan kalian tidaklah seburuk itu."


"Benarkah, Bu?"


"Ibu benar, terimakasih Ibu..."


Nara pun bangun dan langsung memeluk ibunya itu, dan Liana pun kembali mendekap tubuh putrinya itu dengan sayang.


"Hem, kapan kau akan dewasa sayang?"


"Suatu hari nanti Bu..."


Ucap Nara seraya semakin mengeratkan pelukannya pada Liana. Sedangkan Liana sendiri, langsung tertawa pelan mendengar jawaban putrinya itu.


"Dasar kau?! Sekarang, ayo turun. Mandi sana, ganti bajumu dan segeralah makan. Sebentar lagi malam, dan kau masih betah dengan bau keringat seperti ini? Kau benar-benar gadis yang buruk, sayang?"

__ADS_1


Ucap Liana lagi seraya tertawa mengejek putrinya itu, dan sontak Nara mengerucutkan bibirnya pura-pura kesal...


***


Di lain tempat. Yakni di kediaman Juan, tampak pria itu saat ini duduk di depan TV ruang tamunya dengan wajah buram. Tidak beberapa lama, datanglah seorang gadis kecil yang memanggilnya kakak dan berlari ke arahnya.


"Kakak, kau dari mana saja? Kenapa tidak ikut denganku tadi bersama mama dan papa?"


"Kakak lelah, Ana?"


Ucap Juan pada gadis kecil yang di panggilnya Ana itu, dan sontak gadis itu melipat kedua tangannya ke depan dan membuat ekspresi wajah cemberut.


"Baiklah, maafkan kakak ya?"


Ucap Juan kembali setelah menyadari ekspresi adiknya yang tengah kesal itu. Sontak kata maafnya itu membuat Ana luluh, dan kembali tersenyum seperti semula.


"Apa kakak tahu, aku punya teman baru loh? Namanya juga cantik. Kakak mau tahu tidak, siapa teman baruku itu?"


"Siapa...?" dengan wajah penasaran.


"Moli... dan itu dia?!"


Teriak Ana antusias seraya menunjuk anjing kecil yang diberinya nama moli itu, dan juga hadiah pemberian dari ayahnya yang tak lain adalah Bram.


"Dari mana kau mendapatkan hewan itu, Ana?"


"Tentu saja dari papa. Memangnya dari siapa lagi? Kalau mama, mana mau kasih moli padaku kak." dengan wajah ceria.


"Hem, baiklah. Kalau begitu kakak ke kamar dulu ya? Kakak gerah mau mandi."


Ucap Juan pada Ana, dan sontak gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Juan segera berlalu ke kamarnya, sedangkan Ana kembali bermain dengan Moli hewan kesayangannya itu dengan gembira.

__ADS_1


"Pria seperti itu tidak pantas di sebut papa! Tunggulah hingga aku dewasa sedikit lagi Bram, maka aku akan membuatmu menyesal karena telah menyakiti ibuku. Tidak hanya itu, aku juga akan membuatmu menyesal karena telah menelantarkan Ana yang seharusnya dapat pengakuan resmi darimu...!"


Janji Juan dalam hatinya dengan raut muka merah padam. Marah jika kembali teringat akan beberapa tahun silam, saat ibunya hamil dan melahirkan Ana hanya dengan status istri simpanan. Ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan kedua tangan yang mengepal kuat...


__ADS_2