
"Nara, apa yang kau lakukan disini tengah malam begini Nak...?"
"Ibu...?!"
"Ada apa Nak? Kenapa kau menangis? Katakan apa yang terjadi...?"
Ucap Liana khawatir, saat melihat Nara yang tengah melamun dan menangis di kursi taman depan. Ia segera duduk disebelah putrinya yang terlihat kaget dengan kedatangan nya itu.
"Kenapa sayang?"
Ucapnya kembali dan langsung mendekap tubuh putrinya itu, mengusap lembut rambut panjangnya dan sesekali mencium puncak kepalanya.
Dengan bersusah payah, Nara pun menceritakan semua hal yang sudah terjadi disekolah tadi antara ia dan Yura. Tidak lupa juga dengan sikap dingin Yura, sejak mereka sampai di rumah hingga malam ini. Hal itu benar-benar membuat Nara sedih. Hingga membuatnya tidak sanggup lagi untuk menahannya, dan terpaksa mencurahkan semua rasa sedihnya di taman hingga larut malam seperti ini.
"Sayang, apa kamu mau mendengar nasehat dan penilaian ibu Nak?"
"Iya Bu,"
"Sebenarnya, dalam hal itu Yura tidaklah salah begitu juga denganmu. Hanya saja, ibu rasa ada kecemburuan di hati Yura saat melihatmu bersama teman baru. Ibu juga yakin, sebenarnya kamu tidak pernah ada niat sedikitpun untuk mencari pengganti dirinya, itulah sebabnya semua yang terjadi di antara kalian itu adalah salah faham saja.
Lebih baik, kamu minta maaf padanya. Cobalah untuk tanyakan apa yang mengganjal dihatinya, dan kalian bicarakan semua dengan baik dan tenang.
Jangan ada kata emosi di setiap ucapan mu Nak. Maka setelah itu, ibu yakin semua akan kembali seperti semula. Apa kau mengerti maksud ibu...?"
"Iya Bu, aku mengerti... Terimakasih Bu, karena sudah memberikan jalan keluarnya..."
" Itu sudah kewajiban ibu sayang..."
Ucap Liana kembali setelah menjelaskan panjang lebar kepada Nara. Kemudian ia kembali memeluk singkat putrinya, sebelum akhirnya mereka berpisah dan kembali ke kamar mereka masing-masing. Karena memang udara yang semakin dingin, dan juga malam yang semakin larut.
Nara berjalan dengan suka cita, diiringi dengan senandung kecilnya. Tidak sabar rasanya untuk bertemu dengan Yura dan menyelesaikan segera masalah mereka.
***
"Yura, apa kau sudah tidur? Ada yang ingin aku katakan padamu. Apa kita bisa bicara sebentar...?"
Ucap Nara saat sesampainya ia dikamar, dan mencoba sedikit menggoyang tubuh Yura yang tengah tertidur.
__ADS_1
Ia sangat yakin, jika sahabatnya itu masih belum tertidur. Karena biasanya, Yura akan tidur saat jam sudah lewat dari pukul 11 malam. Namun, setelah sekian lama ia menggoyangkan tubuh Yura, gadis itupun masih tak kunjung memberikan respon.
"Yura...?"
Panggilnya lagi, namun tetap tidak ada respon dari Yura. Hingga membuatnya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Yura, aku tahu saat ini kau tengah kesal padaku. Aku pun juga tahu apa penyebabnya.
Aku tidak akan menyalahkan mu dengan semua sikap dingin mu padaku. Aku hanya ingin kau tahu, tidak akan ada satu orangpun di dunia ini yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku selamanya. Jikalau nanti waktu memisahkan kita, posisimu akan tetap seperti itu dan tidak akan ada yang bisa merubahnya.
Tolong maafkan aku, atas kesalahpahaman kita tadi siang. Aku selalu menyayangimu Yura. Selamat malam..."
Nara pun segera berdiri dari tempat tidur Yura dan kembali ke tempat tidurnya setelah mengungkapkan semua isi hatinya itu. Rasanya, hatinya begitu lega saat semua sesak dihatinya tersalurkan. Walaupun Yura tidak merespon setidaknya Ia sudah mengakuinya dengan jujur, pikirnya.
Yura yang mendengar ungkapan hati sahabatnya itupun, langsung membuka matanya dan meneteskan setetes air bening dari kelopak matanya setelah kepergian Nara dari sisinya. Ia pun segera turun dari tempat tidurnya, dan langsung melihat Nara yang sudah berbaring memunggungi nya.
"Maafkan aku juga Nana, aku juga bersalah.
Maafkan aku..."
"Yura...?!" Kaget.
"Kau sudah tidak marah lagi padaku? Apa kau benar-benar memaafkan ku...?!"
"Ya, aku juga meminta maaf padamu Nana. Aku lah yang terlalu egois dan hanya memikirkan perasaanku sendiri..."
Ucap Yura kembali setelah mendengar ucapan Nara yang sedikit ragu dengan ucapannya tadi.
"Ayo kita tidur, malam sudah semakin larut.
Kita lupakan semua yang terjadi hari ini
dan untuk esok, semoga lebih baik dari hari sebelumnya..."
Ucap Yura kembali, dan merekapun akhirnya tertidur dengan sangat nyenyak hingga malam berakhir dan pagi yang cerah pun menyambut hari mereka.
***
__ADS_1
Yura dan Nara saling mengejar saat memasuki gerbang sekolah mereka menuju kelas. Hanya menunggu beberapa hari lagi, mereka akan menghadapi ujian kenaikan.
Semua murid sudah sangat tidak sabar untuk hari besar yang mereka tunggu, dan untuk beberapa hari terakhir ini mereka akan sangat sibuk untuk menjalani pelatihan-pelatihan saat ujian nanti.
Sama halnya dengan yang lainnya, Yura dan Nara pun tak kalah sibuknya untuk belajar. Mereka bahkan juga menambah jam mata pelajaran ekstra, agar hasil ujian nanti bisa sangat memuaskan.
Beberapa hari telah berlalu, semenjak terakhir kali ada kesalahpahaman antara Yura dan Nara. Terlebih untuk Nara, ia sangat menyesal dan bahagia setelah mendengarkan penjelasan ibunya tentang Yura.
Sekarang ia paham, bagaimana berharganya ia dimata Yura. Tidak hanya itu, sahabatnya itupun tidak rela jika ada orang lain yang ingin menjadi teman nya.
Sesaat ia pernah berfikir, jika yang dilakukan Yura padanya itu sedikit berlebihan.Tapi setelah Ia memikirkan lagi, hal itu sah-sah saja. Karena, jika ia berada di posisi Yura saat itu, mungkin saja ia akan melakukan hal yang sama.
Saat bel sekolah berbunyi, semua murid pun langsung berhamburan keluar termasuk juga dengan Yura dan Nara yang langsung berlari menuju mobil jemputan mereka.
"Papa...?!"
"Hei anak-anak...?!! Ayo kita pulang sama-sama..."
"Papa, apa yang Papa lakukan disini?"
Ucap Yura kebingungan melihat kedatangan ayahnya. Ia sangat bingung karena sebelumnya ayahnya itu tidak pernah menjemput mereka seperti saat ini.
"Kenapa wajah kalian seperti itu? Ayo cepat, masuk kedalam mobil."
Ucap Bram memanggil mereka untuk segera masuk ke mobil. Serentak Yura dan Nara mengangguk, dan tersenyum sebelum akhirnya mereka masuk dan mobil itupun melaju kencang meninggalkan kawasan sekolah mereka.
Didalam mobil, baik Yura maupun Nara hanya bisa senyum-senyum dan sesekali akan mengeluarkan suara tawa mereka. Tanpa tahu apa yang membuat mereka seperti itu.
Sedangkan Bram, yang tengah mengemudikan mobil itu juga bisa tersenyum saat melihat tingkah lucu kedua putrinya itu di balik kaca spion.
"Apa kalian sebahagia itu? Kalau begitu, haruskah papa menjemput kalian setiap hari..."
Ucap Bram tertawa meledek dua sahabat di kursi penumpang.
"Pa, tolong jangan katakan hal yang jika Papa sendiri tidak bisa mengabulkannya..."
Ucap Yura sejenak dan kembali tertawa menetralkan suasana bahagia mereka saat ini, dan tak lupa juga diikuti oleh suara tawa Nara beserta Bram.
__ADS_1