
Hari-hari berlalu. Semakin hari, sikap dingin dan cuek Yura pun berubah menjadi sedikit lebih normal.
Yang pasti. Saat ini Yura sudah bisa mencoba menerima kehadiran Juan dan Dean dalam hubungan persahabatan mereka.
Tentunya lagi, Nara sangat bahagia dengan perubahan sikap sahabatnya itu. Walupun sikap posesif Yura masih seperti dulu pada Nara. Tapi setidaknya, sekarang sudah ada sedikit kemajuan.
Yura akan bersikap normal seperti biasa di dalam rumah setiap harinya. Tapi, jika ayahnya kembali setelah perjalanan bisnisnya ke rumah, maka sikap Yura akan kembali dingin seperti dulu.
Mungkin baginya tidak masalah untuk ibunya yang juga sangat jarang bertemu dengannya, walaupun hanya sebatas bertatap muka. Tapi untuk ayahnya. Ia masih belum bisa menerima hingga semuanya terkuak jelas di matanya, dan mengetahui siapa gadis yang memanggil ayahnya dengan panggilan "papa" itu.
"Yura, apa yang kau lakukan di sini?"
Ucap Nara yang membuyarkan lamunan sahabatnya itu di kursi taman, dan Yura yang menyadari kehadiran Nara itupun hanya memandang singkat, dan kembali menundukkan pandangannya.
"Yura...?"
Panggil gadis itu lagi seraya menyentuh pelan pundak Yura, dan melihatnya dengan tatapan sedih. Sedih akan perasaan yang di rasakan oleh sahabatnya itu saat ini.
"Aku tidak apa-apa Nana. Aku hanya berfikir, bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui gadis kecil yang di katakan Mike bulan lalu itu." masih menundukkan pandangannya.
"Hem, bagaimana kalau kita mengikuti papa saat ia keluar dari rumah ini. Kita akan mengikutinya diam-diam. Sapa tahu, kita bisa menemukan petunjuknya? Atau, bagaimana jika kita tanya pada ayah?"
"Tidak Nana? Itu adalah ide yang buruk. Karena ayahmu sangat menghargai papa, dan tidak mungkin jika dia mau mengakuinya. Di tambah lagi, jika memang dia berkata jujur pada kita, lalu bagaimana nanti nasibnya setelah itu? Aku takut, papa akan bertindak berlebihan nantinya..."
Jelas Yura menolak pendapat sahabatnya itu.
"Tapi, ide untuk mengikutinya itu juga pilihan yang bagus. Seperti katamu, siapa tahu saja kita bisa menemukan titik terangnya."
Ucap Yura kembali memantapkan pikirannya itu, dan langsung diterima Nara dengan anggukan antusias...
***
Siang ini, tibalah saatnya Yura dan Nara menjalankan misinya tempo hari. Karena saat ini Bram sudah kembali ke rumah, dan tentu saja akan kembali bekerja setelah dua hari ke depan.
__ADS_1
Tidak ingin melewatkan kesempatan, dua sahabat itupun berencana akan mengikuti kemanapun Bram pergi selama ia di rumah, dengan harapan semua yang mereka inginkan terwujud. Yaitu untuk menemui putri Bram seperti yang di katakan Mike.
Tidak hanya mereka berdua, tapi Mike juga ikut dalam rencana mereka itu. Berhubung hari ini minggu, jadi hari ini adalah hari yang efektif bagi mereka bertiga untuk menjalankan aksi.
"Ayo cepat Kak?! Jangan sampai ketinggalan? Nanti kita kehilangan jejak?!"
Geram Mike di kursi belakang. Kesal karena mobil mereka terpaksa berhenti oleh lampu merah. Sedangkan mobil Bram sendiri sudah dulu melewati lampu rambu itu.
"Diam kau Mike! Aku juga sudah berusaha untuk cepat! Salahkan saja lampu merah itu, karena menyala di waktu yang tidak tepat!"
Jawab Yura tak kalah kesalnya, dan Nara yang berada di sebelahnya itupun langsung mengelus pelan lengan Yura, agar sahabatnya itu kembali tenang.
Setelah lampu hijau muncul. Yura langsung menjalankan mobilnya dengan laju, mengejar mobil ayahnya yang sudah tidak terlihat lagi di depan.
"Kenapa mobilnya begitu cepat menghilang!"
Teriak Yura frustasi dan memukul keras setir mobilnya, karena tidak bisa mengikuti mobil Bram. Sudah di pastikan, saat ini juga rencana mereka gagal total...!
Ucap Nara menenangkan sahabatnya itu, dan Mike pun mengangguk dari kursi belakang menyetujui ucapan kakaknya.
"Bagaimana aku bisa sabar Nana, Bagaimana...?!!"
Teriaknya lagi, dan mulai menangis karena rasa sesak di hatinya tidak tersalurkan. Nara yang mengerti akan perasaan sahabatnya itupun langsung memeluk Yura dari samping. Berharap, agar Yura bisa lebih tenang dan melupakan semuanya untuk sesaat...
***
Lelah karena rencana mereka yang tidak membuahkan hasil. Merekapun berencana untuk pulang, dan kembali melanjutkan penyelidikan mereka pada Bram di lain waktu kesempatan.
Yura dan Nara naik ke kamarnya, dan Mike pun juga ikut kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Yura merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Sedangkan Nara, memilih untuk segera mandi karena gerah dan di tambah lagi dengan hari yang sudah sore.
Saat Yura tengah memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya. Tiba-tiba ponsel Nara berdering, dan suaranya membuat Yura terganggu.
__ADS_1
Merasa kesal dengan orang yang menghubungi sahabatnya itu, Yura pun langsung meraih ponsel Nara dan menggeser tombol merah tanpa melihat siapa yang menelfon itu terlebih dahulu.
Tidak lama, ponsel Nara itupun kembali berbunyi. Namun kali ini bukanlah nada panggilan masuk, melainkan nada sebuah pesan.
Merasa penasaran dengan pesan itu. Yura yang masih menggenggam ponsel Nara itupun segera membuka dan membaca pesan masuk itu.
"Juan...?"
Pikirnya setelah melihat nama di layar ponsel, dan segera membuka untuk melihat isi pesannya.
"Nara, kenapa kau tidak menjawab panggilanku? Apa kau saat ini sedang bersama Yura? Aku hanya khawatir dengan keadaanmu, karena dari tadi kau selalu mengabaikan panggilanku..."
Yura langsung membelalakkan matanya setelah membaca isi pesan dalam ponsel itu.
"Kenapa Juan bicara seolah-olah mereka sudah sangat akrab?"
Pikir Yura dengan wajah bingung, dan langsung membuka pesan terdahulu Nara dari Juan, saking penasarannya Yura saat ini.
"Apa yang kau sembunyikan dariku Nana!"
Gumamnya kesal, seraya mengotak-atik ponsel sahabatnya itu kembali.
Di sana terpampang jelas percakapan antara Juan dan Nara, dan kedekatan mereka di dalam pesan itu sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu. Sesaat Yura teringat akan Nara yang pulang di antar Juan sebulan lalu.
Dia kembali menggeser isi pesan itu ke atas, hingga akhirnya ia menutup mulutnya tidak percaya.
"Nara, terimakasih karena kau sudah mau memberiku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat lagi. Aku sangat senang dengan semua ini. Tapi, kapan kau akan memberitahukan Yura tentang hubungan kita ini? Bukankah sebaiknya dia harus tahu tentang semua ini, Nara? Begitupun dengan Dean. Aku sudah tidak sabar memberitahukan kabar gembira ini padanya."
"Tidak Juan! Tidak untuk saat ini. Lebih baik sekarang kita merahasiakannya dulu. Aku tidak ingin menambah beban pikiran Yura. Tunggulah beberapa saat lagi, maka kita akan mengakuinya bersama..."
Seketika air mata Yura menetes. Tangannya yang tadi menggenggam kuat ponsel Nara, sekarang malah menggigil seakan tidak kuat untuk menahan beratnya ponsel itu.
Hatinya begitu hancur, perasaan nya begitu sakit. Sakit akan penghianatan sahabatnya sendiri. Yang bahkan sudah di anggapnya sebagai bagian dari hidupnya itu...
__ADS_1