
Dari pagi hingga pulang sekolah, sikap Yura terlihat sangat aneh bagi Nara.
Tidak hanya itu. Saat jam istirahat pun sahabatnya itu malah pergi ke kantin sendiri meninggalkan nya di dalam kelas.
Padahal, biasanya Yura tidak seperti itu.
Bisa di bilang, sikapnya hari ini berubah 360° dari sebelumnya.
Yang lebih anehnya lagi, dia menelfon seseorang dengan nada marah dan menutupnya dengan kesal.
Dari jauh, sayup-sayup Nara bisa mendengar bahwa sahabatnya itu seperti menyebut namanya. Tapi, Nara sama sekali tidak tahu apa masalahnya.
Hingga akhirnya, Nara memberanikan diri untuk bertanya. Saat mereka tengah duduk menikmati minuman, seraya menunggu mobil jemputan datang.
"Yura, apa kau masih marah padaku perihal perkara semalam? Maafkan aku, ke depannya aku tidak akan melakukan nya lagi.
Aku akan selalu mengingat semua janjiku padamu, hem?"
Ucap Nara membuka pembicaraan mereka.
" Aku tidak marah padamu..."
Jawabnya singkat.
"Kalau begitu, apa masalahnya...?"
" Aku tidak mengerti maksudmu.
Hem, kenapa minuman ini sangat enak?
Hingga membuatku tidak pernah bosan."
Ucapnya lagi meminum minumannya menghindari pertanyaan Nara padanya.
"Aku bukan gadis yang berumur 6 tahun lagi.
Kita juga dekat bukan 1 atau 2 tahun saja, tapi sudah belasan tahun Yura...?
Aku tahu betul. Bagaimana sikapmu saat kau tengah marah, bahkan aku bisa membedakan dirimu antara marah dan tidak mood."
Ucap Nara meluapkan semua kata yang sudah ditahan nya sedari tadi.
"Yura, kenapa kau menangis? Ada apa? Maafkan kata kataku tadi, aku tidak bermaksud lain padamu."
Ucap Nara kembali saat melihat mata Yura yang sudah berkaca-kaca dan langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
" Maafkan aku..."
"Kenapa kau menangis, dan untuk permintaan maaf itu Yura?"
Ucap Nara menenangkan Yura yang sudah menangis di pelukan nya.
Saat ini, Nara semakin bingung dengan tingkah sahabatnya itu.
" Apa yang sudah terjadi padamu Yura?
Aku belum pernah melihatmu menangis seperti ini. Hal buruk apa yang sudah terjadi padamu? Hal apa yang sudah terlewat dariku...?"
__ADS_1
Gumam Nara dalam hatinya, kebingungan melihat keadaan sahabatnya itu saat ini.
"Maafkan aku Nana..."
" Apa yang terjadi Yura? Tolong jangan menakuti ku seperti ini, aku mohon...
Tolong katakan padaku apa yang terjadi?"
"Maaf, karena tidak bisa melindungi mu dari mama. Maaf, karena aku tidak pernah sadar tentang semua yang sudah terjadi padamu Nana. Tolong maafkan aku..."
Jelas Yura terisak dan semakin mengeratkan pelukannya. Menyesal setelah tahu dan menyadari apa yang sudah dilakukan ibunya pada Nana.
" Yura, jangan bicara seperti itu, tolong jangan katakan itu."
Ucap Nara kembali memeluk Yura setelah mendengar penjelasan.
***
Flashback
Nana menaiki anak tangga dengan terburu- buru membawa sepiring cemilan untuk Yura dan dirinya saat belajar nanti. Namun, langkahnya terhenti, saat Diandra ibunya Yura memanggil namanya.
"Nara, ikut aku sebentar."
Ucapnya dan langsung di ikuti oleh Nara dari belakang hingga mereka sampai di dapur.
" Iya Ma...?"(Sopan)
"Panggil aku nyonya, aku bukan ibumu."
" I-iya Ma. Tidak, maafkan aku Nyonya..."
Ucap Nara gugup karena menahan tangisnya.
Ia tidak mengira, kalau wanita yang di panggilnya mama sedari kecil itu, sekarang malah tidak sudi saat Nara memanggilnya.
"Mulai hari ini, bersikaplah seperti posisi ibumu di rumah ini. Walaupun Yura sangat menyukaimu, tapi itu tidak menjamin untukmu bersikap seperti nona muda di rumah ini. Tetaplah pada batasan mu Nara?!"
" Baik Nyonya..."
Ucap Nara yang sudah menundukkan kepalanya menangis karena teriakan Diandra.
"Nara, kamu kenapa Nak? Nyonya? Ada apa dengan,"
" Tolong jaga sikap putrimu agar ia tidak melewati batasan nya lagi. Mulai sekarang aku tidak ingin lagi mendengar kalian menyebut nama anak ku dengan panggilan Yura. Terlebih kau...!
Panggil dia nona muda. Walaupun ia sangat menghormatimu, tapi tidak merubah kebenaran nya jika kau adalah pembantu di rumah ini. Jika aku masih melihat dan mendengarnya, aku tidak akan segan untuk memecat suami mu dan mengusir kalian dari rumah ini...!"
Jelas Diandra. Memaki, dan mengancam ibu Nara yang tengah memeluk putrinya yang menangis itu.
"Baik Nyonya, maafkan atas sikap lancang kami..."
Ucap Liana ibu Nara membungkuk hormat, melepas kepergian Diandra dari sana.
Tidak terasa, sebutir air bening menetes keluar dari matanya, setelah mendengar hinaan nyonya rumah itu.
Mungkin tidak mengapa jika hanya ia yang mendapatkan hinaan itu. Tapi, bagaimana dengan putri kesayangan nya ini?
__ADS_1
Bagaimana cara ia menyembuhkan goresan luka dihatinya, akibat perkataan nyonya besar mereka.
"Jangan menangis lagi Sayang..."
Ucap Liana mengeratkan pelukan nya pada Nara yang masih mengeluarkan tangisan nya itu.
" Ibu, kenapa mama bersikap seperti itu?"
"Jangan panggil dia mama lagi Sayang, mulai saat ini panggil dia nyonya, karena memang begitulah seharusnya.
Ingat, jangan pernah katakan apapun pada non Yura, atas apa yang sudah terjadi saat ini. Apa kau mengerti Nak...?!"
Ucap Liana kembali membelai lembut rambut panjang putrinya itu, dan sesekali menghapus sisa air mata di wajah cantik Nara.
"Iya Ibu..."
Jawab Nara mengerti dengan penjelasan ibunya itu.
" Sekarang pergilah, pasti saat ini non Yura sudah menunggumu.
Ingat perkataan Ibu tadi sayang, tolong jangan pernah katakan apapun padanya tentang hal ini.
Ucap Liana kembali mengingatkan, dan dibalas anggukan pertanda mengerti oleh Nara.
Nara pun segera mencuci wajahnya sebelum kembali kedalam kamar. Ia tidak ingin nantinya Yura curiga melihat matanya yang merah sehabis menangis.
Ia juga tidak ingin jika Yura tahu tentang perkataan ibunya itu, dan tidak ingin jika Yura bertambah benci kepada orang tuanya hanya karena ini.
Yang pasti, ia sangat mengerti dengan hubungan keluarganya dan keluarga Yura.
***
"Sejak kapan semua ini terjadi Nana? Kenapa kau tidak pernah mengatakan nya padaku? Sebelumnya aku tahu, jika mama tidak terlalu menyukai kedekatan kita.
Tapi, aku tidak pernah terfikir kalau mama akan nekat seperti ini..."
Jelas Yura pada Nara saat melepaskan pelukan nya.
"Sejak seminggu yang lalu...
Aku tidak bermaksud untuk tidak mengatakan nya padamu Yura. Hanya saja, aku tidak ingin ada ke salah pahaman antara kau dan ibumu.
Aku tidak ingin membuat keadaan semakin buruk, dan ibumu pasti akan semakin membenciku."
Jelas Nara sedih pada Yura.
"Berjanjilah, kau tidak akan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku Nana.
Jika kau mengatakan nya sedari awal, pasti kau tidak akan menderita seperti ini."
Ucap Yura kembali menggenggam tangan Nana.
" Hem...
Ucap Nara menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan sahabatnya itu.
Di saat yang bersamaan, mobil jemputan merekapun datang. Akhirnya, merekapun segera pergi dari sana mengakhiri drama sedih yang barusan terjadi.
__ADS_1