
Nara masih mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pria yang dimintai nya tolong tadi. Hingga akhirnya ia kaget saat seseorang mengejutkannya dari belakang.
"Hai, Nara...?!"
"Astaga, Juan?! Kau mengagetkan ku saja. fiuh..." wajah lemas.
"Hahaha, iya deh maafin aku. Hem, apa yang kau lakukan di sini?" bingung.
"Hem, Juan. Bisa tidak kita bicara setelah kau membayarkan tarif taksi ku lebih dulu?"
Ucap Nara malu-malu dan tidak enak hati.
Juan yang mengerti dengan maksud gadis itupun langsung membuka dompetnya dan membayar tagihan taksi pada sopirnya. Setelah itu, iapun kembali kehadapan Nara dengan wajah merona karena malu. Sedangkan Nara sendiri, hanya menggaruk dagunya yang terasa tidak gatal itu.
"Oh ya, apa yang kau lakukan di sini Nara?"
"Hem, aku ada perlu tadinya di sekitar sini dengan seorang teman, tapi ternyata dia sudah pergi."
Ucap Nara berbohong. Karena tidak mungkin bukan? Jika ia mengatakan yang sebenarnya pada Juan, dengan ia yang mengikuti ayah angkatnya hingga tiba di tempat ini.
"Teman? Di sini...?! " wajah bingung.
"Siapa? Siapa tahu saja aku juga mengenalnya. Setahuku, bukankah kau tidak punya teman lain selain Yura?"
Ucap Juan kembali semakin bingung dengan gelagat Nara yang menurutnya sedikit mencurigakan itu.
"Ah, ya... maksudku adalah..," bingung tidak tahu ingin mengatakan apa lagi.
"Oh ya, Juan. Bukankah kau tinggal di sekitar sini juga? Dimana rumah mu?"
Ucap Nara lagi mengalihkan pembicaraan, dan benar saja, Juan bahkan tidak lagi melanjutkan rasa penasaran dan curiganya itu.
"Ini, tepat di belakang kau berdiri saat ini."
"Ini? Rumah ini...?!" kaget tidak percaya.
"Ya. Memangnya kenapa? Kenapa wajahmu seperti itu?"
Ucap Juan mengerutkan keningnya bingung melihat reaksi Nara saat ini.
"Ah tidak. Aku hanya berfikir, pantas saja kau bilang 2 menit. Ternyata memang rumah mu di sini. Hehe..."
Jelas Nara yang kembali berbohong.
"Kalau begitu, aku akan pulang. Terimakasih atas bantuan mu Juan. Besok di kelas aku akan mengembalikan uang tadi."
"Kamu apa-apaan sih Nara? Aku ikhlas kok. Kau tidak perlu mengembalikannya."
"Tapi..,"
"Begini saja, kau sudah makan belum? Bagaiman jika kau ikut denganku makan ke luar. Nanti, aku sekalian akan mengantarmu pulang. Bagaiman? Kau setuju bukan?" tersenyum dengan wajah berharap.
__ADS_1
"Hem, baiklah..."
Ucap Nara setelah sekian detik lamanya ia diam dan berfikir.
Merekapun akhirnya pergi dari sana menggunakan mobil Juan, dan setelah selesai makan. Sesuai dengan janjinya, Juan pun mengantarkan Nara pulang sampai di depan gerbang rumah.
"Terimakasih untuk segalanya Juan?"
Ucap Nara berterima kasih, dan Juan pun membalasnya dengan senyuman.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Nara pun izin pamit untuk masuk ke dalam rumahnya, dan kembali mengucapkan terimakasih.
"Jika rumah tadi adalah rumah Juan. Maka, apa yang di lakukan papa di sana? Apa rekan bisnis papa itu adalah ayahnya Juan? Ah, sudahlah. Mungkin benar, ayah Juan adalah rekan bisnis papa..."
Gumam Nara lagi dengan wajah bingungnya sesaat setelah Juan melajukan mobilnya dari sana. Sesaat kemudian, Nara pun memutuskan untuk melupakan kejadian itu, dan masuk kedalam rumah untuk menemui sahabatnya Yura...
***
"Nana, kau dari mana saja? Kenapa ponselmu tidak aktif?"
Ucap Yura dengan wajah khawatir dari atas tangga melihat kedatangan Nara memasuki pintu utama, dan sontak membuat Nara kaget menghentikan langkahnya.
"Yura...?!" raut wajah seperti orang yang tengah tertangkap basah.
"Ada apa dengan ekspresi mu itu Nana?"
"Ah, iya maaf. Ponselku mati Yura. Tadi itu aku berencana untuk mengajakmu ke lapangan menikmati angin sore. Tapi, aku kembali berfikir. Mungkin saja kamu lelah? Jadi aku memutuskan untuk pergi sendiri saja."
"Lalu, bagaiman dengan panggilan mu pada Mike? Bukankah kau juga menghubunginya?"
memicingkan matanya curiga.
"Mike?! Oh ya, itu... aku menghubunginya untuk... untuk, menjemput ku Yura? Ya, aku memintanya untuk menjemput ku."
Ucap Nara lagi mencari alasan untuk setiap pertanyaan sahabatnya itu. Sedangkan Yura, saat ini gadis itu mulai melipat kedua tangannya, dan semakin melihat curiga ke arah Nara.
"Benarkah...?"
"Iya benar Yura? Memang itulah yang terjadi. Memang menurutmu apa lagi...?" nada santai.
" Kalau begitu, siapa yang mengantarmu barusan?"
Ucap Yura terakhir kali yang mampu membuat Nara membulatkan matanya tidak percaya.
"Apa kau masih punya alasan untuk pertanyaan ku itu Nara?"
Ucap Yura kembali berjalan mendekati sahabatnya itu, dan bicara dengan nada yang misterius. Sedangkan Nara sendiri, masih mematung di tempatnya dengan ekspresi yang sangat sulit di tebak.
"Mati aku...!"
Gumam Nara dalam hatinya, karena tidak tahu lagi akan mencari alasan apa untuk sahabatnya ini.
__ADS_1
"Nana...?" wajah bingung.
"Yura, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Tadi itu, yang mengantarku adalah Juan. Aku tidak menelfon nya. Tapi dialah yang kebetulan lewat dan memberiku tumpangan untuk pulang..,"
"Lalu...?"
"Kami pergi makan sebentar, dan setelah itu dia langsung mengantarku pulang. Aku jujur padamu Yura, kami tidak kemana-mana lagi setelah itu..."
Jelas Nara gelagapan dengan wajah menyesalnya. Sedangkan Yura sendiri, segera berlalu dari sana setelah mendengar penjelasan sahabatnya itu.
"Fiuh, marah lagi? Marah lagi..."
Gumamnya memijit dahinya yang terasa sedikit pusing itu melihat sahabatnya yang saat ini sudah berada dalam mode bad mood.
Sedangkan dari sudut ruang tengah, tampak Mike yang menertawakan kesialan kakaknya saat ini sembari melipat kedua tangannya.
"Kau...?!"
Geram Nara kesal melihat tingkah adiknya yang saat ini tengah menertawakannya itu.
Merasa tidak ada gunanya juga jika ia harus adu mulut dengan adiknya itu. Nara pun memutuskan untuk ke kamarnya. Mandi, dan setelah itu baru menemui Yura untuk menjelaskan kembali semuanya. Karena ia tahu betul bagaiman gadis itu jika marah. Dia tidak akan memberi maaf sebelum Nara berkata yang sejujurnya padanya terlebih dahulu.
"Hah, aku benar-benar sial hari ini...!"
Ucapnya pelan seraya berlalu menaiki tangga menuju kamarnya...
***
Saat ini, tampak seorang anak perempuan yang tengah berlarian dengan girang di sebuah taman hiburan. Tidak jauh dari gadis kecil itu, tampak seorang pria paruh baya yang tertawa melihat kearah gadis cilik itu.
Pria itu tak lain adalah Bram. Ya, pria paruh baya yang juga merupakan ayah dari gadis bernama Yura dan Nara.Sesekali, tampak gadis kecil itu akan berlarian dan kembali menghampiri pria yang di panggilnya papa itu untuk memeluk dan menciumnya, dan sesaat lagi ia akan kembali ke area bermain.
Tidak lama, datanglah seorang wanita paruh baya dengan balutan penampilan yang modis dan juga masih tergolong cantik untuk wanita seusianya.
"Sayang...?"
Panggil wanita itu pada putri kecilnya yang saat ini masih asik berlarian ke sana ke mari.
"Ana? Anastasia...?"
Panggilnya lagi, dan sontak gadis yang bernama Ana itu mengalihkan pandangannya pada wanita itu dan ikut tersenyum.
"Sayang, ayo kita makan dulu. Kau sudah lapar bukan?"
"Iya Mama..."
Ucap gadis cilik itu tersenyum menghampiri ibunya, dan Bram pun juga ikut tersenyum melihat kepatuhan gadis kecil itu.
"Sayang, ayo kita makan dulu..."
Ucap wanita itu lagi pada Bram, dan merekapun pergi dari sana mencari restauran terdekat...
__ADS_1