
Karena sudah tidak ada pilihan lain lagi. Akhirnya, Mike pun memutuskan untuk segera kembali. Sesampainya di pekarangan rumah, sesaat ia merasa ragu antara masuk dan menemui ayahnya, atau ia harus lewat dari pintu belakang dan langsung masuk ke kamarnya hingga malam datang.
Akan tetapi, baru saja pikiran itu terlintas di benaknya, Yura dan Nara pun telah dulu menangkap basah dirinya.
"Apa yang kau pikirkan dengan berdiam diri seperti itu Mike? Masuklah cepat kedalam, ayah sudah menunggumu dari tadi..."
"Kalian...?!" ekspresi terkejut.
"Menurutmu siapa lagi, dada apa dengan wajahmu itu? Kau melihat kami seperti sedang melihat hantu saja. Cepatlah masuk! Benar yang dikatakan Nana, ayah sudah menunggumu dari tadi..."
Ucap Yura datar, sekaligus bingung setelah melihat ekspresi terkejut Mike saat melihat mereka.
"Mike, ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu, hem?"
Panggil Nara pada adiknya itu, saat melihat Mike yang seperti tidak menanggapi ucapan Yura, dan malah terdiam seperti memikirkan sesuatu. Yang jelas, pria itu tidak seperti biasanya.
"Hem, aku tidak enak badan. Lebih baik sekarang aku ke kamar untuk istirahat sejenak. Setelah itu, baru aku akan menemui ayah."
Ucapnya lemas dan langsung pergi dari sana menuju kamarnya. Sedangkan Yura dan Nara hanya menatap aneh melihat kepergiannya.
"Nana, apa kau percaya dengan yang di katakan nya barusan?"
"Hem, entahlah... tapi, dilihat dari keadaannya. Sepertinya memang benar, ia tengah tidak enak badan."
"Hem, kenapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu ya...?"
"Yura...?! Sudahlah, aku rasa bukan dia yang aneh. Tapi pikiran kamu tuh, yang terlalu sensitive. Udahlah, ayo kita pergi."
Ucap Nara membuyarkan pikiran Yura yang sudah kemana-mana, dan segera menarik tangan sahabatnya itu untuk segera pergi dari sana.
"Kau membawaku kemana Nana? Apakah masih jauh? Kakiku sudah lelah."
Komplain Yura pada sahabatnya itu yang telah menarik tangannya sedari tadi. Namun, tetap belum sampai pada tujuan mereka.
"Sedikit lagi Yura, kenapa kau begitu lemah?
Bukankah biasanya kau selalu kuat, bahkan kau selalu mengejek diriku lemah."
"Ya, setidaknya kau katakan. Kemana arah tujuan kita sebenarnya...?"
"Sampai...?!"
Teriak Nara seraya melepaskan genggaman nya pada tangan Yura, dan sekarang ia malah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menikmati hembusan angin padang rumput hijau sore hari ini.
Hembusan anginnya membuat helaian rambut panjang Nara melambai ke sana kemari, hingga membuat Yura tersenyum hangat melihat kebahagian kecil namun sangat berarti bagi sahabatnya itu.
***
__ADS_1
Kedua sahabat itu tengah asik berlarian ke sana kemari di padang rumput yang luas itu. Hingga mereka lupa waktu, dan matahari pun sudah akan kembali ke persembunyian nya.
"Hah..."
"Aku lelah, apa kau menyukainya? Kemari lah, ikut berbaring di sebelahku Yura."
Ucap Nara menghembuskan nafas beratnya dan langsung tidur telentang di atas rerumputan. Yura yang merasa lelah itu pun, juga ikut tiduran seperti yang dilakukan Nara.
"Kenapa aku baru tahu tempat ini? Kau... apa kau sering kemari Nana?"
"Tidak, ini baru pertama kalinya juga bagiku.
Hem, saat kita pulang sekolah beberapa hari yang lalu, aku melihat padang rumput ini.
Saat itu, aku baru menyadari betapa indahnya tempat ini saat sore hari. Yang lebih bodohnya lagi, aku baru menyadarinya. Padahal, kita sudah belasan tahun melewati tempat ini Yura."
Jelas Nara pada sahabatnya itu.
"Ya, kau benar. Tempat ini benar-benar indah.
Untuk kedepannya, karena kau menyukai tempat ini maka kita akan lebih sering lagi kesini. Apa kau setuju?"
"Benarkah? Oh, Yura... kau memang sahabat terbaik ku, terimakasih. Hehehe"
Nara pun reflek memeluk tubuh sahabatnya itu saking senangnya. Sedangkan Yura, hanya tersenyum gemes dan langsung mencubit sayang pipi sahabatnya itu.
"Nara..."
" Apa kau bisa berjanji satu hal padaku?"
"Apa?"
Ucap Nara penasaran akan pertanyaan sahabatnya itu, dan langsung bangun mengikuti Yura yang sudah duduk lebih dulu.
"Berjanjilah, selamanya kita akan selalu seperti ini Nana..."
"Apa yang kau katakan? Walaupun kau tidak memintanya, aku juga akan tetap seperti ini selamanya bersamamu. Kau bukan hanya sekedar sahabatku Yura, tapi kau juga seperti saudara bagiku. Untuk itu, hubungan kita tidak akan pernah renggang dan berubah.
Tidak akan ada satupun orang yang bisa menggantikan posisimu di hatiku Yura."
Jelas Nara atas ucapan sahabatnya itu.
"Terimakasih Nana..."
Ucap Yura seraya memeluk tubuh Nara kembali. Setidaknya, untuk saat ini hatinya benar-benar lega setelah mendengar penjelasan Nara, dan ia sangat yakin sekaligus percaya pada sahabatnya itu.
"Oh Tuhan... bagaimana mungkin aku bisa berfikir buruk tentangnya, seperti yang dikatakan mama?! Maafkan aku Nana, harusnya aku tidak meragukan mu dan lebih mempercayaimu dari pada siapapun. Karena memang kau lah yang paling berarti dalam hidupku. Kau bukan hanya teman, tapi kau juga kebahagian yang di kirimkan Tuhan padaku."
__ADS_1
Gumam Yura menyesal sekaligus bahagia dalam hatinya, dan merekapun kembali ke rumah dengan bergandengan tangan.
***
Dengan hati-hati, Mike berjalan perlahan keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur untuk mencari makanan.
"Mike...?!"
"Ibu...?!" kaget.
"Apa yang kau lakukan di sini? Lagian, kenapa kau berjalan seperti itu?"
"Aku, aku lapar Bu."
Ucap Mike seketika pada Liana yang keheranan melihat tingkahnya itu.
"Kalau kau lapar, kenapa tidak memanggil ibu Nak? Oh ya, pergi temui ayahmu,sepertinya dia sangat merindukan mu."
"Ya Bu."
Jawab Mike segera sesaat sebelum memakan makanan yang disiapkan oleh Liana untuknya. Setelah ia menyelesaikan makanan nya. Mau tidak mau, ia pun langsung pergi menemui ayahnya.
"Mike...?! Wah, ayah perhatikan semakin hari kau semakin tampan saja. Kemari lah, duduk disebelah ayah Nak."
Ucap Satyo tersenyum melihat kedatangan putranya itu.
"Hem, karena aku pria Ayah. Jika aku wanita, tentu saja tidak mungkin bagiku untuk menjadi tampan."
Ujar Mike setelah mendudukkan tubuhnya di atas kursi disebelah ayahnya.
"Ayah benar-benar merindukan mu Mike. Akhir-akhir ini, ayah sangat sulit untuk menghubungimu. Apa kau baik-baik saja?"
"Ya..." dengan nada datar.
"Kau yakin...?"
"Hem..."
"Baiklah, kalau begitu mungkin itu hanya perasaan ayah saja. Oh ya, bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau sudah menemukan seorang gadis, hem...?"
Ledek Satyo kepada putranya yang masih diam itu.
"Apa yang kau katakan Ayah? Aku tidak memikirkan hal itu. Saat ini, aku hanya fokus untuk belajar dan sekolah."
"Hahah.Ok,ok... maafkan ayah Nak. Itu hanya bercanda, tolong jangan anggap serius.
Ayah sangat bangga padamu Mike. Teruslah seperti itu, ayah yakin suatu hari nanti kau akan sangat berhasil."
__ADS_1
"Terimakasih Ayah..."
Ucap Mike langsung dan diikuti dengan tawanya.