
Yura masih memandang jauh ke luasnya hamparan rumput di lapangan itu, dengan sesekali menyapukan sisa air mata di wajahnya.
"Kak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk..,"
"Jika memang semua itu yang terjadi, lalu apa hubungannya dengan kau tidak mau menemui ayahmu Mike?!"
Ujar Yura sedikit berteriak memotong ucapan Mike yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Karena ayah juga mengetahuinya, dan aku juga melihat ayah ikut berdiri di sana melihat mereka Kak..."
"Apa...?!" Nara menutup mulutnya terkejut.
"Iya Kak, ayah juga mengetahuinya. Aku bahkan pernah mendengar ayah bicara di telepon."
"Apa yang kau dengar Mike?"
Ucap Yura semakin penasaran dengan ucapan Mike.
"Nyonya maaf, tuan tidak bisa menjumpai non Ana saat ini. Karena tuan sangat sibuk. Tolong sampaikan permintaan maaf tuan pada putrinya..." dengan wajah takut.
"Hanya itu yang aku dengar Kak..."
Ucap Mike lagi setelah mempraktekan bagaimana cara ayahnya bicara dalam telfon waktu itu. Sedangkan Yura, hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun sembari menatap sendu sahabatnya itu. Nara yang sadar akan kekecewaan sahabatnya itu langsung membawa Yura ke pelukannya.
"Yura, kita akan mencari tahu semuanya. Tenanglah. Aku akan membantumu, dan mengungkap semuanya. Agar kita tahu nanti semua kebenarannya."
Bujuk Nara seraya mengelus pelan punggung sahabatnya itu dengan telapak tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan Nana? Bagaimana jika memang semua itu benar? Bagaimana caraku menghadapi semuanya nanti? Kenapa papa tega melakukan semua ini, kenapa...?!"
Ucap Yura di sela tangisannya dalam dekapan Nara, dan Mike yang melihat kesedihan Yura itupun dapat merasakan betapa terlukanya hati kakak angkatnya itu saat ini.
"Kak, maafkan aku..." mata berlinang.
Sontak Nara juga merangkul Mike ke dalam pelukannya bersamaan dengan Yura.
"Kau hebat Mike. Kau tidak bersalah karena sudah berani mengatakan semua yang kau ketahui. Untuk sementara, kita harus bersikap normal saat di dalam rumah seraya mencari tahu kebenarannya. Apa kalian mengerti?"
Jelas Nara lagi, dan spontan Yura dan adiknya mengangguk mengerti...
***
Setibanya di rumah, Yura langsung berjalan cepat menuju kamarnya dan meninggalkan Nara yang masih berdiri di ambang pintu, dan Nara pun berniat untuk menemui ibunya.
Sedangkan Mike, sama halnya dengan Yura. Ia pun juga langsung berjalan ke kamarnya, dan memilih untuk beristirahat ketimbang menemui ayahnya.
"Fiuh, apa yang aku lakukan tadi adalah benar? Apa seharusnya aku tetap merahasiakannya? Tapi, suatu saat aku yakin semua orang pasti akan mengetahuinya juga, dan Yura, dia pasti akan lebih kecewa lagi..."
__ADS_1
Pikir Mike lelah seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kembali memori itu terbayang dalam ingatannya, dan terlihat sangat jelas di matanya, bagaimana bahagianya gadis kecil itu bermain dengan Bram, ayahnya Yura. Juga dengan panggilan "papa" yang di layangkan gadis itu terdengar sangat jelas bagi Mike.
Tidak hanya Yura yang kecewa. Mike juga sama kecewanya dengan gadis itu, karena ayahnya sendiri juga menutupi semuanya. Tidak menutup kemungkinan bagi Mike berfikir jika suatu hari nanti, ayahnya juga akan melakukan hal yang sama pada ibunya.
Lelah dengan pikirannya itu, Mike pun memutuskan untuk mandi dan tidur sejenak setelahnya...
***
"Sayang, kenapa kau sendiri Nak? Dimana Yura? Papa belum melihatnya dari tadi."
Tanya Bram saat melihat Nara berjalan sendiri di teras samping rumahnya.
"Papa? Hem, Yura... dia saat ini tengah istirahat di kamar Pa. Mungkin saat ini tengah tertidur karena lelah..." bicara gagap.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Papa ada urusan keluar sebentar. Kalian baik-baiklah di rumah, ok?"
"Papa mau kemana? Bukankah baru pulang? Kenapa mau keluar lagi? Tidakkah seharusnya tetap istirahat saja di rumah Pa?"
Ucap Nara sedikit takut.
Memang tidak pantas baginya untuk bicara seperti itu. Tapi setelah mendengar semua ucapan Mike tadi, malah membuatnya curiga, jika ayah angkatnya itu keluar untuk menemui gadis cilik yang di katakan adiknya tadi.
"Papa akan berjumpa dengan rekan bisnis papa Sayang. Tidak lama kok? Sebelum makan malam sudah kembali ke rumah."
Jawab Bram beralasan, setelah sekian detik lamanya Nara menunggu jawaban pria itu.
Ucap Nara, dan langsung saja Bram mengangguk. Tersenyum seraya mengecup singkat kening putri angkatnya itu.
"Terimakasih Sayang..."
Ucap pria itu lagi sebelum ia berlalu pergi meninggalkan Nara yang masih menatap penasaran kepergiannya.
"Apa aku harus mengikuti papa aja ya?"
Pikirnya dalam hati dan menemukan ide dengan cara mengikuti pria itu kemana tujuannya.
Tanpa pikir panjang, Nara pun segera berlari keluar rumah dan menyetop asal sebuah taksi, dan langsung meminta untuk mengikuti mobil di depannya yang merupakan mobil ayah angkatnya itu.
Lama ia mengikuti Bram, hingga akhirnya taksi yang di tumpangi nya itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup megah.
"Apa yang papa lakukan di sini? Apa ini rumah teman kerjanya itu?"
Pikirnya bingung, hingga kesadarannya kembali saat sopir taksi memanggilnya untuk memberitahukan berapa total tarifnya.
Nara segera memeriksa sakunya, dan sedetik kemudian raut wajahnya berubah jadi takut sekaligus bingung. Bagaimana tidak? Saat ia buru-buru pergi tadi, ia melupakan dompetnya dan tidak membawa apapun selain ponsel genggamnya.
"Maaf Pak, saya lupa bawa uangnya. Tapi, tolong tunggu sebentar. Saya akan coba menghubungi teman saya."
__ADS_1
Ucap Nara dengan wajah yang sangat malu, dan sopir yang sudah berumur senja itupun hanya mengangguk seraya tersenyum hangat pada Nara.
"Oh Tuhan, untung saja aku bertemu dengan sopir taksi yang baik. Karena kalau tidak? Bisa-bisa aku sudah di bawa ke kantor polisi nih...?!"
Gumam Nara pelan setelah mengucapkan terimakasih pada sopir itu.
Tanpa menunggu waktu lagi, Nara pun segera mencari kontak Yura untuk menghubunginya, dan meminta bantuan sahabatnya itu. Namun, lama ia menunggu tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.
Pikiran Nara pun kacau, karena ia tidak tahu lagi ingin meminta bantuan siapa. Tidak hanya Yura, bahkan Mike juga tidak menjawab panggilannya.
"Juan...?!"
Teriaknya pelan saat terlintas nama teman lelakinya itu dalam benaknya.
Tanpa pikir panjang dan rasa malu, ia pun segera mencoba untuk menghubungi Juan. Tidak menunggu lama, panggilan itupun tersambung.
"Ya, halo Nara. Ada apa?"
"Juan, bisakah aku meminta bantuan mu? Aku mohon. Saat ini aku benar-benar butuh bantuan. Aku janji, besok di sekolah aku akan mengembalikannya lagi padamu..,"
"Tolong tenanglah Nara. Bicaralah dengan pelan, karena aku tidak bisa mengerti dengan ucapan mu itu?"
Ucap Juan memotong ucapan Nara yang sama sekali tidak bisa ia pahami itu.
Akhirnya, Nara pun menceritakan keadaannya saat ini dan meminjam uang pada Juan. Karena baik Yura dan adiknya tidak ada yang menjawab panggilannya.
"Apa kau punya M-Banking Nara?"
"Tidak, aku tidak punya Juan."
Jawab Nara dengan malu dan merasa sangat tidak enak hati.
"Bisakah kirim lokasimu saat ini padaku? Siapa tahu jaraknya dekat denganku."
"Aku di kompleks melati indah Juan."
"Benarkah? Aku juga tinggal di tempat yang sama. Berarti kita di tempat yang sama Nara?! Kau dimana nya?"
"Aku berdiri di rumah ke 5 dari pos sekuriti Juan."
"Rumah ke 5? Benarkah? Baiklah. Kalau begitu, tunggu aku di sana sebentar. Tidak, aku akan sampai di sana dalam 2 menit..."
Dan sambungan pun segera di putus oleh Juan tanpa sempat Nara mengucapkan kata terimakasih.
"Dua menit? Apa dia yakin...?!"
Gumam Nara kebingungan melihat ke segala arah...
__ADS_1