My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 7


__ADS_3

Lama Nara dan Bram saling bicara. Hingga akhirnya, gadis itupun pamit untuk keluar setelah Bram memberikan nasehat padanya.


Namun, belum sampai di pintu, langkah gadis itupun terhenti saat Bram kembali memanggilnya.


"Sayang...?"


" Ya Pa?"


Jawab Nara seketika menghentikan langkahnya dan berbalik arah.


"Duduklah kembali disini, masih ada hal penting yang ingin papa katakan padamu Nak."


Ucap Bram kembali dan langsung diikuti oleh Nara tanpa menunggu lama, dan saat ini gadis itupun sudah kembali duduk di hadapan ayah angkatnya.


" Papa tahu, hubungan kamu dan Yura begitu dekat. Memang tidak seharusnya papa mengatakan dan meragukan ini semua ini.


Tapi, bisakah papa meminta sesuatu darimu Nak?"


"Kenapa Papa bicara seperti itu?Katakan saja, Nara akan mendengarkan permintaan Papa."


Jawab Nara kembali dengan sungguh sungguh.


" Jangan pernah tinggalkan Yura Nak, walau apa pun yang terjadi antara kalian ke depannya nanti. Berjanjilah, kau akan selalu ada untuknya demi papa. Mungkin, papa tidak akan selalu bisa bersama dengannya. Tapi papa yakin, kau pasti bisa selalu disampingnya. Karena papa lihat, dia begitu menyayangimu lebih dari apa pun."


"Paa, jangan bicara seperti itu. Aku yakin, Yura juga sangat menyayangi Papa dan nyonya sama besarnya denganku. Hanya saja, dia tidak tahu cara untuk mengekspresikan nya. Lagian, aku sangat bersyukur karena punya sahabat sekaligus saudara seperti Yura. Sangat tidak mungkin bagiku untuk meninggalkan nya. Jadi, Papa tidak usah berfikir yang aneh-aneh seperti itu."


Jelas Nara meyakinkan papanya kembali.


"Entahlah Nak, jika memang Yura tidak begitu menyayangi kami, papa sangat memakluminya. Karena papa sadar, mengingat apa yang telah kami lakukan padanya, jadi sangat pantas bagi kami menerima perlakuan nya seperti itu. Terlebih lagi pada ibunya itu. Mulai sekarang, kamu jangan pernah merasa sungkan lagi pada ibunya Yura, papa minta kamu fokus saja kepada Yura. Sedangkan untuk ibunya, papa yang akan mengurusnya, kau mengerti Nak...?"


"Iya Pa..."


Ucap Nara seketika mengangguk kan kepalanya, tersenyum haru dan langsung memeluk Bram mengucapkan banyak terimakasih.


***


Sedangkan di lain tempat, Yura tampak duduk melamun di tepian balkon kamarnya menikmati hembusan angin malam. Ia teringat akan ucapan ayahnya tadi siang, untuk menemui ayahnya itu saat malam hari.


Sesaat, ia mendadak merasa ragu untuk ke sana. Karena ia yakin, ayahnya itu pasti tidak akan mendengarkan ungkapan hatinya, dan malah akan membela ibunya.


Bahkan, ia tidak tahu ingin mengatakan apa saat didepan ayahnya itu nanti, karena ini adalah pertama kali dalam hidupnya untuk melakukan pertemuan secara pribadi dengan Bram.


Setelah lama berfikir, Yura pun memutuskan untuk segera menemui ayahnya. Untuk perihal pembicaraan mereka nanti, ia akan memikirkan nya saat mereka bersama nanti.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu ruang kerja ayahnya itu, tampak Yura mondar mandir seperti ragu antara masuk atau tidak.


Bahkan, tangannya sudah beberapa kali menyentuh kenop pintu untuk membukanya. Namun kembali ia urungkan niatnya itu.


Saking fokusnya ia berfikir, tanpa ia sadari orang yang akan ia temui itu tengah tertawa, berdiri dari jauh memperhatikan tingkahnya itu.


"Kenapa kau tidak masuk?"


" Tidak, justru aku akan segera mas.., Papa...?!"


Ucapnya terkejut dan tidak jadi menyudahi ucapan nya, saat menyadari siapa orang yang bertanya padanya itu.


"Apa yang Papa lakukan disini?"


Ucapnya kembali dengan ragu pada ayahnya yang sudah berjalan mendekat padanya itu.


" Justru, papa lah yang harusnya bertanya seperti itu padamu sayang? Kenapa kau mondar mandir seperti orang linglung disini, dan kenapa tidak segera masuk, hem...?"


Jelas ayahnya kembali dan sontak membuatnya malu, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Kau belum tidur? Sudah malam loh, apa besok kamu tidak sekolah...?"


" Ah, iya... salah tingkah.


Ucap Yura seketika membenarkan kata ayahnya, dan segera melangkahkan kakinya menjauh dari sana.


"Sayang...?!"


" Ya..."


Ucap Yura kembali yang sudah mulai menjauh menjawab panggilan ayahnya itu dengan cepat.


"Papa percaya padamu Nak? Untuk mama kamu, jangan terlalu di pikirkan. Papa yang akan mengurus semuanya, oke...?!"


Ucap ayahnya tersenyum, mengedipkan sebelah matanya kearah Yura. Sontak membuat gadis itu tersenyum dengan sumringah, dan segera berlari memeluk ayahnya.


" Terimakasih Pa. Terimakasih karena sudah mengerti perasaan ku."


Ucap Yura dengan haru dan semakin mengeratkan pelukan nya pada Bram.


"Maafkan papa karena selama ini sudah sangat jauh darimu Nak. Untuk ke depannya. Mulai sekarang, papa janji akan selalu ada disaat kau membutuhkan papa."


Ungkap Bram dengan mata berlinang, bahagia sekaligus haru mendapatkan ucapan terimakasih serta pelukan yang sangat jarang ia dapatkan dari putrinya itu.

__ADS_1


" Aku akan selalu membutuhkan mu Pa,


terimakasih dan aku sangat menyayangimu..."


Ucap Yura kembali, dan saat mereka saling melepaskan rasa rindu dan kasih sayang mereka yang tertunda itu. Nara pun ikut menangis haru yang melihat dari kejauhan.


Bram yang menyadari akan hal itu, segera memanggil Nara dan memintanya untuk mendekat.


"Kemari lah Nak, apa kau tidak ingin bergabung dengan kebahagian ini?"


Ucap Bram memanggil Nara, dan sontak Yura mengalihkan pandangan nya ke arah Nara dengan tersenyum. Tanpa pikir panjang, Nara pun langsung berlari memeluk mereka berdua, dan sekarang mereka bertiga pun tengah saling berpelukan dengan rasa haru dan bahagian.


" Papa sangat menyayangi kalian berdua.


Kalian harus tumbuh besar, dan menjadi orang hebat suatu hari nanti."


"Kami juga menyayangimu Pa..."


Ucap mereka serentak...


***


Saat ini, Yura dan Nara sudah berada di kamar mereka, dan bersiap untuk tidur.


Nara yang sudah menguap sedari tadi itupun, mencoba memejamkan matanya untuk segera tidur. Tapi Yura, malah masih bersandar di kepala tempat tidur seperti memikirkan sesuatu.


" Yura, kau kenapa? Apa kau tidak mengantuk? Malam sudah semakin larut. Ayo tidur, kalau tidak, kita bisa terlambat bangun besok pagi."


Ucap Nara ikut bangun setelah melihat jam yang sudah semakin larut.


"Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan pelukan tulus dari papa Nana.


Tadi itu, aku tidak bisa mengungkapkan betapa senangnya diriku. Hingga saat ini, aku masih bisa merasakan kehangatan nya.


Aku bahagia Nana..."


Jawab Yura dengan mata yang menerawang ke depan, seperti mengingat sesuatu dan matanya pun sudah mulai memerah.


"Yura..."


Panggil Nara dengan lembut dan langsung memeluk sahabatnya itu agar ia kembali tenang.


" Semoga saja, semua ini bukan hanya sesaat Nana. Dan semoga saja benar, papa akan berubah dan akan lebih memperhatikan kita."

__ADS_1


Ucap Yura kembali dan membalas pelukan Nara padanya. Hingga akhirnya, malam itu mereka tertidur dengan perasaan hangat dan tidur dengan sangat nyenyak hingga pagi hari.


__ADS_2