
Yura sudah kembali dari Rumah Sakit, dan saat inipun keadaan nya sudah jauh lebih baik. Namun bukan Yura namanya, jika ia tidak mengambil kesempatan dalam segala hal. Termasuk saat ini untuk mengerjai Nara, dengan dalih dirinya yang masih lemas dan butuh perhatian ekstra.
"Kau ingin apa lagi? Aku akan mencarikannya untukmu..."
Ucap Nara seketika, saat meletakkan camilan yang di inginkan Yura dihadapan gadis itu.
"Hem, aku haus... tapi aku ingin minuman yang segar..."
Ucapnya dengan nada alay, dan langsung saja Nara berdiri untuk kembali keluar mencari minuman segar yang di inginkan nya itu.
"Baiklah, kau tunggu sebentar disini..."
"Tidak Nana!"
Seketika Nara berhenti saat Yura berteriak padanya, dan ia pun menatap bingung pada sahabatnya itu.
" Kemari lah, aku hanya bercanda.Terimakasih ya...?"
"Dasar kau ini, tidak pernah berubah!"
Ucap Nara geram dan langsung mencubit gemes pipi sahabatnya itu. Sedangkan Yura, hanya bisa terkekeh geli setelah puas mengerjai sahabatnya itu.
"Kalau begitu, sekarang kamu harus memakan semuanya..."
Ucap Nara kembali menunjuk deretan makanan yang sudah dipesan Yura tadi dengan mulutnya.
"Hah...?! Aku tidak bisa menghabiskan semuanya sekaligus Nana, hehehe..."
Ucap Yura tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Dasar kau...?!"
Ucap Nara lirih, dan mereka pun langsung tertawa serentak...
***
Hari sudah semakin sore, dan sebentar lagi matahari pun akan terbenam.
Hari ini merupakan hari terakhir acara kemah mereka, dan akan kembali esok pagi.
Mereka semua sudah merencanakan untuk mengadakan acara api unggun besar malam ini, sebagai tanda berakhirnya acara kemah mereka.
Nara sudah lebih dulu keluar dari tenda untuk membantu yang lainnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti malam.
Sedangkan Yura, masih berbaring malas di dalam tendanya. Berencana akan keluar setelah sore berakhir dan acara pun di mulai...
***
Acara yang di Tunggu-tunggu pun akhirnya di mulai. Yura sudah bersiap-siap untuk pergi ke sana sendiri, karena Nara sudah lebih dulu ke sana sejak sore tadi. Namun, belum sempat ia keluar. Dean sudah dulu berdiri di depan tendanya.
"Kau, apa yang kau lakukan disini...?"
Ucap Yura yang terkejut dengan kehadiran Dean tanpa suara itu, dan tiba-tiba saja sudah berdiri di sana.
"Ah, aku...?! Aku hanya ingin memberikan mu ini..."
Ucapnya dengan gugup dan menyodorkan sebuah bingkisan pada Yura.
__ADS_1
Awalnya Yura sempat bingung, dan melihat bingkisan yang di berikan Dean itu padanya tanpa menerimanya lebih dulu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menerimanya.
"Apa ini...?" mengerutkan dahinya.
" Itu hanya minuman penambah ion. Kalau begitu, aku pergi dulu..."
Ucap Dean dengan gelisah dan malu-malu,
dan ia pun segera melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Sebelum akhirnya, Yura kembali memanggil namanya.
"Dean...?!"
"Ya...?"
Ucapnya seketika, dan langsung kembali membalikan badan berjalan mendekat.
"Terimakasih, dan maaf. Aku..."
"Aku yang seharusnya minta maaf Yura...
Maksudku, akulah yang seharusnya meminta maaf. Karena tidak bisa memahami segala yang sudah terjadi. Aku harap kau bisa melupakannya, dan kita bisa lebih dekat lagi sebagai teman satu sekolah..."
Ucap Dean yang lebih dulu menjelaskan, sebelum Yura menyelesaikan ucapannya.
Yura yang mendengar penjelasan Dean itupun tersenyum dalam hatinya. Ingin rasanya ia tertawa, namun segera di tahannya melihat ekspresi pria itu yang menurutnya sangat lucu.
"Yura, apa kau mendengar ku...?"
Ucapnya lagi melambaikan telapak tangannya tepat di wajah Yura, karena saat ini gadis itu seperti orang bingung menatapnya.
Ucap Yura dan seketika berhenti, saat dirasa ia sudah terlalu banyak bicara pada orang yang bahkan baru di kenalnya.
Sedangkan Dean, hanya mendengar ucapan Yura dengan seksama.
"Ah, sepertinya aku sudah banyak bicara..."
"Tidak Yura, aku sangat mengerti dengan maksudmu itu..."
Ucap Dean seketika dan tersenyum pada Yura.
"Kalau begitu, aku akan pergi. Terimakasih untuk minumannya..."
Ucap Yura seketika, dan hendak pergi dari sana.
"Mari kita pergi bersama, bukankah tujuan kita sama...?"
Ucap Dean kembali, dan langsung menerima respon setuju oleh Yura.
Akhirnya, merekapun berjalan bersama menuju tempat perkumpulan semua peserta.
Yura yang melihat Dean tidak berhenti tersenyum padanya itupun, juga ikut tertawa.
Beda halnya dengan Dean, Yura hanya tersenyum dalam hatinya tanpa mengekspresikan nya sama sekali.
Tanpa mereka sadari, saat ini Juan tengah menatap tidak suka ke arah mereka. Tidak, lebih tepatnya ke arah Dean saja...
***
__ADS_1
"Yura...?!"
Panggil Nara melambaikan tangannya, agar Yura bisa melihat keberadaan nya saat ini.
Yura yang menyadarinya itupun, langsung berlari ke arah Nara meninggalkan Dean yang kebingungan karena di tinggal gadis yang di sukai nya itu.
"Semoga, kita bisa lebih dekat lagi Yura..."
Gumamnya pelan, dan tersenyum melepas kepergian gadis itu.
"Cantik bukan...?!"
"Ya, dia benar-benar cantik alami..." masih tersenyum menghayal.
"Juan?! Kau, sejak kapan kau disini...?!"
Ucapnya salah tingkah, saat menyadarinya pria yang bicara padanya itu adalah temannya Juan.
"Sejak matamu hampir keluar melihat gadis itu..."
Ucapnya datar, tapi dengan wajah yang kesal.
"Ternyata, dia tidak seburuk yang kita pikirkan Juan. Jika kita lebih dekat lagi mengenalnya, kau akan tahu betapa tulus hatinya..."
Jelas Dean dengan matanya yang masih tertuju pada Yura yang sudah asik bergurau dengan Nara sahabatnya itu.
"Ingat ucapan mu padaku Dean..."
"Ucapan...? Ucapan apa Bro...?!"
Ucap Dean kembali bertanya dengan mengerutkan dahinya bingung.
"Bahwa kau tidak akan mendekati gadis yang tengah aku incar...!"
Ucap Juan seketika, yang langsung membuat Dean membulatkan matanya tidak percaya.
"Juan, apa maksudmu...?!"
Ucapnya lagi meyakinkan ucapan Juan.
Namun pria itu malah diam saja dan segera berlalu dari sana, meninggalkan Dean yang masih kebingungan mencerna kata-katanya.
"*Aku tidak akan mendekati gadis yang diin*car nya...?!"
"Apa maksudnya...?"
Gumamnya sendiri memikirkan kembali ucapan Juan padanya.
"Oh tidak, apa maksud dari gadis yang di katakan nya itu Yura...?!!"
Ucapnya seketika tidak percaya dengan hasil dari pemikirannya saat ini, dan ia pun langsung berlari mengejar Juan untuk memastikan lagi ucapan pria itu.
"Juan, tunggu aku..."
Teriaknya, namun Juan sudah lebih dulu di ambil alih kehadirannya oleh para penyelenggara lain. Karena memang dialah ketuanya.
"Bagaimana ini, bagaiman jika benar kalau gadis itu adalah Yura? Aku pikir dia menyukai Nara. Tapi kenapa sekarang dia malah menyukai Yura...?!"
__ADS_1