
Dari semalam hingga siang ini sepulangnya dari perkemahan di lingkungan sekolah mereka, Juan masih tetap diam dan tidak bicara pada Dean, bahkan Dean berulang kali mendekati pria itu hanya untuk sekedar menyapa. Namun tetap saja Juan menghindarinya. Hingga membuat Dean tidak tahan lagi, dan langsung bicara pada Juan secara terang-terangan.
"Juan, aku mau bicara. Tolong ikut aku sebentar..."
Ucap Dean langsung menarik tangan Juan ketempat sepi, untuk mengutarakan rasa penasarannya karena sikap dingin Juan padanya.
"Apa yang kau inginkan...?!"
Ucap Juan sedikit menyentak tarikan Dean pada tangannya.
"Harusnya aku yang bertanya padamu Bro...?!
Kamu kenapa, dan apa yang salah...? Kenapa kau bertingkah seperti ini dari semalam padaku hah...?!"
Ucap Dean seketika mengeluarkan semua pertanyaan yang ingin di katakan nya.
"Bukankah kau sudah tahu? Lalu kenapa kau masih menanyakannya padaku." Acuh.
"Bagaimana aku bisa tahu, kalau kau saja tidak mengatakannya...?! Sekarang aku tanya sama kamu, apa kau menyukai Yura Juan...?"
Ucap Dean langsung terang-terangan. Namun Juan hanya diam setelah mendengar ucapan temannya itu.
"Kenapa kau diam? Jawab aku Juan...?!"
Teriaknya lagi, namun pria itu masih diam. Dan memilih untuk pergi dari sana.
"Kau sangat kekanakan Juan...?! Bagaimana aku bisa tahu apa salahku, jika kau hanya diam seperti itu hah...?!"
Teriaknya lagi pada Juan yang sudah mulai menjauh darinya itu.
Seketika Juan berbalik berjalan ke arahnya kembali.
"Ya, aku memang menyukainya. Lalu kenapa? Haruskah aku mengatakannya padamu hah?!"
"Ya, karena aku temanmu...?! Tidak bisakah kau jujur padaku dari awal, kalau kau memang menyukainya hah...?!"
Jawab Dean kembali meneriaki temannya itu.
"Teman...?! Teman kau bilang? Jika benar kau temanku, harusnya kau tidak mendekatinya, bahkan sampai menyukainya Dean...!
Tapi kenapa kau malah mencari kesempatan untuk lebih mendekatinya lagi hah...?!!"
"Juan...? Kau, kau berfikir sampai serendah itu padaku? Kalau begitu, terimakasih sobat..."
Ucap Dean sendu setelah mendengar anggapan Juan padanya, yang membuat hatinya terasa sakit. Tanpa pikir panjang lagi, Dean pun segera melangkahkan kakinya dari sana. Meninggalkan Juan yang sudah terdiam memegangi kepalanya, karena menyesal dengan ucapannya barusan pada temannya itu.
"Jika aku tahu kau menyukai Yura, maka aku tidak akan melangkah mendekatinya Juan...
Kenapa kau tidak mengatakannya sedari awal, padahal jelas-jelas aku sudah menanyakannya padamu. Sekarang, setelah sekian lama pertemanan kita. Kau hanya menganggap ku seperti itu..."
Gumam Dean sedih dalam hatinya, dan langsung ke parkiran untuk mengemudikan mobilnya menuju rumah...
__ADS_1
***
"Aku benar-benar lelah..."
Erang Yura seketika saat menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Rasanya benar-benar nyaman. Nana, biarkan aku tidur untuk beberapa jam. Jika kau juga lelah, tidurlah..."
Ucap Yura kembali, dan sontak membuat Nara tersenyum lucu melihatnya.
"Aku tidak tahu, kalau seorang Yura juga bisa merasakan lelah. Ditambah lagi dengan hanya karena acara kemah seperti itu...
Wah, kau memang benar-benar lemah Yura, Bahkan aku bisa mengalahkan mu hahaha..."
Ejek Nara pada sahabatnya itu.
"Nana...?!!"
"Week...?! Hahaha"
Ejeknya kembali menjulurkan lidahnya kearah Yura, sebelum ia benar-benar keluar dari kamar mereka. Sedangkan Yura, hanya bisa mengeluh kesal menerima ejekan sahabatnya itu, dan kembali memposisikan tubuhnya dengan nyaman di atas kasur untuk segera tidur.
Sedangkan di lain tempat, setelah mengerjai sahabatnya Yura. Kini Nara berpaling untuk mengerjai ibunya, yang saat ini tengah memasak di dapur.
"Ibu...?!!"
"Oh Tuhan, Nara...?! Kau benar-benar mengejutkan ibu Nak, kapan kau akan bersikap dewasa hah...?"
"Hehehe, aku tidak ingin dewasa. Aku ingin selalu seperti ini..."
"Kau ini, selalu saja bicara seperti itu. Apa kau lapar sayang...? Oh ya, bagaimana acara kemah kalian?"
"Hem, sangat menyenangkan... walaupun sedikit ada kendala, tapi semuanya menyenangkan Bu. Yura juga demikian, sama bersemangatnya denganku."
Jelasnya sedikit berbohong, karena ia tidak ingin ibunya khawatir jika tahu Yura pingsan saat di perkemahan.
"Hem, baguslah... kalau begitu, cepat panggil non Yura. Kalian pasti lapar bukan? Ibu sudah masak makanan kesukaan kalian..."
"Aku makannya nanti aja Bu, sekalian nunggu Yura bangun. Sepertinya dia benar-benar lelah, dan saat inipun dia tengah tertidur di atas."
Ucap Nara lagi menolak ajakan ibunya untuk segera makan, dan Liana pun menyetujui permintaan putrinya itu.
"Oh ya Bu, apa nyonya di rumah...?"
"Kenapa...?"
Jawab Liana seketika penasaran dengan mimik wajah putrinya saat ini.
"Hem, tidak ada... aku hanya bertanya saja Bu?"
"Dia berangkat untuk perjalanan bisnisnya tadi pagi, dan ibu rasa dia akan kembali setelah seminggu..."
__ADS_1
Jelas Liana kembali. Seakan tahu, apa yang ada dalam pikiran putrinya saat ini.
"Baiklah. Kalau begitu, bagaimana dengan Mike? Kapan dia kembali Bu?"
"Besok sayang, karena lusa kan kalian masuk sekolah lagi..."
Ucap Liana lagi, dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Baguslah. Kalau begitu, aku mau tidur dulu ya bu. Aku juga sedikit lelah..."
"Baiklah Sayang..."
Ucap Liana menyetujui ucapan putrinya, dan Nara pun segera pergi dari dapur menuju kamarnya untuk ikut bergabung bersama Yura yang sudah lebih dulu tertidur...
***
Sedangkan di sisi lain. Saat ini, Diandra yang merupakan ibunya Yura itu tengah sibuk bertemu dengan orang-orang hebat lainnya sesama designer di luar negri. Termasuk sahabat nya sesama designer yang juga punya seorang putra, dan kebetulan juga bersekolah di tempat yang sama dengan putrinya Yura.
"Soraya...?!"
Teriaknya memanggil teman wanitanya yang bersama Soraya itu, untuk segera bergabung dengannya.
"Hai, bagaimana kabarmu Diandra...? Wah, sudah berapa bulan kita tidak bertemu...?"
Ucap wanita paruh baya berumur sekitar 40an itu, yang langsung di sambut dengan pelukan hangat oleh Diandra.
"Aku juga merindukanmu Soraya...? Mau bagaimana lagi, kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Begitu juga denganku."
Ucap Diandra melepas pelukannya, dan membawa Soraya untuk segera duduk di sebelahnya.
Merekapun saling bercerita tentang kesuksesan mereka saat ini. Hingga akhirnya, Soraya bertanya tentang putri semata wayang temannya itu.
"Oh ya Diandra, bagaimana dengan putrimu?
Aku lupa nama gadis cantik itu..."
"Yura, namanya Yura. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan putriku, hem...?"
Goda Diandra pada temannya itu.
"Ah tidak, aku hanya penasaran saja.
Setahuku, bukankah anak-anak kita Satu sekolah...?"
"Benarkah...? Jadi, putramu juga bersekolah di tempat yang sama dengan putriku?"
Ucap Diandra tidak percaya dengan ucapan Soraya itu.
"Siapa nama putramu Soraya...? Nanti aku akan menanyakannya pada putriku. Siapa tahu, mereka saling mengenal di sekolah..."
"Namanya..,"
__ADS_1
Seketika ucapan Soraya terhenti, saat terdengar pengumuman suara mic agar semua designer bisa segera berkumpul.
Serta bisa mempersiapkan masing-masing model artist mereka, untuk penampilan yang terbaik dari karya mereka semua.