My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 25


__ADS_3

Nara seketika terkejut, saat mendapati nyonya rumah itu sudah berdiri di tepian tangga, dan melihat sinis ke arahnya.


Bagai tersambar petir di siang bolong. Tubuh Nara seketika mendadak beku, dan tidak sanggup untuk menggerakkan kembali langkahnya.


"Nyonya...?!"


Panggilnya sangat pelan, bahkan hampir tidak terdengar sama sekali.


"Apa yang kau lakukan di sana Nara...?!"


"Aku, aku hanya..."


Ucap Nara terbata dan takut untuk menjawab pertanyaan Diandra.


"Jangan bilang, kau membuat ulah lagi pada putriku hah...?!"


Teriak Diandra seketika melemparkan tuduhannya pada Nara yang masih mematung di tempatnya itu, yang tengah memainkan jemarinya untuk menetralkan perasaannya saat ini.


"Ma, apa yang kau katakan...?! Kami baik-baik saja, tolong jangan ganggu dia."


Ucap Yura seketika saat pintu kamarnya terbuka, dan langsung menarik tangan Nara untuk masuk ke dalam kamar.


Untung saja Nara masih belum turun. Kalau sudah, maka ia tidak akan tahu apa yang akan di ucapkan ibunya itu pada Nara.


"Yura...?!"


"Mama...? Udah dong, tolong jangan membuat masalah lagi. Nara sama sekali tidak melakukan kesalahan Ma...?!"


Ucap Yura langsung, seakan tahu arti dari ucapan ibunya itu memanggil namanya.


"Hem, baiklah...? Apa kau akan tetap di sana, tanpa menyapa ibumu ini dulu heh?!"


Yura baru sadar, kalau memang ibunya itu baru pulang setelah perjalanan kerjanya seminggu lalu.


Dengan langkah malas, ia pun berjalan mendekati Diandra dan langsung memeluknya sebentar.


"Welcome back mom..."


Ucapnya sebentar, dan langsung melepaskan pelukannya dari Diandra.


Sedangkan Diandra hanya tersenyum sebentar seraya mengusap lembut rambut putrinya itu, dan melepaskan kepergian Yura kembali ke kamarnya.


"Fiuh, aku benar-benar lelah..."


Gumam Diandra sebentar, sebelum akhirnya ia kembali ke kamarnya untuk istirahat.


***


Saat ini, Yura masih sibuk gelisah bergerak ke sana dan kemari untuk menghindari tatapan Nara yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Pasalnya, gadis itu saat ini tengah merayunya kembali agar bisa memaafkannya.


"Sampai kapan kau akan seperti itu Nana...?!

__ADS_1


Kau sama sekali tidak membiarkanku untuk istirahat dengan baik."


Ucap Yura yang sudah mulai risih dengan pergerakan dan tingkah laku sahabatnya itu.


"Sampai kau memaafkan ku..."


Ucapnya manyun, dan masih bergelayut pada Yura.


"Kau selalu saja seperti itu, berulang kali seperti itu."


"Bukankah kita sama? Hehe..."


Ucap Nara seketika menaik turunkan alis matanya membela diri.


"Hem, baiklah. Kalau begitu lupakan saja hal tadi, apa kau puas...?!"


Ucap Yura terpaksa, karena tidak tahu lagi akan mengatakan apa pada sahabatnya itu.


"Hehe, terimakasih Yura..."


Ucap Nara senang, dan langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Tapi ingat, jangan di ulangi lagi...?! Apa kau mengerti?"


"Janji...!"


Ucap Nara spontan seraya mengangkat dua jarinya ke atas sebagai ikatan tanda janji dirinya pada Yura, dan akhirnya, merekapun tertawa bersama melihat kelucuan mereka masing-masing.


***


Inilah saat awal dimana hubungan persahabatan antara Yura dan Nara mulai retak. Yaitu, dengan hadirnya Juan dan Dean tanpa di undang kedalam hubungan mereka.


Nara dan Dean saat ini tengah asik membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak di ketahui Yura, bahkan saat ini Yura juga tengah menatap tidak suka dengan pemandangan di depannya saat ini. Sedangkan Juan yang memperhatikan Yura itu pun sontak merasa bingung dengan tatapan gadis itu, setelah mengikuti kemana arah pandangan Yura saat ini.


"Kenapa tatapannya seperti itu, seperti orang yang tengah cemburu saja?! Apa, jangan-jangan dia juga sama menyukai Dean...?!"


Gumam Juan terkejut dalam hatinya, setelah memutuskan isi pikirannya sendiri. Ia tidak tahu saja, kalau Yura cemburu bukan karena menyukai Dean, tapi karena tidak suka pada pria itu yang telah berani mendekati sahabatnya Nara.


"Yura, kau tidak apa-apa...?"


Panggil Juan pelan seraya menggoyangkan kursi Yura di depannya, agar gadis itu segera sadar dengan panggilannya.


"Yura...?!"


Panggilnya sekali lagi, dan barulah Yura merespon dengan mengalihkan tatapan tajamnya pada Juan di belakangnya.


"Apa yang kau inginkan hah...?! Kenapa kau menggangguku?!"


Ucap Yura seketika menatap Juan tidak suka.


Sedangkan Juan, hanya bisa terdiam dengan hardikan gadis dingin di depannya saat ini.

__ADS_1


"Aku..."


"Jika kau tidak punya kegiatan lain, keluarlah dan pergi ke kantin sana. Asal jangan pernah menggangguku...!"


Ucap Yura kembali, sebelum akhirnya ia kembali membalikkan tubuhnya ke depan. Meninggalkan Juan yang tersenyum sendiri melihat tingkahnya.


"Ternyata, kau mempunyai pesona mu sendiri saat kau tengah marah Yura..."


Gumamnya pelan, dan tersenyum saat menyadari kalau memang hatinya sudah semakin jatuh pada gadis di depannya saat ini.


Sedangkan Nara, yang juga ikut memperhatikan Juan dari mejanya, juga terlihat bingung serta aneh.


Aneh dalam mengartikan senyuman Juan yang saat ini tengah tersenyum pada sahabatnya yang sudah memunggungi pria itu.


"Apa dia menyukai Yura...?"


Gumamnya di dalam hati melihat pemandangan di depannya saat ini.


Setelah bel kembali berbunyi, merekapun kembali mengikuti pelajaran selanjutnya bersama hingga berakhirnya kelas hari itu...


***


Saat ini, Yura hanya diam di dalam mobil tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Bukan apa-apa, hanya saja ia tidak tahu untuk mengekspresikan perasaan nya saat ini. Tidak mungkin baginya untuk mengatakan pada Nara perihal di kelas tadi. Ia tidak ingin, jika hal sepele seperti itu kembali membuat mereka bertengkar, dan keadaan pun semakin tidak baik nantinya.


Begitu juga dengan Nara, yang ikut diam tanpa bicara. Ingin rasanya ia menanyakan perihal Juan yang di lihatnya tersenyum pada Yura saat di kelas tadi. Tapi niat itu segera ia urungkan, mengingat baru saja kemarin ia dan Yura bertengkar perihal Dean. Tidak mungkin juga baginya sekarang, jika mereka kembali mendebatkan hal yang tidak penting seperti tadi siang lagi.


Mereka saling diam dan memendam rasa penasaran mereka masing-masing di dalam hati. Tidak hanya mereka, Juan dan Dean pun sama halnya. Mereka saling diam dalam beberapa hari terakhir, setelah pertengkaran mereka sepulangnya dari kemah waktu itu.


Puncaknya adalah saat Yura tidak sanggup lagi melihat kedekatan sahabatnya itu dengan Dean, dan ia pun segera mendatangi mereka berdua serta kembali mengeluarkan kata-kata menghinanya pada Dean.


"Menjauh lah dari temanku...!"


Ucap Yura yang tiba-tiba datang ke meja Nara, dan menarik tubuh Dean agar menjauh dari Nara.


"Yura...?!"


Ucap Nara yang terkejut, dan langsung berdiri melihat Dean yang sudah terhuyung ke belakang akibat tarikan sahabatnya itu.


"Yura, aku hanya... maafkan aku, aku hanya..."


"Hentikan omong kosong mu itu Dean?!"


Ucap Yura langsung meneriaki Dean dengan marah, mengeluarkan semua rasa kesalnya untuk beberapa hari terakhir.


"Yura, ada apa denganmu? Apa salahnya?"


"Nara, biar aku saja yang menjelaskannya..."


Ucap Dean kembali mengangkat tangannya agar Nara menghentikan ucapannya. Karena ia tahu betul bagaimana saat ini perasaan Yura. Ia tahu kalau saat ini Yura tengah cemburu padanya, karena sudah berani mendekati sahabatnya.

__ADS_1


Sedangkan Yura, masih dengan amarahnya melihat ke arah Dean.


Juan yang tadinya tengah memainkan ponselnya itu, segera berdiri dan berjalan mendekati ketiga orang yang saat ini tengah bersitegang itu...


__ADS_2