
Tubuh Yura bergetar hebat. Baginya semua ini seperti mimpi. Tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya, jika semua ini akan terjadi.
"Kenap Nana? Kenapa kau membohongi dan membodohi ku dengan semua kata-katamu itu, kenapa...?!"
Ia berteriak di dalam hati seraya menggenggam erat ponsel Nara di tangannya. Air mata yang sudah di bendung nya sedari tadi itupun tidak sanggup lagi bertahan, dan seketika keluar dengan sangat deras.
Yura memukul dadanya yang terasa sesak berulang kali, hingga gerakannya itu berhenti saat terdengar suara panggilan namanya dari belakang.
"Yura..."
Panggil Nara membulatkan matanya dengan sempurna. Saat mendapati Yura yang saat ini bergetar membelakanginya, dengan ponsel dirinya yang ada di genggaman sahabatnya itu.
Sontak Yura membalikkan tubuhnya melihat Nara, dan sontak Nara kembali menutup mulutnya saat melihat keadaan Yura saat ini. Sudah bisa di tebak, sahabatnya itu pasti sudah mengetahui segalanya.
"Yura, aku bisa jelaskan semuanya padamu? Aku, aku dan dan Juan sebenarnya... kami tidak bermaksud untuk..."
"Hentikan mulut kosong mu itu Nana?! Kau tidak perlu menjelaskan semuanya lagi. Aku sudah cukup mengerti..."
Ucap Yura seraya memajukan tangannya ke depan, saat Nara berjalan hendak menjelaskan semuanya padanya.
"Yura..." menangis sesenggukan.
"Jangan ganggu aku Nara. Tolong biarkan aku sendiri dulu untuk sekarang... "
Ucapnya kembali, dan langsung beranjak dari sana. Meninggalkan Nara yang saat menangis menyesali semuanya di dalam kamar, dan dirinya yang segera keluar dari rumah untuk mengemudikan mobilnya mencari tempat menjernihkan pikirannya untuk saat ini.
"Kenapa semua orang yang aku sayangi mengkhianati ku. Kenapa... kenapa...?! "
Teriaknya marah sekaligus kecewa, memukul setir mobilnya berulang kali hingga menimbulkan suara klakson mobil yang panjang...
***
Saat ini Yura sudah berada di sebuah taman pinggiran kota, dengan pemandangan hamparan rumput yang luas. Sesekali ia akan menghapus air mata di pipinya, saat buliran bening itu keluar begitu saja. Ponsel di tangannya pun sudah bergetar sedari tadi, tapi bahkan ia tidak melihat panggilan itu sekalipun.
Pandangan Yura kosong, bahkan saat ini ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi sahabatnya itu nanti.
__ADS_1
Sedangkan Nara sendiri, saat ini sudah sangat panik karena sedari tadi Yura tidak menjawab panggilannya. Ingin rasanya ia keluar mencari keberadaan Yura, tapi ia tidak tahu kemana harus mencari gadis itu.
Nara pun juga sudah meminta bantuan adiknya Mike untuk mencoba menghubungi dan mencari keberadaan Yura. Namun hasilnya masih tetap sama.
"Kemana kamu Yura? Tolong jangan membuatku khawatir seperti ini...
Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?!"
Gumam Nara semakin panik, seraya mondar mandir di kamarnya tanpa henti.
Seketika, ia teringat akan Dean. Ide untuk meminta bantuan pada Dean pun langsung terlintas di benaknya. Krena jika ia meminta bantuan Juan, sama saja dengan memperburuk keadaan. Karena pangkal masalahnya saat ini adalah pria itu sendiri.
Lama sambungan itu berdering, hingga akhirnya Dean menjawab telfon Nara dari seberang sana. Tanpa menunda waktu lagi, Nara langsung menceritakan semua perihal yang terjadi saat ini, dan meminta Dean untuk mau membantunya. Tidak lama, Nara pun mengucapkan terimakasih yang berarti pria itu setuju membantunya mencari Yura.
Setelah panggilan terputus, Nara pun langsung mengenakan sweater nya dan segera keluar dari rumah mencari taksi menuju rumah Juan, bahkan tanpa memberitahukan pria itu lebih dulu.
Maksud kedatangannya saat ini adalah untuk memberitahukan pada pacarnya yang baru beberapa minggu itu tentang Yura yang sudah mengetahui perihal hubungan mereka.
Setelah sekian lama di dalam taksi, akhirnya iapun sampai di tempat tujuan, dan barulah ia menelfon Juan untuk memberitahukan jika dirinya saat ini sudah berada di depan rumah pria itu.
"Nara, apa yang terjadi? Kenapa raut wajahmu seperti itu? Kamu kenapa...? "
Tanya Juan seketika bertubi-tubi saat sampai di hadapan Nara dengan nafas yang tidak beraturan, ulah dari dirinya yang berlari terburu-buru.
"Juan, Yura... dia sudah..,"
Seketika ucapannya itu terhenti, karena ia tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya. Sedangkan Juan yang sadar akan kepanikan pacarnya itupun langsung meraih bahu Nara, dan membawanya untuk duduk di atas kursi di luar pagarnya itu.
"Nara, jelaskan saja dengan perlahan. Tarik nafas mu lebih dulu, agar kau bisa sedikit lebih tenang. Setelah itu, baru lanjutkan lagi ok?"
Ucap Juan lembut dan mencoba memberikan instruksi pada Nara untuk mengatur nafasnya, dan Nara pun langsung mengikutinya hingga sedikit lebih baik.
"Juan?" tatapan sendu dengan mata berlinang.
"Hem?"menatap Nara penasaran.
__ADS_1
" Yura sudah mengetahui tentang hubungan kita..." kembali menangis.
"Apa kau yang memberitahukannya?"
"Tidak, aku rasa dia memeriksa handphone ku saat aku tengah mandi."
"Jadi...?"
"Dia pasti salah faham padaku, Juan. Dia begitu marah dan terpukul. Aku sudah mengkhianatinya Juan, apa yang harus aku lakukan...?!"
Ucap Nara menjelaskan di sela tangisannya. Juan yang mendengar penjelasan Nara itupun hanya terdiam dan menarik panjang nafasnya.
"Sekarang dia dimana? Biar aku saja yang menjelaskan semua padanya."
"Tidak Juan, kau tidak mengenal bagaimana Yura. Dia tidak akan mendengarkan penjelasan mu, bahkan mungkin dia tidak mau hanya sekedar untuk melihatmu..."
"Tapi aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi, Nara? Atau sebaiknya, kita menjelaskan berdua padanya. Bagaimana?"
"Masalahnya. Setelah mengetahui semuanya tadi, dia pergi dan masih belum kembali hingga saat ini. Mike juga sudah mencarinya di luar sana, tapi tetap tidak menemukannya."
"Apa kau sudah coba menghubunginya?"
"Dia sama sekali tidak menjawab panggilan ponselnya dari siapapun..."
Ucap Nara lagi, dan tangisannya pun semakin kencang. Juan yang tidak tega melihatnya itupun langsung menghentikannya dengan memberikan sebuah sapu tangan.
"Tunggulah di sini sebentar. Aku akan membawa mobilku, dan kita akan mencarinya kemanapun. Kau setuju?"
Sontak Nara menganggukkan kepalanya, dan Juan pun kembali masuk ke dalam rumahnya untuk membawa mobil seperti yang sudah dikatakannya tadi...
Sedangkan di lain tempat. Tidak hanya Mike, Dean juga sudah panik mencari keberadaan Yura kemanapun dan kesemua tempat yang sering di tuju Yura. Tentu saja informasi tempat kunjungan Yura itu diketahuinya dari Nara, saat gadis itu menghubunginya tadi.
"Kemana kau Yura? Kemana lagi aku harus mencari mu?"
Gumam Dean pelan, seraya mengistirahatkan tubuhnya sejenak di bawah pohon. Sesaat pikirannya menerawang, mencoba mengingat kembali dimana saja tempat yang sering di kunjungi gadis itu. Namun tetap saja ia tidak bisa menemukannya satupun...
__ADS_1