
Yura sudah memarkirkan mobilnya dengan rapi di parkiran sebuah restoran, dan tidak lama, tampak Dean juga mengikuti dari belakang mencari lapangan parkir untuk mobilnya.
"Ayo kita masuk, bukankah kau sudah sangat lapar?"
Ajak Yura membuka pintu untuk turun, dan diikuti oleh Nara di sebelahnya.
"Yura, tidakkah sebaiknya kita menunggu mereka dulu, hem?"
"Ayolah Nana? Mereka bukan anak kecil lagi yang harus di kawal masuk ke dalam. Udah ah, ayok kita duluan saja. Toh juga nanti mereka menyusul."
Ajak Yura kembali pada Nara yang masih menunggu dan melihat kearah Dean dan Juan memarkirkan mobil.
"Nana...?!"
"Ah, ya... ayo kita masuk duluan."
Ajak Nara yang kaget dengan teriakan Yura memanggil namanya. Merekapun masuk lebih dulu mencari tempat duduk dan memesan makanan. Hingga akhirnya dua pria yang menurut Yura menyebalkan itu datang dan duduk di depan mereka.
"Kalian mau ngapain, hah?!"
Ucapnya seketika membelalakkan matanya pada Dean dan Juan sekaligus.
"Kami mau duduk..,"
Ucap Dean bingung, dan Juan yang mengangguk mengikuti ucapan temannya.
"Duduk di tempat lain aja, asal jangan di sini. Kalian merusak pandangan mata, tahu gak?!"
"Yura...?!"
Hardik Nara seketika atas ucapan sahabatnya itu. Sedangkan kedua pria itu hanya menggaruk kepala mereka yang tidak gatal serentak dan segera bangun berencana untuk beranjak dari sana.
"Tunggu! Kalian mau kemana? Duduk di sini saja, jangan hiraukan sahabatku ini. Dia memang pemarah, tapi sebenarnya dia penyayang loh. Hehehe..."
Ucap Nara menyuruh kedua pria itu kembali duduk di kursi mereka, seraya menggoda Yura agar menyetujui permintaannya. Sedangkan gadis itu, hanya menghela nafas jengah nya dan terpaksa menuruti kehendak sahabat manjanya itu.
Mereka makan dengan suka cita. Juan yang sesekali menggoda Nara, dan bergantian dengan Dean. Namun, tidak ada satupun di antara mereka berdua yang berani menggoda Yura. Karena mereka tahu, untuk bisa mencapai kedekatan seperti ini tidaklah mudah. Mereka juga tidak mau, jika Yura kembali salah faham dan semakin membenci mereka.
Sedangkan Yura, ia hanya melanjutkan makannya dengan sesekali melihat kearah Dean dan Juan yang bergantian menggoda sahabatnya.
"Kenapa mereka hanya menggoda Nana? Kenapa tidak ada satupun di antara mereka yang mengajakku bicara..."
Itulah yang terlintas dalam pikiran Yura saat ini. Tanpa ia sadari, sebenarnya Juan dan Dean bukan tidak mau menggodanya. Tapi lebih tepat takut untuk sesuatu hal yang mungkin saja terjadi nantinya...
***
Sepanjang perjalanan pulang. Yura hanya fokus menyetir, tanpa bersuara sedikitpun.
"Yura, kau tidak apa-apa?"
"Tentu..."
Jawab Yura seketika menjawab pertanyaan Nara padanya. Padahal, dalam hatinya saat ini tengah kesal perihal di tempat makan tadi. Tapi sengaja ia tutupi, agar tidak menjadi masalah nantinya.
__ADS_1
"Kapan-kapan, bisakah kita makan kembali seperti tadi?" dengan nada hati-hati.
"Tentu..."
"Mereka berdua juga akan ikut bersama kita bukan?"
Ucap Nara kembali, tapi kali ini Yura tidak segera menjawabnya.
"Hem, terserah padamu saja. Aku akan ikut."
Ucap Yura setelah sekian detik kemudian, dan Nara yang mendengarkan ucapan Yura itupun langsung tersenyum senang.
"Terimakasih Yura...?!"
Ucapnya semangat dan mencubit pelan pipi Yura yang chuby. Sedangkan gadis itu, dia hanya tersenyum melihat sahabatnya bahagia...
"Mike...?!"
Teriak Nara seketika saat melihat seorang pemuda berpakaian sekolah tengah duduk santai di bawah pohon lapangan tempat ia dan Yura dulu pergi.
"Yura, hentikan mobilnya. Bukankah menurutmu itu Mike?"
Ucapnya kembali, dan langsung saja Yura menginjak rem mobilnya, untuk melihat dengan jelas pemuda yang di maksud oleh Nara tadi.
"Kau benar Nana. Tapi, apa yang dilakukannya di tempat ini? Ayo kita hampiri."
Ajak Yura seketika membuka pintu mobilnya untuk turun, dan segera menyusul Mike di ikuti oleh Nara di belakangnya.
"Mike, apa yang kau lakukan di sini sendirian? Kenapa tidak langsung pulang?"
"Kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?"
Ucapnya tak kalah penasarannya dengan Yura dan Nara.
"Kami yang seharusnya bertanya padamu, Mike? Apa yang kau lakukan di sini sendirian...?!"
Ucap Nara sekali lagi mengulang ucapan Yura sebelumnya.
"Aku hanya menenangkan pikiranku sejenak. Kalian tidak usah khawatir, sebentar lagi juga aku akan pulang."
Ucapnya dan kembali menyandarkan tubuhnya ke batang pohon.
"Apa kau ada masalah Mike?"
Tanya Yura penasaran karena melihat tingkah dan gelagat Mike saat ini.
"Aku baik-baik saja. Kalian tidak usah khawatir."
Baiklah, kalau begitu jangan sampai lupa pulang. Aku dan Nana duluan, bye?!"
Ucap Yura kembali, dan segera menarik tangan Nara dari sana menuju mobil, dan meninggalkan Mike yang masih memejamkan matanya di bawah rindang pohon.
Sedangkan pria itu. Tidak lama setelah kepergian kedua kakaknya, sebutir permata bening pun menerobos keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
***
"Selamat datang ladies...?!" merentangkan tangan.
"Papa...?!"
Teriak Yura dan Nara serentak, saat melihat pria yang mereka panggil papa itu sudah berdiri menyambut kedatangan mereka di balik pintu.
"Kapan sampai Pa? Kenapa tidak kasih kabar kalau hari ini pulang?"
Ucap Yura melepas pelukan ayahnya. Sedangkan Nara, masih setia dalam dekapan Bram.
"Kejutan Sayang? ? "
"Kejutan? Dalam rangka apa Pa?"
Sela Nara yang penasaran akan ucapan ayah angkatnya itu.
"Tentu saja kejutan untuk kedua putriku ini, hahaha..."
Serentak mereka semua tertawa, dan kembali saling berpelukan melepas rindu.
Yura duduk berbincang dengan ayahnya di ruang tamu, sedangkan Nara pergi ke belakang untuk menemui ayah kandungnya.
"Ayah, kenapa kau pulang tidak memberiku kabar?!"
Ucap Nara seketika masuk ke dalam kamar ayah dan ibunya itu, dan langsung bersandar di tepian kasur seraya mengerucutkan bibirnya agar terlihat marah.
"Maafkan ayah sayang, tapi ayah sudah memberitahukan kepulangan ayah pada adikmu Mike. Namun dia sama sekali tidak membalas pesan ayah. Hem, entahlah. Mungkin dia sangat sibuk belajar, jadi dia tidak sempat untuk membalas pesan ayah."
Jelas Satyo pada putrinya, dan sontak membuat Nara kaget mengerutkan dahinya.
"Mike? Maksudnya, Mike sudah tahu kalau Ayah pulang hari ini?" Semakin bingung.
"Hem, begitulah..."
Jawab Satyo kembali seraya menyesap kopi panasnya.
"Barusan dia kirim pesan pada ayah, kalau hari ini dia ada kelas tambahan dan pasti akan sangat terlambat untuk pulang."
Ucap Satyo kembali, yang membuat Nara semakin bingung.
"Kelas tambahan? Mike? Tapi, bukankah tadi dia berada di lapangan?"
Pikir Nara dalam hatinya kembali mengingat tentang adiknya itu.
"Baiklah, kalau begitu ayah istirahat saja. Pasti Ayah lelah bukan? Aku mau ke kamar dulu untuk berganti pakaian."
"Baiklah Sayang..."
Ucap Satyo melepas kepergian Nara dari kamarnya, sesaat setelah gadis itu mencium singkat kening ayahnya.
"Apa yang terjadi pada Mike? Aku yakin, pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya. Tapi apa? Juga, kenapa dia berbohong pada ayah?!"
__ADS_1
Gumam Nara dalam hatinya memikirkan Mike berulang kali. Hingga akhirnya ia sampai di depan pintu kamar, dan ingin segera mengatakan semuanya pada Yura.