My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 26


__ADS_3

"Yura, tunggu aku...?!"


Terdengar teriakan Nara yang tengah berlari di koridor sekolah mengejar Yura yang saat ini tengah kesal. Tidak hanya Nara. Dean dan Juan juga ikut mengejar gadis itu.


"Nara, tunggulah di sini. Biar aku saja yang menjelaskan padanya, kau mengerti?"


Ucap Dean menarik tangan Nara yang tengah berlari, dan memintanya untuk memberikan kesempatan baginya bicara pada Yura.


"Tidak Dean, kau tidak tahu bagaiman sifat Yura. Kau hanya akan memperburuk keadaan, biar aku saja, dan tolong! Tolong jangan ikut campur, ku mohon...?"


Ucap Nara seraya melepaskan pegangan tangan Dean di tangannya. Setelah tangannya terlepas, Nara pun kembali mengejar sahabatnya yang sudah tidak lagi terlihat itu.


"Apa sebenarnya yang sudah terjadi, dan ada apa dengan kalian bertiga hah...?!"


Ucap Juan seketika membuat Dean kaget dengan kehadiran pria itu di belakangnya.


"Juan?! Ayo kita bicara di tempat lain."


Ajak Dean segera pergi dari sana mencari tempat yang sepi, dan Juan pun mengikutinya dari belakang.


"Seperti yang kau tahu, Yura adalah gadis dingin yang anti sosial pada siapapun. Sedangkan Nara, bagi Yura gadis itu adalah segalanya. Dia menjadikan hubungan persahabatan mereka melebihi segalanya. Dia bahkan tidak akan membiarkan siapapun mendekati Nara, walaupun mereka sejenis."


"Maksudmu, dia posesif pada Nara?"


Ucap Juan menyimpulkan semua yang di jelaskan Dean padanya.


"Lebih tepatnya begitu..."


"Jadi, menurutmu. Apakah mereka, hem..."


"Bukan begitu Juan...?! Mereka tidak seperti yang ada dalam pikiranmu saat ini. Lebih tepatnya, sepertinya Yura tidak ingin perhatian Nara teralihkan darinya karena kedatangan orang baru."


"Tapi apa alasannya...?" bingung.


"Itulah yang saat ini ingin aku cari tahu. Hem, malam dimana saat kita masih di kemah, Yura pernah mengatakan padaku kalau baginya Nara itu sangat penting baginya. Dia juga tidak terbiasa dengan adanya orang baru yang masuk dalam hubungan mereka berdua, siapapun itu."


"Apa menurutmu, dia marah karena kau mendekati sahabatnya tadi?"


Ucap Juan kembali sedikit mulai mengerti dengan penjelasan Dean.


"Pasti, karena aku pikir mungkin dia kira aku menyukai sahabatnya, dan dia pun tidak bisa menerimanya.

__ADS_1


" Apa kau yakin?"


"Hem..."


Ucap Dean lagi dengan pandangannya yang jauh menerawang ke depan.


"Gadis itu semakin membuatku penasaran."


Timpal Juan kembali yang ikut mengikuti arah pandangan Dean saat ini, dan mengusap dagunya berulang kali.


"Juan, bolehkah aku bertanya? Apa benar kau menyukai Yura? Apa kau benar-benar yakin dengan perasaan mu itu, hem?"


"Apa maksudmu?"


Ucap Juan tidak mengerti arti dari pertanyaan Dean yang bertubi itu.


"Aku minta maaf atas sikapku tempo hari, aku pikir kau menyukai Nara. Karena setahu ku, Nara adalah tipe gadis yang kau sukai. Jika aku tahu kau menyukai Yura, tentu aku tidak akan tertarik untuk lebih dekat lagi padanya.


Apa kau bisa memaafkan ku?"


Ucap Dean mulai mengutarakan perasaannya yang sudah beberapa hari terakhir di tahannya. Namun, pria yang di ajaknya bicara saat ini pun masih saja diam tanpa komentar.


"Jika memang kau menyukai Yura, aku akan mundur untukmu. Tapi jika kau menyakitinya, maka aku akan mengambil kesempatan itu, tanpa memandang pertemanan kita lagi Juan..."


"Mari kita bermain adil. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara kita hanya karena seorang gadis. Mari kita sama-sama mendekatinya dengan cara kita masing-masing. Sedangkan untuk hasilnya, biarlah gadis itu yang menentukan. Aku juga ingin minta maaf padamu atas keegoisanku beberapa terakhir ini. Harusnya aku bisa lebih memahami mu Dean."


Jelasnya tulus, dan sontak membuat Dean tersenyum melihat kesungguhan temannya itu.


"Baiklah, kalau begitu sekarang sudah tidak ada lagi masalah antara kita. Untuk saat ini, lebih baik untuk kita menyatukan salah faham antara Yura dan Nara terlebih dahulu."


Ucap Dean kembali mengajak temannya itu, dan Juan pun langsung mengangguk antusias, dan merekapun segera pergi dari sana mencari keberadaan kedua sahabat tadi...


***


Di halaman belakang sekolah.


Yura masih diam dengan wajahnya yang sudah merah padam menahan amarahnya.


Sedangkan Nara, masih diam berdiri di belakangnya menunggu kata maaf untuk keluar dari mulutnya.


"Kenapa kau selalu seperti ini Nana? Kenapa kau selalu memprovokasi diriku hah?! Kenapa kau selalu saja seperti itu?!"

__ADS_1


"Maafkan aku Yura. Kami hanya saling bertanya tugas, itu saja?"


Ucap Nara pelan menjawab ucapan Yura yang masih membelakanginya.


"Pergilah, tinggalkan aku sendiri."


"Yura...?! " memohon.


"Pergilah Nana...!" berteriak.


"Baiklah!"


Ucap Nara yang juga ikut berteriak dengan air mata yang mulai mengucur dari matanya. Sejenak ia kembali menatap punggung sahabatnya itu, sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan Yura sendiri di sana.


Sedangkan Yura. Setelah kepergian Nara, ia pun juga mengeluarkan butiran bening itu dari matanya. Hatinya terasa sesak, dan tanpa sadar ia pun menangis dan menarik kedua kakinya untuk menyandarkan kepalanya di sana.


"Kenapa Nana, kenapa kau tidak mengerti?!"


Ucapnya di sela tangisannya.


Saat ini perasaannya benar-benar campur aduk. Rasanya ia tidak sanggup untuk mengatakan apapun lagi.


Sesaat, ia merasa menyesal karena sudah membentak sahabatnya tadi dengan keras. Tapi apa daya, ia terpaksa mengucapkannya karena sudah tidak sanggup lagi untuk menahannya...


***


Dean sudah berdiri tepat di belakang Yura. Langkahnya terhenti, karena ia masih ragu untuk mendekati Yura yang saat ini tengah menangis itu.


Sesaat, Dean merasa hatinya terluka saat melihat gadis yang disukai nya saat ini tengah menangis. Rasanya ia begitu menyesal telah mendekati Nara saat di kelas tadi. Jika ia tahu semua ini akan terjadi, maka ia pasti akan lebih menjaga jarak lagi pada Nara. Tapi setelah malam ia meminta Yura untuk menjadi temannya, ia berfikir kalau semua itu sudah akan baik-baik saja.


Dean kembali menarik nafas panjangnya, sebelum ia benar-benar mendekati Yura.


Sedangkan Juan. Saat ini ia tengah bersama Nara, dan mencoba untuk menenangkan gadis itu dan melupakan kata-kata Yura saat marah tadi padanya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku yakin, saat ini pasti Dean sudah menenangkan temanmu itu. Tidak lama lagi, Yura akan datang mencari mu, dan semua akan kembali baik seperti semula."


Ucap Juan seraya menepuk pelan pundak Nara yang masih sesenggukan itu.


"Sudah, hentikan tangisanmu. Aku tidak ingin orang lain berfikir kau menangis karena aku menyakitimu. Jika kau tidak perduli padaku, setidaknya perduli lah pada mata indah mu itu. Kasihan jika mata seindah itu sempat akibat ulah mu..."


Ucap Juan kembali seraya menggoda Nara, dan sontak gadis itupun tertawa mendengar ucapan Dean. Ia pun langsung memeluk tubuh Juan, yang sontak membuat empunya kaget tidak percaya dengan perlakuan Nara saat ini padanya.

__ADS_1


"Terimakasih Juan..."


__ADS_2