
Nara yang masih merasa sedikit takut dan khawatir itupun, berjalan perlahan mendekati Yura yang tengah berbaring menutupi seluruh tubuhnya itu dengan selimut. Ia tahu betul apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Karena ia sengaja berdiri di depan pintu, hanya untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Bukannya ia bersikap tidak sopan. Hanya saja, ia tidak ingin terjadi hal buruk pada Yura. Karena sudah melawan dan menyakiti hati ibunya itu, hanya karena untuk membelanya.
Jika memang hal itu terjadi, maka ia akan langsung masuk dan menyelamatkan Yura dari amukan orang tuanya.
Ia tahu betul, bagaimana sikap orang tua sahabatnya itu. Ia pun juga tidak ingin jika nanti Yura lepas kendali, dan semakin kehilangan dirinya sendiri.
Walaupun dari luar suaranya sayup-sayup.
Tapi, suara teriakan marah ibu Yura sangat jelas terdengar. Hingga membuatnya gemetar, bingung antara masuk kedalam atau diam dan pergi dari sana.
"Yura, maafkan aku. Karena aku, kau dan ibumu menjadi salah paham. Aku, aku..."
" Aku tidak menyalahkan mu Nana?
Mama lah yang bersalah, dialah tokoh utama dalam masalah ini...?"
Jawab Yura seketika membuka selimutnya dan duduk dihadapan Nara yang sudah berada di depannya.
"Tapi..."
" Kemari lah..."
Ucap Yura kembali merangkul dan memeluk tubuh Nara yang sudah bergetar, dan mulai menangis itu. Karena tidak bisa melanjutkan kata katanya.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Justru, akulah yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa melindungi mu dari mama.
Aku akan memperbaiki semua ini, dan tugasmu hanyalah tetap berada di sisiku sampai kapan pun Nana."
"Mungkin aku bisa menerima jika hanya kehilangan perhatian mama dan papa, tapi aku tidak akan pernah bisa kehilangan semua tentangmu. Hanya kau yang aku miliki di dunia ini. Aku tidak punya siapapun yang menyayangiku selain dirimu. Kau adalah sahabat terbaik ku, kau adalah aku dan aku adalah kamu Nana..."
"Aku sangat menyayangimu Yura..."
Ucap Nana gemetar dengan air matanya yang semakin deras dan pelukannya yang kian mengerat.
Bagi Nara, Yura adalah anugrah terindah yang di titipkan Tuhan padanya setelah keluarganya. Ia juga tidak bisa membayangkan, bagaimana hidupnya jika Yura tidak berada di dekatnya.
"Berjanjilah, kau tidak akan pernah meninggalkan ku, apapun yang terjadi Nana. Juga tidak akan ada yang bisa menggantikan posisiku di hatimu."
Ucap Yura melepaskan pelukan Nara, dan menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Nara sebagai pengikat janji antara mereka.
" Aku janji..."
Jawab Nara bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Mereka pun saling berpelukan kembali dan tertawa haru.
***
Saking bahagianya mereka saat ini. Tanpa mereka sadari, Bram sudah berdiri sedari tadi melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka. Pria paruh baya itu terlihat sedikit menunduk dan menyapukan beberapa jari di wajahnya. Tepatnya, menyapu buliran air yang keluar dari matanya.
Ingin rasanya ia melangkah masuk, namun langkahnya terhenti saat mendengar ungkapan hati putrinya itu.
Memang diakuinya, baik ia ataupun istrinya. Memang sangat jarang untuk berbagi waktu dengan putrinya itu. Bisa dikatakan benar benar jarang, dan masih bisa dihitung jari, berapa kali mereka bisa menyempatkan waktu untuk Yura. Walau hanya untuk ulang tahun putrinya yang hanya di adakan setahun sekali itu pun, mereka terkadang masih tidak bisa menyempatkan diri.
Dengan rasa penyesalan yang besar dalam hatinya itu pun, Bram kembali masuk kedalam ruang kerjanya, dan mengurungkan niatnya untuk menemui Yura.
Di sana, ia merebahkan dirinya duduk di atas sofa. Mengusap asal wajahnya, dan menangis mengenang semua penyesalan yang ada di hatinya.
"Maafkan papa nak, maafkan papa..."
Ucapnya menyesal di sela-sela tangisnya.
Sedangkan Diandra istrinya, saat ini sudah tidak lagi berada di rumah. Melainkan sudah pergi untuk perjalanan bisnisnya dalam beberapa hari ke depan.
Istrinya itupun sudah pergi duluan sebelum mereka mulai untuk mendiskusikan masalah tentang putri mereka...
Saking lelahnya ia berfikir, Bram pun ketiduran di ruang kerjanya hingga malam datang.
Saat terbangun, ia pun segera ke meja kerjanya untuk memeriksa setiap laporan masuk dari laptopnya.
Hingga ia sadar saat terdengar suara ketukan pintu, dan diikuti dengan suara seseorang dari luar sana yang meminta izin untuk masuk.
"Masuklah Nara...?!"
Ucapnya seketika mempersilahkan Nara untuk masuk.
Saat pintu terbuka, Nara pun melangkah masuk kedalam dengan sebuah nampan yang berisi kopi dan beberapa cemilan di tangannya.
" Terimakasih Nak, kau boleh meletakan nya di atas meja. Kemari lah, papa ingin bicara dengan mu."
Ucapnya kembali meminta Nara untuk mendekat padanya, setelah mengucapkan terimakasih.
Terlihat jelas dimatanya, bagaimana takut dan gugupnya Nara berjalan kearahnya.
Ia masih penasaran, tentang apa yang telah dikatakan istrinya pada Nara. Karena yang ia tahu, Nara adalah gadis yang lucu dan periang. Jika di bandingkan dengan Yura, Nara sedikit lebih manja padanya.
Tapi tidak dengan saat ini, tingkahnya berbeda jauh dengan sebelumnya.
"Kamu kenapa Nak? Apa ada yang mengganggu pikiranmu...?
__ADS_1
Atau, apa Yura mengganggumu? Kau boleh mengatakannya semuanya pada papa mu ini, hem?"
Ucap Bram kembali mengatakan lelucon agar suasana mereka jadi lebih hangat, dan juga ketegangan Nara berkurang.
" Tidak Pa?! Yura, dia sangat baik dan menyayangiku. Tidak! Maksudku, Yura tidak bersalah Pa? Aku, aku lah biang permasalahan nya.
Yura, dia sama sekali tidak bermaksud marah pada nyonya. Itu hanya ke salah pahaman saja Pa, aku lah yang salah, aku lah penyebab segalanya... dan yang seharusnya di marahi itu aku, bukan Yura Pa. Hik... hik...
"Sayang, apa yang kau katakan...?
Papa tidak pernah memarahi siapa pun, kalian berdua adalah putriku, bagaimana bisa aku marah pada kalian...?!"
Jelas Bram, segera berdiri dari kursinya dan memeluk tubuh putri angkatnya yang sudah bergetar karena menahan air matanya sedari tadi itu, dan saat Bram menenangkan nya. Nara pun langsung menumpahkan semua air matanya di pelukan ayah angkatnya itu.
" Tenanglah Nak, sekarang ayo kita duduk.
Kamu bisa menceritakan semua permasalahan nya. Papa ingin mendengar semuanya langsung darimu..."
Ucap Bram segera melepaskan pelukannya pada Nara, dan membawanya untuk duduk dengan nyaman di atas sofa.
"Sekarang, kamu bisa menceritakan semuanya kepada papa. Katakanlah, apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah ini saat papa tidak disini...?"
" Sebenarnya Pa..."
Nara pun menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari saat Diandra memarahi dan mengancamnya malam itu. Hingga hari ini, saat tadi Yura di panggil kedalam ruangan ini.
Gadis itu menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Sedangkan Bram, dia hanya diam mendengarkan penjelasan Nara, dan mengangguk kan kepalanya sesekali pertanda mengerti dengan ucapan Nara.
"Gitu cerita yang sebenarnya Pa, jadi Yura sama sekali tidak bersalah. Dia juga tidak bermaksud marah pada nyonya..."
Cast Nara
Umur 17 tahun.
Tahun kedua di sekolah menengah atas.
Cantik, humoris, manja dan sangat menyayangi keluarga dan Yura tentunya.
Cast Yura
Umur 17 tahun dan 3 hari lebih dewasa dari Nara.
Tahun kedua di sekolah menengah atas.
__ADS_1
Imut, sedikit tomboi, perhatian dan sangat menyayangi sahabatnya Nara.