My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 19


__ADS_3

Malam telah berakhir, dan pagi pun sudah menyapa. Yura yang sudah terbangun dari tidurnya itupun kebingungan, saat ia tidak menemukan Nara di dalam tenda mereka.


"Kemana dia...?"


Gumamnya pelan, dan segera bangun untuk melihat sahabatnya itu keluar.


Lama ia mengitari perkemahan mereka. Hingga akhirnya, gadis yang dicarinya itu tengah asik bersenda gurau dengan siswi lainnya.


"Nana...?! Apa yang di lakukan nya di sana? Sejak kapan dia begitu akrab dengan mereka?"


Gumamnya kembali, dan segera menyusul sahabatnya itu.


"Nana, apa yang kau lakukan di sini?"


"Yura...?!"


Ucap Nara terkejut dengan kedatangan sahabatnya itu.


"Nara, mana minumanku...? Kenapa kau hanya membuatkan untuk Dean?"


Ucap Juan yang datang tiba-tiba meminta minuman nya, dan sontak membuat Yura membulatkan matanya tidak percaya dengan pandangan di depannya saat ini.


"Hei?! Ada apa dengan wajahmu itu?


Berikan ini padaku, terimakasih ya...?"


Ucap Juan kembali tersenyum, dan meraih gelas minuman di tangan Nara. Sedangkan Nara sendiri, hanya bisa terdiam dengan wajah terkejut melihat reaksi Yura saat ini yang tengah melihatnya.


"Yura..."


Panggilnya takut, setelah melihat ekspresi wajah sahabatnya itu yang sangat sulit di artikan. Sedangkan Yura, yang merasa tengah di khianati dan di permainkan oleh sahabatnya itupun memundurkan langkahnya kebelakang. Seakan-akan tidak ingin melanjutkan langkahnya ke depan, dan akhirnya iapun memutuskan untuk segera pergi dari sana.


"Ah, maafkan aku..."


Ucapnya meminta maaf karena menabrak seseorang di belakangnya. Namun tidak melihat wajah orang yang di tabrak nya itu.


Karena saat ini, wajahnya tengah ditekuk ke bawah untuk menyembunyikan genangan air di matanya yang sudah ingin segera keluar.


Tanpa mengucapkan kata yang lainnya, ia pun segera berlari menjauh dari sana. Di susul oleh Nara yang mengejarnya dari belakang.


"Ada apa dengannya...?!"


Gumam Dean bingung. Karena dialah orang yang di tabrak oleh Yura tadi.


"Yura...?! Yura, tunggu aku..."


Panggil Nara mengejar sahabatnya yang semakin jauh darinya itu.


"Yura...?! Kenapa kau lari? Tolong dengarkan aku dulu."

__ADS_1


Ucap Nara kembali seraya mengatur nafasnya, saat ia sudah berada di sebelah sahabatnya itu.


"Apa yang kau lakukan di sana..."


Ucap Yura datar, tapi tidak melihat wajah sahabatnya itu.


"Aku hanya berkunjung, sekalian membuatkan mereka minuman. Sebagai tanda permintaan maaf ku yang mewakili mu Yura..."


"Aku tidak memintanya, kenapa kau melakukannya? Kenapa kau melakukannya Nana...?!"


Teriaknya tepat di depan wajah Nara.


"Yura, aku..."


"Aku apa? Apa kau ingin aku terlihat semakin bodoh di hadapan mereka Nana...?! Aku yang menyakiti mereka, bukan kamu! Kenapa kau tidak mendengarkan ucapan ku? Jangan lagi mendekati mereka. Harus berapa kali aku katakan, aku tidak menyukainya!!! Aku tidak menyukainya Nana...!"


"Yura, kenapa kau..."


"Sudahlah...! Percuma aku menjelaskannya, kau tidak akan pernah mengerti. Tidak akan pernah..."


Ucapnya sedih dan langsung pergi meninggalkan Nara kembali ke tenda kemahnya.


"Ada apa denganmu Yura...?"


Gumamnya pelan dan segera pergi dari sana untuk menenangkan pikirannya sejenak.


***


Sontak Nara terkejut dan langsung mengarahkan pandangannya ke asal suara yang memanggil namanya itu.


"Dean...?!"


Ucapnya tak kalah terkejutnya, saat melihat orang yang memanggilnya itu adalah Dean. Sumber masalah akan kesalahpahaman nya dengan Yura sejak kemarin siang.


"Apa yang kau inginkan...?"


Ucapnya lagi saat pria itu semakin mendekat, dan duduk tepat di sebelahnya.


"Apa kau menangis...?"


Ucap Dean melihat wajah Nara, dan sontak membuat gadis itu gelagapan tidak nyaman. Iapun langsung membelakangi Dean untuk menghapus sisa air mata yang sudah mengering di wajahnya itu.


"Maafkan aku."


Ucapnya singkat, namun tetap mengalihkan pandangannya ke arah lain. Agar Dean tidak bisa melihat wajahnya.


"Kau boleh menceritakannya padaku, apapun itu masalahmu. Walaupun aku tidak bisa membantu, tapi setidaknya bisa sedikit membuat hatimu lega. Karena setidaknya, beban di hatimu bisa sedikit berkurang..."


Ucap Dean membantu menetralkan pikiran Nara.

__ADS_1


"Terimakasih, tapi kau tidak akan mengerti Dean. Pergilah, tolong tinggalkan aku sendiri..."


Ucap Nara menolak bantuan Dean dengan pelan. Bukan apa-apa, hanya saja ia tidak ingin kembali membuat sahabatnya salah faham, dan semakin marah padanya.


"Aku memang tidak mengerti atas apa yang terjadi antara kalian berdua. Tapi, setelah mendengar ucapan temanmu tadi. Aku jadi mengerti, konflik di antara kalian."


"Apa kau menguping perdebatan kami tadi?"


Ucap Nara tidak percaya dengan ucapan Dean.


"Tidak, bukan begitu. Sebelumnya aku minta maaf, karena sudah mendengar percakapan kalian tadi. Tapi, setelah aku perhatikan. Sepertinya, temanmu itu menganggap dirimu sebagai sesuatu yang sangat berharga.


Maaf kalau aku sok tahu. Karena memang seperti itulah menurut penilaian ku..."


Jelas Dean dengan sangat hati-hati. Takut kalau sikap Nara tidak beda jauh dengan Yura, dan akan kembali menyerangnya dengan kata-kata yang kurang baik.


"Kau benar Dean. Yura memang terlalu posesif terhadapku. Bukan karena hal lainya, tapi karena ia sangat menyayangiku. Hingga membuatnya tidak bisa melihat orang lain dekat denganku selain dirinya.


" Sejak kapan hal itu terjadi?"


Ucap Dean kembali semakin penasaran dengan penjelasan Nara.


"Kami sudah bersama sedari kecil... tinggal, tidur dan makan di tempat yang sama setiap harinya. Tidak hanya itu, bahkan ayahnya juga sudah menganggap ku seperti putrinya sendiri dan memperlakukan ku layaknya dia memperlakukan putri kandungnya. Maaf, sepertinya aku banyak bicara..."


Ucap Nara yang menyadari penjelasannya sudah terlalu jauh, dan segera menghentikan ucapannya.


"Tidak Nara. Justru, aku ingin lebih mengenal lagi tentang kalian berdua. Terlebih lagi dengan temanmu itu. Aku penasaran, apa yang membuatnya begitu dingin pada setiap teman-teman di sekolah."


Ucapnya lagi, meminta agar Nara melanjutkan penjelasannya.


"Maaf Dean, sepertinya aku tidak bisa melanjutkannya. Yang pasti, aku faham betul dengan sikapnya saat ini."


"Apa ada yang bisa aku lakukan untuk membantumu...?"


Ucap Dean kembali menawarkan bantuannya.


"Tidak, terimakasih. Aku yakin, sebentar lagi Yura akan kembali baik dan melupakan segalanya. Mungkin saat ini dia tengah kesal padaku. Tapi nanti, saat suasana hatinya membaik. Aku yakin ia akan kembali seperti semula."


Ucap Nara tersenyum, membalas Dean yang sudah lebih dulu tersenyum padanya.


"Hem, baiklah...?! Kalau begitu, aku akan pergi duluan. Karena yang lainnya sudah menunggu untuk kembali bermain arung jeram. Jika kau ingin kembali ikut, kau boleh menyusul. Aku akan berada di sana."


Ucapnya menawarkan Nara kembali, sebelum pamit dan pergi dari sana.


"Terimakasih, akan aku pikirkan nanti..."


Ucap Nara tersenyum, dan Dean pun langsung pergi dari sana setelah mendengar ucapan Nara.


"Aku harus kembali ke tenda. Hari sudah semakin siang, pasti saat ini Yura sudah sangat kelaparan. Karena dia belum makan dan minum apapun dari pagi..."

__ADS_1


Ucap Nara yang langsung menyadari keadaan sahabatnya itu, dan langsung pergi dari sana melihat Yura di tenda mereka...


__ADS_2