My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 9


__ADS_3

Nara menatap kasihan pada sahabatnya itu, yang saat ini tengah dihukum untuk membersihkan ruang kelas seorang diri.


Ingin rasanya ia membantu. Tapi apa daya, lututnya pun masih terasa sakit dan masih susah untuk digerakkan. Kalaupun ia bisa, toh juga tidak akan ada gunanya, karena omelan Yura pasti akan menyambutnya jika itu Ia lakukan.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Semangat dong? Biar aku kerjanya juga tambah semangat, dan semuanya cepat selesai..."


"Hem, iya iya..."


Jawab Nara yang duduk di atas meja itu segera, dan langsung memperlihatkan senyumannya yang menampilkan semua gigi putihnya itu, agar Yura puas dengan usahanya. Benar saja, sontak tawa Yura pecah hingga suaranya memenuhi seluruh ruang kelas yang sudah kosong itu.


" Oke, semua siap. Ayo kita pulang...?!"


Ucap Yura menghela nafasnya lega, dan langsung menghampiri Nara untuk membantunya berjalan keluar dari kelas.


"Ehemm..."


"Miss...?!"


" Kamu sudah selesai Yura?"


"Sudah Miss, semuanya sudah bersih sekarang."


Jawab Yura seketika dengan wajah kakunya, karena kaget dengan kedatangan Miss nya itu yang secara tiba-tiba.


"Nara, bagaimana luka kamu? Apa sudah mendingan? Kalau rasanya besok masih tidak ada angsuran, kamu boleh istirahat dulu di rumah."


"Udah mendingan kok Miss, dan besok saya sudah bisa belajar kembali..."


Jawan Nara tersenyum malu pada Miss nya itu.


" Miss tenang aja, selama ada saya yang menjaganya, pasti dia akan segera membaik.


Hehe..."


"Halah, kamu ada-ada saja. Saya tahu kok, pasti kamu masih ada hubungan nya dengan terlukanya kaki Nara bukan? Ayo ngaku...?!"


" Hehe, gak kok Miss, ini asli kecelakaan kok."


Jawan Nara seketika menyelamatkan sahabatnya itu yang saat ini tengah terpojok dengan tuduhan Miss mereka. Sedangkan Yura, hanya bisa tertawa dan malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah, kalau begitu kalian pulangnya hati-hati ya, saya masih ada kerjaan."

__ADS_1


"Terimakasih Miss..."


Ucap mereka serempak melepas kepergian Miss mereka, dan kembali melanjutkan langkah mereka menuju mobil jemputan di parkiran.


"Yura, terimakasih ya karena sudah membantu dan menemaniku di UKS tadi.


Aku juga minta maaf, karena hal itu kamu malah dihukum karena melewatkan jam pelajaran..."


"Hem..."


Jawab Yura tersenyum mendengar ungkapan sahabatnya itu, dan merekapun tiba di depan mobil jemputan. Sang sopir pun segera turun membukakan pintu untuk mereka, dan setelah semua siap, mobil pun melaju menuju rumah...


***


" Kau sudah pulang? Mama ingin bicara denganmu, temui mama di kamar sekarang."


Ucap Diandra seketika saat Yura dan Nara memasuki rumah, dan segera berlalu dari sana menuju kamarnya. Sedangkan Yura, hanya bisa diam dan mengikuti ibunya dari belakang.


"Kamu tunggu aku di kamar ya?"


"Tapi..."


Ucap Yura melepas genggaman Nara dari tangannya, dan tersenyum pada sahabatnya itu sebelum ia melangkahkan kakinya menyusul Diandra yang sudah menunggu di kamarnya.


"Semoga tidak terjadi apa-apa. Oh Tuhan, tolong kuatkan hati Yura saat menerima apapun yang dikatakan ibunya nanti..."


Ucap Nara berdoa didalam hatinya sebelum ia meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamar belakang untuk mencari ibunya Liana.


Tok tok tok...


Yura mengetok pintu kamar ibunya itu sebelum memutar kenop nya, dan masuk kedalam tanpa menunggu izin dari Diandra.


Sedangkan Diandra tengah duduk santai di atas sofa menghadap keluar jendela, dengan segelas wine di tangannya.


"Apa yang ingin Mama bicarakan?"


Ucap Yura langsung tanpa menyapa ibunya terlebih dahulu dengan setelah mengatur nafasnya.


"Apa begitu istimewanya gadis itu bagimu?


Apa kau bisa menjamin jika gadis itu akan selalu ada untukmu Yura..?

__ADS_1


Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar tulus selain keluargamu. Sedangkan dia. Dia bukan keluargamu, dan dia hanya orang lain yang kebetulan masuk kedalam hidupmu.


Ditambah lagi dengan statusmu yang merupakan anak mama dan papa. Mama yakin. Lihat saja, suatu hari nanti ia pasti akan berubah atau bahkan mungkin pergi meninggalkan mu saat menemukan orang yang baru."


"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan Ma?


Jangan pernah memprovokasi ku dengan kata-kata buruk Mama tentang Nana. Dia bukan orang yang seperti Mama katakan.


Jika hal penting yang ingin Mama katakan itu adalah tentang hal ini. Maka aku sudah sangat mengerti dengan maksud mu Ma, terimakasih karena sudah mengingatkan ku."


Jelas Yura tegas setelah mendengar ucapan ibunya merendahkan Nara. Ia pun segera berjalan meraih kenop pintu untuk keluar dari kamar itu. Namun langkahnya kembali terhenti saat ibunya kembali mengingatkan nya.


"Kalau kau begitu mempercayai sahabatmu itu, mari sama-sama kita lihat kedepannya.


Kau akan menyaksikan sendiri nanti, bagaiman sikapnya padamu saat dia sudah menemukan orang yang lebih baik lagi darimu Yura. Saat itu kau akan sadar, dan jangan bilang, jika aku tidak pernah memperingati mu...!"


Jelas Diandra dengan nada marah,sesaat sebelum tubuh putrinya itu benar-benar lenyap dibalik pintu.


***


Setelah keluar dari kamar ibunya, Yura pun langsung masuk kedalam kamarnya, mencari handuk dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Selain untuk membersihkan tubuhnya, juga untuk menyegarkan kepalanya dan melupakan semua yang telah ibunya katakan tentang Nara.


Berulang kali ia menyakinkan hati dan pikirannya, kalau sahabatnya itu, tidak akan pernah melakukan hal seperti yang di tuduhkan ibunya itu.


Sedangkan Nara, sesaat setelah Yura meninggalkan nya untuk menemui ibunya. Ia pun segera pergi ke belakang untuk menemui ibunya. Yang ia lakukan saat ini hanyalah berbaring dipangkuan ibunya itu, menceritakan semua hal yang ia dan Yura lakukan selama di sekolah seperti biasanya.


Diakhir cerita mereka, tidak lupa Liana untuk mengingatkan putrinya itu perihal hubungan baik mereka berdua.


Liana selalu mengingatkan Nara untuk selalu mendukung Yura dalam segi apapun. Tak lupa juga ia mengingatkan putrinya itu untuk selalu menjaga persahabatan baik mereka, dan juga untuk tidak pernah membuat Yura kecewa padanya tentang apapun itu kedepannya.


Nara yang mendengar ucapan ibunya itupun hanya mengangguk mengerti, dan berjanji akan melakukan sesuai arahan Liana.


"Kalau begitu, sekarang kau pergilah temui Yura Nak, pasti saat ini ia tengah menunggumu."


"Baik Ibu, aku akan segera menemuinya..."


Ucap Nara mengerti dan segera berdiri dari pangkuan ibunya itu, langsung keluar menuju kamarnya untuk menemui Yura.


Saat menaiki anak tangga, sepintas Nara mengalihkan pandangan nya keatas. Ia melihat Diandra yang tengah menatap tajam padanya.


Ia langsung kaget dan merasa takut dengan tatapan itu, tapi tetap mencoba mengendalikan dirinya dengan menyapa dan tersenyum pada wanita itu. Namun, Diandra malah tidak merespon selain tetap dengan tatapan tajamnya itu, dan segera berlalu dari sana meninggalkan Nara yang masih mematung di anak tangga melepas kepergian Diandra sebelum melanjutkan langkahnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2