
Nara berjalan dengan pelan saat memasuki tendanya, dan menaruh makanan siap saji untuk sarapan Yura, tepat di sebelah sahabatnya itu.
Baru saja ia terfikir ingin meminta maaf pada Yura. Tapi, saat ini gadis itu malah tengah tertidur.
"Yura, bangunlah..."
Ucap Nara sedikit menggoyangkan tubuh sahabatnya itu.
"Aku membawakan mu sarapan. Ayo bangun, makan dulu sarapan mu..."
Ucapnya lagi masih menggoyangkan tubuh Yura, namun gadis itu tak kunjung bangun.
"Astaga, Yura...?! Kenapa suhu tubuhmu panas...?!Yura, bangunlah...?!"
Ucapnya kembali, dan mulai panik saat ia menyentuh wajah Yura. Karena suhu tubuh gadis itu yang sangat panas.
Berulang kali ia memanggil nama sahabatnya itu, namun Yura sama sekali tidak memberikan respon. Hingga membuat Nara semakin panik, dan berlari keluar tenda untuk mencari bantuan.
Nara memeriksa setiap tenda, namun sama sekali tidak menemukan siapapun. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke sungai, tempat dimana semua orang tengah berkumpul untuk mengikuti olahraga arung jeram.
Nara segera berlari ke sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari tenda mereka, dan langsung bertemu Dean dan Juan di sana.
"Nara, apa kau akan ikut dengan kami...?"
Ucap Dean terkejut dengan kedatangan Nara yang berlari ke arahnya, dan saat inipun gadis itu tengah mengatur nafasnya sebelum mulai bicara.
"Dean, Juan, tolong aku... hah, hah..."
Ucap Nara kembali dengan suara terputus-putus akibat nafasnya yang tidak beraturan, dan sontak membuat kedua pria itu bingung melihatnya.
"Tahan dulu, baru katakan. Apa yang terjadi...?
Kenapa kau terburu-buru seperti ini?"
Ucap Juan membantu Nara untuk mengikutinya dalam mengatur nafas dengan memperagakannya langsung.
"Juan, kalian harus tolong aku...temanku... tidak, maksudku Yura. Sepertinya dia demam, karena suhu tubuhnya begitu panas. Dia juga tidak membuka mata saat aku membangunkan nya..."
"Apa...?!"
Ucap Dean tidak percaya setelah mendengar penjelasan Nara tentang sahabatnya itu.
"Ayo kita periksa...?!"
Ucap Juan, dan segera berlari terlebih dahulu menuju tenda, dan langsung di ikuti oleh Dean dan Nara di belakangnya...
***
"Yura, apa kau mendengar ku...?"
Ucap Juan menepuk pelan pipi Yura setelah ia sampai di dalam tenda. Namun gadis itu tidak merespon sama sekali seperti yang di katakan Nara tadi.
__ADS_1
"Bagaimana Juan...?!"
Ucap Dean yang terlihat khawatir setelah melihat keadaan Yura dengan bibir pucat nya.
"Entahlah, aku rasa dia demam tinggi, dan saat ini dia tengah pingsan. Bagaimana,
haruskah kita membawanya ke Rumah Sakit terdekat...?!"
Ucap Juan kembali setelah memeriksa suhu tubuh Yura dengan wajah yang semakin panik.
"Cepat cari tumpangan, kita akan membawanya ke Rumah Sakit terlebih dahulu."
Pinta Dean menggulung tubuh Yura dengan selimut, dan langsung menggendong gadis itu ke luar dari tenda mencari bantuan...
Saat ini, Nara tengah menangis melihat sahabatnya itu yang sudah terkulai lemah.
Walaupun gadis itu hanya demam biasa, dan membuatnya dehidrasi karena kekurangan cairan. Namun tetap saja membuat Nara khawatir, terlebih lagi setelah Yura pingsan.
Juan sudah membujuknya sedari tadi, agar ia tidak terlalu khawatir lagi. Terlebih setelah Yura mendapatkan perawatan, dan saat inipun gadis itu sudah mulai membaik, dan tidak lama lagi gadis itu akan sadar.
Beda halnya dengan Dean. Saat ini, pria itu tengah murung menatap Yura dengan intens.
Seperti memikirkan sesuatu.
"Nana..."
Panggil Yura yang mulai siuman, dan Nara pun langsung berlari kearah Yura yang tengah memanggil namanya itu.
"Yura, kau sudah sadar...? Apa yang kau rasakan saat ini? Bagian mana yang Sakit...?!"
"Aku dimana...?"
Ucap Yura kembali yang masih lemas.
"Kita di Rumah Sakit Yura. Tadi kau pingsan, dan kau juga demam. Aku sangat khawatir padamu, maafkan aku..."
Ucap Nara menjelaskan dengan menyesal.
"Benarkah? Untuk apa kau meminta maaf...?"
"Karena pertengkaran kita, kau jadi banyak pikiran. Aku pun juga begitu kejam, karena tidak memperhatikan makananmu..."
Ucap Nara kembali dan langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, semua itu juga salahku..."
Ucap Yura tersenyum dan kembali membalas pelukan Nara.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang terasa tidak enak...?"
Suara Juan langsung menyadarkan Yura, yang tidak sadar sedari tadi di ruangan itu tidak hanya ada ia dan Nara. Tapi masih ada 2 orang lagi, yaitu Juan dan Dean.
__ADS_1
"Ah, ya... mereka yang membantuku membawamu kemari Yura..."
Ucap Nara seketika menyadari kebingungan di wajah sahabatnya itu.
"Terimakasih..."
Ucap Yura singkat, dan sekilas ia memandang Dean yang berdiri di sudut ruangan menatap ke arahnya.
"Terimakasih..."
Ucapnya lagi setelah melihat Dean yang tersenyum ke arahnya, beriringan dengan langkah kaki Dean keluar dari ruangan itu.
"Kalau begitu, aku akan mencari dokternya untuk memeriksa kembali keadaan mu..."
Ucap Juan pamit, dan segera keluar dari kamar meninggalkan kedua sahabat itu.
"Yura, maafkan aku ya. Aku janji, tidak akan membuatmu kesal lagi. Aku juga tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kau inginkan lagi."
Ucap Nara menyesal dan membuat Yura seketika tersenyum ke arahnya.
"Kenapa kau tertawa? Kau tidak marah lagi padaku bukan...?" Bingung.
"Mana bisa aku marah padamu. Akulah yang seharusnya meminta maaf, karena sudah sangat egois. Kau benar, Juan dan Dean adalah teman yang baik. Tidak seharusnya aku bersikap buruk pada mereka. Apa lagi sampai menuduh mereka yang bukan-bukan.
Aku memang gadis yang buruk Nana..."
Jelasnya dengan wajah sendu.
"Tidak Yura, kau bukanlah gadis yang buruk.
Kau adalah gadis paling baik dan manis menurutku..."
Ucap Nara tersenyum merayu sahabatnya itu.
"Dasar kau...?!"
Aakkkhhh...!
"Kenapa kau memukul kepalaku...?!"
Ucap Nara cemberut mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit, akibat pukulan jari Yura. Sedangkan gadis itu, hanya tersenyum melihat reaksi Nara saat ini.
"Saat sakit begini, kau masih saja kejam padaku...?!"
Ucapnya lagi, dan membuat Yura semakin tertawa seraya mengusap lembut kepala Nara bekas tempat pukulannya tadi.
"Maafkan aku. Setelah keluar dari sini, aku akan membelikan mu Es Krim..."
Ucapnya, dan langsung saja suara tawa mereka menggema di ruangan kecil itu.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat mereka sedari tadi di balik pintu dan mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
"Kau semakin membuatku ingin lebih mendekat lagi Yura... maafkan aku. Karena aku, kau menjadi seperti ini. Tapi, sekarang aku sadar. Apa arti Nara bagimu, dan kenapa kau selalu bertingkah dingin kepada semua orang..."
Gumam Dean tersenyum melihat kedua sahabat itu, dan segera pergi menjauh dari ruangan itu. Berhubung di perkemahan tidak ada yang memantau para peserta, ia pun memutuskan untuk pergi lebih dulu, dan meninggalkan Yura beserta Nara kepada temannya Juan.