My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 35


__ADS_3

Sudah 3 jam berlalu, namun Yura masih betah duduk termenung di tempat yang sama. Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang pasti ia tidak ingin untuk saat ini kembali ke rumah. Sedangkan Nara dan yang lainnya, saat ini masih terus berusaha mencari dirinya kemana-mana.


Dari kejauhan, tampak seorang gadis kecil yang tengah berlarian di tengah padang rumput itu. Yura yang memperhatikan betapa ruangnya gadis itu berlarian ke sana ke mari dengan seekor anjing, membuat bibirnya sedikit terangkat ke atas.


"Andai waktu bisa kembali, aku ingin kembali seperti dulu. Saat dimana hanya ada aku dan Nana, tanpa seorangpun yang mengganggu persahabatan kami..."


Gumamnya di dalam hati, seraya menarik dalam nafas beratnya. Tapi seketika, bibirnya yang tadi terangkat ke atas sekarang malah berbalik berubah. Sorot matanya me najam, dan raut wajahnya memerah seakan menahan amarah.


"Papa..."


***


Nara, Juan, Dean dan Mike saat ini sudah berkumpul di sebuah taman. Mereka sengaja janjian bertemu di sana agar bisa mencari solusi bersama untuk menemukan Yura. Tapi, lama mereka mencari, tetap saja tidak menemukan solusi yang pas. Karena memang mereka semua sudah mengitari semua tempat, bahkan Nara juga tidak melewatkan tempat dimana Yura sering ke sana dikala sedih.


"Jadi kita harus bagaimana, Nana?"


Tanya Juan pada Nara yang saat ini tengah memijat kepalanya yang sedikit pusing. Sedangkan Dean, malah menatap tajam ke arah Juan.


"Semua ini karena kalian, tau gak?! Kau juga Juan! Coba saja jika kau sedikit sabar, pasti semua ini tidak akan terjadi. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, bagaimana berartinya Nara baginya, hah?! Kenapa kau masih saja tidak mengerti!"


Dean yang tidak tahan lagi untuk menahan amarahnya, dan sekarang iapun malah mengeluarkan segala isi hatinya. Juan yang tidak terima dengan ucapannya itupun kesal dan spontan bergerak untuk memukulnya. Namun, semua itu tidak terjadi karena Mike sudah lebih dulu menahan keduanya. Sedang Nara sendiri, hanya bisa menyesal dan di tambah lagi dengan ucapan Dean.


"Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu itu, Dean?! Maka aku sendiri yang akan mengajarinya dengan bogeman ku ini. Kemari kau...?!"


"Udah dong! Kalian apa-apaan sih?! Yura saja belum ketemu, tapi kalian sudah menambah masalah di sini!"


Teriak Mike yang panik dan gerah melihat drama memalukan dua sahabat di depannya saat ini. Seketika mereka berhenti, dan Dean pun pergi menjauh dari sana lebih dulu untuk menetralkan pikirannya yang saat ini tidak tenang memikirkan Yura.


"Kak. Menurutku, sebaiknya kita kembali pulang saja dan menunggu Yura di rumah hingga malam. Aku yakin, saat ini dia pasti sedang menenangkan pikirannya di suatu tempat. Aku juga yakin, dia pasti akan kembali ke rumah. Ayolah? Kita sudahi pencarian ini sampai di sini."


Ucap Mike pada Nara memberikan solusi terakhir. Karena menurutnya, Yura adalah tipe gadis yang kuat dan tidak mungkin dia melakukan hal yang macam-macam untuk masalah ini.

__ADS_1


Setelah sekian menit gadis itu memikirkan ucapan Mike. Akhirnya, iapun menyetujuinya dan memutuskan untuk kembali ke rumah.


Sesampainya di depan pintu rumah, Nara kaget saat menyadari kehadiran Diandra di ruang tamu. Dengan gemetar, iapun masuk kedalam dengan pelan dan mencoba menyapa ibunya Yura itu.


"Salam, Nyonya...?"


"Nara? Kau sendiri saja? Dimana Yura...?!"


Seketika tubuh Nara melemah, dan bibirnya pun bergetar takut. Takut karena tidak tahu akan mengatakan apa. Karena tidak mungkin jika ia mengatakan sahabatnya itu saat ini menghilang karena kecewa padanya.


"Aku bertanya padamu Nara. Dimana putriku? Kenapa kau diam saja seperti itu, hah?!"


"Nyonya, aku... a-aku..."


"Aku apa! Bicaralah yang jelas, apa maksudmu dan dimana Yura...?!"


Teriak Diandra marah, dan saat inipun ia sudah berdiri dengan tegak pinggang melotot ke arah Nara. Sedangkan gadis itu, ia hanya bisa menundukkan pandangannya ke bawah. Tidak sanggup menghadapai kemarahan Diandra.


"Katakan padaku, dimana Yura! Dimana putriku Nara...!"


"Lepaskan tanganmu, Ma..."


Sontak keduanya melihat ke asal suara, yang tak lain adalah suara Yura yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu kembar besar rumah mewahnya itu. Nara langsung membulatkan matanya, tidak percaya dengan pandangan di depannya saat ini. Sedangkan Diandra, iapun langsung melepaskan cengkraman nya di bahu Nara dan beralih kepada putrinya itu dengan tersenyum.


"Sayang, kamu kemana saja? Mama sangat merindukanmu. Sudah 3 minggu lebih mama tidak melihatmu, sayang?"


Ucap Diandra dengan senyumannya yang merekah, seraya menghampiri putrinya itu dan langsung memeluknya. Sedangkan Nara, saat ini masih dengan air matanya yang mengucur menatap Yura dengan penuh penyesalan.


"Ma, aku lelah. Tubuhku juga sangat lengket. Aku ingin mandi dan istirahat..."


"Tapi sayang?" cemberut.

__ADS_1


"Tolonglah Ma,"


"Baiklah sayang, pergilah ke atas."


Ucap Diandra mengizinkan putrinya itu, dan Yura pun langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga tanpa mengalihkan pandangannya pada Nara sedikitpun.


Nara yang merasa ini bukan saat yang tepat untuk bicara dengan sahabatnya itupun langsung berjalan kebelakang, menuju kamar ibunya. Seperti yang selalu ia lakukan, saat inipun ia juga ingin meminta saran dari ibunya itu untuk masalahnya saat ini dengan Yura...


***


Tidak lama, Bram pun pulang dan langsung duduk di sebelah istrinya Diandra di atas sofa ruang tamu.


"Kapan kamu pulang Ma?" menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Dua jam yang lalu, Pa." memainkan kukunya.


" Bagaimana peragaannya, apa berjalan dengan lancar?"


"Tentu saja?! Jika semua tidak berjalan dengan baik, maka nama istri kesayanganmu ini bukanlah Diandra..."


Seketika suara tawa mereka memenuhi ruang tamu yang cukup besar itu. Bram yang merasa gemes dengan istrinya itupun langsung mengusap sayang kepala Diandra, dan Diandra sendiri langsung menyandarkan kepalanya mencari kenyamanan di bahu suaminya Bram.


"Oh ya Pa, mama mau menjodohkan Yura dengan anaknya teman mama. Gimana dong menurut Papa?"


"Anaknya siapa?"


Ucap Bram pada istrinya yang saat ini tengah menatapnya dengan wajah yang berbinar, karena berharap keinginannya itu di penuhi oleh Bram.


"Nanti Papa bakalan tahu kok? Tapi kayaknya Papa belum mengenalnya. Karena mama belum pernah mengenalkannya sama Papa. Dia bukan hanya teman Pa, tapi udah mama anggap seperti saudara sendiri..."


"Tapi, Mama sudah bilang sama Yura nya belum? Papa gak mau hubungan kita dengan Yura kembali dingin karena perjodohan ini Ma? Kita baru saja merasakan menjadi orang tua bagi Yura, tolong jangan menekannya dengan kemauan Mama itu. Papa takut jika nantinya dia kembali..,"

__ADS_1


"Papa tenang aja, mama gak akan maksa putri mama sendiri. Tapi tidak ada salahnya bukan jika memperkenalkan mereka dulu. Siapa tahu saja mereka saling menyukai. Boleh ya, Pa...?"


Ucap Diandra langsung memotong ucapan Bram, dan kembali merayu suaminya itu dengan mengusap sayang lengan dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya...


__ADS_2