My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 5


__ADS_3

Baru saja Yura dan Nara turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, tapi Liana sudah bergegas menghampiri mereka.


"Ibu kenapa, dan ada apa dengan ekspresi wajah mu itu Bu? Apa terjadi sesuatu?"


Ucap Nara seketika melihat ibunya yang bahkan bisa di bilang, setengah berlari menghampiri mereka dengan wajah tegang dan takut.


" Non Yura, tuan dan nyonya sudah menunggu di atas. Di ruang kerja tuan..."


Ucap Liana langsung menghadap Yura dengan suara gemetar tanpa memperdulikan pertanyaan putrinya Nara.


"Papa? Baiklah, terimakasih Bu.


Kau tunggulah aku di kamar, ok?!"


Seketika Yura langsung berjalan menaiki anak tangga ke lantai atas menuju ruang pribadi orang tuanya. Meninggalkan Nara yang masih mematung melihat bingung kearahnya.


Seakan-akan, akan terjadi suatu hal yang serius di atas sana. Karena, sangat jarang ayah dan ibu Yura melakukan hal ini, dan ditambah lagi dengan pengakuan sahabatnya tadi di sekolah. Sedangkan Liana, tampak melihat kepergian Yura dengan raut wajah khawatir dan segera menarik tangan Nara untuk mengikutinya ke belakang.


"Sayang, bukankah sudah ibu bilang? Jangan katakan apapun pada non Yura, perihal yang terjadi malam itu Nak?!


Kenapa kamu tidak mendengarkan ibu...?!"


Ucap Liana panik setelah menarik anaknya masuk kedalam kamar di belakang.


" Aku gak bilang apapun sama Yura Bu?


Yura sendiri yang mengetahuinya,."


"Bagaimana dia bisa tahu?"


Tanya Liana kembali menyelidiki putrinya itu.


" Tadi sepulang sekolah, Yura mengatakan semuanya padaku. Aku tidak tahu dari mana dia mengetahuinya. Tapi tadi, sekilas aku mendengar dia marah dengan seseorang, dan menyebut namaku di telfon Bu. Apa kah mungkin itu ibunya?"


"Oh Tuhan, semoga saja tidak terjadi apa-apa."


Gumam Liana berdoa setelah mendengarkan penjelasan dari putrinya.


Sedangkan di sisi lain, Yura masih menetralkan nafasnya sebelum benar-benar memasuki ruangan itu.


Pikirannya masih membayang, saat tadi ia membentak ibunya sendiri didalam telfon.


Flashback


Ponselnya berdering sesaat sebelum ia memasuki kelas pagi ini. Ia membiarkan panggilan itu berakhir beberapa kali. Sebelum akhirnya ia merasa jengah, dan memutuskan untuk menjawabnya di tempat yang sepi.


"Ya..."

__ADS_1


Jawabnya seketika saat menjawab panggilan dari kontak yang bertuliskan 'M Diandra' di layar ponselnya itu.


" Sayang, kenapa kau tidak menyapa mama terlebih dahulu?"


"Apa yang Mama inginkan?


Aku akan ada ujian. Jika tidak ada hal yang penting, aku akan menutup telfonnya. "


Jawab Yura kembali dengan nada datar yang selalu ia perlihatkan, jika itu menyangkut tentang ayah dan ibunya.


" Ada apa denganmu Yura?


Kenapa kau bersikap dingin padaku?


Apa pembantu kesayanganmu itu sudah mengadu padamu?!"


"Apa maksudmu Ma? Siapa yang kamu maksud dengan pembantu...?!"


Ucap Yura sedikit kesal, setelah mendengar kata pembantu dari ibunya itu.


Mengadu? Tentang apa? Apa yang sudah dilakukan ibunya itu kepada Nara, dan kenapa Nara sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya? Sontak pikiran itu yang terlintas di benaknya.


"Bukankah dia sudah mengadu padamu tentang perkataan ku yang mengingatkan posisinya di rumah kita bukan? *Itulah sebabnya kau bersikap dingin pada ku...


Mama tidak suka dengan nya Yura?!


Mama tidak suka melihatnya bertingkah seolah seperti Nona di rumah kita, dan termasuk juga ibunya.


"Jadi karena itu selama ini Nana sering menghilang dari pandangan ku?


Tapi ia malah tengah berada di dapur untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah.


Dan Ibu, apa itu sebabnya akhir-akhir ini dia tidak lagi menyebut namaku?"


Gumamnya kembali dalam hatinya mengingat keganjilan yang dilihatnya selama ini.


"Apa yang sudah Mama lakukan?


Aku menghargai Ibu Liana, karena dialah yang lebih menyayangi dan memperhatikan ku ketimbang dirimu Ma...! Tolong kembalilah ke rutinitas mu, dan tolong jangan pernah mengusik ketenangan Nana lagi hanya karena rasa kesal mu yang tidak jelas itu Ma?!"


Panggilan pun langsung terputus.


Yura benar-benar merasa kesal dan marah mengingat kembali perkataan ibunya itu.


Tidak pernah terlintas di pikirannya, kalau selama ini ibunya membuat sahabatnya itu tertekan. Yang membuatnya lebih marah lagi, ia sama sekali tidak mengetahui semua itu.


Padahal, sudah terlihat jelas di depan matanya sendiri perubahan dari sikap Nana dan Liana.

__ADS_1


"Sahabat macam apa aku ini? Aku bahkan tidak mengetahui penderitaan dan penghinaan yang sudah diterima Nana, padahal kami sudah hidup bersama selama belasan tahun lamanya..."


***


Tok tok tok...


" Masuk Sayang..."


Seketika terdengar suara ayahnya Yura mempersilahkan putrinya itu untuk memasuki ruangan, setelah mendengar Yura mengetuk pintu.


"Papa? Apa, apa kau ingin bertemu dengan ku?"


Ucap Yura pelan setelah masuk dan duduk di sebelah ayahnya itu, tanpa memperdulikan keberadaan ibunya yang sudah duduk dengan wajah kesal di sebelah ayahnya.


" Sayang, bolehkah papa bertanya sesuatu?"


"Tidak usah terlalu lunak padanya Pa?


Langsung saja katakan padanya, apa yang di inginkan nya saat ini. Mama tidak ingin lebih lama lagi duduk disini, pekerjaan Mama masih menunggu."


Ucap Diandra seketika menyela ucapan suaminya itu.


" Mama...?!" bram.


"Kalau memang Mama sibuk, kenapa masih berada di sini? Pergilah, bukankah memang sebelumnya selalu seperti itu?! Aku juga sama sekali tidak memperdulikan nya."


" Yura! Beraninya kau berkata seperti itu padaku hah...?!"


"Sudahlah Ma, tahan emosimu."


Ucap Bram seketika melerai perdebatan antara anak dan istrinya itu.


Di sisi lain, ia tidak bisa menyalahkan jika putrinya berbicara seperti itu. Ia sadar dengan kondisinya saat ini, karena memang itulah situasinya.


Tapi disisi lain, Yura juga tidak boleh berkata tidak sopan pada ibunya, karena walau bagaimana pun keadaannya. Diandra tetaplah ibu yang sudah melahirkan nya, walaupun mereka berdua tidak ikut andil dalam membesarkan Yura dengan perhatian dan kasih sayang yang di harapkan setiap anak pada umumnya.


"Sayang, pergilah ganti bajumu terlebih dahulu. Papa gak mau membicarakan masalah ini dengan keadaan mu yang masih panas. Papa ingin membicarakan semua ini saat kau sudah tenang. Malam nanti, temui lagi papa disini. Oke, sayang...??"


" Baiklah Pa, aku hanya ingin bicara dengan Papa. Aku tidak ingin bicara kalau nanti malam mama masih ada disini.


Untuk saat ini, aku tidak ingin membicarakan hal apapun itu dengan mama."


Ucap Yura sebelum berjalan ke arah pintu untuk segera keluar dari sana.


Sekilas ia masih melirik ke arah ibunya yang sudah emosi dengan wajah merah padam. Seketika wajah cantiknya berkurang karena perubahan raut mukanya itu yang memandang kesal ke arah Yura.


Sedangkan Bram, saat ini tengah menahan tubuh istrinya itu. Menenangkan nya agar tidak mengejar putri mereka keluar sana.

__ADS_1


Yura langsung membanting pintu kamarnya dengan keras, dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Nara yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya dari jauh itupun merasa sangat khawatir. Khawatir jika saat tadi di dalam ruangan ayahnya itu terjadi sesuatu yang buruk.


__ADS_2