
Sudah 10 tahun berlalu sejak pertama kali pertemuan Yura dan Nara.
Pada saat itu, ayah Nara yang berprofesi sebagai seorang supir itu bekerja untuk keluarga Yura. Ayahnya itu adalah supir pribadi dari Bram, ayahnya Yura, dan sudah mengabdikan dirinya jauh sebelum Nara dilahirkan.
Baik ibu Yura maupun Nara, saat itu sama-sama tengah hamil. Usia kandungan mereka pun juga sama. Pada saat itu, ibu Yura melahirkan lebih dulu, kemudian disusul dengan kelahiran Nara 3 hari kemudian. Oleh karena itulah, mereka mempunyai nama yang sedikit sama. Hanya saja, kehidupan mereka yang sangat jauh berbeda.
Yura terlahir dalam keluarga kaya, dengan seorang ayah yang mempunyai sebuah perusahaan Multinational yang bergerak di bidang Produksi Barang Konsumen, dan cukup berpengaruh di kota itu.
Sedangkan ibunya, adalah seorang Designer terkemuka yang Brand nya banyak di minati oleh para artis dan papan atas dunia.
Sekilas, orang akan berfikir jika keluarga Yura adalah keluarga bahagia. Tidak hanya kaya, namun juga karena orang tuanya yang cukup berpengaruh. Tentunya, Yura sendiri bisa menikmati hidupnya dengan bergelimang harta.
Tapi sayangnya, itu semua hanyalah topeng.
Karena, sedari kecil Yura sangat kekurangan kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya. Di bandingkan orang tuanya, ia lebih dekat dengan para pembantu dan pengasuhnya.
Ada satu waktu, saat ia berumur 4 tahun.
Saat itu, suhu tubuhnya sangat panas. Sepanjang malam, gadis kecil itu hanya merengek dan gelisah tidak nyaman di gendongan pengasuhnya.
Sedangkan kedua orang tuanya lebih mementingkan pekerjaan mereka, dan seolah menganggap remeh dengan keadaan putri kecil mereka. Yang mereka tahu hanyalah karir, pekerjaan dan kesuksesan.
Sebagai penebus rasa kasih sayang bagi putri semata wayang mereka. Harta dan kekayaan adalah hadiah dan upaya terbaik bagi mereka untuk di persembahkan pada Yura.
Sedangkan Nara, terlahir dalam keluarga sederhana, dengan seorang adik lelakinya yang bahkan mungkin hanya berjarak 1 tahun.
Ayah Nara sudah bekerja sangat lama dengan ayah Yura sebagai supir pribadinya.
Sedangkan ibunya sendiri, adalah seorang ibu rumah tangga.
Walau demikian, Nara dan adiknya Mike sama sekali tidak pernah merasa kekurangan,.
Walaupun kehidupan mereka yang sangat sederhana, tapi kebahagiaan yang tercipta di dalam rumah mereka begitu besar.
Hingga pada akhirnya, setelah umur Nara memasuki usia 7 tahun, dan mulai untuk bersekolah. Mereka pindah dan tinggal di kediaman keluarga Yura, bahkan mereka berdua akan bersekolah di tempat yang sama.
Bukan tanpa alasan mereka pindah. Melainkan, itu adalah permintaan ayahnya Yura. Karena ia sering melakukan tour kerja keluar kota bersama ayahnya Nara. Pastinya, akan lebih banyak menghabiskan waktu diluar dibandingkan pulang ke rumah.
Bisa dibilang, ayah Yura hanya pulang 2 kali dalam sebulan. Itupun juga hanya sebatas melihat keadaan Yura saja.
__ADS_1
Ayah dan ibu Yura sengaja meminta ibu Nara untuk bekerja sebagai pembantu di rumah mereka. Tidak hanya itu, mereka juga berjanji akan membiayai sekolah Nara sampai sarjana, dan akan bersekolah di tempat yang sama dengan putri mereka Yura.
Mengingat baiknya pengabdian ayah Nara bagi keluarga mereka, dan juga sebagai teman Yura tentunya...
***
Yura yang bersikap sedikit cuek dan kasar itupun, langsung gembira menyambut kedatangan seorang gadis kecil yang imut dan manis itu kerumahnya. Tidak lupa juga dengan ia yang sudah meminta orang tuanya untuk menambah 1 tempat tidur lagi di kamarnya. Tentunya untuk teman barunya yang bernama Nara itu.
Awalnya, ibu Yura tidak menyetujui.
Karena dari segi kehidupan mereka, Yura dan Nara adalah 2 orang anak yang sangat jauh berbeda. Bukan hanya itu. Menurutnya juga, dengan membiayai sekolah Nara dan menyediakan 1 kamar pun sudah cukup untuk menampung keluarga supirnya itu.
Namun, dengan bujukan Yura dan Ayahnya,
ibunya pun menyetujui permintaan putri kecilnya itu.
Yura yang sangat antusias dengan kedatangan teman barunya itupun, segera menarik tangan Nara dan membawanya masuk kedalam kamar untuk memperlihatkan semua peralatan kamar mereka berdua.
Yura juga memperlihatkan semua koleksi mainannya itu, dan tidak lupa juga dengan ia membawa Nara berkeliling ke seluruh rumah beserta tamannya yang begitu besar.
Nara kecil yang mempunyai sifat pemalu itupun, tersenyum senang melihat kebaikan Yura dan juga kehidupan barunya ini.
***
Mereka semakin akrab dan saling menjaga satu sama lain. Di bandingkan orang tuanya, Yura lebih menyayangi Nara karena hanya gadis itu yang mampu memperlakukan dan menyayanginya dengan tulus dibandingkan siapapun.
Banyak sekali rintangan yang mereka lalui bersama, hingga sekarang saat umur mereka sudah menginjak 17 tahun. Saat inipun, mereka sudah duduk di kelas 11 Sekolah Menengah Atas. Hanya tinggal 2 bulan lagi, sebelum mereka ujian kenaikan kelas...
Nara berlari mengejar sahabatnya itu yang sudah lebih dulu keluar dari kelas menuju parkiran untuk jemputan mereka.
Seperti biasanya, mereka akan bertaruh siapa yang akan sampai di mobil terlebih dahulu, maka ia akan menjadi pemenangnya.
Untuk yang kalah, akan bertugas membuatkan PR si pemenang, dan juga membersihkan kamar mereka esok pagi.
Sudah sangat di pastikan, saat ini pun Yura lah yang akan menjadi pemenangnya.
Karena, ia jauh lebih cepat di bandingkan Nara dalam soal berlari, dan di tambah lagi dengan fisiknya yang kuat.
Sedangkan Nara, selain pendiam ia juga pribadi yang gampang lelah dan lemah.
__ADS_1
"Yura! T-tunggu aku...!"
Teriak Nara berhenti dengan nafas beratnya memanggil Yura yang sudah hampir sampai di pintu mobil.
" Ayo Nana, jangan malas! Ayo semangat...?!"
Teriak Yura kembali menyemangati sahabatnya itu, yang sudah kelelahan dari jauh.
"Hah... a-aku tidak kuat lagi..."
Teriaknya kembali dengan suara melemah karena lelah.
Yura yang melihat Nara kelelahan itupun, merasa tidak tega dan langsung berlari menyusulnya yang sedikit jauh dari mobil jemputan mereka.
" Naiklah, aku akan mendukung mu..."
Ucap Yura menawarkan punggungnya untuk Nara yang semakin kelelahan.
"Tidak usah, tolong beri aku waktu sebentar untuk mengatur nafasku kembali."
Tolak Nara yang merasa tidak enak dengan perlakuan sahabatnya itu. Bukan apa-apa, hanya saja ia merasa tidak enak. Walaupun mereka bersahabat sangat dekat, namun Yura adalah seorang nona di rumah majikan orang tuanya, dan tidak mungkin untuknya bersikap terlalu berlebihan.
" Jangan pikirkan apa pun Nana, ayo cepat naik...?!"
"Tapi..." ragu.
" Ayo cepat...?!"
Teriak Yura menarik tangan Nara, agar segera naik keatas punggungnya dan bisa segera pergi dari sana.
"Terimakasih Yura..."
Ucap Nara kembali dengan pelan, di atas gendongan Yura setelah sampai di depan pintu mobil. Yura pun segera menurunkan nya, dan tersenyum mendengar ungkapan terimakasih sahabatnya itu.
" Walaupun tubuhmu jauh lebih kecil dariku, tapi kau jauh lebih berat dari dugaan ku Nana..."
Ucap Yura tertawa mengejek Nara yang sudah melihat tajam padanya.
"Sebagai gantinya, kau harus membuatkan ku segelas jus segar saat di rumah nanti, untuk mengembalikan tenagaku yang sudah terkuras karena menggendong mu..."
__ADS_1
Ucap nya kembali semakin meledek Nara, dan sontak mereka pun tertawa bersamaan, di ikuti oleh supir mereka yang tertawa melihat kelucuan nona nya itu.