
~Bisakah kita bertukar peran? Kamu yang mencitaiku, lalu aku yang menyia-nyiakanmu.
-
***
Menjadi seorang figur ayah dan ibu sekaligus tidak membuat sosok Jung Jungkook terbebani. Dia sangat mencintai putrinya—Jung Aecha. Gadis kecil yang terlahir tanpa seorang ibu. Dia terlahir dari rahim seorang wanita yang berusaha meleyapkannya selama dalam kandungan.
Kemalangan Aecha saat ibu kandungnya bahkan mengharapkan kematiannya sebelum dia melihat indahnya dunia. Beruntung Jungkook menyadari kegilaan ibu Aecha dan mengagalkannya. Saat itu, karir Ahin sedang naik daun. Bobot tubuh serta bentuk tubuhnya harus terjaga, sementara dia mengandung.
Ahin sangat membenci kandungannya karena dia yang harus menjadi model untuk brand ternama harus pupus harapan. Dia dan Jungkook membuat perjanjian. Setelah Aecha lahir dia mengajukan surat perceraian.
Dia tidak memberikan asi pertamanya kepada Aecha dan dengan kejinya ia senang ketika Jungkook meminta hak asuh jatuh kepadanya. Sejak saat itu, Ahin menghilang bagai ditelam bumi. Jungkook tidak berusaha mencari. Dunianya hanya terpusat pada putri kecilnya.
Tidak terasa waktu sudah berlalu, Jungkook yang sempat terpuruk karena wanita yang dicintainya tega meninggalkannya bersama bayi mereka demi sebuah karirnya. Sejak saat itu Jungkook menutup hati untuk wanita manapun. Dia merasa cukup berdua dengan putrinya.
Seperti saat ini, tawa putrinya yang pecah membuatnya ikut tersenyum. Dia mengusap lembut surai hitam milik Aecha. Melayangkan sebuah kecupan tanda kasih sayang untuk anaknya.
“Tumbulah menjadi gadis cantik serta kebanggaan Daddy, Nak.” Aecha menatap daddy-nya dengan sorot binar mata polos. Dia meraba rahan tegas milik Jungkook.
Gadis kecil berusia 5 tahun yang membuat hidup Jungkook berwarna. Kehadiran Aecha membuat luka dihati Jungkook perlahan mengering, tetapi bekasnya akan hidup tetap hidup sampai kapan pun.
Siulet hitam membuat Jungkook mengadahkan mata ke atas. Dia melihat adiknya Jung Hana melihatnya dengan bibir mencabik kesal. Jungkook terkekeh pelan, dia memang tidak berubah untuk keluarganya.
“Oppa, aku tidak mau jika harus bersama J-Hope. Dia laki-laki biadab dan petikilan,” cerocos Hana.
“Hana ... J-Hope-lah yang harus menemanimu menjaga Aecha,” kata Jungkook tegas.
“Aku bisa menjaganya sendiri, Oppa!” pekik Hana frustrasi.
“Dengarkan Oppa, Hana.” Delikan mata tajam Jungkook membuat Hana pasrah. Hana menjatuhkan tubuhnya di dekat keponakan kesayangannya. Dia sangat gemas sampai mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri Aecha.
Aecha tekikik geli dan memukul wajah Hana yang terus maju menggeluti wajahnya. “Hahahahaha Auhaha thyyyhahah!’’ Jerit Aecha tidak sanggup menahan geli karena tantenya.
“Daddy, Echa geli kalena Aunty Hana,” adu Aecha sambil menjulurkan tangan ke arah Jungkook.
Jungkook dengan gemas menarik anaknya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi. Dia harus kembali ke kantor karena dia adalah pemilik perusahaan. Jungkook selalu disiplin, meski dia bebas masuk sesukanya.
“Hana, Oppa pergi. Jaga Aecha dan jangan memberinya jajan sembarangan,” pesan Jungkook yang diacungi jempol oleh adiknya.
__ADS_1
“Adadada Daddy.” Aecha melambaikan tangan pada Jungkook.
“Dada, Nak. Jangan nakal sama Aunty Han,” pesan Jungkook.
Mobilnya sudah menghilang, Hana memilih masuk ke dalam rumah. Saat dia berbalik seorang pria mengejutkannya. Hana merubah raut wajahnya menjadi jutek. Dia tidak menyukai pria di sampingnya.
“Halo princes,” sapanya dengan riang.
“Halo Uncel Je,” balas Aecha diringi dengan tangan yang menjulur minta digendong.
Hana terpaksa melepas Aecha, mereka bersisian masuk ke dalam rumah besar milik Jungkook. Hanya suara Aecha dan J-Hope yang mengisi keheningan. Hana bahkan tidak membuat minum untuk tamunya.
“Silakan diminum Tuan, Nona,” kata Bi Ina sambil meletakkan dua gelas berisi jus lemon.
“Terimakasih, Bi.”
J-Hope menyeruput minumannya dan menatap Aecha yang bermaian dengan boneka barbienya. Dia tahu kemalangan yang menimpa sahabatnya Jungkook dan gadis kecil yang sekarang tertawa polos.
Menyenangkan menjadi anak kecil. Tidak mengerti dunia dan tertawa lepas. Tidak peduli dengan sekitar kita dan bisa bernapas lega. Andai kita bisa sepertinya, bersikap acuh pada hal yang membuat kita terpuruk.
Suara dering telepon milik Hana mengalihkan tatapan mereka dari Aecha. Hana menyerit saat sahabatnya menghubunginya. Mata Hana membulat sempurna. Dia menutup teleponnya dan berdiri dengan gusar.
“Aku harus pergi sekarang,” kata Hana menatap J-Hope dengan mata berkaca-kaca.
J-Hope menggendong Aecha dan menyambar kunci mobilnya. Hana mengusap wajahnya kasar. Dia menyebutkan alamat yang akan mereka tuju. J-Hope diam-diam mencuri pandang ke arah Hana. Hana terlihat gelisah.
Aecha sudah terlelap di pangkuan Hana. Dia kelihatan kelelahan setelah bermain. J-Hope telah sampai di sebuah rumah yang kini dikepung dengan pria yang memakai baju hitam. Hana mengendong Aecha yang masih terlelap dengan damai.
Seorang wanita dengan pakaian lusuh menatapnya dengan mata sembab. J-Hope menga,bil alih Aecha dalam gendongannya. Membiarkan Hana dan seorang gadis yang terlihat berantakan.
“Hiks ....” Tangis gadis itu bersahutan dengan tangis Hana. Tubuhnya bergetar hebat, orang bisa melihat air matanya tapi orang tak akan pernah bisa melihat luka di hatinya.
“Hana hiks rumahku hikss ... mereka hiks mengambil semuanya ....” Hana mengusap lembut punggung sahabatnya. Dia mengerti perasaan sahabatnya. Derita yang dialami Ae-Ri disaksikan oleh Hana.
Gadis berusia 19 tahun yang melawan kejamnya kehidupan seorang diri. Seolah mereka belum puas membuat hujan selalu berderai dikelopak mata Aeri, kini mereka mengambil rumah Aeri. Hati Aeri serasa diremuk hingga tidak berbentuk.
Dia hanya sanggup menangisi nasibnya. Aeri tidak pernah menyalahkan Tuhan atas kejadian-kejadian disetiap hari yang ia lalui. Dengan sabar ia selalu menerima nasibnya.
Hana membawa Aeri ke dalam mobil. Aeri menangis tanpa suara, bokahan batu di dalam dadanya membuatnya sulit bernapas dengan baik. Dia rapuh dan memasang topeng ketegeran dalam hidupnya. Jika dia sudah terpuruk setidaknya dunia tahu kalau dia masih berdiri meski itu hanya topeng belaka untuk menutupi jikalau dia sudah tumbang.
Sesampainya di rumah Jungkook, Hana menyuruh J-hope membawa Aecha ke dalam kamar. Dia menenangkan Aeri yang kini pucat pasi. Sorot mata sayu dan teduh kini terlihat kosong.
“Aeri, luapkan perasaanmu padaku,” pinta Hana serak.
__ADS_1
Aeri menatap Hana dan tersenyum tipis. Hana merasa dadanya ditusuk ribuan panah, melihat senyum tulus dan ikhlas sahabatnya. Terbuat dari apa hati Aeri, sehingga berbesar hati setiap mengalami musibah dalam hidupnya.
Hana merengkuh Aeri dan dialah yang kini ditenangkan Aeri. Hana sedikit histeris dengan kenyataan yang selalu diterima sahabatnya. Bagi Hana, Aeri bukan hanya sahabatnya tetapi juga saudaranya.
J-Hope sengaja berada di dalam kamar Aecha. Memberi ruang dan waktu untuk kedua gadis yang sedang dirundung masalah. Hana mulai sedikit tenang. Matanya sudah memerah, tangannya mengusap lembut tangan Aeri.
“Lalu ke mana kamu akan pergi?” tanya Hana.
Aeri menggelengkan kepala karena memang dia tidak memiliki tujuan lagi. Dia tidak punya uang dan rumahnya sudah disita. Aeri mungkin tidur di jalanan. Dia mencoba tenang kala sang Jingga telah menyapa.
Bi Ina mengantarkan air putih dan minuman untuk Aeri. Hana meminta izin ke belakang, menyisahkan Aeri yang kini memejamkan mata memikirkan nasibnya.
Hana merogoh tasnya dan mendial nomor seseorang. Nada pertama belum diangkat sampai nada ketiga baru terdengar suara maskulin.
“Halo, Oppa,” kata Hana saat Jungkook mengangkat teleponnya.
“Kenapa menelepon Oppa? Apa sesuatu terjadi pada Echa?” tanya Jungkook.
“Oppa, apakah Echa membutuhkan seorang Baby Sister?” tanya Hana gusar.
“Hana, Oppa tidak mau jika sesuatu terjadi dengan Echa. Tidak mudah percaya pada orang lain,” kata Jungkook dingin.
“Oppa, please. Hana punya teman, dia sangat butuh tempat tinggal dan juga pekerjaan. Hana akan menceritakan semuanya Oppa. Terimalah dia, Dia sangat baik Oppa,” bujuk Hana.
“Oppa serahkan pada Echa. Kamu tahu anak Oppa tidak mudah menyukai orang asing,” kata Jungkook.
“Arasso, Oppa.” Hana mematikan telepon dan menyimpannya ke dalam tas.
“Hush kau pikir hanya anakmu saja yang tidak mudah menyukai orang lain, Oppa? Kau pun sama saja!” gerutu Hana. Dia tiba-tiba tersenyum penuh arti,” Tapi Oppa, aku yakin bukan hanya Echa yang akan menyukainya, kamu pun akan menyukainya.”
TBC
__ADS_1