My Young Daddy

My Young Daddy
16


__ADS_3

[Scane Full Jhope dan Hana]


Hana menatap Jhope yang duduk di atas meja. Tatapan Jhope tidak pernah lepas dari Hana, begitupun sebaliknya. Hana terus menatap Jhope. Ponsel Hana berada di tangan Jhope. Hana menghela napas dan berjalan ke arah Jhope.


Hana langsung memeluk pinggang Jhope. Jhope tidak bergeming dan tetap menatap Hana. Hana tahu Jhope marah padanya tetapi pria itu memilih diam daripada membentaknya.


"Sayaaang," rengek Hana manja.


Jhope menghela napas. Jika boleh jujur, Jhope teramat lelah namun cintanya pada Hana sangatlah besar."Hana, sejak kapan Jimin mengirim pesan seperti ini?" tanya Jhope datar.


"Kamu harus tahu Jimin bukan apa-apa," ujar Hana.


"Jangan meremehkannya," ujar Jhope.


"Arasso chagia," ucap Hana.


Hana menarik Jhope ke sofa, dan memilih menyandarkan tubuhnya pada Jhope. Jhope mengingat ucapan Jungkook soal membawa orang tuanya e rumah Hana.


"Hana, jika aku melamarmu apakah kamu mau?" tanya Jhope. Dia degdegkan mengatakannya tetapi berusaha terlihat santai.


Hana memaikan jari-jari Jhope. Dia mendongakkan kepalanya dan mengagguk tanpa ragu. Jhope tersenyum bahagia, namun dia jadi kesal setelah mendengar ucapan Hana.


"Tetapi tidak boleh menyentuh lebih. Hanya sebatas kissing," ujar Hana serius.


Jhope mendorong pelan tubuh Hana yang menyandar di dadanya. Hana menyilangkan kakinya di atas sofa dan menghadap Jhope. Melihat tatapan kesal Jhope membuat Hana mendegus kesal.


"Kita akan jadi suami-istri, jadi apa salahnya kita melakukannya?" tanya Jhope.


Hana merasa situasinya mendesak. Dia akan mencobanya dan jika terjadi sesuatu pada Jhope dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Emm-Aku sudah ti-tidak perawan," ujar Hana pelan. Dia ingin melihat reaksi Jhope, sejenak melihat tatapan kecewa Jhope. Ingin rasanya Hana berteriak, jika keperawanannya juga diambil Jhope.


"Tidak apa-apa. Aku menerimamu apa adanya," ujar Jhope berusaha tersenyum ikhlas.


Mata Hana berkaca-kaca. Dia memeluk erat leher Jhope."Jadi itu alasanmu ketika aku mengajakmu kamu terus menolak?" tanya Jhope dan diangguki Hana. Hana menarik dirinya dan menatap Jhope yang memasang wajah serius.


"Kalau boleh tahu siapa yang menjadi pertama untukmu?" tanya Jhope.


"Pria petekilan," ketus Hana.


Jhope tanpa sengaja melototi Hana. Dialah yang sering Hana sebut pria petekilan dan benarkah dia yang mengambil keperawanan Hana. Melihat Jhope ingin berpikir Hana mencegahnya.


"Jangan mengingatnya!" pekiknya membuat Jhope kaget.


"Hajima, aku tahu kamu pernah kecelakaan dan itu bisa mempengeruhi otak kecilmu."


"Tapi aku tidak mau melupakan tentang kita. Jika benar apa yang aku lupakan adalah memori terpenting dalam hidup kita, maka aku rela kesakitan untuk mendapat memori itu. Kenangan kita sangat berharga untukku."


Mata Hana berkaca-kaca, dia mengenggam tangan Jhope dan menciumnya."Kita bisa membuat kenangan baru," ujar Hana.

__ADS_1


Jhope mengangguk."Lalu, adakah yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Jhope memicing.


"Tidak ada," bohong Hana.


Jhope tersenyum misterius saat gelagat Hana terlihat aneh. Dia tahu jika gadis di depannya menyembunyikan rahasia. Jhope mengambil ponselnya dan memberikan pada Hana. Hana tercengan saat melihatnya.


"Masih mau menyangkal Sayang?" tanya Jhope datar.


"Enghh .. ak-aku-" Hana kehilangan kata. Dia tidak tahu di mana Jhope mendapatkannya. Hana merutuki siapun yang memberikan pada Jhope. Dia terbelak saat Jimmy terlintas di otaknya.


"Jungkook yang memberikan padaku. Oppamu begitu khawatir hingga dia menyempatkan untuk mencari tahu tentang keanehanmu," sindir Jhope.


"Apa yang kamu lakukan hingga satu tahu lebih menghilang tanpa kabar dan itu saat aku sedang koma," tanya Jhope penuh selidik.


"Jhope, jangan memaksaku untuk mengatakannya. Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ujar Hana mulai terisak. Jhope melihat Hana menangis keras. Bahkan gadis itu memukul-mukul dadanya. Jhope meremas rambutnya.


"Hiksss huwaaaaaaaaaa hiksssss." Hana benar-benar menangis. Dia memukul dadanya kuat berusaha menghilangkan sakit dalam dadanya.


"Sayang," panggil Jhope sambil merengkuh Hana.


"Hiksss Huwaaaa cukup sekali. Hikss jangan memaksaku hikss aku tidak mau kehilangan kamu ...." Jhope mengangguk. Dia tidak bisa mengabaikan tatapan penuh derita Hana.


"Biarkan kita menikah. Aku mohon, jika selanjutnya kamu ingin tahu, biarlah."


"Hana-ah---"


" ...." Jhope bukam.


"Hiksss kamu tahu? Kemarin aku ... aku sudah berencana membuat pernikahan kita bagai kutub utara. Hikss tidak ada bahagia apapun di dalamnya. Hikss ak-aku ingin mengabaikanmu setelah kita menikah," ujar Hana segukan membuat Jhope menatapnya sakit.


"Wae?" lirih Jhope.


"Hikss karena aku teramat mencintaimu! Huwaaaa hikss aku teramat mencintaimu hikss aku takut kehilanganmu!" teriak Hana sambil menumpahkan tangisnya. Biarlah rencananya hancur. Dia pasrah dan dia akan membunuh dirinya jika sesuatu terjadi pada Jhope saat ini. Jhope berusaha menghalau pikirannya.


"Jika kamu mencintaiku kenapa harus menjadikan pernihakan kita seperti kutub utara> Wae?! Huh, Wae?" tanya Jhope tidak dapat membendung air matanya. Dia sangat hancur mendengar penuturan wanita yang sangat dicintainya.


"Hikss aku sudah mengatakan jika aku hikss teramat mencintaimu," ujar Hana.


"Hana-ah cinta sejenis apa ini?" tanya Jhope sambil menangkup pipi Hana. Dia benar-benar merasa ditampar dan ditusuk ribuan pisau. Hana terlihat rapuh sekali.


"Hikss dia telah mati." Setela mengatakan itu tangis Hana pecah. Jhope membeku di tempat,"Si-siapa yang mati?"


"Hiksss an-anak kita," ujar Hana sambil memeluk erat tubuh Jhope. Jhope merasa pasokan di sekitarnya menipis. Kepalanya berdenyut sakit, sekelebat bayangan terlintas. Masih terlihat hitam dan tidak jelas. Dia melihat jika seorang pria mencium perut datar seorang wanita dan mereka tertawa bahagia.


"Akhhh!" Jhope memegan kepalanya sakit.


"Hiksss Jhope!" teriak hana khawatir.


Inilah alasannay ingin membuat pernikahannya dingin. Jika Jhope kembali mengingat kejadian-kejadian itu akan berakibat fatal. Jika dia melakukan hubungan suami-istri bisa mengingatkannya pada potongan masa lalu mereka.

__ADS_1


Hana mengguncang tubu Jhope yang mulai terlihat pucat pasi. Hana menangis keras. Dunia mendenar jerit hatinya.


"Sssttt," Jhope memelut erat tubuh Hana. Dia berusaha mengontrol pikirannya.


"Hiksss jangan pergi," ujar Hana.


"Aku selau di sini," balas Jhope.


"Hiksss apa masih sakit?" tanya Hana.


"Sudah tidak."


Jhope mengusap pipi Hana, dan menyatukan kening mereka. Jhope memiringkan wajahnya dan mencium Hana. Biarlah jika harus mati ia lewati untuk dapat mengingatnya. Air matanya mengalir saat tahu jika ternyata dia dan Hana memiliki anak.


"Apa mereka tahu?" tanya Jhope. Hana menggelengkan kepalanya. Jhope semakin dalam mencium Hana menyalurkan semua perasan sedihnya. Dia mengutuk dirinya yang membuat Hana melalui ini seorang diri.


Pantaslah Hana berubah, begitu banyak yang ia lewati seorang diri. Hana menarik dirinya dan menatap Jhope yang tersenyum lirih.


"Jangan menangis lagi, apa jenis kelamin anak kita?" tanya Jhope.


"Hiks di-dia seorang laki-laki. Hikss mungkin jika masih hidup sudah seperti Echa," kata Hana sambil mengigit bibirnya. Dia mengingat wajah anaknya yang polos terlelap damai. Wajah kecil tak berdosa itu pucat pasi. Jantungnya tidak berdetak, bahkan anaknya baru sekali menyentuh asinya. Menatap matanya seolah dia hanya memberi pesan lewat mata polosnya.


Namun sayang bayinya harus merenggut nyawa dalam pelukannya. Hana begitu histeris mendapati bayinya tidak bernyawa. Begitu pedih juga Hana saat Jhope tidak kunjung datang sesuai janjinya. Akhirnya Hana memutuskan mengasinkan diri karena perutnya semakin membesar.


Keluarganya tidak ada yang curiga, Hana melewati harinya seorang diri. Dia begitu kecewa pada Jhope. Jhope sendiri kala itu bersemengat pulang namun truk malah menabrak dirinya. Ia sampai koma selama setahun lebih.


"Dia sangat tampan sepertimu. Dia mirip denganmu," ujar Hana menahan sesak mengingat jenazah anaknya.


"Aku ingin mengunjunginya," ujar Jhope.


"Hikss ...." Hana mengangguk.


Jhope kini tahu rahasia Hana dan dia sangat menyesal tidak mencari tahu perubahan sikap Hana. Kini nasih telah menjadi bubur, dia berharap anaknya baik-baik saja. Jhope memejamkan mata sambil memeluk erat Hana. Kenangan mereka berputar di kepalanya secara jelas. Jhope tersenyum mengingat semuanya.


"Hikss Jhope," panggil Hana saat merasa tubuh Jhope terkulai lemas. Dia menarik diri dan melihat wajah Jhope sudah pucat pasi. Keringat dingin membanjiri wajah Jhope. Mata Jhope tertutup sempurna.


"Hiksss Adweeeeeeeeee!" teriak Hana hsiteris.


"Jhopeeeeee! Hikssssss huwaaaaaa.''


Brak!


Pintu terbuka kasar. Seorang pria berdiri di sana sambil diekori beberapa bodyguardnya.


"Hana-ah sudah aku katakan, suatu hari ... tapi tidak kusangka akan secepat ini,'' ujar Jimin.


"Hiksss Jhopeee! Hikssssss jangan pergi!" teriak Hana meronta\=ronta minta dilepaskan sakit yang menikam dadanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2