
~Aku rela kehilangan seluruh hartaku di dunia ini, asal aku tidak kehilangan diri kalian berdua, karena kalianlah harta berharga dalam hidupku.
'Jungkook.
Waktu seakan melambat dan membuat jantung ingin berhenti berdetak. Menunggu di luar tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa. Hanya harapan dan doa yang dilantukan oleh pria bergigi kelinci itu. Wajahnya yang tampan begitu menyedihkan. Bagaimana tidak, anak dan istrinya masih belum ada kabar.
Di dalam ruangan sana, beberapa orang berpakaian putih tengah berlalu lalang. Mencoba mengerahkan kemampuannya untuk menyelamatkan pasien. Namun, sehebat apapun pengetahuan orang tetap hidup-mati itu di tangan Tuhan. Mereka hanya berusaha selebihnya kehendak Tuhan.
Dokter wanita yang menengani Aeri mengembuskan napas. Dia keluar dengan keringat bercucuran di dahinya. Shungguh dia melakukan yang terbaik di dalam. Dia hanya pasrah memberikan kabar ini kepada suami pasiennya.
“Dokter,” panggil Helsi membuat Jungkook mengangkat wajahnya. Dia mendekati dokter itu dengan wajah khawatir.
“Bagaimana dengan istri saya, Dok?” tanya Jungkook mendesak.
Helsi dan Bae menatap cemas ke arah dokter. Jungkook sendiri berusaha menghilangkan dinginnya yang ia rasakan saat ini. Dokter itu tersenyum lembut.
“Puji syukur, istri anda selamat,” ujarnya membuat Jungkook dan kedua orang tuanya menghela napas lega.
“La-lalu kandungannya?” tanya Jungkook terbata-bata.
“Ini keajaiban, Pak. Saya berpikir kandungan istri anda tidak bisa diselamatkan, tetapi kuasa Tuhan dia selamat.”
Air mata Jungkook jatuh, dia bahagia. Mendengar kabar anak dan istrinya selamat itu suatu kebahagiaan untuknya. Namun, semua harus sirna saat mendengar kabar selanjutnya dari dokter.
“P-Pak, putri anda---“ ujarnya susah payah.
“Kenapa dengan putri saya?!” teriak Jungkook menatap tajam dokter pria yang menghampirinya. Echa memang di tangani dokter lain dan kamarnya bersebelahan dengan Aeri.
“Pu-putri Anda sangat kritis, Pak.”
__ADS_1
Ucapan itulah yang membuat dunia Jungkook terasa masuk ke dalam jurang. Menghempasnya hingga tidak mampu berdiri. Putrinya, Echanya sedang kritis. Anaknya yang selalu mengecup bibirnya kritis! Jungkook jatuh di lantai, dia menangis tengungu mendengar kabar itu.
Helsi kembali memeluk putranya. Dia tidak menyangka cucunya harus mengalami ini. Bae menghalau air matanya. Jagoannya menangis, putranya kini kembali hancur.
“ARGHHHHHH! HIKSSS ECHAAAAAA!” teriak Jungkook membuat semua orang menatapnya sedih. Pria dingin dan ketus itu menangis, putrinya sedang diambang kematian.
***
5 Bulan kemudian.
Hari-hari Jungkook tidak lagi sama. Mataharinya kini redup tidak bersinar. Hanya sunyi dan sepi yang menemaninya. Kedua wanita berharga dalam hidupnya terbujur lemah tak berdaya. Tujuan Jungkook terasa tidak terarah.
Di dalam ruangan dia mengenggam tangan Aeri. Mengecup wanitanya dan mengusap lembut perut Aeri. Kondisi Aeri sangatlah lemah, apalagi dia mengandung. Ia butuh makanan banyak untuk kehamilannya namun hanya cairan infuslah yang menjadi makanan keduanya.
Jungkook seperti pria yang tidak terawat. Dia membierkan kumis tipis muncul di permukaan atas bibirnya. Rambutnya acakan dan gondrong. Dia merindukan Aeri yang selalu menurut kepadanya. menyiapkan sarapan untuknya.
Tes. Setetes air mata Jungkook jatuh,
“—kamu mengajariku arti takut kehilangan.”
Tidak ada lelahnya Jungkook bercerita kepada Aeri. Ini sudah kegiatan rutinnya. Pagi ini dia kembali terpukul saat bangun tetapi istrinya masih tidur. Jungkook sangat menanti Aeri meski pun dia akan menghabiskan sisa umurnya.
Sementara di depan pintu seorang wanita dan laki-laki menatap Jungkook sedih. Mereka adalah Hana dan Jhope. Jhope sudah sembuh total dan mereka berencana untuk menikah. Namun, suasana masih sedih. Mereka melangkah pergi, membiarkan Jungkook di sana.
Hana dan Jhope ke ruang inap Echa. Mereka mengenakan masker. Tidak terasa setetes demi setetes mengalir di pipi Hana. Tubuhnya terguncang mengiri langkahnya. Dia memegan besi bangkar Echa. Berusaha menahan isak tangisnya.
Jhope memeluk Hana, dia juga sedih melihat Echa. Tidak ada yang berubah pada anak itu, tubuhnya masih terbaring lemah. Bibir kecilnya mengatup, mata rubynya juga sama. Tangannya yang sering mencubit Jungkook kini diam dengan selang infusnya.
Tubuhnya yang sering bergetar karena tawa kini diam dengan alat-alat penunjang hidupnya. Kakinya sedang digips karena mengalami patah. Perban yang melilit di atas kepalanya menandakan betapa parahnya kecelakaan yang dialami anak kecil tak berdosa ini.
__ADS_1
Jhope tidak dapat menahan air matanya. Dia menangis saat pandangannya tertuju pada kaki Ehca. Kaki itu yang sering mengehentak-hentak saat naik ke punggungnya.
“Hikssss Echa ... Princes, ini Aunty Han hiksss. Ech-cha hiks bangun ya Nak?” Hana mengigit bibirnya saat tidak ada pergerakan dari keponakannya. Dia mengengam tangan Echa yang kini kurus. Pipi anak itu juga ikutan kurus.
Jhope mengusap lengan Hana.”Hikss Echa harus hiks bangun. Kamu mau main sama hiks adek. Hikss perut Mommy Echa sudah besar sayang hiksss ....” Runtuh. Sangat runtuh, Hana bergetar hebat. Dadanya dihujami seribu anak panah. Mengingat Aeri yang juga terbaring lemah.
Hana memeluk erat tubuh Jhope. Menumpahkan kesedihan mendalam yang ia rasakan. Baju Jhope basah karena air mata Hana. Hana menarik dirinya dan Jhope mengusap air mata Hana.
“Cepat sembuh my Princes, hikss Aunty Han janji kasi kamu Adek juga,” bisik Hana sambil mengecup sayang kepala Echa yang dililit perban.
Dia keluar dari kamar Echa. Dia melihat Jungkook berdiri di kamar ananya. Hana memeluk Jungkook arat. Dia tahu jika saja dia sesedih ini, bagaimana dengan Jungkook? Pria itu pasti sedih sekali. Jungkook tersenyum tipis dan memeluk adiknya erat.
Dia harus kuat setidaknya di depan keluarganya. Dia tahu keluarganya juga sama sedihnya. Adiknya juga ditimpah kesedihan. Betapa marahnya Jungkook saat tahu nyawa Jhope kembali hampir melayang dan Hana ikut menjadi korban.
Hana menarik dirinya dan Jungkook mengusap pelan pipi Hana. Dia membuat Hana semakin sakit saat melihat senyum Jungkook.
“Hana, Oppa dengar kalian akan menikah?” tanya Jungkook.
Hana mengigit bibirnya dan matanya berkaca-kaca. Jungkook mengerti Hana tidak mau menikah disaat dia sedang sedih. Jungkook tidak mau egois, selama ini Hana menderita. Dia ingin adiknya bahagia bersama sahabatnya.
“Oppa tunggu undangannya. Rawatlah dirimu, eoh. Pengantin wanita harus merawat dirinya sebelum menikah,” ujar Jungkook.
Hana mengangguk dan berusaha tersenyum. Dia tahu Jungkook ingin dia bahagia dan Hana tidak mau jadi beban pikiran Jungkook. Hana juga tidak mau egois dan keras kepala. Jhope pasti juga ingin bahagia dengannya.
Hana dan Jhope pamit pergi. Sementara Jungkook menatap pintu di depannya dengan pandangan sesak. Dia berusaha menghalau air matanya. Mengingat nama pemilik kamar itu saja membuat matanya memanas. Dia akan masuk ke dalam. Menemui putri tercintanya.
TBC
Jangan lupa follow :)
__ADS_1