
Note : Ceritanya campur latar Indonesia dan Korea. Kalau gak suka silakan pergi jangan baca. Castnya Korea karena saya anak K-Pop, banyak kok yang suka baca cerita Fanfiction.
Bahkan jika tempatnya sekalian gabung, maaf sebelumnya tapi Author itu orang Indonesia. Kalau kalian baca cerita cast Inggris, apa Autbor yang berasal dari Indonesia itu menulis menggunakan bahasa inggris? Tentu tidak, karena kalian juga yang baca dari Indonesia gak paham.
Terimakasih.
Happy Reading.
~Jika aku boleh menukar sakitmu dengan nyawaku, maka aku akan melakukannya untukmu
Restora Jepang.
Hana dan Jhope menikmati menu makanannya. Hana terus menguyah dengan pipi mengembul membuat Jhope tersenyum. Hana memang suka makan banyak, hingga membuat Jimmy selaku mangernya khawatir. Namun, hana bersiker mengatakan pada Jimmy jika dia makan banyak tidak ada efeknya pada tubuh Hana.
Jhope mengembuskan napas, saat teringat Echa, Jika anak itu ikut dengannya dan dititip Jungkook, dia akan makan dengan semangat. Dia mirip dengan Hana sangat menyukai makanan dan berceloteh terus. Memintanya bermain bersama hingga terjatuh tertidur karena kelelahan.
Semua senyap dan sunyi saat tiada jeritan nakal Echa. Tidak ada anggukan polos sebagai bentuk menurutnya Echa. Tidak ada lontaran kata polos Echa. Semua senyap dan sunyi, meninggalkan luka disetiap mengingat Echa. Kini anak kecil itu terbaring lemah.
“Jhope,” panggil Hana melihat raut sedih calon suaminya. Dia tahu Jhope merindukan Echa dan dia juga sama.
Jhope mamaksakan sebuah senyum. Dia tidak mau merubah suasana menjadi sedih. Hana ikut tersenyum dan menyodorkan sesendok makanan kepada Jhope. Jhope menerimanya dengan hati yang bahagia.
“Kita ke mana setelah ini?” tanya Hana.
“Kita ke rumah sakit saja. Foto prewedingnya besok,” ujar Jhope.
“Kita mau foto preweding di mana?” tanya Hana.
“Di dekat pantai.”
“Jinjja?! Ahhhh gomawo my chagia!” girang Hana. Dia bahkan memberikan ciuman bertubi-tubi pada Jhope. Jhope terkekeh melihat tingkah Hana. Mereka meninggalkan restoran.
Hana dan Jhope akan ke rumah sakit. Mereka ingin menemui Aeri dan juga Echa.
.
.
.
***
Seorang pria memukul mejanya dengan keras. Tangannya sampai mengeluarkan darah akibat tadi memukul cermin dan kini memukul meja. Wajahnya mengeras, bibirnya mengatup keras.
“Ahin,” geramnya.
Pintu tiba-tiba terbuka, seorang wanita berdiri kaku di depannya. Mata wanita itu menatap tangannya dengan sorot terkejut.
“Dokter Jimin-ah ... tangan Anda berdarah,” ujar Zia.
Jimin hanya mengangguk dingin. Zia mendekat dan meraih tangan Jimin membuat aki-laki itu menangen karena perbuatan tidak terduga Zia. Zia meraih kotak P3K dan mulai mengobati tangan Jimin. Jimin terus terpaku pada wajah gadis di depannya hingga tidak sadar tangannya sudah diperban.
“Sudah selesai, Dok.” Zia tersenyum kepada Jimin. Jimin terperangah melihat senyum Zia.
‘’Sangat Cantik.” Jimin memuji Zia dalam hati. Dia berdehem pelan.
“Kamu Dokter Zia yang menangani pasien atas nama Aeri?” tanya Jimin.
“Iya, Dok.” Zia menjawabnya takut-takut. Dia tahu Jimin pemilik rumah sakit ini.
“Bagaimana kondisinya?”
“Sudah lebih baik, Dok.”
“Lalu Echa?”
__ADS_1
“Dokter Jin yang menanganinya.”
“Tapi bukannya kamu juga ikut terlibat di sana.” Jimin bertanya seolah dia mewawancarai orang yang terkena kasus. Zia merasa terimindintasi oleh tatapan dan ucapan Jimin.
“Be-benar, Dok.”
“Berikan yang terbaik untuk Echa.”
“Saya akan berusaha, Dok. Semampu saya.”
Zia bangkit dan meninggalkan Jimin, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Jimin.
“Kamu kurang tidur, istirahatlah ... kamu bukan robot yang bisa bekerja lebih dari 24 jam. Dokter juga manusia dan bisa jatuh sakit.”
Zia mengangguk kaku, dia memang kurang tidur saat menangani Aeri dan Echa. Dia benar-benar melakukan yang terbaik dan selalu membaca buku kesehatan di perpus rumah sakit. Dia mencari jalan untuk pengobatan Echa.
Zia kini berjalan ke perpusatakaan, mengabaikan perintah Jimin. Dia duduk di sudut meja yang berada di perpusatakaan. Kini tumpukan buku tentang syaraf sudah di depannya. Zia menenggalamkan wajahnya di atas buku yang dia buka. Terisak tanpa suara dan itu semua tidak luput dari mata Jimin.
“Hiksss ... Tuhan kenapa anak kecil itu harus mengalami ini?” lirih Zia. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada keluarga Jungkook. Baru saja dia melihat Jungkook dan Aeri tertawa, tapi—
Zia tersentak kaget saat tubuhnya dipeluk. Dia menangis dan tidak peduli jika jas kebanggan laki-laki di depannya basah. Dia juga ikut sedih atas musibah ini. Tatapan Jimin jatuh pada gambar yang Zia buka. Dia memejamkan mata.
“Ingat perkataanku, kamu Dokter dan kamu manusia. Bukan Tuhan, aku memang memintamu melakukan yang terbaik, tapi ini kehendak Tuhan,” ujar Jimin berusaha tegar namun kenyataan ini juga menampar keras ulu hatinya.
“Hiksss anak itu tidak akan sanggup melewati ini,” isak Zia.
“Kamu harus tahu Echa di kelilingi orang yang menyayanginya.”
“Hikss kamu tahu, Echa ... dia—dia seperti ada,” ujar Zia membuat tubuh Jimin menengan.
“Apa maksudmu?” tanya Jimin kini menatap Zia penuh tanda tanya.
“Ak-aku punya kelebihan bisa merasakan kehadiran seseorang yang bukan manusia,” ujar Zia terbata-bata. Takut jika Jimin menganggapnya aneh dan mengada-ngada.
“Aku tidak bisa melihatnya, namun aku selalu merasakannya saat berada di ruangannya.”
“Bisakah kamu memanggilnya kembali?”
“ak-aku selalu memanggilnya, tetapi dia enggan kembali.”
“Echa,” lirih Jimin sedih.
“Apa ini berbahaya?” tanya Jimin.
“I-iya, jika dia tidak kembali ... nyawanya bisa melayang.”
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Aku pikir ... Aeri bisa mengajaknya berbicara.”
Jimin memengan kepalanya yang terasa pecah. Tidak mungkin juga kondisi Echa yang kritis disampaikan pada Aeri. Jika Aeri syok berat bisa bahaya untuk kandungannya. Namun, jika itu satu-satunya caranya, Jimin akan mencobanya.
Jimin menoleh dan menatap Zia. Dia menghela napas berat. Ahin belum ditangkap dan itu membuatnya merasa stres. Wanita itu licik dan memiliki koneksi banyak.
“istirahatlah, jika kamu tidak bisa pulang ke rumahmu, masuklah ke ruanganku. Di sana kamu boleh tidur,” ujar Jimin menatap lekat wajah Zia. Kantong mata Zia terlihat jelas, bukti kerja keras wanita ini. Zia mengangguk dan memilih tidur di ruangan Jimin. Dia takut jika sewaktu-wkatu ada sesuatu yang terjadi.
Mereka berjalan bersama membuat beberapa perawat memandang sinis ke arah Zia. Ada juga yang melempar senyum ramah dan Zia menanggapinya. Dia masuk ke dalam ruangan Jimin.
“Lupakan sejenak ini, soal Echa diam dulu. Kita lihat ke depannya.”
Zia mengangguk dan mulai berbaring. Dia terlelap sekali.
***
Aeri dan Jungkook tersenyum melihat kedatangan Jhope dan Hana. Mereka membawa sekeranjang buah dan Aeri menunjuk keranjang buah di atas nakas membuat Hana tertawa. Dia memang membelikan Hana tadi malam dan sekarang membawa buah lagi.
__ADS_1
“Hahaha aku ingin memberimu buah, agar debay sehat juga,” ujar Hana.
“Terimakasih,” ucap Aeri.
“Bagaimana pernihakan kalian?” tanya Jungkook.
“Tinggal foto prewedingnya, Oppa.”
“Aku harap kalian bisa datang,” ujar Hana sedih.
“Seminggu lagi bukan?” tanya Aeri.
Hana mengangguk dan Aeri berjanji akan segera sembuh dan rutin meminum obatnya. Mereka bercerita panjang lebar dan Hana sebisa mungkin tidak membawa topik Echa dalam obrolan mereka. Namun, mau diapa? Aeri sendirilah yang bertanya.
“Bagaimana keadaan Echa? Aku sangat merindukannya,” lirih Aeri.
Mereka diam, setiap kali Aeri bertanya mereka selalu menjawab jika Echa masih dirawat dan rasanya mustahil jika hanya itu jawabannya. Lidah mereka keluh untuk berbohong. Hingga Jimin masuk ke dalam ruangan Aeri.
“Jimin,” ujar Hana.
“Hal calon kakak ipar,” goda Jimin menayapa Hana. Hana tersenyum lebar. Jimin menatap Jungkook memberinya kode dan Jungkook tahu itu.
“Aku keluar sebentar,” ujar Jungkook.
Jungkook menutup pintu rapat. Dia mengikuti Jimin dan duduk di kursi yang tak jauh dari ruangan Aeri. Melihat Jimin berkali-kali menghela napas membuat dada Jungkook berdetak takut.
“Hanya Aeri jalan satu-satunya,” ujar Jimin.
“Apa maksudmu?” tanya Jungkook.
“Echa harus melakukan komunikasi secara tidak langsung pada Aeri. Ini seperti memberikan rangsangan terhadap tubuh Echa. Kondisi anakmu benar-benar kritis.”
Jungkook menelan ludah pahit. Setiap hari kabar Echa selalu memburuk. Jungkook diam membuat Jimin menupuk bahunya.
“Bagaimana jika Aeri syok?” tanya Jungkook.
“Itu jalan satu-satunya. Meski kemungkinan kecil tubuh anakmu terangsang tetapi mencobanya tidak apa.”
Jungkook menahan air matanya. Echnya sangat kritis.
“Bagaimana jika Echa tidak meresponnya?” tanya Jungkook menahan sesak.
“Aku tidak bisa membuatmu seidh, tapi ini kenyataannya. Kita lepas alat penunjang hidup Echa, anakmu cukup tersiksa. Tubuhnya sangat kurus ....” Jungkook adalah ayah yang tidak sanggup jika putrinya akan pergi meninggalkannya. Putri yang menjadi alasan bangkitnnya dari keterpurukannya dulu.
Tangis nakal diwaktu kecil memenuhi otak Jungkook. Bagai kaset berputar, bayangan menimang-nimang Echa saat keci. Deman anaknya yang membuat dia terjaga sepanjang malam. Jemari mugilnya yang memegan erat tangannya. Bibir kecilnya yang mengisap jempolnya di waktu kecil karena si kecil Echa mencari asi namun tidak ada.
Jungkook semakin terisak, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Saat itu Echa belum bisa minum susu karena usianya. Siapa yang tidak sakit? Saat bayi kecil putih bersih masih kemerah-merahan menangis meminta asi, namun kalian tidak bisa memberikannya. Hanya jempol Jungkook yang disiap Echa.
“Hikss Echa ... Jangan hukum Daddy seperti ini, Nak. Hikss kamu jangan nakal, Princes.”
Jimin mengusap air matanya. Belum lagi fakta yang ia sembunyikan soal Echa. Dadanya benar-benar sakit. Jungkook ingin mengantikan posisi Echa, bahkan nyawanya pun ia rela berikan asal Echanya sembuh.
“Jungkook ... Echa pasti kembali.”
“Hikss aku mohon berikan yang terbaik untuk anakku,” ujar Jungkook memohon.
“Jika Echa kembali, dia akan melewati masa yang sulit,” jawab Jimin pasrah. Jungkook menatapnya meminta penjelasan. Jimin memberikan ponselnya pada Jungkook. Tidak ... hancurlah sudah hati Jungkook.
Dia menangis meraung tanpa suara. Berharap hatinya tidak sesak. Dia berlari ke kamar Echa. Masuk ke dalam sana dan memeluk tubuh ringkih anaknya. Dia mendengar detak jantung lemah Echa. Putrinya yang malang.
“ECHA HIKSSS DADDY MOHON KEMBALI, NAK! HIKSSSSS ECHA ... BANGUN SAYANG, DADDY INGIN MENIMANG-NIMANG KAMU PRINCES!” Jungkook berteriak meluapkan sakit hatinya. Dia menarik dirinya dan jatuh di lantai. Menatap nanar tubuh Echa dengan air matanya.
“Hikssss Echa,” lirih Jungkook.
TBC
__ADS_1