My Young Daddy

My Young Daddy
36 (Tamat)


__ADS_3

🐰Happy Reading🐰


[Scane Kooki, Aeri, Echa dan triplek]


Pagi-pagi sekali yang cerah,  Echa sudah mandi. Dia sekarang berada di dalam kamar Aeri. Duduk di atas kasur dan di kelilingi triplek.


Jari telunjuknya sedang dipegan oleh jemari kecil sang Adik. Triplek memandang wajah Echa. Mereka tersenyum.


Echa menarik tangannya saat merasa diisap oleh adiknya. Dia tidak tahu siapa yang memengan tangannya.


"Apakah kamu lapar,  Dek?" tanya Echa sambil tersenyum.


Tangannya kembali diisap. Echa berteriak memanggil Aeri. Jungkook sudah berangkat ke kantor. Jhope tidak bisa ke kantornya karena mengurus perusahaannya sendiri dan juga menghandel sementara perusahaan Jimin.


"Mommy!" teriak Echa.


Aeri tergopoh-gopoh menghampiri Echa. Dia melihat anaknya tidak apa-apa bernapas lega.


"Ada apa,  Nak?" tanya Aeri.


"Adek selalu menghisap tangan Echa," aduh Echa.


Aeri melihat Ray yang menghisap jari Echa. Dia menarik pelan tangan Echa.


"Uhggg anak Mommy lapar ya, Nak?" tanya Aeri gemas sambil menimang Ray.


"Siapa yang mengisap jari Echa,  Mom?"


"Maafin Ray kakak Echa," ujar Aeri menirukan suara anak kecil. Echa tertawa.


"Mommy Echa ingin menciumnya," ujar Echa.


Aeri mengangkat Ray dan mendekatkan di pipi Echa. Echa sontak kaget dan tersenyum. Dia berharap suatu hari nanti bisa melihat wajah adik-adiknya.


Ya,  semenjak kedatang sang Triplek, Echa mulai ceria kembali. Hari yang ia lalui selalu bermain dan bercoloteh bersama mereka.


Jungkook dan Aeri setiap minggu mengadakan Weekend Family's. Bahkan saat usia anak-anaknya mulai beranjak dewasa.


Setelah semua terlelap Jungkook memeluk Aeri. Membisikkan kata cinta yang tak akan pernah ada habisnya.


"Love you My Mommy," ujar Jungkook.


"Love you to My Young Daddy," balas Aeri.


Dahi mereka bersentuhan. Hidungnya bergesakan. Deru napas keduanya beradu saling membelai kulit wajah mereka

__ADS_1


Hingga bibir merah mudah alami itu menyatu.


~


[Scane Hana dan Jhope]


Hana dan Jhope sangat bahagia sekali. Mereka baru saja keluar dari ruangan dokter Zia.


Yup, akhirnya Hana mengandung buah hatinya bersama Jhope. Sikap Hana lebih maja. Bahkan Jhope sering kali kena amukan Hana.


Tidak jarang juga,  Hana membuat Jhope begadang karena kehamilannya. Di anatra sikapnya,  hanya satu yang Jhope senangi.


Napsu Hana lebih tinggi. Bahkan Hana akan memintanya tanpa malu-malu. Napsu makannya juga meningkat.


"Jhopeeeeeee!" teriak Hana.


Jhope yang sedang mengetik,  menghentikan tarian tangannya di atas keyboard.


"Apa,  Sayang?" tanya Jhope.


"Aku mau makan bebek bakar," rengek Hana manja.


Jhope melirik jam dinding dan sekarang sudah jam 01:12. Menghela napas lalu meraih jaket kulit hitam miliknya. Ia akan mencari bebek bakar dan dia pastikan sulit menemukannya.


"Aku berangkat dulu," pamit Jhope.


"Hikss aku repotin kamu terus," ujar Hana.


"Tidak,  Sayang. Kamu dan calon anak kita akan selalu aku turuti,  kecuali menyuruhku meninggalkan kalian,  aku tidak akan pernah mau."


Hana tersenyum dalam dekapan hangat Jhope. Rutinitas yang suami-istri lakukan. Mereka menjalani hari demgan suka maupun duka bersama.


Hana bahagia,  dan berjanji di kehamilan keduanya dia akan menjaga anaknya. Ia juga senang karena Jhope ada di sampingnya. Menjadi suami dan ayah yang SIAGA. 


"Love more, Baby." Hana membukan bibir Jhope. Tangannya mulai membelai rahan tegas Jhope. Mengantar geleyar-geleyar aneh tapi nikmat.


Mereka akan menjaga calon anaknya hingga terlahir di dunia ini.


~


[Scane Jimin dan Zia]


Zia duduk dengan gugup di sofa Apartemennya. Dia dan Jimin memang menjalin hubungan tapi ini pertama kalinya Zia membawa Jimin ke Apartemennya.


Zia juga bingung saat Jimin memaksanya ingin bertemu. Ia malas keluar dan meminta Jimin datang ke Apartemennya.

__ADS_1


"Si-silakan diminum," ujar Zia gugup.


Jimin mengangguk dan tersenyum tipis menyadari kegugupan Zia.


Meletekakan cangkir teh miliknya dan menatap Zia yang sibuk mengalihkan tatapannya dari Jimin. Saat ini ia hanya mengenakan piayama tidur berbahan satin.


"Zia," panggil Jimin.


"Hm?" Zia berdehem dan menatap gugup Jimin.


"Aku mau bicara serius sama kamu mengenai hubungan kita."


"Ke-kenapa dengan hubungan kita?"


"Aku ingin melamarmu."


Zia terbelak kaget dan menatap Jimin, mencari kebohongan tapi nihil. Zia meneguk ludah saat jimin berada di hadapannya.


"Aku mencintaimu,  Zia. Aku ingin berbicara mengenai masa depan kita. Aku ingin kita ke jenjang serius."


Zia mengangguk. Toh dia memang tua,  dan bukan juga remaja. Usianya 22 tahun sudah cukup untuk membina rumah tangga.


Jimin tersenyum dan mengecup kening Zia. Mereka akan mengurus pernikahannya, setelah Jimin berbicara dengan orang tuanya dan juga wali Zia.


"Aku akan mencintaimu sepanjang napasku masih berembus."


***


Author POV


Seorang laki-laki menyeret kopernya. Dia mengenakan kacamata hitam,  menutupi mata elang miliknya.


Dia menatap ke depan dengan sorot sedih. Bayangan-bayangan gadisnya terus tergiang. Dia sebentar lagi meninggal Korea.


"Tuan, pesawatnya sudah siap," ujar Bodyguardnya.


Dia hanya mengangguk. Semua orang tahu bahwa laki-laki di hadapannya laki-laki dingin. Sejak masih kecil dengan cerita kelamnya.


"Caca, aku akan kembali jika aku sudah selesai dengan urusanku di sana. Aku akan sukses untukmu."


Dia melangkah pergi. Bibir itu--dia masih ingat dikecup berkali-kali saat dia menangis seorang diri.


T A M A T


Silakan follow dan ikuti cerita dari Squel My Young Daddy.

__ADS_1


Jung Echa dengan judul "Queen Not Princess"


__ADS_2