
Di legamnya malam Aeri baru saja menidurkan Echa. Dia hendak kembali ke kamarnya tetapi melihat pintu kamar Jungkook terbuka membuat Aeri menyerit bingung. Dia berjalan ke sana dan melihat Jungkook tengah duduk sambil memegan kepalanya.
Aeri masuk karena khawatir. Dia mendekat dan membuat Jungkook tersentak kaget karena kehadirannya. Tatapan seduh Jungkook membuat tatapan Aeri lebih melembut.
"Tuan, apakah Tuan sedang sakit?" tanya Aeri.
"Tidak ... aku hanya terlalu memikirkan Echa," ujar Jungkook jujur.
"Kenapa dengan Echa, Tuan?" tanya Aeri. Dia khawatir dengan Echa, ah apapun yang bersangkutan dengan Echa. Jungkook melihat tatapan Aeri semakin mengebu ingin memiliki gadis di hadapannya.
"Tuan," panggil Aeri membuyarkan pikiran Jungkook.
"Aeri ...." Jungkook ragu memberitahukan pada Jungkook tetapi dia tidak mau jika Aeri diambil orang. Well, kali ini Jungkook memilih jujur akan perasaannya.
"Echa membutuhkan seorang Ibu dan aku juga membutuhkan pendamping dalam hidupku," ungkap Jungkook. Jantung Aeri berdetak.
Deg.
Dia merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Aeri tidak mau salah sangka dulu. Namun, otaknya memaksanya untuk berpikir keras, bahwa---Jungkook menginginkannya. Aish, Dia merasa dirinya terlalu percaya diri.
Tiba-tiba Jungkook menangkup wajahnya. Aeri terkejut tapi tubuhnya tidak beraksia apa-apa. Dia menatap tinta hitam Jungkook yang selalu menghinotisnya.
"Aku mau kamu menjadi pendamping hidupku dan jadi ibu untuk Echa," pinta Jungkook.
"Tu-Tuan-" Jungkook mendaratkan ciuman di bibir Echa. Kenyal dan lembut, dia melakukannya dengan penuh perasaan. Aeri terbuai akan ciuman Jungkook yang memabukkan. Jungkook menarik bibirnya dan mengusap lembut bibir Aeri.
"Seperti itu keinginanku padamu," ungkap Jungkook memberikan perasaannya lewat ciuman. Aeri tidak bisa pungkiri jika ciuman Jungkook yang pertama untuknya. Ciuman yang memberinya sesansi berbeda. Dia harusnya menampar Jungkook yang mencuri ciuman pertamanya, tetapi dia malah diam menikmati.
"Tuan-" Aeri bingung dengan perasaannya. Dia tidak mau mengenal cinta dulu karena ketakutan akan cinta melukai perasaannya. Dia sudah rapuh selama ini dan sekarang dia tidak mau terluka kesekian kalinya.
Jungkook menangkap raut khawatir pada netra Aeri. Jungkook tahu gadis di hadapannya belum percaya sepenuhnya. Jungkook akan menyakinkan Aeri megenai keinginannya. Dia mencintai Aeri, Jungkook sangat yakin soal itu.
"Aeri, berhenti memanggilku 'Tuan' aku sangat senang jika kamu hanya memanggilku Jungkook," protes Jungkook.
"Ba-baik Tu-Jung-kook," kata Aeri terbata-bata.
"Aeri, aku tahu kamu belum sepenuhnya pecaya padaku. Beri aku kesempatan membuktikan kesungguhanku padamu," ujar Jungkook.
Aeri sejenak diam, dia sebenarnya mencintai Jungkook. Namun, hatinya masih enggang untuk mengakuinya. Biarlah dia menyimpannya seorang diri. Dia akan memberi kesempatan kepada Jungkook. Namun, Aeri memikirkan perbedaan status sosial mereka.
"Aeri, aku tidak memandang status soasial jika itu yang kamu takutkan," ungkap Jungkook tiba-tiba. Aeri sampai terbeleak jika Jungkook baru saja mengetahui isi hatinya. Kekehan Jungkook membuat Aeri menunduk malu.
Jungkook meraih Aeri untuk berdiri. Mereka duduk di tepi kasur. Entah siapa yang muai kedua bibir mereka menyatu. Meyepa rasa dan bertuar saliva. Menyalurkan perasaan yang masih tersimpan tanpa mengeluarkan kalimat.
****
__ADS_1
Ini sudah dua bulan ke dekatan Aeri dan Jungkook. Jungkook benar-benar menunjukkan perhatiannya pada Aeri. Aeri sendiri masih nampak canggung dan malu-malu kepada Jungkook.
Echa-gadis montok itu semakin aktif dan cerdas. Dia kini mulai sekolah paud. Aeri akan menjemput Echa dan rutin menyiapkan bekal untuk Echa. Bi Ina tidak pernah kunjung datang hingga dia yang sering menyiapkan keperluan Jungkook.
Seperti saat ini, laki-laki dengan kemeja putih serta jas navy dengan dasi senada dengan jasnya. Dia mengenakan celana kain navy juga. Rambutnya tertata rapi tetapi dasinya tidak tersimpul dengan benar.
Dia tergesa-gesa sampai ke dapur pun, tangannya sibuk menempelkan teleponnya di telinganya. Ia mendaratkan bokongnya ingin ikut sarapan.
Aeri melihat Jungkook terlihat kewalahan pagi ini. Dia mendekat dan menyodorkan sepiring sandwich kepada Jungkook. Jungkook mulai memakannya. Aeri masih berdiri di sampingnya membuat Jungkook menatapnya dengan tatapan bertanya, karena dia masih juga mengobrol dengan clientnya.
"Dasimu-" Aeri menujuk dasi Jungkook. Jungkook mengkode Aeri membenarkannya dan Aeri melakukannya dengan telaten. Kini Jungkook terlihat rapi dan sangat beribawa.
"Mommy!" pekik Echa.
"Ya, Nak?" tanya Aeri sambil mendekat. Dia melihat bubur Echa sudah habis. Aeri sering membuatkan Echa bubur beras merah.
"Aduh bibir putri Mommy belepotan," ujar Aer sambil melap bibir Echa dengan tissu. Dia merapikan rok dan baju Echa. Setelahnya menyimpan bekal di dalam tas Echa. Kadang Aeri akan berkunjung diwaktu makan siang Echa.
"Aku harus ke kantor sekarang," ujar Jungkook menghentikan aktivitas Aeri dan Echa.
Jungkook mengecup cepat bibir Echa dan pipi putrinya."Belajar yang pinter, Princes," pesan Jungkook.
"Iya, Daddy," ujar Echa. Dia balik menangkup wajah Jungkook dengan jemari mugilnya. Perlahan mengecup bibir Jungkook. Aeri tersenyum melihat interaksi Jungkook dan Echa. Dia memang ayah yang terbaik.
Jungkook berdiri dan menarik Aeri. Sontak Aeri memekik terkejut. Jungkook terkekeh pelan dan mendaratkan ciuman di kening dan bibir Aeri. Dia sempat melumatnya sebentar sebelum putri kecilnya marah karena mengira dia memakan bibir mommy kesayangannya.
Dia mengantar Jungkook ke depan dengan mengendong Echa. Mereka melambaikan tangan, setelah kepergian Jungkook Aeri memanggil supir pribadi Echa. Dia akan mengantar Echa sekarang. Memastikan pintu rumahnya terkunci, mereka berangkat.
Di sekolah Echa, Aeri mengantarnya sampai kelas. Di sana banyak anak-anak kecil sebaya Echa. Aeri bersyukur Echa tidak serawel mereka yang kini merengek ibunya tetap tinggal. Echa memang anak yang baik.
"Belajar yang baik, Nak," pesan Aeri. Dia mencium kening dan juga bibir Echa dan sebaliknya Echa melakukan hal yang sama. Kegiatan mereka kini jadi sorot perhatian. Mereka terharu melihat intraksi keduanya.
Echa masuk untuk belajar dan Aeri kembal ke rumah. Dia memutuskan untuk menonton saja. Saat membuka chanel wajah sahabatnya-Hana tertampang dilayar besar di hadapannya. Aeri selalu bangga kepada Hana.
"Miss. Jung, bagaimana tanggapan Anda dengan lawan main Anda Mr. Hoseok?" tanya salah satu wartawan.
Hana tertawa, dia lebih tertawa hambar. Sudah dua bulan dia melakukansyuting bersama Jhope dan dua bulan itu juga mengacaukan suasana hatinya.
"Dia sama seperti yang lain. Keren saat berakting," ujar Hana dan melanjutkannya dalam hati,"Dan betapa petikalannya di balik layar."
"Lalu, Miss. Jung benarkah Anda berkecan dengan Park Jimin?" tanya salah satu wartawan lagi.
"Hahaha." Hana tertawa mengundang netizen penasaran semakin dalam. Lain halnya memang Hana dengan Jungkook. Jika Jungkook tidak pernah terlihat skandal apapun soal asmara, Hana justru selalu hangat diperbincangkan soal asmara.
"Hana-Kamu mencintainya," ujar Aeri tanpa sadar.
__ADS_1
Tiba-tiba suara muncul dari belakangnya,"Kelihatannya dia memang mencintainya."
Aeri kaget dan menoleh, dia melihat Jhope di belakangnya. Jhope duduk di sofa yang sama dengan Aeri. Meski dia berjauhan tetapi Aeri canggung. Apalagi hanya ada dia dalam rumah.
"Jungkook tahu aku ke sini," ujar Jhope tanpa menoleh. Dia memperhatikan wajah Hana di dalam layar.
"Bu-bukan itu maksudku," ujar Hana gegelapan, dia takut Jhope tersinggung.
Jhope menoleh dan tersenyum simpul. Dia menatap miris laki-laki yang kini menjadi topik perbincangan. Drakor 'School of Seoul' menempati chart pertama di top mingguan. Bahkan selalu bertahan, beberapa kali mendapat pujian oleh netizen.
"Di-dia mencintaimu," ujar Aeri membuat Jhope menoleh cepat.
"Kamu bilang apa?" tanya Jhope memastikan.
"Dia mencintaimu," ujar Aeri dengan suara lebih keras.
"Tidak mungkin. Hana membenciku," ujar Jhope dengan tawa mirisnya.
"Tetapi aku selalu tahu tawa Hana. Dia tertawa solah menertawakan dirinya sendiri," ungkap Aeri.
"Apakah Hana sering bercerita tentang-" Aeri memotongnya,"Tentangmu." Dia mengangguk pasti. Aeri berdiri dan berjalan ke dapur. Dia akan membuatkan Jhope minuman dan membawa kue.
Prang!
Suara keributan di ruang tamu membuat Aeri bergegas ke luar. Di sana dia melihat meja sudaah berpindah tempat. Vas bunga sudah pecah.
"Hana!" teriak Aeri. Dia berlari menarik Hana yang memukul Jhope membabi buta.
"Hikss enyalah kau brengsek!" teriak Hana.
Jhope menatapnya datar. Dia merapikan kemeja dan jasnya. Aeri sibuk menenangkan Hana. Jhope duduk di sofa lain. Tatapannya hanya tertuju pada TV di depannya yang masih membahas soal drakor yang ia bintangi.
Aeri kebingunan, dia tidak tahu tiba-tiba Hana datang dan melihat memukul Jhope. Dia tidak tahu apa yang terjadi saat dia ke dapur. Kehadiran hana dan Jhope tidak disangka oleh Aeri. Tangis Hana masih terdengar, dia memeluk erat Aeri.
Aeri menepuk pelan punggung Hana seperti saat Echa menangis. Tapi, tatapan Aeri jatuh pada Jhope. Sudut bibir laki-laki itu berdarah. Aeri tahu Jhope tidaak melawan Hana sama sekali. Dia melihat Jhope mencintai Hana.
Jhope masih bertahan pada posisinya. Dia tetap menatap lurus ke dapan. Tangannya mengepal menahan emosinya. Hana adalah wanita satu-satunya yang membuat Jhope tidak melayangkan tamparan keras.
Aeri menarik diri dan mengusap air mata Hana."Aku akan ke dapur dan-" Aeri melirik Jhope."Aku akan mengambil minuman," ujar Aeri.
Dia berhati-hati melwati pecahan beling. Dia akan membersihkannya juga. Secepatnya dia mengambil minuman dan kue. Melihat Hana dan Jhope masih diposisinya embuat Aeri mengembuskan napas lega.
"Minumlah," ujar Aeri menyodorkan minuman kepada Hana.
"Sebenarnya kenapa dengan mereka?" batin Aeri diliputi pertanyaan. Dia sebentar lagi akan menjeput Echa.
__ADS_1
TBC