
Diheningnya malam sepasang suami-istri masih setia membelai punggung anaknya. Bahkan mereka berada diselimut yang sama. Seolah takut jika anaknya kedinginan dan jatuh sakit.
Tidak ada yang beranjak dari ruangan itu sedetikpun. Bahkan setelah Hana dan Helsi sadar mereka kembali ke ruangan Echa.
Zia dan Jimin tetap berdiri di samping bangkar Echa. Zia yang tidak mau beranjak sedetikpun membuat Jimin ikut menemaninya. Semua mata menjadi bengkak.
Air mata Jungkook dan Aeri seakan tak ada habisnya. Meski mereka terlihat tenang, tapi hati mereka menangis. Helsi sudah mengecup ubun-ubun Echa. Melepas kepergian cucunya dengan berat hati.
"Duduk dulu," ajak Jimin dibalas gelengan oleh Zia. Tidak ada yang bisa menerima kenyataan jika Echa telah berpulang.
Zia meneteskan air mata saat tidak menyadari kehadiran Echa dalam waktu berjam-jam. Dia lelah tetapi enggan beranjak di sana.
"Hiksss ...." Isakan Aeri kembali lolos. Jungkook mendekap istrinya dan mencium puncak kepala Aeri. Dia sama terpukulnya.
"Sayang hikss anakku hikss ... Hikss Echa--" Aeri kembali menangis. Dia sedari tadi seperti ini, sehabis diam, dia akan kembali histeris mengingat anaknya yang didekap suaminya sudah tiada lagi.
"Echa," panggil nenek membuat Echa yang memeluk lututnya dengan mata sembab. Dia menangis mendengar rintihan Jungkook dan Aeri. Rintihan semua orang yang menyayanginya.
"Pulanglah, Nak. Belum saatnya kamu berada di sini. Kamu ingat pesan uncel Je?"
Echa mengangguk dan memeluk erat sang Nenek. "Hikss Echa idak mau pulang. Echa akan membuat Mommy sedih bersama Daddy," lirihnya.
Zia melepas pelukan Jimin. Dia bisa merasakannya. Echa ada, dan Zia mendekat ke bangkar Echa. Semua mata memandang Zia.
Jungkook dan Aeri menanatap Zia. Mendapat tatapan mereka membuat Zian gugup. Dia menyingkap pelan selimut yang menutupi tubuh Echa dan orang tuanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jungkook dengan nada tajam.
"Maa-maafkan saya, Pak," kata Zia terbata-bata. Jimin mendekat dan menarik Zia tetapi Zia menolak.
__ADS_1
"Jangan membuat mereka marah, Zia," desis Jimin.
"A--aku mau memastikan alat-alatnya masih menempel dengan baik," ujar Zia membuat semua orang menatapnya tajam. Itu akan membuat hati Jungkook dan Aeri sedih karena mengira anaknya masih ada.
Terbukti dari tatapan Aeri yang melunak dan senduh. Bahkan Jungkook mengangguk mengizinkan. Zia mulai memeriksanya dan memastikan alat-alat pada tubuh Echa masih menempel. Dia bahkan memasang alat masker pernapasan Echa, seolah anak itu masih butuh bantuan pernapasan.
Jimin ingin membentak Zia. Dia sudah gila melalukan hal itu pada orang yang sudah mati. Jimin sudah menarik Zia kasar, membuat gadis itu kesakitan.
"Akhhh sssakittt," rintih Zia.
"Kamu sangat bodoh! Apa yang kau lakukan, hah?! Kamu membuat semua orang di sini hanya berhayal!" bentak Jimin.
Zia bahkan sudah menangis. Dia mundur menjauh pada Jimin. Jimin baru sadar terlalu menbentak Zia. Dia tahu bagaimana sayangnya Zia pada Echa. Melihat Zia semakin mundur saat dia dekati, membuatnya menghentikan langkahnya.
"Hiksss aku tidak membuat kalian berharap hiks ... Ak-akuu hiksss," ujar Zia membekap mulutnya. Dia tahu tidak akan ada yang mempercayainya. Zia tersentak saat tibuhnya dipeluk.
"Ssssttt sudah, Nak. Ayo sekarang duduk, kamu juga butuh istirahat," ujar Yuna. Dia menarik Zia ke sofa dan Jimi ikut berjalan di belakanganya. Jimin duduk di dekat Zia yang tidak mau menatapnya.
Jungkook merasa suara itu terdengar lirih. Dia menatap Aeri yang sama menatapnya. Hingga bulu mata yang selama ini menutup indah mata ruby itu terbuka. Namun, tidak ada yang menyadari karena sangat sipit.
"HIKSSSSS HUWAAAAAAA MOMMY HIKSSS DADDY HIKSSS SAKITTT!" Jeritan itu membuat semua orang dalam ruangan kaget. Bahkan Jungkook dan Aeri langsung bangun.
Tangis haru dan bahagia tidak dapat ditahan lagi. Zia berlari ke arah Echa. Dia mengeluarkan alatnya.
"Tolong baringkan dia," pinta Zia. Jungkook membaringkan Echa dan turun dari bangkar Echa bersama Aeri.
"Hiks Tuhan anakku kembali hiksss," ujar Aeri tak percaya. Jungkook berulang kali mengucap syukur.
Echa merintih sakit, matanya masih terpejam. Suhu tubuhnya yang dingin itu kini memacu sangat panas. Dia terkena deman tinggi.
__ADS_1
Zia sudah sibuk bersama suster lain. Zia memeriksa Echa dan dia hampir jatuh. Kondisinya gak drop. Jimin sampai tidak tega.
Aeri menatap khawatir pada Zia. Setelah selesai memeriksa Echa semua duduk di sofa. Suster sudah pergi dengan rasa bahagia.
"Zia," panggil Aeri membuat gadis itu menunduk sedih.
Yuna mengusap pelan bahu Zia. Dia menemukan ketulusan di mata dokter mudah ini. Mencintai Echa seperti anaknya sendiri.
Zia mengadahkan kepala dan mengusap air matanya yang lolos begitu saja. Jungkook sudah merangkul istrinya. Dia tahu kebar yang akan Zia sampaikan pasti buruk. Jungkook mengingat foto di ponsel Jimin kemarin. Mungkingkah---?
"Maafkan saya, Echa sudah melewati masa kritisnya, tetapi dia--syaraf pada otaknya akibat benturan keras yang dialaminya, membuat syaraf pada korneanya membekak. Kemungkinan pasien mengalami buta."
Aeri menggelengkan kepala tidak percaya. Dia memeluk Jungkook dan menangis kembali. Semua orang khawatir dengan kondisi Aeri. Dia belum sembuh total dan baru kemarin siuman tetapi cobaan ini begitu berat untuknya.
"Echa," lirihnya.
"Apa ada jalan untuk kesembuhan mata cucu saya, Dok?" tanya Baek.
"Ada, Pak. Namun pasien tidak bisa sembarangan menerima mata. Sedikit langka untuk jenis mata Echa."
"Ambil mata saya, Dok," ujar Jungkook membuat semua orang menatapnya terkejut. Mereka tahu jika semua akan Jungkook berikan pada putrinya.
"Maafkan saya, Pak. Tidak sembarang mata bisa cocok dengan putri Anda."
Itulah sebabnya Zian menangis di perpusatakaan saat mencari tahu syaraf yang membekak pada mata Echa. Dia terpukul saat jenis itu langka untuk didapat.
Yah, dunia Echa tak lagi sama. Dunianya gelap dan alasannya tak ingin kemali adalah kegelapan yang akan ia tempuh.
TBC
__ADS_1