
💟💟💟
Suara tembakan itu menghentikan semua pergerakan orang. Laki-laki yang berteriak keras tadi berlari memeluk tubuh wanita yang bersimbah darah. Dia menatap tajam sekelilingnya. Bahkan di sini semua penjaga sudah sibuk berlalu-lalang.
"Zia, wake up please," lirih Jimin.
Zia hanya menyunggingkan senyum dan menutup mata. Tembakan dari Ahin mengenai Zia karena wanita itu menolong Aeri yang hampir tertembak kandungannya.
Ahin tersenyum miring saat semua sibuk dia sudah lolos dan berada di balik kemudi. Anak buahnya telah masuk di sana bersama Seungri. Bahkan tidak ada yang menyadari kehadiran Seungri. Mereka terlalu panik.
Tap!
"Aaaaaaaa!" sontak teriakan itu menggema saat lampu tiba-tiba padam.
Aeri panik saat dia merasa tangannya terlepas paksa dari Echa. Dia berteriak memanggil Echa. Semua orang tambah panik. Belum lagi kondisi Zia.
"Echa! Nak! Kamu di mana?!" teriak Aeri.
"Echa!" teriak Jungkook juga.
"Sayang Echa ke mana?" tanya Jungkook.
"Hikss aku gak tau, tiba-tiba dia menghilang dan ditarik paksa."
Jungkook memeluk tubuh Aeri dan ketika lampu menyala, keadaan di gedung sangat berantakan. Hana syok di tempatnya. Dia tidak menyangka jika hari pernikahannya akan ada kekacauan.
Echa terus berceloteh. Dia tidak tahu siapa yang menggedongnya, namun dia tahu jika bukan Aeri. Aroma tubuhnya berbeda.
"Lepaskan Echa! Mana Mommy?!" tanyanya serak. Dia hampir menangis.
" ...." Seungri hanya diam.
"Hiksss kakiku sakit, jangan menekannya," lirihnya. Kakinya masih patah dan belum sembuh total tetapi Seungri bahkan menarik paksanya.
Seungri masuk ke dalam mobil. Ahin hanya melirik sekilas dan menjalankan mobilnya. Dia membentak kasar ketika Echa mengeluh sakit.
"Hiksss kaki Echa sakit," rintihnya sambil meraba-raba kakinya.
"DIAM KAU ANAK BUTA!" teriak Ahin membuat Echa kaget dan memangis segukkan. Echa berusaha tidak mengeluarkan suara. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan kecilnya.
"Hikss Echa idak buta," ujarnya pelan.
"Eoh, tidak buta? Matamu sudah tidak berfungsi sialan. Harusnya kau sudah mati!" bentak Ahin.
"Hiksss Echa idak buta!" teriak Echa menangis keras."Hikss Mommy! Daddy!" teriak Echa membuat Ahin naio darah.
Dia melanjukan dengan kencang mobilnya. Sampai dia tiba di suatu tempat. Seungri mengikuti pasarah dengan Ahin.
Kini Echa duduk di atas kasur. Jemarinya memijit pelan kakinya. Air mata masih membasahi pipinya.
"Hikss Mommy, Daddy, " lirihnya takut.
__ADS_1
"DIAM KAU ANAI BUTA!" teriak Ahin. Dia mengcekal pipi Echa sampai Echa merintih sakit.
Kuku panjangnnya menggores pipi Echa. Echa memukul-mukul tangan Ahin. Dia sudah terisak sekali. Selalu menyebut nama Jungkook di dalam hatinya.
"Kau itu B-U-T-A!" kata Ahin menekan kata "Buta" untuk Echa. Dia bahkan tersenyum. Puas melihat wajah kesakitan Echa.
"Hikss Aunty, ini mati lampu," ujarnya saat Ahin melepas kasar cengkeramannya.
"Bodoh! Kau buta dan Mommy sama Daddymu berbohong karena mereka tidak tega. Kau pikir sekarang mati lampu, eoh?" ejek Ahin.
"Hiksss ...." Sungguh kejam Ahin melontarkan kata-kata itu. Bahkan hati Echa terluka mendengarnya. Anak tak berdosa itu kini termenung karena baru tahu fakta jika dia buta. Echa menangis tanpa suara. Tubuhnya kecilnya terguncang. Dia mengabaikan sakit pada fisiknya.
"Ahin! Hentikan ini. Apa kau tidak ada rasa kasihan melihatnya? Dia putrimu, anak kandungmu sendiri," ujar Seungri marah.
"Ck, persetan dengan itu semua. Dia sampai kapan pun bukan putriku!"
"Kamu yang melahirkannya dan kamu ibunya. Bahkan Aeri yang hanya ibu tiri menyayanginya layaknya anak kandung tetapi kenapa kamu ibu kandungnya bisa membencinya. Bahkan ingin membunuhnya saat berada di dalam kandunganmu?!" Seungri meluapkan emosinya. Mereka terus bersiteru sampai melupakan jika ada kuping yang mendengarnya.
Echa memang masih polos dan masih TK. Namun, dia sangat cerdas dan pintar. Itu alasan Jungkook selalu waswas jika ada yang berbicara tidak-tidak pada putrinya. Dia takut jika hati Echa terluka karena anak itu juga punya tingkat kepo tinggi dan analisa yang kuat.
"Hentikan ucapanmu! Jika kau tidak mau membantuku, pergi saja!" teriak Ahin marah. Seungri mengehela napas. Dia mengalah pada Ahin. Demi cintanya untuk Ahin.
"Ahh aku tau Ibumu pasti menangis sekarang mencari anak butanya yang hilang, Hahahhaha!" Ahin tertawa kejam saat membayangkan penderitaan Aeri.
"Hiksss," isak Echa terdengar memilukan. Dia kecewa. Dia tahu kini dia cacat. Pikirannya lebih tertuju pada Aeri, ternyata Aeri bukanpah ibu kandungnya. Dia semakin menangis saat tahu kenyataan bahwa ibu kandungnya tidak mengharapkan kehadirannya.
Dia tengungu seorang diri. Bahkan Ahin dan Seungri meninggalkannya dengan lampu yang mati. Untuk apa dia menyalakan lampu, dia mengejek Echa yang sudah buta.
"Daddy hikss Echa sayang Daddy," ujarnya saat dia mengingat semua perkataan guru dan orang sekitarnya. Jika bayi akan di rawat dan di manja. Pikiran Echa tertuju pada perjuangan sang Ayah.
"Hiksss Echa hikss sayang Daddy," isaknya melirihkan kata sayang untuk Jungkook.
Dia ingin menyampaikannya pada Jungkook. Echa ingin mencium bibir Jungkook.
Hatinya retak tak terbentuk lagi. Dia kini tahu bahkan kehadirannya di dunia tidak diinginkan. Echa bertanya-tanya dalam hati, apa Aeri hanya kasihan padanya? Kenapa semua orang membohonginya? Echa sempat mau marah dengan Aeri tetapi dia kembali berpikir, jika Aeri selama ini teramat menyayanginya.
"Hikss biar Mommy bukan ibu kandungku, tapi dialah yang akan aku anggap sebagai ibu kandungku dan Aunty, aku tidak ingin terlahir di rahimmu jika waktu itu aku bisa meminta pada Tuhan." Echa membatin penuh kepedihan.
Di tengah malam yang dingin. Dia membaringkan tubuh kecilnya di kasur. Keadaan gelap gulita di dalam kamar itu sama seperti dunianya yang kini gelap. Bahkan bulan tidak bisa menyinarinya.
"Jika aku boleh meminta pada Tuhan Aunty hiksss aku akan meminta pada Tuhan agar aku tidak ada hikss. Hiksss bahkan aku membuat Daddy kelepotan hikss, Mommy juga seling menangis kalena Echa," lirihnya.
Dia memang kadang mendengar tangis Aeri di malam hari di kamarnya. Namun, dia tidak ingin membuka mata dan memilih tidur. Dia berpikir sangat bosan jika membuka mata tapi gelap.
"Hiksss Tuhan, Echa ingin pulang saja. Echa idak mau Mommy dan Daddy sedih telus," doanya tulus.
Bintang di atas langit jatuh saat Echa mengucapkannya. Bukankah mengucapkan doa di saat bintang jatuh akan Tuhan kabulkan? Setidaknya itu mitos yang sering orang lakukan dan percayai kebenarannya.
Echa tersenyum mengingat wajah Aeri dan Jungkook. Badannya sudah mengigil karena kedinginan. Perutnya bahkan peri karena lapar. Dia harusnya sudah minum obat. Echa akhirnya menutup mata dalam senyum terindahnya. Hanya wajah Aeri dan Jungkook yang menjadi obat penenagnya.
Jungkook sudah berkeliling berama Aeri dan yang lainnya. Jimin terpaksa ikut dan minitip penjaga untuk kamar Zia.
__ADS_1
Mereka sudah berada di Villa Tempat Echa disekap. Mereka melihat banyak anak buah Ahin berjaga-jaga.
Jimin sudah memberikan instruksi. Mereka mulai menyerang dalam diam. Saat masuk di sana, dia melihat Ahin dan Seungri menikmati minuman.
"KEPARAT! DI MANA ANAKKU?!" teriak Jungkook membuat Ahin memecahkan gepasnya karena terkejut.
"Shit!" umpat Ahin.
Dia tertangkap bersama Seungri. Ahin mengangkat tangan dan memberi kode kepada Seungri. Seungi ikut mengangkat tangan. Jimin memicing saat Ahin menurut dengan mudah. Dia tahu jika Ahin tidak menurut dia akan menembak mati Ahin saat ini juga.
Jimin dan yang lain membawa pergi. Jungkook dan Aeri mencari Echa. Mereka masuk ke dalam kamar yang gelap.
Tap!
Jungkook menekan saclar lampu dan dia melihat Echa di kasur meringkuk.
"ECHA! HIKSSS ECHA!" teriak Aeri. Dia memeluk tubuh lemas Echa.
Jungkook ikut memeluk Echa. Dia mengusap pelu anaknya.
"Daddy ... Mommy," lirihnya.
"Iya sayang, ini Daddy dengan Mommy, Princes," ujar Jungkook.
Lagi-lagi pemandangan menyesakkan itu di saksikan keluarga Jungkook. Bahkan Hana dan Jhope masih mengenakan pakaian pengantin mereka. Semua berjalan mendekat.
"Echa buta," ujar Echa membuat tangis Aeri pecah. Dia memeluk erat putrinya.
"Maafkan Daddy, Princes," sesal Jungkook meneteskan air mata.
"Hikss Echa sayang Daddy dan Mommy, maafkan Echa buat kalian telus lepot," ujarnya.
Aeri menggelengkan kepala. Dia tidak membenarkan ucapan Echa. Dia semaikin tak kuasa menahan tangis mendengar lontar kata Echa.
"Mommy, Daddy dunia Echa gelap. Echa mau pulang saja, Echa ingin tidul saja. Echa idak bisa main sama Dede bayi, Echa idak bisa melihat wajah Mommy, Echa idak bisa melihat wajah Daddy agi. Echa uga idak bisa main bersama uncel, Echa ida bisa main sama semuanya. Echa idak akan pelna bisa lagi melihat indanya dunia," ujarnya membuat hati keluarganya tersayat-sayat pedih.
"Echa idak akan bisa beljalan tanpa teltablak. Echa idak akan bisa tahu kapan siang dan malam. Echa uga idak akan bisa sekolah agi. Echa tidak tau, langit sedang celah atau gelap. Semua sekalarang sama, idak ada walna apaapun, hanya ada hitam."
Jungkook sudah terisak keras. Dia menunduk mendengar perkataan putrinya.
"Echa idak belguna agi," lirihnya sambil meneteskan air mata.
"Hiksss ...." Aeri tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. Semua tertahan di tenggorokannya.
"Princes, Daddy yang akan jadi kaki untukmu dan Daddy tidak akan pernah lelah membawamu ke manapun. Bahkan Daddy sanggup mengendongmu mengelilingi dunia, Princes. Daddy akan jadi mata untukmu, selalu menceritakan tentang apa yang Daddy lihat. Daddy juga akan jadi tangan untukmu, meraih semua untukmu. Kamu tidak perlu takut, Princes. Duniamu tidak gelap, Nak. Daddy akan mencari pendonor untukmu. Jangan katakan kamu tidak berguna, Nak karena kamu pelita hati Daddy dan Mommy."
Jungkook mencium bibir Echa. Echa tersenyum saat hatinya juga sakit. Dia meraba wajah Jungkook wajah yang tidak akan pernah bisa ia lihat lagi.
"Daddy, My young Daddy," ujar Echa.
Sejak saat itulah Jungkook membuktikan ucapannya. Dia melalui hari bersama putrinya Echa dan istrinya Aeri. Mereka menjalani hidup, meski ada luka yang setia menghias hari. Echa menjadi pribadi yang diam dan mengurung diri.
__ADS_1
TBC