My Young Daddy

My Young Daddy
32


__ADS_3

Spesial Spoiler Jimin dan Zia 😀


💟Happy Reading💟


__________________________________________


Zia baru saja keluar dari ruangan Aeri,  dia sudah memeriksa keadaan Aeri dan ketiga anak Jungkok dan Aeri.


Zia tergesa-gesa berjalan karena dia masih ada jadwal operasi setelah ini. Tubuhnya menabrak dada bidang. Dia hampir jatuh jika tidak ditahan.


Matanya menatap laki-laki yang berjas putih sama dengan jasnya. Wajahnya berusaha biasa-biasa saja dia di tatap intes.


"Khm,  saya permisi, Dok." Zia bedehem untuk menetralkan suaranya.


"Zia, berhentilah menjauh," ujar Jimin.


"Maaf saya tidak menjauh,  sejak awal memang kita hanya sebatas orang asing."


"Apakah kamu ingin lebih?"


"Ck."


Zia hendak melangkah tapi ditahan oleh Jimin. Dia mengenggam erat tangan Zia. Berulang kali Zia mencoba menepis tangan Jimin tapi semua sia-sia.


"Sabarlah, Sayang. Aku janji semua akan seperti keinginan kamu,  tapi saat ini biarlah dulu berjalan," lirih Jimin.


Zia menatap tajam Jimin. Terlihat sekali jika dia emosi dengan ucapan Jimin.


"Aku tidak mau! Cukup Jimin! Kamu tidak berhak melakukan ini padaku di belakang kekasihmu," ketus Zia.


"Zia kamu tahu hanya kamu yang aku cinta dan aku hanya--" Jimin menghela napas. Dia ingin bersama Zia,  tapi keadaan menyulitkannya.


💟Flashback


Jimin sangat panik saat Zia sudah tidak sadarkan diri. Saat semua mencari Echa yang diculik,  tiba-tiba seorang wanita mendekati Jimin.


Bahkan wanita itu ikut ke Rumah Sakit. Dia tetap ikut menunggu sampai Jimin menatapnya intes. Dia tidak asing dengan wajah di depannya. Hingga dia mengingat sesuatu.


"Ah Moon," kata Jimin.


"Oppa  ... Aku pikir kamu melupakanku," ujar Ah Moon.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa mengikutiku?" tanya Jimin penasaran. Dia lega melihat wanita di depannya masih hidup.


"Eonni Zia itu sepupuku," ujar Ah Moon.


"Bukankah Zia orang Asia Tenggara?"

__ADS_1


"Ne Oppa. Sepupu jauh,  bahkan tidak dekat sekali hubungan darah kami. Hanya terhubung dari Eommanya Imo Cici."


"Bagaimana dengan Eommamu?" tanya Jimin.


Ah Moon menunduk, "Eomma sudah meninggal."


"Maaf, lalu bagaimana dengan Eonnimu?"


Tubuh Ah Moon menegang. Dia meringgis dalam hati. Jimin dan Yuna adalah penyelamat keluarganya. Bahkan saat Eommanya hampir mati ditangan Appanya,  Jimin yang menolongnya.


Mereka tiba-tiba menghilang dan memutuskan kontak dengan Jimin dan Yuna. Terlalu merepotkan selama ini. Bahkan keluarga Jimin ikut diteror. Kematian Ayah Jimin karena musuh Appanya. Jimin dan Yuna tidak menyalahkan mereka.


"Oppa--" Jimin melihat ada keraguan di mata Ah Moon.


"Eonni A--" Dokter tiba-tiba keluar membuat Jimin mendekatinya. Ah Moon hanya melihat Jimin yang terlihat cemas.


Jimin berbincang-bincang dengan Dokter. Wajahnya tersenyum lega. Dia masuk ke dalam ruangan Zia.


Ah Moon ikut masuk dan melihat Jimin mengenggam erat tangan Zia. Dia berdiri di dekat bangkar Zia. Menatap wajah pucat sepupunya.


"Eonni Ahin adalah sauadaraku," ujarnya membuat Jimin kaget.


Otaknya memutar semua potongan-potongan saat berurusan dengan Ahin. Bahkan dia hampir mati,  tetapi Ahin malah menarik kasar semua anak buahnya. Jimin akhirnya mengetahui jawabannya,  ternyata Ahin tidak melakukan itu pasti karena balas budinya.


"Ahin kenapa bisa sejahat ini?" tanya Jimin.


Tiba-tiba Ah Moon berteriak-teriak. Jimin panik dan memanggil Dokter. Kenyataan baru yang ia ketahui Ah Moon  depresi. Bahkan dia bisa senekatnya, kelihatan normal ketika mengomsumsi obat.


Jimin merasa jantungnya berdekat kencang. Jadi tadi Ah Moon terlihat normal karena pengaruh obat. Dia jadi waswas sendiri.


Saat dia menemui Ah Moon,  Ah Moon mengatakan jika mencintainya. Ah Moon bahkan nekat membunuh Zia. Untung Jimin selalu waspada.


"Hikss Oppa hanya Oppa yang aku punya,  hikss Oppa  ... Oppa  ...  mereka meninggalkanku sendirian hiksss! MEREKA MENINGGALKANKU!" teriak Ah Moon.


Zia bahkan sudah sadar dan melihat pemandangan di depannya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan sepupunya di sini.


"Oppa jadilah pacarku hiksss Jebbal Oppa!" kata Ah Moon menangkupkan tangannya.


Jimin memejamkan mata. Ah Moon akan nekat melukai dirinya dan membunuh sembarangan. Traumanya membuat ilusinya sangat kuat. Menganggap semua orang di sekitarnya ingin membunuhnya.  Jimin ingat kata-kata Dokter untuk melakukan pengobatan untuk Ah Moon. Dia harus direhabilitasi.


"Iya," jawab Jimin membuat air kata Zia lolos. Zia mengusap air matanya dan pura-pura tidur. Ah Moon kembali ke ruangannya dan Jimin menemaninya sampai tidur. Dia kembali ke ruangan Zia.


Jimin mengusap bekas air mata Zia. Dia tidak tahu kenapa Zia menangis.


"Aku mencintaimu,  Zia. Maafkan aku jika berpacaran dengan yang lain,  aku tidak mau dia melukaimu. Ah Moon depresi dan kejiwaannya sedikit terganggu."


Jimin sudah memberikan lokasi di mana Ahin memyekap Echa. Dia tahu info itu dari Ah Moon. Ah Moon tidak sengaja mendengar perkataan Ahin lewat telepon dengan anak buahnya. Makanya dia mengikuti Ahin ke pesta tanpa sepengetahuan Ahin.

__ADS_1


Zia yang masih pura-pura tidur mendengar semua. Dia sakit hati meski dia juga lega ternyata Jimin melakukannya bukan karena cinta tapi hanya terpaksa.


💟Flashback End.


Zia pasrah saat ditarik Jimin ke ruangannya. Dia duduk di sofa ruangan Jimin. Matanya berkelana ke mana-mana. Dia menatap setiap sudut ruangan Jimin.


Jimin duduk dan membawa minuman untuk Zia. Dia menatap Zia dari samping. Jas Jimin sudah ia buka dan hanya menyisahkan kemeja putihnya.


"Zia," panggil Jimin.


Zia tidak mau menoleh sampai Jimin menariknya sedikit paksa. Tubuh Zia rebah pada dada bidang Jimin. Jantungnya berdekat keras. Aishh Jimin bisa membuatnya terkena riwayat penyakit jantung.


"Lepasin ihh," kata Zia.


"Diam dulu,  hehehe," kata Jimin sambil terkekeh pelan melihat wajah bete Zia.


"Aku mau kita pacaran,  Zia." Jimin sudah membulatkan keputusannya. Zia mengadahkan kepala meenatap Jimin. Bibirnya mencibir kesal.


"Kamu mau jadikan aku yang kedua?" tanya Zia sedih.


"Bukan,  Sayang. Kamu tetap yang pertama. Kamu tahu Ah Moon hanya aku tolong. Tolong mengertilah,  Sayang."


"Iya  ... Iya  ...."


"Tapi masa masih cemberut," kata Jimin sambil menjepit hidung Zia. Zia memukul tangan Jimin karena kesulitan napas.


"Aishhh,  aku kesulitan napas," gerutu Zia.


"Mau napas buatan?" tanya Jimin menggoda. Zia menarik dirinya dan siap. Memukul Jimin.


Jimin berlari di ruangannya,  Zia. Mengejarnya dengan wajah memerah malu.


"Wleekk  ... ayo tangkap!" ejek Jimin.


"Sini! Dokter mesum!" teriak Zia mengejar Jimin.


Jimin lari ke sofa dan Zia langsung menerjang tubuhnya. Akhirnya tubuh Jimin ditindih Zia dan Jimin tersenyum manis di bawah Zia. Dia membelai wakah merona Zia.


Yuna dan Heseok masuk ke dalam ruangan Jimin tanpa mengetuk. Yuna menggelengkan kepala melihat anaknya.


"Upsss," kata Yuna.


Zia dan Jimin menoleh. Zia menarik dirinya dan Jimin bangun hanya memperlihatkan deret giginya.


"Cepatlah menikah," kata Yuna menggoda.


Zia semakin malu dan mereka tertawa melihat tingkah malu-malu Zia. Jimin memeluk Zia dan masih tertawa,  hingga Zia mencubit perutnya pelan. Jimin semakin tertawa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2