
Jangan lupa putar lagu "Bersama Bintang" biarin putar itu turus nanti akan tahu maksudnya.
~Saat aku mencoba meraihmu kenapa sesulit ini, Tuhan menghadirkanmu dan Tuhan juga yang ingin mengambilmu.
Seorang pria berjalan gontai ke ruang inap istrinya. Melihat wanita yang mengandung calon anaknya. Wajahnya menyiratkan luka. Dia berusaha menyeret tungkainya.
Setelah sampai di dekat bangkar Aeri, Jungkook memeluk erat tubuh Aeri. Ini adalah rumah tempat ia membagi masalahnya. Membagi duka dan tawanya. Dia menangis pelan di ceruk leher Aeri. Aeri menggeliat pelan saat merasa bahunya basah.
“Sayang,” panggil Aeri.
“Waeyo?” tanya Aeri khawatir.
“ ....” Jungkook diam, setelah dirasa puas menangis. Dia menarik dirinya dan menatp Aeri. Dia mencium Aeri dan melumat bibir Aeri. Aeri merasakan ciuman Jungkook seperti memberi tahunya perasaan yang suaminya alami. Bibir Jungkook bergetar, demi Tuhan dia mencintai putrinya.
Dia semakin menangis hingga tetes air matanya menetes dipermukaan wajah Aeri. Jika Echanya ada di sini, pasti anaknya berterik dan menangis jika dia memakan Aeri. Jungkook tersenyum pedih mengingat itu.
“Jungkook-ah, Gwenchana?” tanyanya kahwatir. Matanya berkca-kaca saat melihat suaminya menggelengkan kepala. Dia mengusap pipi Jungkook.
“Nae maeumi aphayo(aku sakit hati),” kata Jungkook sambil memegan dadanya.
Aeri dibuat khawatir oleh Jungkook. Kenapa hati suaminua bisa sakit? Pertanyaan itu terus menghantuinya. Dia jadi kepikiran Echa. Aeri tidak tahu jika kedatangan Jimin akan membuat suaminya semakin terpuruk.
“Waegeurae(Apa yang salah)?”
“Echa .. hiks—“ Jungkook tidak mampu melanjutkannya. Aeri sudah menangis.
“Wae? Hiksss katakan padaku, ada apa dengan putri kita?!” kata Aeri memaksa Jungkook. Dia tahu anaknya pasti tidak baik-baik saja.
“Yak sohkhae(Berjanjilah padaku), jika kamu akan berusaha mengontrol diri saat mengetahuinya,” ujar Jungkook.
“Mwo?” tanya Aeri tidak kuasa menahan tangis.
“Echa kritis,” ucap Jungkook mendekap istrinya.
Badan Aeri bergetar dan memukul dada Jungkook. Ini kabar terburuk yang pernah ia dengar. Putri kecilnya kritis. Aeri terisak hingga membuat perutnya kram.
“Hikss akh!” Jungkook panik saat Aeri sudah tidak sadar diri. Dia berteriak keras.
“Saram sallyeo(Tolog selamatkan orang ini)!” teriak Jungkook.
Zia memasuki kamar Aeri tergesa-gesa bersama beberapa perawat. Dia melihat Aeri sudah tidak sadarkan diri. Memeriksa denyut nadi Aeri.
“Apa yang telah terjadi?” tanyanya pada Jungkook.
“Aku memberitahukan keadaan Echa,” lirih Jungkook. Zia mengangguk mengerti dan mengembuskan napas.
“Dia syok, dan perutnya keram.”
“Apakah mereka baik-baik saja?”
“Sejauh ini ... iya.”
Jungkook mengenggam tangan Aeri dan matanya memandang kosong ke depan. Helsi masuk dan menatap nanar putranya. Ia mengusap air mata yang mengalir dipipinya. Menghampiri putranya yang terlihat menyedihkan.
“Jungkook, kamu belum makan, Nak,” ujar Helsi.
Jungkook diam, dia tidak menanggapi perkataan ibunya. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Jiwanya terasa kosong.
“Mom,” lirihnya membuat Helsi mengusap kasar air matanya. Dia mencoba tersenyum. Dia memeluk putranya dan Jungkook menenggelamkan wajahnya di perut Helsi. Helsi mengusap-usap rambut Jungkook.
“Apakah istri dan anak-anakku akan baik-baik saja?” tanya Jungkook dengan suara putus asa.
“Tentu, kita harus berdoa sayang.”
.
.
.
Suara sepatu menginjak lantai terdengar di kridor rumah sakit. Pria yang mengenakan pakaian serba putih dengan masker di wajahnya. Dia tersenyum di balik maskernya. Tangannya masuk ke dalam kantong jasnya.
Seringainya semakin lebar saat melihat ruang inap yang lalui begitu banyak penjanganya. Dia milirk sinis dan tetap melanjutkan langkahnya.
“Ternyata ketak sekali, namun umpan akan segera datang,” ujarnya penuh licik.
Dia memasuki sebuah ruangan dan menelepon seorang wanita yang sedari tadi menunggu kabarnya.
“Bagaimana?” tanya Ahin di sana.
“Terlalu ketat. Namun, umpa bisa memancing tikus-tikus itu.”
“Lakukan secepatnya. Aku mendengar kondisinya kritis.”
“Ahin ... Kau sungguh ingin membunuhnya?” tanya Seungri sedikit hati-hati.
“Yakkk! Keparat sialan! Ada apa denganmu, eoh?!”
“Aku bisa membunuh Aeri dan kandungannya. Tapi, Echa ... dia putrimu.”
“Sialan kau Seungri! Dia bukan putriku! Anak itu pembawa sial!”
“Arasso. Aku akan membunuhnya demi dirimu.”
Ahin memutuskan teleponnya sepihak. Dia mengirim beberapa anak buahnya, takut Seungri goyah. Dia berdecak kesal.
“Hus, putriku? Yang benar saja! Anak itu membawa malapetaka untuk karirku. Baby Jeon ... sebentar lagi kita bersama.” Ahin tertawa senang setelah mengucapkannya.
Telepon Ahin berbunyi dan dia mengangkatnya.
“Ada apa?!”
“ ....”
“Jangan menyentuhnya. Jika Jimin melawan, cukup buat dia tidak sadarkan diri.”
__ADS_1
“ ....”
“Zia? Siapa dia?”
“ ....”
“Bunuh saja Dokter tidak berguna itu. Ingat ... jika ada yang menghalangimu, bunuh semua terkecuali Yuna dan Jimin.”
Ahin menutup teleponnya dan mengehelan anaps gusar. Dia menatap foto wanita di depannya. Air matanya menetes dan dia mengusap kasar lalu tertawa.
“Jimin-ah ... Aku harap kamu berhenti menghalangiku. Sungguh aku tidak ingin melukaimu.”
Tatapannya jatuh pada foto Echa yang dikirim anak buahnya. Terlihat wajah pucat Echa dengan alat penungjang hidupnya.
“Kau tahu, jika aku mencabut alat ini aku sudah berada di neraka,” kata Aeri memandang datar foto Echa.
“Harusnya Jungkook tidak memaksamu hidup. Aku membuatku bersusah payah membunuhmu. Matilah Echa, jika kau mati aku akan senang.” Tatapan Ahin kosong. Naluri ibunya sedikit terhenyu melihat kondisi Echa. Tidak terasa setetes air mata mengalir deras di pipinya.
“Jika kau mati, maka terlahir kembalilah di perutku. Maka aku akan menyanyangimu,” lirihnya sambil tertawa penuh dendam.
Ahin melihat TV yang menyala. Di sana Hana dan Jhope mengumumankan pernihakan mereka. “Coba Jimin tidak menghalangiku, aku tidak memiliki urusan bersama kalian,” ujarnya tersenyum mengerikan.
.
.
.
***
Di dalam ruangan serba putih dengan bau penuh obat-obatan Zia duduk di dekat bangkar Echa. Dia menatap lurus Echa. Kini Aura Echa kembali ia rasakan.
“Echa ... Kembalilah, Sayang.”
Jimin yang ingin masuk menghentikan langkahnya, sementara seseorang dibalik gorden berusaha diam dan tidak menimbulkan suara. Jimin ingin mendengar Zia dan dia merasa bulu-bulu jarinya merinding.
Sementara anak yang sedang bermain di taman tertawa puas. Dia mengejar beberapa kelinci di sana. Echa mengingat tempat ini adalah tempat Jhope dulu.
“Echa!” panggil anak laki-laki membuat Echa menoleh.
“Hey, siapa namamu?” tanya Echa.
“Aku Jey,” ujar jey—dia adalah anak Hana.
“Kenapa kamu suka sekali bermain di sini?” tanya Jey.
“Aku tidak mau pulang. Jey akan menjagaku bersama nenek kan?” tanya Echa polos membuat wanita paruh bayah itu mengangguk.
“Echa tidak mendengar suara Daddymu?” tanya Jey polos.
“Daddy menangis,” lirihnya sedih.
“Dia menyayangimu, Nak,” ujar Ibu Jhope.
“Duniaku tak lagi sama ... duniaku begitu gelap. Untuk apa aku pulang? Aku akan membuat mereka menangis setiap hari. Duniaku tak lagi indah.”
Hingga suara membuat Echa diam. Bisikan lembut baru saja dia dengarkan. Suara wanita itu, Echa bisa melihat wanita itu. Namun, hanya dia satu-satunya yang Echa lihat. Wanita berlesung pipi itu memanggilnya setiap malam.
“Hikss ....”
“Kenapa dia telus menangis?” gerutu Echa.
“Dia ingin kamu kembali, Echa.”
“Idak mau!” bantah Echa.
Zia ingin keluar dari ruangan Echa dan terkejut melihat Jimin. Dia mengusap air matanya dan tersenyum malu. Dia bukan sia-siapa Echa dan hanya seorang dokter. Mungkin sikapnya berlebih tapi dia tidak tahu sikapnya itu menarik hati Park Jimin.
Jimin dan Zia keluar membuat orang dibalik gorden mengehela napas. Dia mulai melangkah tanpa suara. Dia sudah membuka jendela itu, berjaga-jaga jika ada yang masuk. Beberapa orang yang berlalu lalang di sana tempat bodyguard Jimin adalah anak buah Ahin yang menyamar sebagai pasien dan keluarga pasien. Baju mereka benar-benar meyangkan. Diatmabah make up orang sakit dan wigth putih.
Orang ini bukanlah Seungri. Seungri sudah berjaga-jaga di luar dan beberapa orang suruhan Ahin berada tak jauh dari ruang Aeri. Mereka sudah menyimpan alat komunikasi berupa erphone kecil di telingat mereka. Guna untuk mendapat instruksi dari bos mereka.
Pria berbaju serba hitam itu tersenyum miring. Dia mulai memajukan tangannya ingin mengcekik Echa. Echa di sana masih berceloteh bersama ibu Jhope dan Jey. Hingga dia merasa napasnya tercakak.
“Uhukkk Nh-Nenehk,” kata Echa memengan lehernya. Jey dan Nenek sangat panik. Dia mendekati Echa.
“Nak, kamu kenapa?”
Tubuh Echa mulai mengejang-ngejang akibat cekikan di lehernya. Pria itu tersenyum melihat tubuh Echa meronta-ronta. Pintu terbuka kasar dan badan pria itu tersungkur. Bodyguard Jimin sudah memukulinya hingga tidak sadarkan diri.
Zia masuk ke dalam dengan panik. Dia memasangkan kembali masker oksigen Echa. Tubuh Echa hampir jatuh dari bangkarnya. Zia menangis melihat tubuh Echa kejang-kejang.
“Hiksss suster! Ambilkan ....” Zia menyuruh suster, sementara tangannya berusaha memeriksa keadaan Echa. Jantung Echa sangat melemah. Di depan pintu Aeri sedang duduk di kursi roda. Dia mengajak Jungkook dengan paksaan jika dia akan baik-baik saja.
Pemandangan di depannya sukses membuat air matanya jatuh. Jungkook diam, seluruh persendian tubuhnya terasa terkunci. Anaknya di depan sana mengejang-ngejang.
“ECHAAAAAA HIKSSSSSS!” teriak Aeri.
Jungkook mendorong Aeri masuk ke dalam. Air matanya sudah jatuh, Zia mengambil alat pemacu jantung. Helsi sudah tidak sadarkan diri dan dibawa pergi suaminya. Jhope dan Hana terkejut. Hana membekap mulutnya dan bersadar lemas di dada Jhope.
Zia menangis, dia terus merangsang detak jantung Echa.”Hiksss aku mohon bangun,” lirihnya. Jimin menatap nanar tubuh Echa. Dia membantu Zia dan Jin pun masuk ke dalam.
Aeri dipeluk erat oleh Jungkook. Jungkook memejamkan mata, dia tidak sanggup melihat anaknya. Sementara tangan Aeri terulur jauh, dia ingin menggapai putrinya yang berjuang hidup. Jimin telah mengerahkan anak buahnya mencari keganjalan ini. Di lain tempat Ahin mengamuk karena Echa lagi-lagi selamat. Dia berjanji akan membunuh Echa secara langsung.
“Hiksss Anakku!” teriak Aeri meronta-ronta, mulutnya terbuka meneriaki nama Echa.
Wahai anakku ...
Bukalah matamu, Nak
Belahan hati bunda tercinta ...
Dengar lantunan suara ini memanggilmu
Aku ingin mengatakan betapa aku mencintaimu sayang
__ADS_1
Maafkan bunda ... maafkan semua dunia yang tidak sempat memberimu bahagia ...
Maafkan dunia wahai putriku yang malang
Andaikan bunda bertemu denganmu lebih dulu
Akan bunda kenalkan dunia yang indah, Nak
Maaf dunia yang kejam putriku
Echaku ... buah hatiku tercinta
Perlu kau tahu sayang, Bunda sangat mencintaimu
Lihat pria di samping Bunda
Dia menangis tanpa suara
Kami mencintaimu, nak ....
Itulah suara hati Aeri, seorang ibu yang menyaksikan derita anak tak berdosa di hadapannya. Jungkook semakin terisak. Menggelengkan kepala saat semua ruangan pecah akan tangisan.
Tittttttttttttttttttttttttttttttttttttt ....
Zia menggelengkan kepala, dia menudur dan membekap mulutnya. Jimin memeluknya erat. Beberapa kali Zia menyebut nama Echa. Jungkook merasa jiwanya dicabut paksa. Aeri berusaha bangkit dari kursi rodanya.
Jungkook dan Aeri berjalan gontai ke sana. Semua orang memandangnya sedih. Putrinya telah dia. Anak tercintanya telah meninggalkan dunia yang kejam.
Aeri berusaha meredakan tangisnya. Dia sudah mendengar prihal kemalangan Echa. Bagaimana anaknya koma selama ini dan hany hidup karena alat-alat yang menempel di tubuhnya. Dengan sayang Aeri dan Jungkook duduk di berangkas Echa.
Jungkook membawa Echa ke dalam pangkuannya. Memeluk putri tercintanya dan menimang-nimapng Echa walau air matanya terus menetes. Aeri sama terpukulnya, dia mengecup bibir Echa. Bibir pucat yang sudah berhenti mengoceh.
Semua menangis menyaksikan itu, Bahkan Zia memekul dadanya menghilang sesak yang ia rasa. Jungkook hanya mengeluarkan isak tangis. Kini suara Aeri yang memenuhi ruangan dan itu membuat semua telinga yang mendengarnya merasa jantungnya diremas kuat.
“Hiksss Echa ini Mommy, Nak hiksss ... Hiksss ... hiksss ... princesnya Mommy lagi capek, hm?’’ tanya Aeri dengan air matanya.
Aeri tertawa disela tangisnya, tawa pedih melihat Echa hanya diam.”Lelap banget ya sayang tidurnya. Hikss habis main sama uncel Je?Hm hiks?”
“ ....” Echa hanya diam dalam damai.
Aeri membawa tangan Echa menyentuh perutnya, dan dia semakin sesak. Keinginan Echa terkahir kali ingin bermain dengan adek-adeknya. Nayatanya Tuhan tidak mengizinkannya.
“Nak ... ini adek kamu hiks ... kamu mau main sama mereka kan? Hikss jangan diam sayang hiksss jangan diam hiksss Echa ... hikss Mommy sangat takut hikssss Huwaaaa MOMMY TAKUT HIKSSSS.” Aeri akhirnya menumpahkan semuanya. Dia menangis sambil mengenggam erat tangan Echa.
Jungkook sudah berhenti menangis, tatapannya kosong. Jiwanya melayang, jenazah anaknya ada dipangkuannya sedang ia timang-timang seperti waktu Echa kecil. Jungkook mulai bernyanyi, mengiri kepergian putri tercintanya. Jungkook bernanyi dengan suara bergetar.
(putar lagunya ost Bersama Bintang )
Senja kini berganti malam ...
Menutup hari yang lelah
Dimanakah engkau berada
Aku tak tahu di mana
Jungkook menatap lembut wajah pucat Echa. Mata putrinya yang tertutup. Aeri membelai sayang wajah Echa. Ikut bernyanyi bersama Jungkook.
Pernah kita lalui semua
Jerit, tangis, canda, tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya
Jungkook dan Aeri menginta kebersamaannya bersama Echa. Bagaimana jertian anak itu di kala pagi. Di kala dia mencium mesra Aeri. Tangisnya saat tidak menemukan Aeri dan melihat Jungkook melumat bibir Aeri. Canda anak itu yang membuat Hana terbangun dari tidurnya saat menjaga Jhope. Tawanya saat dia dicium bertubi-tubi ... semua itu diingat baik oleh Aeri dan Jungkook. Mereka berdua menangisi putrinya.
Hikss tidurlah hiks selamat malam
Lupakan sajalah aku hikss
Hiks ... hiks ... mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang hiks ....
Jungkook dan Aeri menggeleng pelan melihat putrinya. Anak kesayangannya sudah menutup mata. Bahkan keingina Jungkook melihat Echa tumbuh menjadi dewasa dan menjadi gadis cerewet lenyaplah sudah.
Hikss sesungguhnya aku tak bisa
Jalani waktu tanpamu
Hiks ... perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisihkan luka
Perpisahaan dengan Echa bukanlah sebuah duka namun menyisahkan luka begitu dalam. Sampai kapanpun Jungkook dan Aeri tidak akan mampu melewati hari-hari tanpa putrinya.
Lupakan diriku ...
Luapakan aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang
Tangis Aeri dan Jungkook bersahutan. Menggucang jiwa insan yang mendengranya. Bulan dan Bintang diam menyaksikan betapa pasanagn itu berat melepaskan putrinya. Oh Echa yang malang, dia baru saja berbahagia karena merasakan kasih sayang seorang ibu kini dia menutup mata.
Jungkook dan Aeri mengecup bibir Echa. Aeri mencium kening, hidung dan ppi tirus Echa. Air matanya membasahi tubuh dingin anaknya. Jungkook berbaring di bangkar, meletakkan Echa di atas dadanya dan menarik istrinya dalam pelukannya.
Zia mengigit bibirnya dalam. Hatinya meronta-ronta melihat pemandangan di depannya. Jimin membiarkan air matanya lolos. Hana bahkan kesusahan bernapa menyaksikan itu. Kedua orang tua jHope juga ikut menangis.
Di depan sana, seorang ibu dan ayah mendekap anaknya yang sudah berpulang. Tulusnya cinta keduanya pada sang anak. Hana pingsan, dia sudah tidak sanggup lagi.
Jemari Aeri terus memeblai wajah Echa. Dia terus menangis dan Jungkook pun sama. Dia menepuk pelan punggung anaknya.
__ADS_1
TBC