
💟Happy Reading💟
~Sampaikan salam rinduku pada matahari yang tak sempat aku sapa dan halau cahayanya.
__________________________________________
Jejak tak berirama masih mampu terlalui. Saat tak ada cahaya yang bisa dilihatnya masih ada banyak cahaya cinta dari sekitarnya.
Dunia memang tidak ada adil padanya. Menghukum masa kecilnya. Membiarkan dia melalui hari berat.
Saat sapuan lembut di pipi gadis yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia menggeliat pelan dan melengguh tanda tidurnya terusik.
"Bangun, Princes. Kamu harus makan, Nak," ujar Aeri.
"Mom, aku belum lapar," ujar Echa.
Aeri tersenyum kini Echa tidak cadel lagi. Biasanya menyebut 'R' saja menjadi 'L' ... anaknya kini tumbuh.
"Harus makan, Nak. Nanti kamu malah sakit perut," kata Aeri. Pintu terbuka dan membuat Aeri menoleh. Dia melihat Hana berdiri dengan rantan di tangannya.
Hana melangkah masuk dan duduk di kursi dekat bangkar Aeri. Melihat Echa yang mulai bangun dari tidurnya. Rambut Echa acak-acakan membuat Aeri menatanya rapi.
"Halo My Princes," sapa Hana.
"Aunty Han," panggil Echa membuat Hana kaget. Dia menatap Aeri dengan pandangan tidak percaya dan Aeri tersenyum melihat Hana. Bahkan mata Hana melebar karena terkejut.
Hana memeluk Echa dan mecium pipi Echa. Berulang kali dia mengucap syukur.
"Mereka masih tidur?" tanya Hana. Mereka yang dia masuk ketiga jagoan Aeri dan Jungkook.
"Hm masih tidur. Setelah hampir membuat Daddynya terjaga sepanjang malam," ujar Aeri membuat Hana melihat oppanya masih terlelap.
"Ayo makan," ajak Hana.
"Aunty Han bawa apa?" tanya Echa.
"Aunty bawa cumi-cumi sama ayam bakar, Princes," ujar Hana sambil mengeluarkan isi rantangnya.
"Echa mau cuci muka dulu," ujar Echa.
"Aunty antar," tawar Hana yang diangguki Echa. Kepergian Hana dan Echa membuat Aeri mengambil piring dan mengisinya untuk Echa.
"Enghhhhh." Lengguhan itu berasal dari sofa. Aeri menatap suaminya yang merenggakan otot-ototnya. Bibirnya tersenyum melihat Jungkook malah memperbaiki posisinya dan lanjutkan tidurnya.
Echa dan Hana sudah kembali. Echa makan disuapi Aeri, Hana sendiri sudah makan sebelum berangkat.
"Kamu ke sini bersama suamimu, Han?" tanya Aeri di sela-sela kegiatannya.
"Aku ke sini sendiri. Dia harus ke kantor pagi-pagi sekali, ada meeting."
__ADS_1
"Keureonde (Ngomong-ngomong), apakah kamu sudah isi?" tanya Aeri.
Hana memerah malu membuat Aeri tergalak tawa. Hana sangat berubah, bahkan dia malu-malu. Hey! Biasanya dia yang tersenyum tanpa dosa ketika kedapatan berbuat mesum.
Tiba-tiba raut malu-malu Hana hilang berubah jadi kesal. Bahkan dia berbalik menatap tajam Jungkook yang masih terlelap.
"Ini semua karena Oppa! Oppa yang malas ke kantor membuat Jhope harus mengurus pekerjaannya juga," kata Hana kesal. Bibirnya sudah mencabik marah. Dia melihat Aeri menatapnya bersalah. Hana kegegelapan.
"Ah aa ... Aniyo. Aigooya, maksudku tidak begitu," kata Hana panik. Dia sangat mengenal Aeri. Sahabatnya pasti berpikir karenanya suaminya jadi tidak ke kantor.
Aeri tersenyum dan mengangguk membuat Hana menghela napas lega. Tiba-tiba dia memekik kaget saat pipinya dijepit sekali. Suaranya melengking bersamaan suara tangis bayi terdengar.
"AKHHHHH!" tariak Hana memukul tangan yang menjepit kedua pipinya.
"OEKKK ... OEKKK ... OEKKKK!"
"Hana, teriakanmu--" tegur Jungkook mengomeli adiknya. Hey bung! Dia yang membuat Hana berteriak kesakitan. Hana memandang oppanya dengan raut kesal.
Aeri hanya menggelengkan kepala melihat Jungkook dan Hana bertengkar. Echa tertawa mendengar teriakan Hana, meski dia tidak melihatnya tapi dia merasa lucu.
"Adek susah bangun," ujar Echa senang. Dia sudah menguk habis airnya.
Jungkook mendekat sambil menggedong anaknya. Ternyata anak keduanya yaitu Ryung. Wajah anak keduanya ini gabungan wajah Aeri dan Jungkook.
"Cup ... Cup ... Cup." Aeri sudah menimang Ryung. Dia membuka kanci bajunya dan menyusui jagoannya.
Kalau dilihat-lihat Ryung ini sangat nakal. Malamnya dia yang keseringan bangun dan membuat Jungkook begadang. Aeri juga bangun tetapi Jungkook menyuruhnya tidur kembali.
"Ughhh jagoanku masih haus rupanya," ujar Aeri gemas.
Jungkook ikut duduk di sebelah kiri Aeri. Dia menatap wajah anaknya yang terlihat haus sekali. Hana ikut tersenyum sementara tangan Echa mengenggam kaki mugil adiknya.
"Mommy siapa ini?" tanya Echa membuat Jungkook diam membatu melihat wajah antusias anaknya. Andai saja dia sudah menemukan pendonor untuk putrinya, Echa akan melihat wajah adiknya.
Ahin dia saat ini kandidat yang cocok. Gadis itu sudah dipenjara bersama Seungri. Dia pernah mendatangi Ahin, meminta wanita itu mendorokan mata untuk Echa, tapi hanya sumpahan agar Echa mati saja sekalian saja. Jungkook tentu murka.
"Ini Ryung, Nak. Adik kamu yang kedua," ujar Aeri.
"Iya, Mom," ujar Echa masih bermain-main kaki Ryung.
***
PLAK!
"Hiksss akhhhh hiksss." isak tangis yang keluar dari bibir berdarah itu.
"AKU MEMBENCIMU HIKSSS AAAAAKKKKGGG SANGAT MEMBENCIMU HIKSSS!" teriakan itu penuh emosi. Tangannya sudah mengcekik keras leher wanita yang memakai jas putih.
"Aghhhhh." Tangannya memukul-mukul tangan putih yang mengcekiknya.
__ADS_1
Brak!
Blam!
Tubuhnya kembali dilempar. Sudah dipastikan banyak lembam di sekujur tubuhnya. Dia hanya meringkuk mundur ketakutan. Tidak ada tenaga untuk berteriak apalagi berdiri.
"Akhhh sakitttt," rintihnya saat rambutnya ditarik.
"Hiksss aku membencimu, Zia!" ujarnya disela tangisnya.
Well, kini dokter Zia sedang disiksa di dalam ruangannya oleh Ah Moon. Gadis ini datang dan mengunci ruangan Zia. Bahkan sudah hampir setengah jam dia menyiksa Zia.
Ponsel Zia sudah tergelak di lantai. Ah Moon lepas kendali. Kejiwaannya kembali terganggu.
Dia melepas kasar jambakannya. Kakinya menendang dada Zia. Zia sampai terbatuk-batuk. Dia sudah menangis keras. Mungkingkah dia mati di tangan sepupunya sendiri?
Jimin.
Hanya nama pria itu terlintas dalam benaknya.
Ah Moon melihat Zia sudah tidak berdaya tertawa. Dia melihat tubuh Zia tergeletak dan jas putih itu kotor, juga bernoda darah.
Kaki Ah Moon terangkat. Dia menginjak kasar dada Zia. Zia meronta-ronta. Dia bahkan merasa sesak napas.
"Akhhhh hiksss akhhhh," rintihnya.
"Hiksss kamu harus mati!" teriaknya marah. Air matanya meluruh.
Jimin menyerit heran di dalam ruangannya. Dia menelepon Zia berkali-kali tetapi ponsel Zia tidak aktif. Bahkan sejam lagi ada jadwal operasi dari pasien Zia.
"Ke mana dia?" tanya Jimin.
Dia menelepon dokter Jin untuk mengambul jadwal dokter Zia. Jimin memutuskan ke ruangan Zia.
Ckrak! Crak! Pintunya terkunci. Jimin menyerit heran. Dia kaget mendengar suara pecahan di dalam.
Dia mendobraknya dan melihat komputer di atas meja Zia sudah jatuh. Dekat meja itu Zia sudah tergeletak dan Ah Moon menindinya.
"Ah Moon!" teriak Jimin marah. Dia mendorong kasar tubuh Ah Moon.
Jimin duduk dan memeluk tubuh tidak berdaya Jimin. Beberapa suster lewat sontak histeris. Mereka memanggil satpam. Ah Moon diamakan.
Zia memeluk Jimin disela-sela ketidak berdayaannya. Dia menangis.
"Hikssss ... Hiksssss ...." Jimin menggendong Zia. Membawa pacarnya ke dalam ruang inap. Dia hanya menyuruh suster menyipakan alat dan selebihnya dia yang mengobati Zia.
Zia sudah tidak sadarkan diri. Jimin tetap tenang dan melanjutkan mengobati pacarnya. Dia juga menyuruh Ah Moon dibawa ke rumah sakit gila.
Jimin mencium bibir Zia pelan. Mengusap wajah Zia.
__ADS_1
"Aku akan menjagamu, sehidup dan semampuku, Sayang."
TBC