
💟💟💟
Setelah kabar duka yang Jungkook terima bersama Aeri. Mereka menjaga Aeri tanpa mau beranjak. Kini Aeri satu ruangan dengan Echa. Dia tidak mau berjauhan dengan putrinya.
Saat kicauan burung terdengar. Echa menggeliat pelan. Membuka matanya namun gelap. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Dia hanya diam dan menganggap berada di ruangan yang gelap.
"Daddy ... Mommy,"lirihnya.
Jungkook bangun dari tidurnya dan melihat Echa sudah sadarkan diri. Jungkook mengusap pelan kepala Echa.
"Princes," panggil Jungkook.
"Daddy, kenapa gelap sekali?" tanya Echa dengan pandangan kosong.
Dada Jungkook dihujami beribu panah. Pertanyaan itu terlontar di bibir Echa. Sekuat yang ia bisa menahan air mata dan isak tangis pilunya.
"Maaf, Nak. Sekarang mati lampu," ujar Jungkook membohongi Echa.
Echa yang lugu dan polos mengangguk saja. Dia meraba-raba tangan Jungkook dan meringgis sakit. Air matanya menetes.
"Hikss sakit, Daddy sakittt," rengeknya.
"Mana Nak yang sakit?" tanya Jungkook.
"Bada Echa sakit semua. Kaki Echa juga Daddy," ujarnya tentang apa yang ia rasa.
Jungkook tidak mampu menahan tangisnya. Sesak tiada tara menggerogoti dadanya. Putrinya merengek sakit. Orang dewasa pun akan merengek seperti anak kecil jika mendapat luka-luka Echa.
"Daddy tiup, Princes ... supaya sakitnya hilang," ujar Jungkook.
Echa mengangguk pelan karena dia merasa kepalanya sakit. Jungkook meniup pelan kaki Echa. Matanya buram karena air mata melihat kaki kecil itu patah.
Jungkook berjanji akan menjadi mata untuk putrinya. Menjadi telinga untuk putrinya, menjadi kaki untuk menuntun langkah putrinya.
Aeri menggiat pelan dan melihat Jungkook dan Aeri. Dia mulai bangkit tanpa suara, mengambil tiang infusnya.
"Jungkook," panggi Aeri.
Jungkook menoleh dan melihat Aeri sembari tersenyum. Dia menarik lembut tangan istrinya. Echa yang mendengar suara Aeri tersenyum.
"Mommy!" panggilnya dengan suara lemahnya.
"Nak," lirih Aeri sambil mengecup pipi Echa.
"Mommy, kapan lampunya menyala? Echa idak suka gelap!" gerutu bibir Echa. Aeri hampir jatuh, dan Jungkook menangkap istrinya. Aeri bahkan harus membekap mulutnya agar Echa tidak tahu dia menangis.
Putrinya yang malang bertanya. Aeri hanya mampu meminta maaf. Dia akan membawa terang untuk Echa. Meski dia juga tidak tahu kapan terang itu akan datang.
Kondisi Echa masih lema tetapi anak itu tetap kelihatan ceria. Echa belum tahu kabar buruknya. Dia masih kecil untuk mengerti apa yang ia alami.
__ADS_1
Pintu terbuka, ternyata Zia. Gadis itu tersenyum cerah daripada kemarin bermuka durjanna duka. Dia menghampiri Echa dan memeriksa kondisi Echa. Zia memeriksa juga mata Echa.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Jungkook.
"Ada peningkatan. Suhu tubuhnya juga mulai turun dan tidak sepanas kemarin."
Zia menatap Echa yang menatap lurus ke depan. "Echa, apa yang Echa sekarang rasakan?" tanya Zia.
"Echa susah melihat. Lampunya mati ibu doktel," ucap Echa.
Zia diam, dia keluh mendengar perkataan polos Echa.
"Echa harus rajin makan, dan rutin minum obat biar Echa sembuh dna lampunya cepat menyalah."
Echa mengangguk dan tersenyum. Dia hanya menutupi bahwa tubuhnya juga kaku sekali. Dia tidak bisa bergerak sedikitpun karena dia akan meringgis sakit.
Setelah kepergian Zia, Jungkook dan Aeri menyuapi Echa. Mereka mulai bercanda kembali. Meski semua tidak sama lagi.
"Ech sebentar lagi tante Hana menikah sama Uncel Je," ujar Jungkook.
"Holeeee, Echa mau pake gaun putih telus ada pita-pitanya," ucap Echa.
"Iya, Nak. Nanti Echa pake gaun yang cantik. Echa kan princes, Nak," ujar Aeri.
"Echa mau main kuda-kuda sama uncel Je," rengeknya.
Jungkook dan Aeri kegegalapan memdengar permintaan Echa.
"Iya, Dad." Echa menguyah makanannya. Aeri terus membelai sayang tangan Echa.
"Daddy, Mommy ... Apa pelut Mommy sudah besal?" tanyanya.
"Sudah, Nak. Adek Echa akan keluar dan main sama Echa," ujar Aeri. Dia membawa tangan Echa untuk menyentuh perutnya. Echa mengusap lembut perut Aeri.
"Dade cepet kelual. Kita main kuda-kudaan sama uncel Je!" pekiknya bahagia. Jungkook meneteskan air mata. Dia tidak akan sanggup saat putrinya tahu.
****
Seminggu kemudian, hari ini adalah hari bersejarah untuk Jhope dan Hana. Awak media serta wartawan sudah mengambil beberapa kali gambar wanita dan laki-laki yang duduk di atas pelaminan.
Hana sudah resmi menjadi istri Jhope. Bibiarnya tidak berhenti menyunggingkan senyum manis. Aura Kebahagiaannya terpancar jelas.
Jhope juga tiada hentinya tersenyum. Merek sangat bahagia untuk hari ini. Jimin ikut bahagia melihat saudara tirinya bahagia.
Jungkook, Aeri dan Echa juga ada di dalam gedung. Mereka diperbolehkN pulang tetapi Beatrice total di rumahnya.
"Mommy, kenapa pengantin Aunty Han lampunya dimatikan?" tanya Echa.
"Sayang, Aunty Han sama Uncel Je suka gelap-gelapan."Aeri merutuki bibirnya yang berbicara asal. Jungkook sampai menyeringai ke arahnya.
__ADS_1
"Echa idak suka. Echa ingin melihat wajah Mommy dan Daddy," ujar memelas."Echa lindu sekali," lanjutnya.
Aeri membawa Echa ke dalam pelukannya. dia sangat merindukan Echa juga.
"Echa mau makan apa, Nak?" tanya Jungkook.
"Mm Echa mau sosis," ujarnya sambil memperlihatkan deret giginya.
"Daddy ambilkan untuk,
 Princes," kata Jungkoo da tertawa.
Tiba-tiba Aeri melihat Zia berada di pesta Jhope. Dia tidak tahu jika Zia di undang.
"Dokter Zia!" panggil Aeri sedikit berteriak karena suara bising sekali.
Zia menoleh dan tersenyum. Aeri membalas senyuman Zia. Mereka mulai mengobrol.
Zia tidak kalah cantik dengan Aeri. Dia memgenakan gaun potongan rendah bagian dadanya. Kulitnya terekspos sangat indah. Membuat dia banyak dilirik oleh tamu Hana dan Jhope.
Aeri pun sama tetapi semua harus mencuri pandangan tidak bisa menatapnya secara terang-terangan seperti Zia. Dia tahu jika Aeri adalah milik dan istri Mr.Jung Jungkook. Billionaire itu bisa merobohkan perusahaan mereka jika bearani macam-macam.
"Zia, bagaimana soal pendonor?" tanya Aeri sedih.
"Aku terus berusaha mencarinya. Bahkan kami mengirim pesan kepada koneksi di luar negeri. Untuk saat ini hanya wanita itu yang diharapkan tetapi sudah kita ketahui bagaimana dia," ujar Zia tersenyum kecut.
Echa yang tidak mengerti tetap menikmati makanan yang disuapi oleh Aeri. Pipinya masih tirus tetapi mulai berisi sedikit.
Zia meneguk minumannya dan matanya tidak sengaja bertabrak pandang dengan Jimin. Dia memebuang pandangannya. Sampai sekarang Zia menjauh dari Jimin.
Jimin menghela napas. Menyesap sedikit minumannya dan melirik ponselnya. Dia masih mencari keberadaan Ahin. Anak buah Ahin tetap bukam. Jimin ingin membunuhnya tetapi informasi soal Ahin masih ia butuhkan.
"Ke mana wanita sialan itu bersembunyi?" guman Jimin. "Ahin ... jika aku menemukanmu, aku akan membunuhmu saat itu juga," lanjut Jimin.
Wanita yang tersenyum ingin menghampirinya perlahan membuat senyumnya melebur menjadi tatapan sedih. Tangannya yang hendak menyentuh pundak Jimin melayang. Dia tersenyum kecut dan memilih menjauh dari keramaian.
"Aku tidak rela jika Ahin harus mati. Otokke?(Bagaimana ini?)" lirihnya.
Matanya menatap Echa dan Aeri bergantian. Dia berguman pelan, saat ini hanya Tuhan yang tahu arti tatapannya pada Echa.
"Kak Ahin," lirihnya melihat Ahin tengah di pesta. Dia melototkan mata saat Ahin mengenakan weigh yang menyamarkan wajahnya. Dia mengenal bentuk tubuh Ahin dan semua yang ada di ruangan ini dalam bahaya.
Dor!
Ahin tersenyum penuh kemenangan. Peluru itu yang ia harapakan menewaskan orang yang ia benci dan peluru itu kini berasarang tepat sasaran.
Semua mata kaget.
"ANDWEEEEEE!" teriak seorang laki-laki.
__ADS_1
TBC