My Young Daddy

My Young Daddy
17


__ADS_3

~Aku hanya mampu menyesap secangkir teh dan bernostalgia dengan kenangan kita.


Hana POV


Aku sedang duduk termenung di hadapan gudukan tanah yang sudah kutaburi bunga-bunga. Air mataku tidak pernah berhenti mengalir. Orang yang sangat aku cintai telah menutup mata selamanya. Aku kembali terisak saat aku mengingat apa yang aku lalui dengannya.


Usapan di lenganku membuatku menoleh. Mommy sama dengan, dia terisak. Memelukku erat meski aku tahu dia juga terpukul dengan kenyataan ini. Pelukannya semakin bertambah, kini daddy juga ikut memelukku erat.


"Hiksss ...."


Tangis Hana membuat langit bergemuruh. Pakaian serba hitam itu menandakan suasana berkabung. Langit ikut menangis, merasakan perih hati Hana. Jungkook menatap pusaran di depannya dengan tatapan kosong.


Aeri ikut meneteskan air mata, dia memeluk erat Echa agar tangisnya tidak terdengar. Mengerti betapa hancurnya Hana saat ini. Hana menolak pulan meski hujan semakin deras.


"Hikss aku mau di sini, Mom," lirih Hana.


"Nak, kembalilah. Nanti kamu sakit," bujuk Helsi.


"Hiksss sakit atau tidak sama saja, Mom. Hiksss aku sudah sakit sejak dulu hikss, aku tidak akan pernah sembuh penawarku hanya dia tetapi kini dia terbaring tidak membuka matanya hiksss," ujar Hana terisak. Mengeluarkan isi hatinya yang meronta-ronta memanggilnya.


"Hana," panggil Jungkook sambil memaksa adiknya berdiri.


"Hikss lepaskan aku!" teriak Hana.


"kamu harus sadar! Dia sudah mati, Hana. Mati!" teriak Jungkook membuat Hana menamparnya keras.


"Hiksss aku tahu dia sudah meninggal, hikss aku tahu Oppa. Huwaaa aku tahu dia meninggalkanku hiksssss," ujar Hana berteriak keras di derasnya hujan. Tubuhnya meluruh bergetar.


Jungkook merasa bersalah, dia menunduk dan menggedong adiknya. Hana kini jatuh pingsan membuat keluarganya panik. Echa sedari tadi diam. Dia ikut sedih melihat keluarganya menangis, namun dia tidak mengerti apa-apa.


"Mommy, Echa mau main kuda-kudan sama uncel Je," bisik Echa membuat air mata Aeri mengalir deras.


"Uncel Je lagi tidur, Nak hiks ... Echa main kuda-kuda sama sepeda kuda-kuda Echa saja dulu," ujar Hana tidak kuasa menahan tangisnya.


Echa mengusap air mata Aeri,"Mommy jangan menangis."


Aeri mengusap air matanya dan tersenyum. Dia tidak mau membuat anaknya sedih. Dia ikut mengekori Jungkook yang mengendong Hana.


Di dalam rumah kediaman Jung mereka duduk diam. Menatap Hana yang masih terlelap. Hana terlalu syok dan tubuhnya drop. Helsi meneteskan air mata melihat betapa menderitanya anaknya selama ini. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu.


Dering di ponsel Jungkook membuat pria itu termenung. Menatap adiknya dengan pandangan sedih. Dia tidak tahu separah apa Hana nanti jika mendengar kabar ini lagi. Sahabatnya kini terlelap damai.


***


Seorang wanita berjalan santai ke dalam kantor Jungkook. Tubuh langsingnya dibalut dengan dress mini yang menampilkan lekuk tubuh langsingnya.

__ADS_1


Dia berhenti tepat di hadapan meja Aerum. Dia berdehem pelan membuat Aerum mengangkat kepalanya. Mata Aerum membulat sempurna.


"Untuk apa kau kemari jalang?!" teriak Aerum marah. Dia menghilangkan sikap profesionalnya. Persetan dengan tata krama, wanita di depannya tidak pantas disopani.


"Jangan memanggilku dengan sebutan, Jalang," ujarnya tenan.


"Cih, sebutan apa yang cocok untuk wanita yang tega mau melenyapkan anaknya sendiri?" tanya Hana dengan mata mendelik marah.


"Dia pembawa sial untuk karirku," ucapnya.


Hilang sudah kesabaran Aerum. Dia keluar dari mejanya dan berdiri di hadapan Ahin. Kini Ahin kembali dan sekarang wanita itu memang tebal muka karena berada di kantor Jungkook.


"Kamu jangan menyebutnya pembawa sial!" teriak Aerum membuat karyawan menatap sembunyi ke sana.


"Aku tidak ada urusan denganmu. Apakah Jungkook di dalam?" tanyanya tetapi Aerum diam. Ahin melewati Aerum begitu saja dan masuk ke dalam ruangan Jungkook.


Aerum mengekori Ahin cepat dan mengcekal tangan Ahin. Dia menyentakkan hebat dan menatap penuh kilat kebencian. Ahin tersenyum miring, Aerum membuatnya emosi.


"Jangan membuatku ikut membunuhmu," ujar Ahin membuat otak Aerum mencernanya.


"Ka-kau pernah membunuh siapa?" tanya Aerum marah.


"Masih dalam proses, aku akan menyingkar penghalang hubunganku dengan Jungkook."


"Jangan menyentuh Echa dan Aeri. Kau akan sangat menyesal jika melakukannya," ujar Aerum serius.


"Sepertinya kau lupa darah Jung. Mereka bukan sembarangan orang," ejek Aerum.


"Jikalau kau lupa aku mantan keluarga Jung dan sebentar lagi marga itu akan kembali aku sandang," ujar Ahin sombong.


Dia mengedarkan pandangannya dan sepertinya Jungkook tidak ke kantor. Dia melupakan fakta jika laki-laki itu baru saja menikah. Ahin mebenak-nebak jika Jungkook mengkin mengambil cuti untuk berbulan madu dengan istrinya.


"Aku akan pergi. Jungkook tidak ada di sini," kata Ahin dan melangkah pergi. Dia meraih ganggan pintu dan membuka mulutnya kembali,"Jika bertemu dilain waktu, sopanlah padaku. Aku tidak akan segan-segan menyingkirkanmu."


Aerum menahan tungkainya agar tidak bergerak cepat dan menampar mulut wanita sialan itu. Dia duduk di sofa Jungkook dan mengirim pesan pada Jungkook.


"Echa, Aeri semoga kalian selalu dilindungi Tuhan," doanya.


Ahin melangkah leber keluar dan dia menabrak seorang pria yang sering ia lihat di TV. Park Jimin berada di kantor Jungkook. Jimin tersenyum miring melihat Ahin dan dibalas gerlingan nakal oleh wanita itu.


"Bertemu lagi Park Jimin," ujar Ahin sambil terkekeh.


"Suatu kesialan bertemu dengan Anda lagi," ujar Jimin sinis.


"Hahaha. Hmm bagaimana marga barumu?" tanya Ahin dengan senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Tutup mulut biadabmu itu. Kau tidak usah ikut campur tentang kehidupanku," ujar Jimin marah.


"Hahaha lihat dirimu---sangat emosian. Kita akan sering bertemu karena kita akan menjadi keluarga yang sama," ujar Ahin sambil memamerkan senyum cerianya. Dia kemudian meninggalkan Jimin yang menatapnya jijik.


"Dasar bicth," umpat Jimin.


Dia pastikan Ahin tidak akan menyandang keluarga Jung. Wanita itu harus diberikan pelajaran. Sementara Ahin mengcengkram kuat stir mobilnya. Jimin adalah ancaman bagi Ahin.


"Aku harus menyingkirkannya," ujar Ahin.


Dia menggeram kesal saat mengenal Jimin. Pria itu bukan semabrangan orang. Marganya kini membuat dia semakin kuat untuk ditaklutkan.


"Echa, nama anak sialan itu Echa. Aku akan membunuhnya," ujar Ahin tersenyum lebar.


Dilain tempat Echa memeluk erat Aeri. Dia tiba-tiba bangung dan terisak keras membuat Aeri dan Jungkook yang berbaring di sampingnya panik.


Mereka menepuk-nepuk badan Echa, berharap tangis Echa reda.


"Princes, waeyo?" tanya Jungkook.


"Hiksss Mommy," ujar Echa.


"Mommy kenapa, Nak?" tanya Aeri.


"Hiksss jangan pelgi," pinta Echa dengan wajah ketakutan.


"Mommy gak pergi, Nak. Echa mimpi buruk?" tanya Aeri sambil mengusap air mata Echa. Echa mengangguk dan membuat Jungkook mengecup keningnya.


"Tidur lagi, Princes. Mommy tidak akan pergi." Ujar Jungkook.


Echa kembali tidur setelah dinyanyikan Jungkook. Aeri tidak sadar ikut terlelap karena suara merdu Jungkook. Jungkook mencium wanita di sampingnya dengan penuh kasih sayang.


"Daddy tahu, itu bukan hanya mimpi, Nak. Daddy tahu itu sebuah firasat buruk," ujar Jungkook.


Dia memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan Echa. Ketakutan Echa membuat dia ikut merasakannya. Dia berusaha tenang dan dia akan melakukan apapun untuk melindungi Aeri.


Jungkook keluar kamar mengambil air dingin untuk mengusir dahaganya. Melewati kamar Hana yang kebetulan pintunya terbuka. Dia mendengar jeritan Hana yang menyalahkan dirinya atas Jhope.


"Hikssss ini semua karena Hana, Mom," teriaknya keras.


"Ini takdir, Nak," ujar Baek.


"Hikss bener kata Daddy, Sayang. Ini takdir," ujar Helsi.


"Huwaaaa ...." Hana tidak tahu dengan cara apa dia mengatakan betapa sakitnya hati dia saat ini. Dia ingin Jhope, hanya pria itu keinginannya. Helsi dan Baek akan memberikan apapun keinginan Hana tetapi untuk itu dia tidak bisa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2