My Young Daddy

My Young Daddy
24


__ADS_3

Seperti api yang diteteskan air, akan meredup seperti perasaan yang dialami Jungkook. Dia bukanlah terlihat seperti seorang CEO kejam dan dingin, saat ini dia hanyalah seorang Ayah yang meratapi nasib sang Putri.


Bagai hujan yang mengalir di kedua bola matanya. Bibirnya diam namun hatinya terus memberontak. Terukutlah dunia yang memberinya cobaan ini. Tangannya mengenggam tangan kecil yang dingin.


Bahu Jungkook bergetar saat dia mencoba menyebut nama anaknya. Dia ingin memanggil cahayanya, buah hatinya dan juga princesnya. Memandangnya dengan mata buram karena air mata. Bulan dan malam adaah teman terbaik Jungkook untuk meresapi setiap sakit detik yang ia lalui.


“Echa—“ lirihnya.


Tidak ada sahutan. Bibir kecil itu enggan terbuka. Jungkook ingin Echa membuka mata dan memanggil namanya. Dia merindukan anaknya.


“My Princes, wake up please. Panggil Daddy, nak ... Daddy—hiks Daddy merindukanmu,” ucap Jungkook terbata-bata.


Sementara di sebuah ruangan wanita itu mencoba membuka matanya yang terasa berat sekali. Sayup-sayup dia mendengar suara. Namun, bergerak pun dia tidak mampu.


“Maafkan saya Nyonya, Tuan ... melihat kondisi pasien melemah, kandungannya kini membahayakan nyawanya,” ujar dokter.


“Ma-maksud Dokter hiks kandungannya harus---“ Helsi tidak sanggup meneruskan ucapannya. Apalagi melihat anggukan Dokter membuat dia memeluk erat suaminya.


“Jika kandungannya kita pertahankan, kemungkinan nona Aeri hidup kecil,” ujarnnya penuh sesal.


“Hikss bagaimana ini Mas?” tanya Helsi yang terjepit akan keadaan.


“Nanti kita bicarakan,” ujar Baek mencoba tenang.


Dokter meninggalkan ruangan setelah pamit. Helsi dan Baek duduk di sofa ruang inap Aeri. Mereka tidak terasa terlelap.


.


.


“Echa!” panggil seorang wanita mengenakan gaun putih.


Nak kecil yang sedang bermain di taman menoleh dan tersenyum manis.”Mommy!” panggilnya.


“Echa hikss ayo pulang, Nak. Mommy tidak bisa lama-lama di sini, nak,” ujar Aeri memandang senduh anaknya.


“Mommy, Echa ingin tinggal di sini. Pulanglah,” ujar Echa sambil memperlihatka deret giginya.


Aeri menggelengkan kepala dan menunduk sedih. Echa dan Aeri terdiam mendengar suara yang mereka kenali. Mereka diam mendengrakan sayat pedih dari tiap bait-bait lontar isi hati laki-laki yang merindukannya.


Aeri memandang Echa sedih,”Kamu mendengarnya, Sayang? Itu suara Daddy, dia ingin kita pulang. Echa nggak mau kan Daddy sedih, Nak?” ujar Aeri.


“Echa tidak mau pulang. Maafkan aku Mom,” ujar Echa penuh sesal.

__ADS_1


Aeri melihat anaknya banyak berubah. Tubuhnya kurusan dan terlihat ada kesedihan mendalam putrinya rasakan. Aeri memeluk Echa dan dibalas Echa.


“Hikss maafkan Mommy, Nak. Mommy ingin di sini bersamamu, tapi Daddy membutuhkan Mommy dan juga Dede bay,” kata Aeri segukan. Dia akan meninggalkan putrinya di sini. Seorang diri.


“Maafkan Echa Mommy. Echa senang selama ini di sini bersama Mommy. Menjaga Dede bayi dan aku mencinta Daddy hiks,” ujar Echa menangis membuat Aeri semakin mendekapnya.


“Kenapa Echa tidak mau pulang, Nak?” tanya Aeri sedih. Dia sudah menangis hingga tubuhnya bergetar hebat.


“Hikss dunia Echa tidak lagi sama, Mommy. Hikss Echa akan membuat semua orang sedih. Hikss Echa lebih baik tidak kembali, hikss Echa—Echa akan membuat Mommy dan Daddy bersedih terus. Hiksss Echa—Echaa hiksss---“ Aeri mengecup bibir Echa. Dia melihat putrinya bahkan kesulitan bernapas akibat perkataan menyesakkan yang ingin Echa sampaikan. Tubuh Echa dan Aeri sama-sama bergetar dan di sana jiwa Aeri yang terbaring mengejang-ngejang membuat dokter mengambil tindakan cepat.


“Apa yang kau lakukan?!” teriak seorang pria membuat Aeri diam.


“Jungkook biarkan istrimu sekarang dioperasi!” bentak Baek.


“AKU TIDAK RELA ANAKKU KALIAN AMBIL HIKSSSS! JANGAN SENTUH ANAK DAN ISTRIKU HIKSSS!” Jungkook meronta-ronta. Bahkan Jhope ikut menahan Jungkook. Jungkook jatuh dan berimbah di lantai. Dia menepuk dadanya keras berharap kosongnya hati menghilang.


“KALIAN AKAN KUBUNUH! HIKSSSS JANGAN AMBIL MEREKA! AERI SAYANG BANGUNG HIKSSS MEREKA MAU MENGAMBIL ANAK KITA!” teriak Jungkook menggema membuat orang tak kuasa memandangnya.


Helsi  membekap mulutnya dan Hana memeluk ibunya. Ia juga terisak, Jungkook terlihat hancur. Bahkan Dokter yang menangani Aeri terisak, perawat ikut menangis dalam diam.


“AERI HIKSSSS BANGUNG SAYANG HIKSSS PELUK AKU, CIUM AKU DAN KATAKAN KAMU KUAT HIKSSSS!” jungkook meraung sedih. Kekasih hatinya, belahan jiwanya kini melemah. Anak yang ia nantikan dan baru tahu keberadaanya belum genap sejam sudah mau diambil.


Aeri yang mendengarnya semakin terisak membuat tubuhnya semakin mengejang-ngejang. Echa memandang Aeri lembut. Mencoba mengingat dengan baik wajah wanita yang tulus mencintainya. Dia memeluk erat Aeri dan mencium seluruh wajah Aeri. Terakhir dia menunduk mencium perut Aeri.


Perawat yang sedang berbalik terkejut.”Aigoo, omo ... omo ... Dokter! Pasien sadar!” teriaknya terkejut.


Semua orang dalam ruangan itu terkejut. Mereka menangis haru dan Dokter segera keluar. Dia menatap keluarga Jungkook dengan derain air mata membuat keluarga Jungkook menatapnya khawatir.


“Pasien sadar,” ujarnya senang.


Jungkook menatap Dokter itu dengan pandangan tidak percaya. Melihat anggukan Dokter itu membuat tubuhnya lemas karena bahagia. Dia duduk di atas kursi besi panjang dan melafalkan doa untuk istri dan anaknya.


Aeri kembali dipindahkan du ruang inap. Dia terlelap kembali setelah diberikan obat. Jungkook duduk di dekat bangkar Aeri. Wajahnya terus memandang wajah istrinya.


“Terimakasih telah kembali, Sayang.” Jungkook mengecup tangan Aeri.


.


.


Tempat lain.


Sebuah musik masih berdetum hebat. Wanita yang memakai sebuah dres hitam ketat membentuk keluk tubuhnya tengah melikukkan tubuhnya mengikuti irama musik.

__ADS_1


“Wowwwww, party guysss!” teriaknya sambil menyesap minumannya.


“Ahin!” teriak seorang laki-laki dan menyambar bibir merah Ahin. Ahin membalasnya tak kalah liar.


“Bagaimana dengan urusanmu?” tanya pria itu.


Ahin menarik pria itu pergi ke sebuah kamar. Mereka duduk dan Ahin menatapnya dengan wajah bahagia.


“Rencanaku berjalan, tapi sialnya mereka tidak mati. Namun cukup sekarat,” ujar Ahin kesal.


“Hahaha baby harusnya kamu tetap bahagia,” ujar pria itu.


“Aku ingin kamu membantuku. Aku dengar Echa sangat kritis dan aku ingin dia mati.”


“Itu urusan gampang. Kapan kamu ingin menjalankan rencanamu?”


“Hahaha aku sudah memikirkannya. Kabar Jhope dan Hana tersebar luas, mereka akan menikah.”


Pria di depan Ahin tersenyum licik. Dia mengerling kepada Ahin, tahu akal bulus Ahin. Wanita di depannya memang sangat cerdik dan licik.


“Bagaimana dengan Jimin?”


“Pria itu terkecoh,” ujar Ahin tersenyum remeh.


“Ahin aku bisa membantumu membunuh Jimin,” ujar pria itu.


“HAJIMA SEUNGRI!” teriak Ahin membuat Seungri terkejut. Dia menatap memicing ke arah Ahin.


“Hufgghh jangan menyentuhnya. Kamu boleh membunuh Jhope atau tuan Hesoek tetapi jangan bunuh Yuna dan Jimin.”


“Wae?”


“Lakukan saja printahku!” bentak Ahin.


Ahin menatap gelas di depannya dengan pandangan tidak terbaca.


“Kirimlah seseorang ke rumah sakit untuk membunuh Echa dan Aeri.”


“Ck, mereka memberikan keamanan tinggi di sana. Ruangan mereka selalu dijaga bodyguard.”


“Apa kau bodoh?! He! Mereka semua itu hanya tikus kecil yang butuh umpan,” ujar Ahin. Seungri tersenyum mengetahui isi otak Ahin lagi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2