
Saat ini Hana menatap laki-laki di hadapannya dengan tajam. Urat lehernya menonjol menahan marah. Dia masih diam sambil melihat raut wajah brengsek di hadapannya.
"Apa maumu?" tanya Hana to the point.
"Tinggalkan Jhope dan jadilah pacarku."
Hana tertawa remeh, menjadi pacarnya? Jangan harap. Dia masih bersikap tenang, darah Jung mengalir keras pada watak kedua anaknya. Sikap tenang Hana didapat dari sang Ayah. Ucapan sinisnya didapat dari sang Ibu.
"Kau pikir aku sudi denganmu? Cih, bahkan aku baru tahu kau sekeji ini," decak Hana.
"Aku begini karena kamu Hana. Aku mencintaimu," ujarnya penuh penekanan.
"Terobsesi, oeh?" ujar Hana meremehkannya.
"Aku mencintaimu, ini bukan obsesi," ketusnya.
Pria itu berjalan mendekat ke arah Hana. Dia duduk di sudut meja tempat Hana menaikkan kakiknya menyilang. Betapa angkuh dan bossynya Hana saat ini. Dia duduk santai di kursi putar itu.
"Aku sudah berpcaran dengan Jhope dan kau tahu alasanku tidak bisa meninggalkannya," ujar Hana mencoba bersabar.
"Jika Jhope tahu rahasiamu, hanya ada dua kemungkinan," ujarnya mengantung membuat Hana menatapnya penuh."Dia mati atau dia meninggalkanmu," lanjutnya dan tertawa lucu. Seolah perkataannya adalah lelucon yang pantas ditertawakan.
"Itu tidak akan pernah terjadi," ujar Hana santai.
Emosi laki-laki itu terpancing. Dia menyisir rambutnya ke belakang. Dia sebenarnya laki-laki tampan dan berkharisma. Dia bahkan pria berdompet tebal, kekayaannya adalah nomor dua setelah Jung.
"Jika kamu ingin melihatnya mati maka tetaplah bersamanya. Aku sudah bernegosasi denganmu. Aku jamin rahasiamu aman, tetapi ... jika kamu tetap memilihnya. Nyawanya akan terenggut suatu hari."
Hana mengepalkan tangannya kuat. Dia berdiri dan mengambil tasnya. Tersenyum sinis dan membuka bibir manisnya,"Peranmu di 'School of Seoul' memang cocok. Kamu benar-benar nyata."
Hana meninggalkan Jimin dengan wajah marah. Dia sedikit terusik dengan ucapan Jimin. Dia tidak akan sanggup kehilangan Jhope. Hana akan mencari cara agar rahasianya aman. Ini belum saatnya Jhope tahu mengenai dirinya.
Hana akan menjemput Echa karena Jungkook dan Aeri sibuk dengan persiapan pernikahannya. Merogoh benda pipih dan mendial nomor kekasihnya.
"Halo, aku ingin ke kantormu bersama Echa," ujar Hana.
" ...."
"Ok."
Tutttt. Hana ke garasi dan mengeluarkan mobilnya meninggalkan perusahaan Jimin. Hana memang curiga sejak Jimin terjung pada dunia perfileman seperti dirinya. Baginya Jhope dan Jimin sama-sama gila. Bibirnya berkedut saat baru saja sadar menatai kekasihnya sendiri.
Sesampainya di sekolah dia melihat Echa berlari ke arahnya. Hana langsung mengendong Echa dan mencium pipi keponakannya bertubi-tubi. Echa terkikik geli dan mencium Hana juga.
"Kita ke kantor uncel Je," ujar Hana.
"Echa mau ketemu Mommy,'' lirih Echa.
__ADS_1
Memang Echa dan Aeri jarang bersama sekarang karena urusan pernikahannya membuat keduanya sama-sama menahan rindu. Hana tersenyum lembut karena dia mengerti keinginan Echa.
"Kita ke kantor uncel Je, nanti Aunty dan Uncel antar Echa ketemu Mommy," ujar Hana membuat Echa mengangguk bersemangat.
"Echa mau makan sesuatu, Sayang?" tanya Hana.
"Echa mau es klim," pinta Echa sambil menunjuk penjual es krim. Hana mengangguk dan mereka ke sana membeli es krim. Lalu ke kantor Jhope.
***
Jhope melihat pergelangan tangannya gusar. Sebentar lagi Hana datang, dan dia sedang melakukan sesuatu di laptopnya. Saat pintu terbuka, Jhope tersentak kaget. Bahkan dia menutup kasar laptopnya membuat Hana menatapnya curiga.
"Heheh kalian sudah datang," ujar Jhope sambil tertawa paksa. Kini tawanya bahkan sangat bodoh menurut Hana.
"Kamu bisa melihatnya sendiri. Kami sudah berdiri di hadapanmu," ujar Hana datar.
"Ah te-tentu. Ayo kita ke sofa, aku sudah memesan makanan."
"Baiklah. Ayo Echa kita ke sana."
Echa mengandeng tangan Hana. Mereka sudah duduk di sana sampai ada yang mengatantarkan pesanan Jhope. Hana dan Jhope sama-sama diam menikmati makanan. Hanya Echa yang berceloteh jika ada anak baru di kelasnya begitu nakal dan cengeng.
"Aunty, teman Echa nakal," ujar Echa.
"Nakal kenapa, Princes?"
"Dia terlussss minta pulang," rutuk Echa dengan bibir kecilnya. Bisa kalian bayangkan anak seusianya merutuk seperti orang dewasa, ahaha.
"Ibu gurunya ke mana, Princes?" tanya Hana.
"Ibu gulu ada, dia mengendongnya tetapi dia telusss menangis. Dia cowok cengeng," kata Echa mengebu-ngebu. Jhope dan Hana melonggo takjub, wow ini benar-benar anaknya Jungkook, ahaha.
"Hahaha, Echa tidak cengeng 'kan, Princes?" tanya Jhope menahan geli.
"Tidak Uncel Je. Echa baik dan menulut."
"Pinter princes," puji Jhope.
Hana menatap seduh pada Jhope dan Echa. Jika seandainya ... ah sudahlah. Dia ikut mengobrol dengan Echa. Sampai Hana dan jhope dibuat syok oleh perkataan Echa.
"Sewaktu pulang, dia dan Echa menunggu. Dia masih nangis Aunty, Echa menepuk-nepuk pantatnya dan mencium bibilnya. Dia teltidul di dalam kelas," ujar Echa dengan suara cedelnya.
"Aigooooyaaaaaa!" teriak Hana. Jhope tertawa keras melihat kepolosan putri Jungkook.
"Listen Princes, jangan cium-cium sebarangan, ok? Dan jangan pegang pantat orang, Arasso?" tanya hana masih syok.
"Alasso Aunty Han," ujarnya patuh.
__ADS_1
"Bagimana dengan anak di kelas itu?" tanya Hana.
"Aku akan menelepon seseorang untuk memastikan," ujar Jhope dan mengetik sesuatu di ponselnya.
Hana melihat pipi Echa mengembul karena penuh makanan. Dia ikut memakan makanannya kembali. Sampai perut mereka kenyang dan Hana memutuskan untuk pergi bersama Jhope. Mereka akan menghampiri Jungkook dan Aeri.
"Ayo, princes ... kita ke Daddy dan mommymu," ujar Hana membuat Echa melompat-lompat kecil. Tas punggungnya ikut melompat-lompat. Hana tersenyum gemas.
"Berdoalah, semoga Jungkook dan Aeri tidak melakukan sesuatu karena kita akan dianggap mengacaukannya lagi, hahaha," kata Jhope dan hana ikut tertawa. Aeri dan Jungkook sering ke dapatan berciuman.
Hana dan Jhope mulai meninggalkan kantor. Mereka menadapat share location oleh Aeri. Ternyata kedua pasangan itu berada di restoran. Hana dan Jhope segera ke sana. Echa sudah terlelap di dalam pelukan Hana.
Mereka tiba di sana dan mata Hana terbelak. Dia menarik Jhope bersembunyi di dinding. Jhope hendak membuka suara tetapi Hana memberi isyarat untuk bukam. Saat seseorang yang dilihatnya melewatinya begitu saja, Hana dan Jhope sengaja berbalik.
"Dia-Kembali," bisik Jhope. Hana mengangguk dan menarik tangan Jhope untuk pergi dari sana.
Aeri yang melihat kedatangan Hana dengan Echa yang tertidur dalam gendongnya menghampiri. Dia meirndukan Echa dan menidurkannya di kamar. Mereka berada di hotel restoran.
Jungkook berjalan mendekat ke kasur. Dia perlahan naik ke sana dan kini tubuh Echa berada di tengah-tengah Jungkook dan Aeri.
"Oppa, Echa belajar baik denganmu," kata Hana judes.
"Mwo?" tanya Jungkook.
"Dia mencium teman sekelasnya saat menangis," ketus Hana.
Aeri dan Jungkook malah terkekeh kecil karena takut Aei bangun.
"Anakku sangat manis," ujar Jungkook.
"Ck kau bukan Young Daddy tapi bstrad Daddy. Echa jadi mesum karenamu," ujar Hana kesal.
"You Young Daddy," ujar Aeri sambil memegan tangan Jungkook yag berada di atas perut Echa. Jungkook tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Aeri.
"Ekhm, tidakkah kalian melihat keberadaan kami?" tanya Jhope.
"Aku akan berpura-pura tidak melihat kalian untuk mencicipi bibir manis calon istriku," ujar Jungkook dengan seringainya. Aeri memerah malu mendengar perkataan Jungkook. Jungkook dengan cepat mengecup bibir Aeri.
"Duda mesum," lirih Aeri membuat Jungkook tertawa. Echa menggeliat pelan dan melihat Jungkook dan Aeri.
"Mommy ... Daddy ... Miss you," ujarnya.
"Miss you to my princes," ucap Jungkook dan Aeri.
Hana dan Jhope tersenyum hangat menyaksikan pemandangan di hadapannya. Jhope memeluk erat Hana."Kapan kita seperti mereka, menghadirkan seorang anak di tenga-tengah kita," ujar Jhope.
Tubuh Hana menengan. Dia hanya mengusap lembut tangan Jhope yang mengalung sempurna di perutnya. Hana merasa hatinya sesak, andai saja ... kini semua hanya mampu ia andaikan. Dia tidak menyalahkan Jhope, ini takdir mereka. Seandainya Jhope tidak kecalakaan dan melupakan bagian memori itu, mungkin mereka akan bahagia.
__ADS_1
Hana tidak bisa menjawabnya. Ada sesuatu yang ia persiapkan dan dia tidak tahu bagaimana nasibnya dengan Jhope. Hana tahu jika hari itu tiba dia akan menorehkan luka dalam pada Jhope. Dia tidak ingin namun, Hana tidak sanggup kehilangan. Dia akan menahan Jhope di sisinya meski Jhope akan terluka. Biarkan Hana egois, saat Jhop merancang impiannya untuk membangung keluarga bahagia. Hana mungkin menyipakan rencana keluarga kecil tidak tersentuh penuh penderitaan. Hana juga ingin bahagia, tetapi Hana lebih memilih Jhope menderita daripada merenggut nyawa. Rahasianya biarlah membunuhnya perlahan, sampai semua orang tahu jika saanya dia sudah tidak mampu lagi.
TBC