
Author back ...
SIDER GO! NO TO READ MY STORY!
.
.
.
~Aku hanya perlu kamu terus di sisiku untuk melalui kenyataan pahit ini
Saat embun membasahi kalbu
Kicauan burung mulai terdengar
Keajaiban itu datang
Aku ingin bertanya pada sang pemilik dunia
Kemana separuh hatiku?
Kembalikan jiwa yang tengah aku rindukan
Sungguh ... dia adalah separuh napasku
Tatapan mata teduh itu terus menatap pria yang menyuapinya. Dia menguyah pelan dan memerhatikan lekat wajah yang kini tidak ingin beranjak sedetikpun dari ingatannya. Luar biasanya sebuah cinta yang Tuhan anugrahkan padanya. Menjadi kekasih hati pria itu bukanlah menjandi khayalnya, namun setiap kepahitan yang ia lalui kini Tuhan memberinya hadia yang tidak ternilai.
“Apakah kamu merasakan sesuatu?” tanya Jungkook.
Aeri tersenyum dan menggeleng pelan. Jungkook menghangat melohat senyum yang begitu ia rindukan. Hampir setengah tahun senyum itu tidak ia lihat.
“Jungkook, bagaimana keadaan, Echa?” tanya Aeri sedih. Dia ingat kecelakaan yang ia alami. Matanya memanas saat ia tidak tahu kondisi putrinya. Jungkook menggengam tangannya.
“Pikirkan dulu kondisimu, aku mohon. Kandunganmu sedang lemah dan tidak boleh stres,” ucap Jungkook. Aeri mengangguk meski pikirannya menolak mengiyakan. Ia terus berpikir tentang Echa. Semua orang hanya mengatakan jika Echa masih dirawat di rumah sakit.
“Sekarang tanggal berapa?” tanya Aeri.
“tanggal empat bulan enam,” jawab Jungkook.
Aeri diam dan berhenti mengunyah. Dia tidak salah dengar ‘kan? Dia masih mengingat jika dia memeriksa kandungannya pada bulan february. Lalu apa ini? Bulan enam? Dia menatap Jungkook kaku.
“Ya, kamu koma selama lima bulan,” ujar Jungkook.
Aeri melihat mata Jungkook penuh luka dan kesedihan. Dia mengenggam tangan Jungkook. Begitu banyak ia lewati dan bahkan dia baru menyadari jika perutnya sudah besar. Aeri bersyukur jika kandungannya masih bertahan.
“Mom tahu sayang, kamu pasti bertahan,” ujar Aeri dalam hati.
Aeri akan menghibur Jungkook. Dia tidak ingin suaminya merasa bersedih terus-menerus. Dia akan membawa tawa itu kembali. Melukis pelangi di mata Jungkook. Menganti duka itu menjadi sebuah cita.
“Sayang,” panggil Aeri dengan pipi merona. Dia masih malu-malu memanggil Jungkook dengan sebutan mesra. Jungkook terkekeh pelan mendengar panggilan Aeri dengan wajah merona merah di pipinya.
“Iya, Sayang? Kenapa wajahmu memerah sekali, eoh?” tanya Jungkook menggoda Aeri.
Aeri mengerucutkan bibirnya kesal. Dia malu dan Jungkook menggodanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jungkook tidak dapat menahan tawanya. Dia tertawa dan memeluk Aeri. Hatinya berdesir saat melihat belahan jiwanya kini bersamanya.
Cup.
Jungkook mencium bibir Aeri dan melumatnya hingga suara menghentikan kegiatan mereka. Jungkook tersenyum tipis sementara Aeri menunduk malu. Dokter mengegoti mereka dan itu memalukan. Dokter wanita itu hanya tersenyum tipis sambil berjala anggung ke arah Aeri.
__ADS_1
“Bagaimana perasaan Anda Miss.Jung?” tanya Dokter.
“Baik, Dok. Saya hanya merasa sedikit pusing dan makanan yang saya makan terasa hambar dan pahit,” jelas Aeri.
“Mmm, lalu bagimana dengan kandungan Anda? Apakah ada keluhan?” tanya Dokter mulai memeriksa Aeri.
“Hanya saya merasa susah tidur, Dok,” kata Aeri sambil mengusap perutnya. Dia bersandar di kepala bangkarnya.
“Itu hal wajar dialami ibu hamil. Jika tidur usahakan dalam posisi miring,” saran Dokter.
Aeri mengangguk dan Jungkook menimpali membuatnya ingin membawa suaminya pergi,”Dia selalu miring saat tidur, Dok. Dia memelukku erat tadi malam.”
Dokter wanita itu terkekeh hingga memperlihatkan lesung pipinya. Kedua pasangan di depannya membuat dia iri. Namun, dia bahagia melihat keluarga Jungkook kembali bahagia.
“Jangan sampai telat makan dan saya sudah memberikan obat yang bisa meredakan rasa pusingnya,” ujar Dokter.
“Dokter, apakah bisa melakukan USG?” tanya Jungkook.
“Tentu boleh.”
“Dokter ... Anak saya baik-baik saja ‘kan? Selama ini dia tidak makan apa-apa,” tanya Aeri saat mengetahui dia koma selama lima bulan. Itu membuatnya khawatir.
Dokter itu diam dan tersenyum manis,”Selama saya menjadi Dokter, saya belum pernah menemukan kasus ini. Kandungan Anda sangat lemah, tetapi sepertinya anak Anda bertahan untuk tetap tinggal.”
Aeri menatap haru perutnya. Dia juga sangat menyayangi anaknya dan akan bertahan sekuatnya. Jungkook membelai perut Aeri.
“Jangan terlalu banyak pikiran, Mrs. Jung,” ujar Dokter itu.
Aeri mengangguk,”Siapa namamu, Dok?”
Dokter itu terkejut lalu tersenyum kembali,”Faizia Abimayu.”
“Ka-kamu orang Asia Tenggara?” tanya Aeri terkejut.
Aeri tersenyum hangat,”Panggil aku Aeri saja.”
“Baiklah Aeri. Kalau begitu saya permisi.”
Aeri menatap kepergian Zia dengan bibir mengambang. Jungkook membuat istrinya terheran-heran.
“Kenapa dengan Dokter itu?” tanya Jungkook.
“Dia Dokter yang baik,” guman Aeri yang didengar Jungkook.
“Aku hampir membunuhnya,” ujar Jungkook membuat Aeri menatapnyaterkejut.
“APA?!”
“Dia hampir mengambil anak kita,” ujar Jungkook kesal. Aeri tersenyum hangat. Dia mengerti dan tahu perasaan suaminya. Dia sudah mendengar cerita itu dari mertuanya.
“Sayang, kita tidak akan kehilangan anak kita,” ujar Aeri senduh. Jungkook megangguk dan batinnya perih saat mengingat Echa.”Lalu apa kita akan tetap bersama anak kita atau kehilangan Echa?” bantin Jungkook.
***
Seorang wanita dan laki-laki memasuki butik dengan wajah bahagia. Merak memasuki Rose butik, salah satu butik terkenal di Seoul. Wajahnya sampai berseri-seri membuat orang mengetahui jika mereka pasangan yang tengah berbahagia.
“Eh! Kamu datang bersama siapa Jhope?” tanya tante Rose.
“Kenalkan tante, ini calon istriku,” ujar Jhope.
__ADS_1
“Wah, tante sangat bahagia mendengarnya. Siapa namamu cantik?” tanya tante Rose.
“Jung Hana,” ujar Hana membuat tante Rose terkejut. Dia tahu kabar kedekatan Jhope dan Hana, awalnya dia tidak terlalu suka ikut menonton gosip-gosip di Tv. Namun dia pernah mendengar Hana adalah lawan main Jhope di drakor yang naik daun. Dia tidak menyangka jika Hana yang dimaksud adalah Hana dari putri seorang Millyader.
“Panggil aku tante Rose, cantik.”
“Baiklah, Tante.”
“Tante, kamu mengetahui kedatanganku kan? Ini rekomen dari Bunda,” ujar Jhope.
“Tentu, Yuna sudah mengatakannya dan tante menyiapkan banyak gaun untuk calon istrimu ini,” ucap tante Rose sambil menggoda kedua calon pengaantin di depannya.
“Bisakah tunjukkan gaunnya tante,” kata Jhope.
“tentu ... Cerli! Bawa Hana dan tunjukkan gaunnya.”
Hana mengikuti gadis di depannya. Dia mulai memilih gaun yang akan ia kenanakan. Hana tersenyum melihat betapa cantik-cantiknya gaun di depannya. Pilihannya jatuh pada gaun putih yang memiliki potongan dada rendah. Di area pingangganya terdapat mutiara yang mengelilinginya. Hana mulai memakainya dan berjalan keluar.
Tante Rose dan Jhope berhenti mengobrol saat melihat Hana. Jhope terpanah melihat kecantikan Hana dan Hana tersenyum bahagia saat Jhope menatapnya tidak berkedip. Dia merubah tatapannya menjadi datar membuat Hana menatapnya dengan kening mengerut.
“Wae?” tanya Hana.
“Kamu terlalu cantik dengan gaun itu dan aku tidak suka,” kata Jhope datar.
“Mwo? Bukannya pengantin memang harus tampil cantik?” tanya Hana kesal.
“Lihat potongan dadanya sangat rendah. Aku tidak mau orang lain melihat kecantikan tubuhmu,” ujar Jhope kesal. Dia sudah mengelilingi tubuh Hana. Dia terbela melihat belakang punggung Hana terkespos sekali.
“Tante, kamu membuat gaun apa ini?” decak Jhope kembali memperotes. Hana mengehentakkan kaki kesal. Dia menatap tajam Jhope. Tante Rose menggelengkan kepala melihat pasangan di depannya.
“Ganti.” Hana menatap kesal Jhope tapi dia menurut. Bibirnya menggerutu kesal membuat Jhope tersenyum.
“Kamu membuatnya kesal anak mudah,” kata tante Rose.
.
.
.
Di perjalanan pulang Hana selalu menatap keluar jendela. Dia sangat kesal, bukan kesal bagaimana. Pilihan gaun setelah tujuh kali bolak-balik akhirnya dia memlih gaun yang tetap cantik. Tidak mengekspos tubunya, cukup tertutup namun tetap elegan.
Jhope melirik sebentar Hana dan mengembuskan napas. Dia tahu Hana merajuk dan kesal kepadanya. Demi Tuhan dia tidak rela tubuh istrinya dinikmati oleh pria lain. Meski memandangnya sedetikpun Jhope tidak rela. Anggapalah dia posesif, apa boleh buat. Dia tidak mau berbagi.
Tangannya terulur mengenggam tangan Hana, namun Hana menepisnya hingga tangan Jhope hanya berada di atas paha Hana. Jhope menepikan mobilnya.
“Hana,” panggil Jhope.
Hana enggan menoleh, dan Jhope memajukan tubuhnya. Memaksa sedikit agar Hana menoleh kepadanya. Melihat tatapan kesal Hana bukannya takut dia malah tertawa. Hana mendengus keras mendengar tawa Jhope.
“Sayang ... aku tidak mau tubuh kamu dinikmati pria lain. Aku tidak mau berbagi keindahan itu, aku hanya ingin menikmatinya seorang diri,” ujar Jhope.
“Tapi kan, aku juga mau tampil cantik dipernihakan kita.” Tatapan Hana melunak.
“Kamu cantik dengan pakaian apapun. Aku gak masalah kalau kamu mau pake pakaian kurang bahan tetapi hanya di hadapan aku dan aku akan sangat bersyukur jika kamu mengenaka pakaian seminim mungki atau bahkan gak pake sehelai benang pun tetapi itu semua di depanku, aku gak akan memberi izin jika kamu melakukannya di hadapan pria lain,” ujar Jhope panjang lebar.
Hana tersentuh mendnegar kata-kata Jhope. Aishhh sejak kapan pria petekilannya bisa seromantis ini? Hana merasa melayang-layang. Dia memeluk erat Jhope dan membuat Jhope membalas pelukannya.
“Sekarang kita makan dulu,” kata Jhope dan Hana menarik dirinya.
__ADS_1
“Aku mau makan makanan Jepang,” ujar Hana memelas membuat Jhope mengacak rambutnya dan mengangguk. Hana memekik kegirangan. Jhope kembali melanjutkan perjalanannya.
TBC