
Di dalam ruangan serba putih pria itu masih terlelap. Dia seolah betah ditidur panjangnya. Di sampingnya seorang wanita terlelap sambil mengenggam tangannya erat. Seolah takut jika dia pergi.
Pintu berdecit pelan, hingga menamapakkan seorang laki-laki bersama seorang wanita dan anak kecil di dalam gendongannya. Dia masuk ke dalam pelan-pelan.
"Hana tertidur," ujar Aeri.
"Biarkan dulu, kita duduk di sofa," kata Jungkook.
Jhope sudah dipindahkan di ruang rawap inap VVIP. Tentu Jhope mendapat pelayanan terbaik rumah sakit ini milik Jimin. Jimin juga tidak pernah bosan mengunjungi Jhope.
"Uncel Je!" teriak Echa membuat Hana keget. Jungkook dan Aeri sama kagetnya. Echa malah tertawa keras seolah melihat ekspresi kaget orang-orang di sekitanya lucu. Dia handak kembali berteriak tapi Jungkook menjepit pelan pipi Echa sampai mulut Echa seperti bibir ikan.
"Dhdhadhdy," racaunya tidak jelas.
"Sayang, lepasin. Kamu menyakitinya," tegur Aeri mengambil Echa. Dia mengusap pipi Echa pelan dan Jungkook menahan senyumnya. Hana menatap mereka diam.
Aeri menyadari tatapan Hana, dia menoleh tidak enka."Maafkan Echa," ujarnya tidak enak.
"Tidak apa-apa." Hana tersenyum lirih.
Aeri berjalan ke arah Hana dan memeluk sahabatnya. Dia memberi kekuatan kepada Hana lewat sebuah pelukan. Hana membalas pelukan Aeri. Echa menarik-narik celana Aeri.
"Mommy, Echa au naik," katanya.
"Tidak boleh, Nak. Uncel Je sakit," larang Aeri. Mata Echa berkaca-kaca siap menangis, tapi Hana mengangkat tubuh Echa dan mendudukkannya di tepi kasur Jhope.
"Jangan nakal, Nak," pesan Aeri dan dibalas anggukan Echa.
"Uncel Je," panggil Echa.
" ...." Jhope tetap diam. Semua orang diam melihat Echa.
"Uncel Je, angun," ujarnya pelan sambil mengenggam jempol Jhope.
"Aunty Han, Echa au cium uncel je," ujarnya polos. Dia mengira jika Jhope tertidur dan harus membangunkannya seperti Jungkook. Dia akan memberikan Jungkook ciuman bertubi-tubi sampai Jungkook bangun.
"Pipinya, Sayang. Itu gak boleh di buka," ujar Hana sambil menunjuk selang oksigen Jhope.
Echa mengangguk dan memajukan wajahnya dibantu Hana. Dia mencium pipi Jhope dan bibir mugilnya membisik nakal pada Jhope. Takut jika Aeri mendengarnya.
"Uncel je, Echa datang, Echa au main kuda-kuda," ujarnya pelan.
Mereka tidak menyadari jika sudut mata Jhope berair. Tidak terasa kini pipi Jhope basah akan air mata. Tangannya bergerak pelan, Jungkook yang melihatnya berseru kaget.
"Tangan Jhope bergerak," serunya.
Hana menarik Echa dan melihat tangan Jhope masih bergerak. Dia tidak dapat menahan air mata bahagianya. Segera dia memencet tombol dekat kasur Jhope. Dokter datang dan mengatakan jika Jhope baru saja melewati masa kritisnya.
Hana mengenggam kembali tangan Jhope. Berharap jhope membuka matanya kali ini. Dia menangis saat keinginannya tidak tercapai. Aeri dan Jungkook membawa Echa keluar. Dia melihat Echa juga mengantuk.
"Tante, Om ... Jungkook pamit pulang dulu," kata Jungkook saat melihat orang tua Jhope diluar.
"Iya, Nak."
"Kami pulang Tante, On," pamit Aeri juga.
Mereka mengangguk dan Jungkook sempat menepuk bahu Jimin,"Aku pulang, Bro."
Jimin mengangguk dan tersenyum tipis. Echa kini terlelap dalam pelukan Jungkook.
***
Hana kembali menangis, gadis ini tidak merawat dirinya. Bahkan tidak mau beranjak di sana sedetikpun. Jika tidak diancam jika Hana tidak boleh menjaga Jhope gadis itu bahkan akan meonal makan.
__ADS_1
Hana masih setia menangis, orang tua Jhope menatap kedua pasanagn di dalam dengan hati teriris. Mereka tidak mau menganggu Hana. Membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.
Hana naik di atas kasur Jhope yang memang luas. Dia meringkuk dan membawa tangan Jhope ke pipinya. Bahkan dia tidak peduli jika air matanya harus habis. Dia menyalahkan dirinya.
"Hiks ...." Hana merasa dia tidak berarti jika Jhope tidak ada. Dia kekurangan gizi sekarang. Apapun yang ia tekan akan dimuntahkan kembali.
"Hiks ...." Tawa Jhope melintas di benak Hana. Dia semakin mengigit bibirnya dalam. Betapa kasarnya dia menolak Jhope selama ini. Dia hanya salah paham atas ketidak datangnya Jhope terhadap janjinya.
.
.
"Untuk apa kamu ke sini?! Dasar pria petekilan!" ujar Hana ketus.
"Hana-ah, kenapa kamu marah?" tanya Jhope sendu.
"Ck, jangan menemuiku lagi! Pergi kau, mati saja kau brengsek! Aku tidak sudi melihat wajahmu!" teriak Hana di depan wajah Jhope.
Hana melihat wajah Jhope begitu terluka akan perkataannya. Pria itu bahkan tersenyum padanya."Aku mencintaimu dan itu tidak akan berubah, kapanpun. Kamu boleh menolakku tapi tolong jangan memintaku berhenti mencintaimu," lirih Jhope sebelum pergi.
.
"Hikssss ahhh hiksss," isak Hana dengan dada terasa sesak saat potongan kenangan itu teringat di kepalanya. Hidungnya sudah sesak karena ingusnya tapi Hana terus menangis.
Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang kian sesak karena isak tangisnya. Tubunya mengigil ketakutan. Dia tidak sanggup menahan sakit dalam dirinya.
Usapan lembut di pipi Hana tidak membuat wanita itu membuka mata. Dia tidak mau jika disuruh berhenti menangis. Dia sudah tidak mampu melakukan apapun kecuali menangis.
"Hiksss izinkan aku berdua saja dengannya hikss pergilah," ujar Hana.
Merasa usapan di pipinya terasa lambat dan lembut Hana membuka matanya dan melihat ke samping. Tidak ada orang dan-dia segera menoleh ke Jhope. Hana tidak dapat menahan isak tangisnya saat mata teduh itu menatapnya.
"Jhope hikss," lirih Hana.
"Hikss aku-aku mau memanggil Dokter," ujar Hana.
Jhope berusaha membuka mulutnya tetapi dia sangat sulit. Dia akhirnya memberi isyarat lewat mata pada Hana. Hana mencium kening Jhope dan memangis lagi.
Jhope berusaha mencapai pipi Hana. Setelah dicapainya dia mengusap air mata Hana. Bukan berhenti Hana malah semakin terisak keras.
"Jangan pergi hikss," ujar Hana.
Jhope memejamkan mata dan membukanya kembali. Hana memeluk erat tubuh Jhope. Dia sangat bahagia. Dia hanya diam menatap Jhope yang menatapnya diam. Mereka saling menatap satu sama lain. Menyalurkan rasa rindu yang tak mampu bibir ucapkan.
"Kamu mau minum?" tanya Hana.
Jhope menggerakkan kepalanya. Bibirnya terasa kering dan Hana hendak mengambil air tetapi pintu terbuka membuat keduanya menoleh. Jimin berdiri kaku di depan pintu. Dia degdegkan saat Jhope ikut menatapnya.
Dia melangkah masuk dan memasang wajah datarnya."Kapan dia sadar?" tanya Jimin.
"Barusan," ujar Hana. Dia menatap ragu pada Jimin dan Jimin menyadarinya."kenapa?" tanya Jimin.
"Boleh selang okseigennya dibuka? Jhope ingin minum," tanya Hana.
"Boleh," ujar Jimin. Dia gini-gini pernah ambil jurusan kedokteran tetapi sejak ayahnya meninggal dunia, dia mengambil alih perusahaan.
Hana meraih air dan Jimin membantu Jhope bangun. Dia membuka selang oksigen Jhope. Jhope minum hanya sedikit tapi cukup untuk membasahi bibirnya. Dia kembali berbaring.
"Apakah kamu merasa sesak saat selang oksigen ini lepas?" tanya Jimin.
"Tidak," lirih Jhope hampir tidak terdengar.
Jimin melepaskannya membuat Hana menatapnya khawatir. Jimin terkekeh pelan membuat Hana menatapnya memicing."Kamu tidak berniat membunuhnya 'kan?" tanya Hana penuh selidik membuat Jimin mendengus kesal.
__ADS_1
"Aku ini mantan Dokter," ujarnya sombong.
"Cih," decih Hana.
Jhope menatap hana penuh tanya soal Jimin. Hana merubah tatapannya menjadi lembut. Dia melirik Jimin atas pertanyaan Jhope.
"Khm, aku anak Bunda Yuna," ujar Jimin sedikit gugup membuat Jhope menatanya. Jhope menatap Jimin diam, membuat Hana waswas dan khawatir. Jimin mengumpat dalam hati mendapati kondisi seperti ini. Demi Tuhan dia memlih terjebak dengan bisnis dengan argumen kasar daripada melihat tatapan Jhope.
"K-kamu Adikku," lirih Jhope membuat dada Jimin berdesir. Sedari dulu Jimin terus sendiri karena dia memilih belajar dan belajar. Hingga usia mudah dia sudah meraih gelar Dokter mudah.
"Ya, aku Adikmu Hyung," ujar Jimin tersenyum tipis. Jhope ikut tersenyum membuat Hana menghela napas lega.
"Aku akan keluar, istirahatlah. Tubuhmu butuh istirahat," ujar Jimin dan pergi.
Hana mengalihkan tatapannya hingga pintu tertutup. Dia kembali menatap Jhope yang menatapnya diam."Aku merindukanmu," lirih Hana.
"Aku juga," ujar Jhope.
Hana menunduk dan mencium bibir Jhope. Ciuman mereka sangat slowly. Hingga Jhope dan Hana melepas ciuman mereka.
"Tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Hana sedikit salah tingkah. Dia melihat Jhope sedikit berbeda setelah sadar dari komanya. Pipi Hana memerah merona membuat Jhope tersenyum tipis.
"Peluklah aku dan aku akan terlelap," pinta Jhope. Hana mengangguk dan berbring di samping Jhope. Dia memeluk Jhope dan mengusap pelan bahu Jhope. Deting jarum jam menandankan malam semakin larut. Mereka terlelap dengan perasan bahagia.
***
Di tempat lain seorang wanita tersenyum remeh. Dia sudah menyiapkan rencana matang untuk menyingkirkan Echa dan Aeri. Sekarang dia akan bergerak untuk rencana awalnya.
"Tunggu kemalanganmu anak sialan," desis Ahin.
Dia menelepon seseorang dan suara disebarang sana terdengar.
"Cari tahu jadwal anak Jungkook dan laporkan padaku kapan anak itu meninggalkan rumah," perintahnya.
" ...."
"Ya dan berikan juga padaku jadwal Jungkook serta Aeri."
" ...."
"Tentu, gajimu akan dua kali lipat lebih besar."
" ...."
"Pastikan kau melakukannya saat Aeri dan Jungkook tidak ada."
" ...."
"Jika Aeri datang, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
" ...."
"Aku mau berita kematiannya sampai di telingaku."
Ahin menutup telepon dan tertawa keras. Dia sudah membayangkan nasib Aeri dan Echa. Merasa permaianannya akan seru membuat dia semakin gencar tertawa. Dia sudah buta bahwa dia ingin menyingkirkan darah danginnya sendiri.
"Jungkook, sebentar lagi kita akan bersama," ujarnya penuh hasrat.
Besok adalah penantian Ahin, dia menjalankannya saat merasa keluarga Jung sedang genting karena kenyataan anak Hana serta komanya Jhope. Dia tidak ingin mengurus soal Hana. Ahin tidak punya urusan dengan Hana.
"Jimin, jika laki-laki itu berani mengacaukan rencanaku. Aku pastikan Jhope merenggeng nyawa," desis Ahin. Dia mengirim mata-mata untuk memantau Jhope. Jika Jimin berulah maka dia segera menyuruh mata-matanya masuk ke dalam ruang inak Jhope dan membunuh pria itu. Bahkan jika ataupun orang lain di ruangan itu, mereka akn ikut mati.
Obesesi Ahin sangat tinggi terhadap Jungkook. Dia memiliki riwayat gangguan jiwa saat karirnya hancur. Dia menyalahkan Echa dan kenangannya saat Jungkook terus terlintas membuatnya terobsesi memiliki Jungkook.
__ADS_1
TBC