
💟Happy Reading💟
________________________________________
Sudah memasuki bulan september, kini kehamilan Aeri semakin membesar. Dia merasa purutnya sangat besar. Aeri merasa jika dalam kandungannya bukan hanya satu nyawa, tetapi di USG hanya menampilkan satu saja. Dia hanya USG lima bulan yang lalu, selebihnya hanya rutin cek up jika dia memiliki keluhan.
Saat ini usia Echa juga sudah menginjak delapan tahun. Dia benar-benar tumbuh menjadi gadis cantik. Bahkan wajahnya terpahat sempurna. Hanya satu, kecerewetannya kini lenyap. Dia menjadi gadis pendiam.
Seperti pagi ini, dia tetap berada di kamar meski sudah mandi. Echa hanya dituntun ke kamar mandi dan disiapkan air hangat selebihnya Echa menggunakan nalurinya sendiri.
Tatapannya tetap lurus ke depan. Jendelanya terbuka hingga angin masuk membelai wajah bak polesannya. Tidak ada senyum di wajah cantiknya. Ia kini seperti boneka barbienya, hanya dia mematung.
Aeri berdiri di dekat pintu Echa. Dia menatap Echa sedih. Aeri melangkahkan kaki meninggalkan Echa. Dia kembali ke kamarnya, meski Jungkook menyuruhnya agar menjauhi tangga.
Aeri merasa perutnya nyeri. Dia memegannya dan duduk di lantai.
"Akhhhhh!" ringgisnya. Dia merasa perutnya berkontraksi.
Aeri terbelak saat cairan putih keluar dari pahanya. Ia tahu ketubannya telah pecah. Aeri berteriak meminta tolong. Perutnya semakin berlontraksi.
"Akhhhh! Bibi tolong!" teriak Aeri.
Dia menahan sakit saat dia ingat Kamar Jungkook keadap suara. Aeri menyeret tubuhnya menggapai teleponnya.
Tutttt. Aeri sudah bercucuran keringat. Jungkook tidak mengangkat teleponnya. Dia menghubungi Hana dan Hana mengangkatnya.
"Halo, akhhh Hana-ya, ke rumahku sekarang akhhh ketubanku pecah," rintih Aeri membuat Hana kegagalapan memanggil suaminya.
"Jhope!" teriak Hana.
"Apa sayang?" tanya Jhope muncul dari dapur.
"Aeri ... Aeri ingin melahirkan. Dia di rumahnya," jawab Hana panik.
Jhope menyambar kunci mobilnya dan pergi bersama istrinya. Dia mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. Aeri sendiri semakin mengeram sakit.
Setibanya di rumah Aeri, Hana mengetuk pintu. Dia masuk ke dalam karena ternyata pintu tidak dikunci. Hana berlari ke kamar Aeri di bawah, tapi kosong. Akhirnya dia naik ke atas dan melihat Aeri sudah pucat.
"Aeri!" teriak Hana panik.
__ADS_1
Jhope menggedong Aeri. Sementara Hana menghubungi Jungkook dan keluarganya. Aeri di bawah ke rumah sakit Park Hostpital.
"Hufgggg aghhhhhhh!" Aeri terus mengejang saat perutnya terasa disayat-sayat. Perihnya tidak terkira. Sakitnya bukan main.
Aeri sudah terbaring di bangkar dan di dorong. Kini dia masuk ke ruangan dan Aeri meminta dilakukan persalinan normal.
"Hufghhhh akhhhhh!" Aeri berteriak sakit.
"Ok jalan lahirnya sudah terbuka," kata Zia sambil mempersiapkan diri.
Jungkook lari pontang-panting saat selesai meeting. Dia dan Aerum ke rumah sakit. Jungkook mengabaikan tatapan bertanya orang. Dia khawatir dengan istrinya.
"Apakah saya bisa masuk ke sana, Sus?" tanya Jungkook mengcekal tangan Suster yang membawa alat untuk kelahiran putranya.
"Tunggu, Pak. Saya harus bertanya dengan Dokter Zia dulu," kata Suster itu.
Selang beberapa menit, Jungkook diperbolehkan masuk untuk menemani Aeri. Dia menggenggam erat tangan istrinya.
"Hugggg aggghhhh! Huffffhhh ... Akhhhh!" teriak Aeri mengejang. Keringat disekujur tubuhnya menandakan perjuangannya melahirkan anaknya di dunia ini.
"ARGHHHHHHH!" Aeri mendorong keras hingga suara tangis bayi terdengar. Jungkook merasa sudut matanya memanas. Aeri tersenyum haru.
Zia terbelak saat Aeri kembali mengejang. Aeri kembali melahirkan dua putra yang sangat tampan. Dia melahirlkan tiga anak tampan.
Jungkook tidak bisa menahan tangis bahagianya. Dia memeluk erat Aeri dan mengecup kening istrinya.
"Terimakasih, Sayang," ucap Jungkook.
Aeri hanya tersenyum bahagia. Sudut matanya juga memanas. Dia menangis haru sampai tidur karena lelah.
"Saya harus membersihkannya. Nanti bisa dijenguk setelah dipindahkan di ruang inap," ujar Zia. Jungkook mengangguk dan keluar.
"Bagaimana?" tanya Helsi cemas.
"Anakku kembar tiga, Mom."
Mereka semua tersenyum bahagia. Hingga Aeri sudah dibersihkan dan dipindahkan di ruang inap. Dia masih tidur karena kelelahan.
Jungkook pergi ke ruang kaca melihat anaknya. Dia tersenyum bahagia menatap ketiga jagoannya.
__ADS_1
"Echa, kamu memiliki tiga adik laki-laki yang akan menjagamu, Nak," ujar Jungkook haru.
Dia kembali ke ruangan inap Aeri. Jungkook dan keluarganya mengobrol dengan raut bahagia, sampai Zia datang bersama perawat membawa anaknya.
"Mereka perlu asi," ujar Zia.
"Tapi Aeri masih belum sadar," ujar Jungkooo menatap istrinya.
"Dia sudah sadar tadi, Nak. Hanya tidur kembali," sela Helsi.
Jungkook terpaksa membangunkan Aeri. Dia menepuk pelan pipi Aeri sampai Aeri membuka mata. Dia menyerit bertanya sampai suara tangis bayi terdengar.
Dia mulai mengambil anaknya yang di sodorkan Zia. Aeri membuka kancing atas bajunya dibantu Jungkook dan meletekkan anaknya di atas dadanya.
Aeri tersenyum haru melihat anaknya yang menyusu keliatan menggemaskan. Dia menyusui anaknya secara bergilir. Tiga box bayi di kamarnya telah disediakan.
"Anak pertama, kedua dan ketiga yang mana, Zia?" tanya Aeri.
"Ini anak pertama kalian, ini yang kedua dan ini yang terakhir. Mereka beda lima menit."
Anak pertama Aeri dan Jungkook memakai selimut warna biru. Matanya berwarna coklat gelap. Alisnya tebal dan hidungnya mancung. Bibirnya mirip Jungkook. Wajahnya seperti duplicate Jungkook.
Anak keduanya sangat tampan juga. Dia gabungan dari wajah Aeri dan Jungkook. Sementara yang terakhir duplicate wajah Aeri. Bibirnya mirip Jungkook. Ah sepertinya ketiga anaknya menyerupai bibir Jungkook semua.
Mereka mulai mengobrol dan bercanda. Jungkook pamit pulang karena dia mau menemui Echa. Bibi sudah memberi kabar soal Echa dan anaknya tertidur pulas.
"Aku pulang dulu, Sayang. Kasihan Echa di rumah sendirian," ujar Jungkook
"Apakah Echa mau jika diajak ke sini?" tanya Aeri sedih.
Jungkook mengecup kening Aeri."Echa akan senang jika tahu dia memiliki tiga adik sekaligus. Aku akan membujuknya, jika dia tidak mau jangan bersedih, Sayang."
"Iya, sampaikan padanya jika aku merindukannya."
Jungkook mengangguk tanda ia mengerti. Dia tahu, anak-anak mereka tidak akan membuat kasih sayang Aeri pada Echa berubah. Dia tahu, Echa bagi Aeri sudah seperti anak kandung.
TBC
Untuk flashbacknya ada di part lain :) sabar menantikan flashbacknya. Yang penting kalian sudah tahu keadaan mereka :)
__ADS_1
See you next part :)