
Echa dan Aeri menunggu kedatangan Jungkook. Mereka sudah menyiapkan makanan. Aeri memutarkan kartun favorite Echa. Beberapa kali anak itu terkekeh geli. Aeri mengusap-usap kepala Echa.
"Mommy," panggil Echa.
"Iya, Nak?" jawab Aeri.
"Mommy teman Echa punya Adek," jawab Echa.
"Hm?" Aerim menyatukan alis. Kenapa tiba-tiba Echa membahas soal adek-adek.
"Pelut Mommynya besaaaal sekali. Kata Mommynya ada adek di dalam pelutnya," ujar Echa polos.
"Iya, Nak. Dedeknya masih di dalam perutnya, nanti dia keluar," ujar Aeri tersenyum.
Echa menatap perut Aeri dan Aeri ikut menatap perutnya. Aeri menringis dalam hati. Echa sangat polos dan sekarang jantungnya berdegup kencang. Bayangkan kalian anak perawan, lalu diperut kalian ditatap seolah di sana ada seorang bayi.
"Pelut Mommy kapan besal?" tanya Echa polos.
Mata Aeri terbelak kaget. Tangannya langsung dingin mendapat pertanyaan Echa. Mereka tidak sadar di belakang mereka seorang pria menyeringai mendengar pertanyaan Echa. Dia tiba-tiba menyahut membuat Aeri meneguk ludahnya kasar.
"Echa mau perut Mommy besar, Princes?" tanya Jungkook yang ikut duduk di samping Aeri.
Echa mengangguk antusias. Aeri ingin memukul Jungkook saat ini, tetapi pria itu malah menampilkan wajah mesumnya. Aeri rasa pipinya sudah merah matang. Aish kookienya membuat dia malu.
"Echa mau adek," pinta Echa kepada Jungkook. Bahkan dia sudah duduk di atas pangkuan Jungkook. Tangan kecilnya memgan dasi Jungkook. Mata bulatnya memelas menatap Jungkook.
"Tentu, Princes," kata Jungkook sambil tersenyum manis.
"Holeeeeee!" Echa bertepuk tangan membuat Aeri menunduk. Dia tidak bisa mengabulkan keinginan Echa. Jungkook berdiri dan mengakak tubuh Echa. Mereka berjalan ke kamar Jungkook. Echa berceloteh ria mengenai kegiatannya di sekolah dan di rumah bersama Aeri.
Aeri menatap punggung keduanya dengan tatapan lembut. Dia mengembuskan napas berat. Haruskah dia menerima Jungkook? Dia belum siap, dan belum pantas. Aeri ingin manghabiskan waktunya bersama Echa.
Aeri mengehela napas kesekian kalinya. Bahkan Aeri takut jika kehadirannya ditolak oleh keluarga besar Jungkook. Perlahan dia bangkit saat melihat Echa dan Jungkook turun dari tangga.
Mereka makan bersama, tetapi Jungkook menatap Aeri yang tidak berselera makan. Echa masih berceloteh dan dengan senang hati Jungkook meladeninya. Setelah makan Jungkook mengajak Echa bermain. Dia sudah membelikan Echa banyak boneka seperti perkataannya dulu.
Kini boneka Echa lengkap, membuat anak itu semakin senang. Dia bahkan aktif sekali sampai kelelahan. Echa berdiri dan merebahkan badan kecilnya di dada bidang Jungkook. Jungkook meluruskan kakinya satu dan menpuk-nepuk pantat Echa.
Aeri sudah selesai mencuci piring ke ruang tamu. Mellihat Echa tertidur di atas dada bidang Jungkook. Aeri tersenyum melihat tatapan Jungkook menatap wajah polos Echa yang terlelap. Mulut Echa sedikit terbuka, sangat menggemaskan.
Jungkook menyadari kehadiran Aeri menepuk pelan tempat di sampingnya. Aeri mengerti dan ikut bergabung. Tangannya ikut menepuk pelan pantat Echa. Satu tangan Jungkook menahan tubuh Echa dan satu tangannya meraih kepala Aeri bersadar di bahunya. Well, bisa kalian bagaimana posisinya? Dua gadis cantik yang menjadikan tubuhnya sebagai sandaran. Jungkook merasa bahagia, melihat bagaimana sudut pria itu terangkat membentuk senyum manis.
"Aku akan memindahkan Echa dulu ke kamarnya," ujar Jungkook.
Aeri menarik dirinya dan mencium pelan bibir Echa. Membuat Echa menggeliat pelan, Jungkook dan Aeri tertawa. Jungkook menidurkan putrinya dan menyelimutinya pelan. Setelah keluar dia turun ke bawah tetapi kosong.
Tungkainya berjalan ke kamar Aeri. Dia membukanya dan ternyata tidak terkunci. Di sana dia melihat Aeri tengah berbaring. Jungkook ikut berbaring dan memeluk Aeri.
__ADS_1
"Aigo! Kamu mengagetkanku," geurut Aeri. Jungkook menanggapinya dengan tawa khasnya.
"Kenapa kamu hari ini terlihat tidak bersemangat?" tanya Jungkook.
"Hana dan Jhope tadi ke sini," ujar Aeri dan Jungkook diam saja. Dia tahu prihal kedatangan Jhope dan Hana. Bahkan kekacauan yang diperbuat adiknya.
"Hana-Aku khawatir dengannya. Dia terlihat terpukul dan membenci Jhope," ungkapnya resah.
Jungkook membalikkan badan Aeri menghadapnya. Jempol tangannya mengusap pelan pipi Aeri. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Hana dan Jhope tidaklah seperti itu ... dulu," ujar Jungkook.
"Apa Hana dan Jhope memiliki hubungan dulu?" tanya Aeri.
"Aku tidak tahu pasti. Jhope pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Kejadian itu terjadi di Kanada saat mengurus bisnis di sana," ujar Jungkook mengingat sahabatnya hampir merenggan nyawa.
"Lalu kenapa Hana bisa membenci Jhope?" tanya Aeri penasaran.
*Wkwk inireader pasti pasang telinga juga mau dengar jawaban Jungkook,plak, diam lu thor.
"Aku tidak tahu, Hana dan Jhope dulu dekat. Seperti adik dan Kakak. Kepergian Jhope ke kanada bahkan di antar oleh Hana, tetapi saat di kanda, Hana keluar negeri juga. Dia tidak memberikan alasan yang pasti. Hana menghilang 1 tahu lebih dan dia hanya memberi kabar melalui Jimmy. Yang kuketahui, Hana ingin menyendiri." Jungkook melihat tatapan penasaran Aeri. Dia menyentil pelan bibir Aeri mebuat gadis itu menatapnya kesal.
"Appayo!" rengeknya, entah sejak kapan Aeri mulai bisa merengek kepada Jungkook.
Cup.
"Ceritakanlah kepadaku mengenai Hana. Dia hanya menceritakan kepada tentang laki-laki menyebalkannya selama ini. Namun, aku yakin jika Jhopelah yang ia maksud," pukas Aeri.
"Besok aku akan menceritakan yang aku ketahui. Sekarang tidurlah," ujar Jungkook.
Aeri mengangguk patuh, ini yang Jungkook suka dari Aeri. Gadis ini selain penyayang, dia juga penurut sekali. Jungkook jadi tambah sayang padanya.
"Kamu masih di sini?" tanya Aeri menyerit heran.
"Aku akan tidur denganmu," kata Jungkook.
"Kembalilah ke kamarmu," usir Aeri halus.
Jungkook merenggut tidak suka. Dia malah mengeratkan pelukannya pada Aeri. Aeri menahan napas saat wajah Jungkook berada di ceruk lehernya. Dalam hati Jungkook tertawa penuh kemenangan. Dia akhirnya bisa merasakannya seperti Echa. Dasar duda anak satu ini tidak mau kalah saja dengan anaknya sendiri, hahaha.
Aeri membiarkan saja karena Jungkook juga tidak berbuat lebih padanya selama ini. Jungkook hanya memciumnya walau terkadang ciuman Jungkook menuntut untuk ke hal yang lebih lagi. Namun, Jungkook mengerti dan menghargai Aeri yang masih tersegel. Dia mau melakukannya saat gadis di dalam pelukannya sudah sah menjadi istrinya.
Di tempat lain Jimmy menatap datar Hana. Dia melihat gadis itu dengan tatapan tajamnya. Hana memutar bola matanya malas. Dia tahu Jimmy akan mengintro dirinya.
"Bagaimana caranya menghilangkan mata sembabmu itu Jung Hana?" tanya Jimmy sakras.
"Aku akan mengompresnya dengan es batu," jawab Hana cepat.
__ADS_1
"Lalu-" Jimmy mengangkat dagunya menunjuk Jhope yang duduk di dekat Hana. Jhope tetap tenang mendapat tatapan penuh intimidasi Jimmy.
"Luka bukan apa-apa," jawab Jhope sekenahnya.
Jimmy mencibir mendengar jawaban Jhope."Huh? Bukan apa-apa, kereyo?" ejek Jimmy sambil mencemoh.
Dia tidak membenci Jhope. Sama sekali tidak, dia hanya dibuat bingung oleh keduanya. Bagaimana bisa mereka selama ini bertengkar. Hana memberikan alasan jika Jhope petekilan, Jimmy bahkan tidak melihat dari sudut pandang manapun. Bahkan Jhope masuk daftar list pria tertampan bagi Jimmy.
Jimmy mengambil naskah di depannya,"Biar aku lihat, semoga ada adegan kalian berdua menangis sampai membuat matamu hampir hilang."
Hana jengkel tetapi ucapan Jimmy benar. Matanya benar-benar bengkak. Jimmy melempar kertas itu sampai menimbulkan bunyi. Membuat Jhope dan Hana tersentak kaget.
"Lalu apa yang akan kalian berdua katakan pada awak media?" tanya Jimmy.
"Apa yang akan aku katakan? Tentu tidak ada," ketus Hana.
"Hana-ya, kamu tahu wartawan selalu haus akan informasi mengenai dirimu. Apalagi kamu terlibat pada dua pria yang berpengaruh pada publik," ujar Hana serius.
Hana merasa kepalanya akan pecah. Dia memikirkan Jimin, Hana tidak pernah mendekati Jimin tetapi pria itulah yang mencoba mendekatinya. Hana hanya memberinya ruang untuk mendekat tetapi tidak untuk mencintainya.
"Apa kamu ingin menyandang sebagai ladykiller Hana?" tanya Jimmy kesal.
"Aku tidak pernah memberi harapan pada pria manapun Jimmy! Mereka yang berharap lebih!" kata Hana kesal.
Jhope menengahi keduanya, dia tahu kekhawatiran Jimmy."Kalian akan berteriak dan membuat kekacauan di sini," ujar Jhope membuat Hana mengembuskan napas. Dia menyadandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Mianhe-yo. Aku sungguh tidak memberikan harapan pada mereka," kata Hana dengan nada menyesal. Jimmy mengangguk dan memikirkan cara menghadapi awak media.
"Apa yang akan kamu katakan Mr. Hoesok?" tanya Jimmy.
"Aku akan mengatakan jika aku dan Hana hanya teman dekat," ujar Jhope.
"Tidak! Aku akan mengatakan pada media, jika kamu pria petekilan yang mengemis cinta padaku," jawab Hana tegas.
Jimmy dan Jhope sama-sama terkejut. Jhope mengepalkan tangannya. Hana merutuki bibirnya sendiri. Jhope berdiri dan meninggalkan Apartemen Hana tanpa kata.
"Hufghhh tu(lagi)? Kau lagi-lagi mengatainya Hana?" tanya Jimmy kecewa.
Hana menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca. Wajah itu melintas saat pikirannya kacau. Dia mengatakannya karena teringat 'dia' lagi. Dia tahu melihat Jhope mengingatkannya. Ini kenyataan yang sulit Hana terima.
"Kejarlah, kamu tahu Hana? Jhope mencintaimu tulus. Kamu tahu terkadang cinta bisa saja dilepas bukan karena tidak menginginkannya lagi, tetapi ... merelakan untuk melihatnya bahagia meski bukan dengan diri kita." Ucapan Jimmy bagai tamparan keras untuk Hana.
"Paboya!" rutuk Hana pada dirinya.
Dia berlari dan melihat mobil Jhope sudah menghilang. Dia berlari ke perkiran mobil. Hana akan menyusul Jhope. Dia tidak bermaksud mengatai laki-laki itu lagi.
TBC
__ADS_1