My Young Daddy

My Young Daddy
18


__ADS_3

~Jika kamu tahu itu menyakitkan kenapa kamu ingin melakukannya? Bisakah kita bertukrang peran, aku yang menjadi penjahatnya dan kamu yang menjadi tokoh utamanya?


Seorang pria duduk tenang di atas sofa. Wajahnya terlihat tenang dan sangat beribawa, menandakan dia memang pembisnis handal. Dalam hatinya dia mengomel karena semua kekacauan harus dia tanggapi. Menghadapi awak media gara-gara keras kepala Hana.


"Jadi ... ada apa maksud kedatangan, Nak Jimin kemari?" tanya Helsi sambil memberi senyum keibuannya.


"Khm, bagaimana keadaan Hana?"


"Dia semakin kacau, Nak," terang Helsi jujur.


"Bisakah saya bertemu dengannya Tante, Om," ujar Jimin sopan.


Baek mengangguk saat istrinya memandangnya meminta persetujuan. Mereka tahu mungkin kehadarin Jimin bisa membuat keadaan anaknya lebih baik. Baek mengenal siapa Jimin dan itu karena keluaraga Mr. Hesoek.


Jimin membuka pelan kamar Hana dan melihat pasangan Aeri dan Jungkook berada di dalam. Dia melihat Hana memeluk Aeri dengan tatapan kosong. Kehadiran Jimin membuat Hana menatapnya.


"Untuk apa kau kemari?!" teriak Hana marah.


Jungkook menatap tajam Jimin. Dia tahu jika Jimin adalah penghalang hubungan Jhope dan Hana. Jhope pernah bercerita tentang Jimin kepadanya.


"Kalian benar-benar adik-kakak," ujar Jimin santai.


"Cepatlah pergi! Aku membencimu!" teriak Hana marah.


"Aku akan pergi setelah kau hilangkan sikap keras kepalamu Hana," ujar jimin setengah membentak membuat Jungkook melotot ke arahnya. Jimin merasa kesadisan Jungkook dan Hana sangat kejam.


"Tidak perlu galak padaku. Hana aku banyak urusan dan aku minta kau sadar," pinta Jimin sedikit lembut saat air mata Hana kembali menetes. Tiba-tiba Hana berteriak histeris. Mungkikah mentalnya terganggu? Atau depresi?


Jimin melangkah lebar dan duduk di hadapan Hana. Dia membuat Aeri bergeser dan Jungkook menarik lembut istrinya. Dia tetap menatap tajam Jimin. Jungkook ingin menarik kerah Jimin saat laki-laki itu membentak adiknya dan mengcengkram kuat lengan Hana.


"Sadar Hana! Jhope membutuhkanmu!" teriak Jimin marah membuat Hana menatapnya sedih.


"Aku ingin kamu di sampingnya. Ajaklah dia berbicara dan berhenti menyalahkan dirimu. Dia pria kuat asal kau tahu. Jangan remehkan keluargaku," ujar Jimin marah. Semua orang menatap Jimin kaget. Jimin menyembunyikan fakta jika dia adalah anak tiri dari Mr. Heseok.


Dia selalu melarang Bundanya memperkenalkan dirinya pada Jhope. Meski Jhope tidak pernah keberatan dengan pernikahan ayahnya, namun Jimin tetap tidak mau. Dia juga tidak keberatan dengan pernikahan bundanya selama bundanya bahagia. Perlakuan ayah tirinya juga sangat baik padanya.


"Aku adik Jhope," ujar Jimin.


"K-kkau berbohong," kata Hana tidak percaya.


Otak Jungkook memutar kenangan saat Jhope menceritakan perihal pernikahan kedua orang tuanya. Dia mengatakan memiliki adik tiri tetapi tidak pernah ia temui. Bahkan namanya saja tidak ia tahu. Yang dia tahu jika adiknya seorang laki-laki.


"Itulah kenyataannya," desah Jimin baru saja mengungkap faktanya.


"Hikss kau brengsek! Jika kau tahu kau, Jhope adalah kakakmu kenapa kau terus berusaha memisahkanku dengannya," jerit Hana.


"Itulah kebodohanmu,'' ketus Jimin.


Dia berdiri dan memasukkan tangannya di kanton celana. Menatap datar Hana yang menatapnya penuh kebencian.


"Aku melakukan itu semua karena sejak aku tahu dia kecelakaan. Dia tidak boleh mengingat kenangan kalian dan itu bisa membuatnya koma-seperti sekarang. Jangan pernah menuduhku membencinya karena aku menyayangi hyungku. Aku hanya menghalagimu selama ini karena aku tahu kamu akan terluka," ujar Jimin panjang lebar.


Hana, Jungkook dan Aeri diam. Jungkook baru sadar kenapa Mr. Heseok selalu merekomendasikan perusahannya agar bekerja sama dengan Park Comapany. Ternyata Jimin adalah anak tirinya. Uhh dunia sangat sempit sekali.


"Ja-jadi ini semua karena k-kamu melindungi Jhope bu-bukan karena mencintaiku beneran," ujar Hana terbata-bata.


Jimin menggelengkan kepalanya dan memberi senyum mengejek pada Hana,"Selain angkuh ternyata Miss. Jung sangat PD sekali."


Hana membulatkan mata, wajahnya memerah malu. Jangan salahkan dia, Jimin menerornya dengan kata-kata cinta. Dia mengatakannya seolah-olah itu benar. Jungkook dan Aeri tersenyum melihat Hana lebih baik daripada tadi.


"Ke rumah sakitlah, aku ada urusan."


"Hikss ... aku merindukannya."


"Maka datanglah ke sana, aku cukup lelah menjaganya dan banyak urusan," cibir Jimin membuat Hana menatapnya tajam.


"Cih kau bilang sayang, eoh? Baru menjaganya belum 24 jam kamu mengeluh," cibir Hana.


"Sudahlah, aku akan ke makan keponakanku," ujar Jimin membuat tatapan Hana sedih. Dia memutuskan membawa keluarganya ke sana. Mereka terkejut saat Hana meminta memakai pakaian serba hitam. Itulah yang membuat Helsi dan yang lainnya menangis dengan kenyataan baru yang mereka ketahui.


Jimin pamit pergi dan membuat Hana berganti pakian cepat. Mereka ke rumah sakit, sementara Jungkook tetap tinggal di sini karena Echa masih terlelap. Hana kini tiba di rumah sakit.


*Rumah Sakit}

__ADS_1


Hana memasuki ruang ICU tempat Jhope terbaring. Hana tidak mamp membendung air matanya. Dia berulang kali mendaratkan kecupan di tangan Jhope yang digenggamnya. Orang tua Hana mengobrol dengan orang tua Jhope.


"Sayang, bangung," lirih Hana.


Tik ... Tik ... hanya suara detak jantung Jhope terdengar. Hana melihat wajah Jhope benar-benar damai dalam tidurnya. Selang bantu pernapasan menutupi bibir pucat Jhope. Tubuhnya penuh dengan kabel-kabel yang Hana tidak tahu namanya, yang ia tahu akat itulah penopang hidup Jhope.


Tiba-tiba Hana teringat saat dia dan Jhope bercanda sehari sebelum ini terjadi.


-Flashback


Hana mengenakan kaos longgar dengan celana kaos selutu juga. Dia berbaring di kasur membuat Jhope menghampirinya. Jhope duduk sambil mencoel tubuh Hana.


"Hana," panggil Jhope.


"Hm," guman Hana yang mengantuk karena syuting membuatnya kurang tidur.


"Aku kepengin," ujar Jhope.


"Pengin apa?" tanya Hana tetapi matanya masih mengaantuk. Jhope kesal dan menarik kedua tangan Hana. Terlihat wajah suntuk Hana menahan kantuk.


"Kita lakuin 'itu' sekali aja," kata Jhope.


"Gak ada! Aku gak mau ih," tolak Hana keras.


"Kamu kenapa sih? Aku tahu kamu perawan tapi aku lakuin pelan-pelan, gak nahan banget, Han," ujar Jhope dengan wajah mupeng.


"Aku bilang sekali enggak ya enggak," tolak Hana sambil melotot.


"Sekali saja, hmm," bujuk Jhope dengan egyonya. Hana gemas melihat Jhope dan dia mengigit pelan pipi Jhope."Gak sayang," tolaknya lagi.


"Sesak banget celana aku, Han," rengek Jhope sambil menunjuk miliknya. Haana ikut melihatnya dan tertawa.


"Aku keloning aja Sayang," tawar Hana.


"Aku maunya itu, sekali aja," bujuk Jhope.


"Gak ih, sekarang buka baju kamu. Aku keloning aja," kata Hana sambil menarik ujung baju Jhope. Jhope menahan tangan Hana, wajahnya merajuk.


"Gak mau, maunya itu," rengeknya.


Akhirnya Jhope menurut saja untuk dikeloning.


-Flasbak end


Hana semakin terisak, dia menenggelamkan wajahnya di kasur Jhope. Betapa sesaknya mengingat kenangannya bersama Jhope. Dia takut Jhope ikut pergi seperti anaknya.


"Hikss Jhope bangunlah. Kamu mau apapun aku turuti," isak Hana.


Jhope memang tidur, tetapi telinganya mendengar semuanya. Sudut matanya memanas mendengar lirihan Hana. Semua penuh sayat-sayat kepedihana.


"Hiksss kamu bilang kamu akan lamar aku, hiksss sekarang kamu malah tidur," ujar Hana sedih.


"Jhope hikss aku mencintaimu," lirih Hana.


Tidak ada suara, semua diam mendengar penuturan Hana, sementara di tempat lain Jhope melihat anak kecil tersenyum ke arahnya. Anak itu sangatlah tampan. Dia melambaikan tangan dan ingin melangkah ke sana, hingga suara lirih membuat langkahnya berhenti.


"Hikss jangan pergi, aku mohon."


Jhope menatap sekelilingnya. Tempat ini sangat indah, dia kini berdad di sebuah atas garis putih. Jhope menoleh saat melihat ibunya di sana sambil tersenyum lembut. Jhope sangat merindukan ibunya. Dia ingin melangkah tetapi suara itu lagi-lagi terdengar.


"Daddy," teriak anak kecil itu sambil melambaik tangan meminta Jhope ikut dengannya.


Jhope ingin pergi, dia melangkahkan kakinya. Hingga suara tangis Hana pecah saat melihat tubuh Jhope kejang-kejang. Hana berteriak histeris memanggil dokter.


"Hiksss Dokter!" teriak Hana membuat semua orang panik.


Dokter menangani tubuh Jhope dan mengambila alat pemacu jantung. Tubuh Jhope tersentak-sentak sampai suara menitor terdengar.


Tiiittttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt.


Tubuh Hana luruh dan ditopang oleh Baek. Tangis mereka pecah, Jimin yang berada di depan kamar Jhope meneteskan air mata.


Sementara Jhope sudha masuk melewati garis tadi. Dia tersenyum lebar dan memeluk anak dan ibunya.

__ADS_1


"Pulanglah, Nak," kata ibunya.


"Mom, Im really miss you," ujar jhope dan menggelengkan kepalanya.


"Ada yang menunggumu, Nak."


"Nek, aku ingin Daddy ikut bersama kita," ujar anak kecil itu dengan bibir mengerucut. Jhope melihat wajah anaknya dan ada kemiripan dengan Echa. Tiba-tiba suara anak kecil terdengar dari belakang.


"Uncel Je!" panggil Echa.


"Echa," lirih Jhope.


"Pulanglah, Nak. Semua orang menyayangi terlebih gadis yang menangis untukmu. Kamu tidak kasihan dengannya?" tanya Ibunya lembut.


"Dia selalu menolakku, Bu. Bahkan pernikahan kami nantinya akan dibuat seperti kutub utara," gerutu Jhope.


Ibunya tertawa lembut, suara tawa yang Jhope rindukan selama ini.


"Ibu tidak percaya jika dia benar-benar tumbuh menjadi gadis keras kepala dengan bibir pedas. Helsi menurunkan mulut pedasnya kepada putrinya," ujarnya pelan.


"Itu membuatku tersiksa, Bu. Dia terus mengataiku petekilan," adu Jhope.


"Daddy, Mom sangat mencintaimu. Kau tahu ini pertama kalinya aku melihatmu dan ternyata apa yang Mom katakan selama aku di dalam kandungannya benar-benar dirimu, Dad," ujar putranya.


"Apa yang dikatakan Mommy-mu?" tanya Jhope penasaran.


"Dia mengatakan jika mencintai Daddy dan Daddy selalu membuatnya menunggu janji Daddy yang selalu Daddy ingkari. Mom bilang daddy akan segera pulang dan melamarnya, tetapi daddy tidak kembali. Lalu, terakhirnya Daddy kembali berjanji melamarnya, apakah sekarang Daddy mengikarinya lagi? Bahkan bukan meninggalkannya sementara tapi selemanya," ujar putranya membuat air mata Jhope jatuh.


"Kembaliah, Nak," ujar Ibunya sambil berdiri memegan tangan cucunya.


"Kami menyanyangimu, Dad."


Melihat ibu dan anaknya pergi, Jhope menangis. Hingga tangannya digengdam oleh tangan kecil. Wajah Echa sangat bersinar terang dengan gaun putihnya.


"Uncel Je mau pelgi? Echa ingin main kuda-kuda?" ujarnya polos.


Jhope tersenyum dan memangku Echa.


"Kenapa matamu sembab, Princes?" tanya Jhope.


"Mommy ... aku belmimpi tentang Mommy," ujarnya sedih.


"kenapa dengan Mommymu, Princes?"


"Aku kehilangan Mommy, aniyo Uncel Je. Duniaku tiba-tiba gelap. Echa mohon kembalilah, Echa ingin belmain kuda-kuda,'' ujar Echa membuat Jhope memeluknya erat.


"Echa lihat tempat ini, Princes?" Echa mengangguk membuat Jhope menatapnya serius,


"Jika Echa datang ke sini, ingat untuk pulang, nak," ujar Jhope memandang penuh arti Echa.


Echa mengangguk menurut. Dia memang penurut sekal, namun bagaimana takdir?


Hana mendorong kasar dokter yang berusaha menutup wajah Jhope."Hiksss huwaa jangan menyentuhnya brengsek! Kau tidak tahu jika dia hanya tidur!" teriak Hana sambil memeluk tubuh Jhope.


"Hana hikss tante mohon, Nak. Biarkan Jhope tenang di alam sana," ujar Bunda Jhope.


"Hikss tante gak lihat, Jhope hikss dia cape tante. Hikss dia bilang sama Hana kalau capk. Hikss dia-diaaa hiksss ...." Hana tidak kuasa melanjutkan ucapannya.


Dia melihat wajah damai Jhope yang pucat pasi. Selang oksigen Jhope sudah terbuka, Hana memajukan wajahnya. Dia mencium bibir kekasihnya. Semua orang menatap Hana tidak dapat memebendung air mata.


"Hiksss bangun,'' lirih Hana.


"Ayo kita bangun keluarga kecil seperti impianmu, hiksss," ujar Hana sambil memebelai wajah Jhope yang sudah dingin dan kaku.


Titttttttttttttttttttttttttttt ... suara monitor membuat semua orang menatap tidak percaya. Dokter segera berjalan ke sana bersama perawat.


"Puji Tuhan, sebuah keajaiban. Jantungnya berdetak kembali," ujar Dokter.


Hana merasa dadanya lega, dia tersenyum saat air matanya masih menetes. Menyingkarkan tubuhnya saat dokter memeriksa Jhope. Dia memeluk Helsi erat.


"Hikss dia kembali, Mom," ujarnya.


"Hikss Jhope kembali karenamu. Nak," ujar Helsi penuh haru.

__ADS_1


Orang tua Jhope saling berpelukan. Mereka kira anaknya akan meninggalkan mereka. Jimin mengusap air matanya dan menghampiri orang tuanya. Mr. Heseok merangkul anak tirinya, dia tahu Jimin selama ini dibenci Jhope. Jhope hanya tidak tahu jika Jimin adik tirinya. Heseok tahu Jhope menyanyangi Jimin, karena anak semata wayangnya selalu bertanya keberadaan adik tirinya.


TBC


__ADS_2