My Young Daddy

My Young Daddy
22


__ADS_3

đź’źHappy Reading đź’ź


Jungkook dan Aeri memutuskan singgah di sebuah restoran terdekat Rumah Sakit. Mereka membuat pengunjung menatap mereka iri. Tentu mereka mengenal siapa Aeri dan Jungkook. Pernikahan keduanya mengemparkan publik.


Jungkook dan Aeri memesan makanan dan menunggunya. Saat pesanannya datang, Aeri melempar senyum ramah membuat pelayan itu balas senyumannya.


“Mommy, Echa au makan udang goleng,” pintanya.


“Tunggu, Nak. Mom ambilkan dulu,” jawab Aeri dan memberikan di piring Echa. Dia memotong-motong kecil agar Echa tinggal menikmatinya. Jungkook tersenyum bahagia.


Setelah mereka makan, mereka ke Rumah Sakit. Jantung Aeri berdetak kencang, dia memegang tangan Jungkook erat. Suaminya membawanya ke dokter kandungan. Dia takut jika tidak hamil dam membuat suaminya kecewa.


“Ba-baagimana kalau hasilnya negatif,” ujar Aeri takut.


Jungkook tersenyum menyadari kegundahan sang Istri.”Jika negatif, berarti kita masih disuruh usaha tiap malam,” ujarnya sambil mengerling nakal. Aeri merona malu mendengar perkataan Jungkook. Dia mencubit pelan pinggang Jungkook, memuat pria itu mengaduh sakit. Echa dan Aeri tertawa.


Mereka masuk setelah namanya disebut. Jungkook bernapas lega ternyata yang menangani istrinya dokter wanita. Dia tidak perlu cemas.  Aeri diminta naik ke atas bangkar. Dia berbaring dan bajunya di singkap menampilkan perut datarnya. Kini perutnya diolesi sel.


Mata mereka tertuju pada monitor di hadapan. Di sana setitik jangun membuat air mata Aeri menetes. Dokter tersenyum ke arah Aeri dan Jungkook.


“Selamat ya Pak, istri Anda hamil. Usia kandungannya baru menginjak dua minggu.”


“Terimakasih Tuha, terimakasih Dok,” ujar Jungkook tidak dapat menutupi wajah bahagianya.


Aeri ikut tersenyum dan setelah sel di atas perutnya dibersihkan dia bantu turun oleh Jungkook. Aeri sendiri berdiri di samping Jungkook. Wajahnya mengadah ke atas.


“Jaga kondisi Ibu, kehamilan ibu masih rentan. Jadi jangan beraktivitas berat dan banyak pikiran. Itu bisa memicu pada kehamilan, Ibu,” jelas Dokter.


Setekah Jungkook bertanya banyak hal, dia berterimakasih dan membawa Aeri dan Echa pergi. Mereka tersenyum sepanjang jalan. Jungkook memutuskan untuk menghampiri kamar inap Jhope sekalian.


“Uhggg permainan akan semakin seru. Ternyata dia hamil, huh?” ejek Ahin yang berada di Rumah Sakit. Dia ke sini ingin membunuh Jhope tetapi dia tidak sengaja melihat Jungkook. Akhirnya dia mengawasi dan tahu jika Jungkook ke dokter kandungan. Dia mulai melangkah pergi dengan senyum miringnya.


Jungkook dan Aeri tidak berhenti tersenyum. Echa memeluk erat leher Jungkook. Dia belum tahu jika dia akan memiliki adek seperti keinginannya. Membuka pintu ruang inap Jhope, ternyata orang tuanya dan orang tua Jhope di dalam.


Jungkook masuk dan tersenyum membuat keluarganya bertanya-tanya dalam hati. Echa langsung mengahambur ke dalam pelukan Helsi. Dia merindukan grandmanya dan memeluk erat juga granpanya.


“Ada berita bahagia yang aku bawa,” ujar Jungkook.


“Katakanlah,” ujar Helsi tidak sabaran.


Jhope dan Hana ikut memandang Jungkook yang duduk di sofa. Mereka menantikan ucapan Jungkook. Hana tersenyum melihat keusilan suaminya saat mengantung ucapannya.


“Cepatlah katakan,” dumel Helsi membuat Jungkook tertawa.


“Arasso, Mom. Aeri hamil,” ujar Jungkook.


Semua bahagia mendengar kabar itu. Jhope mengenggam tangan Hana dan Hana membalas genggaman Jhope. Dia akan selalu menuggu pria itu.

__ADS_1


“Berapa usia kandungannya?” tanya Helsi.


“Baru menginjak dua minggu, Mom,” jawab Aeri.


“Kamu harus banyak minum ....” Helsi dan Yuna kini cerewet memberikan wajengan kepada Aeri. Mereka antusias atas kehamilan Aeri. Bahkan Aeri tidak pernah berhenti berucap syukur.


Ahin yang berada di balik pintu melihat itu mengepalkan tangan kuat. Dia memberi perintah kepada semua anak buahnya. Dia akan membuat Jungkook menyesal telah mengabaikannya tadi. Dia pergi dengan dada bergemuruh marah.


“Echa anak punya adek,” tanya Echa polos.


“Iya, Nak,” jawab Aeri.


“Di dalam pelut, Mommy?” tanya lagi sambil memegan takut perut Aeri. Aeri dan yang lain tersenyum melihat Echa begitu hati-hati.


“Kenapa pelut Mommy idak sepelti balon?” tanya polos. Semua tebahak mendnegar pertanyaan Echa. Aeri menjelaskannya dengan pelan dan Echa mengangguk. Tidak tahu anak itu mengerit benar atau hanya mengangguk.


“Dede kelual cepat. Echa au main sama Dede,” ujarnya polos.


“Nak, nanti dedenya akan keluar kalau perut Mommy sudah seperti balon,” ujar Aeri sambil mengusap rambut Echa. Jungkook ikut menimpali.


“Echa gak sabar ya Nak? Mau main sama Dede?” tanya Jungkook dan Echa mengangguk semangat.


Jungkook mengambil foto USGnya dan memperlihatkan pada Echa. Echa memandangnya bingung dan Jungkook menjelaskannya.


“Dedenya masih kecil. Dia masih malu-malu dan mau sembunyi di perut Mommy,” jelas Jungkook.


“Iya, Nak. Echa dulu seperti Dede, ada di dalam perut Mommy,” kata Aeri membuat yang menghela napas lega.


Hana menghampiri Aeri dan memandang hasil foto USG Aeri. Dia tersenyum dan menyimpannya kembali. Dia mencium Echa yang kian menggemaskan setiap hari.


“Aunty han,” panggil Echa.


“Iya, Princes?”


“Aunty Han, Echa minta Dede juga sama Aunty Han,” kata Aeri polos membuat tantenya blushing. Seketika ruangan penuh tawa karena perkataan Echa. Jhope mengerling nakal pada Hana membuat gadis itu semakin menunduk malu.


“Nanti seteah Aunty Han menikah sama Uncel Je,” ujar Jungkook.


Echa mengangguk dan mencium bibir Jungkook tiba-tiba. Ciumannya begitu lama membuat Jungkook mengacak rambut anaknya gamas. Tiba-tiba tubuh Echa bergetar hebat. Dia menangis tanpa sebab membuat orang-orang khawatir.


“Kenapa sayang?” tanya Aeri sudah duduk di dekat Jungkook.


“Hiks ... Echa au main sama Dede,” pintanya.


“Sabar ya Nak,” kata Aeri tersenyum. Dia kira Echa kenapa, tapi kini jantung Jungkook sereas diremas. Matanya memanas tetapi dia tidak tahu kenapa.


“Echa takut hiks idak bisa main agi,” ucapnya segukkan.

__ADS_1


“Echa main kok, Nak. Echa jangan nangis, nanti Dedenya ikut nangis,” ujar Aeri menghampus air mata Echa. Echa megangguk dan Aeri mencium bibir Echa.


Semua orang tahu jika Aeri sangat menyayangi Echa. Mereka tersenyum bahagia jika Jungkook menadapat pasangan sebaik Aeri. Di lain tempat seseorang tersenyum devil. Hanya tinggal menghitung menit. Dia akan membunuh Echa dan Aeri.


“Mom, Dad, kami pulang dulu. Aeri harus istirahat banyak dan Echa kelihatannya mengantuk sehabis nangis,” pamit Jungkok.


Dia telah pamit pada semua dan berjalan keluar. Senyum Ahin merekah melihat umpannya. Echa dan Aeri menunggu di atas pembatas jalanan sementara Jungkook mengambil mobilnya di seberang jalan.


“Tabrak mereka,” perintah Ahin.


BRAK!


CITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!


“AERIIIII!ECHAAAAAAAAA!” teriak Jungkook.


Semua orang kaget menyaksikan itu. Tubuh Aeri dan Echa terlempar jauh. Bahkan Echa terpental hingga tubuhnya terbanting pada pohon kelapa hingga jatuh kembali ke aspal. Dara bercucuran di pelipisnya. Bibir kecilnya yang sering berceloteh mengeluarkan darah. Dia terbatuk-batuk.


Tangan mugilnya penuh darah, mata rubynya sayupsayup mulai terutup. Kulit kakinya terkupas membuat tubuhnya penuh darah. Kepalanya bahkan penuh darah. Hingga dia tidak sadarkan diri. Aeri berada tidak jauh dari Echa sudah tidak sadar diri. Dia keadaannya sama parahnya dengan Echa.


Semua orang mengurmungi. Jungkook berlari menghampiri anak istrinya. Ambulance segera datanga. Jungkook memangku Echa dan darah anaknya semakin deras mengalir. Dia mendekat ke arah Aeri. Menepuk pelan pipi istrinya.


“Hikss bangung, Sayang,” kata Jungkook.


Semua mata memandangnya sedih apalagi melihat anak kecil tidak berdosa itu tak sadarkan diri dipelukan ayah tercintanya dengan bersimbah darah. Lalu seorang wanita yang kini bermandikan darah juga mengiris hati mereka.


Aeri dan Echa dilarikan segera masuk ke dalam Rumah Sakit. Baju, wajah dan tangan Jungkook penuh darah. Beberapa orang mendekati mobil itu dan ternyata tidak ada isinya sama sekali. Ahin tertawa keras menyaksikan pemadangan di depannya.


Sementara di dalam ruangan Jhope meronta-ronta. Lehernya dicekik dan Hana di dalam kamar mandi. Hana keluar dan melihatnya langsung berteriak.


“Akhhh!” Jhope merasa pasokan oksigen dalam tubuhnya menipis. Pandangannya mulai buram. Sementara satu laki-laki lagi menampar keras Hana sampai terbentur. Hana merasa kepalanya pening. Dia ikhlas jika mati bersama Jhope.


Brak! Jimin membuka pintu kasar dan menyuruh anak buahnya menangkap mereka smeua. Dia menekan tombol meminta dokter segera keruangan Jhope. Hana sendiri sudah tangani. Helsi dan Baek merasa hancur. Kedua anaknya menadapat luka.


Helsi memutuskan pergi pada Jungkook. Yuna sudah berjanji menjaga Hana. Bahkan Jimin mengerahkan semua anak buahnya berjaga ketat di sekitar rungan. Dia juga menyuruh untuk menangkap Ahin.


Ahin tertawa saat tahu Jimin ingin menangkapnya. Dia menyimpan alat penyadap suara di sekitar ruangan Jhope.


“Hahaha tidak semudah itu fergozo,” ujar Ahin sambil menyesap rokoknya.


Aeri mengalamami pendarahan hebat. Sementara Echa tubuhnya kejang-kejang. Kini tubuh kecilnya tidak bergerak. Bahkan badannya tidak memakai baju karena bagian dadanya begitu banyak alat ditempelkan. Ternyata Echa lebih para dari Aeri.


Jungkook di luar menunduk dengan tangan saling bertautan. Air matanya tidak berhenti keluar. Istri dan anaknya berjuang hidup. Jungkook semakin terisak saat dia teringat perkataan Echa. Pantas saja anaknya sering murung dan menangis tanpa sebab, ternyata Echa sudah punya firasat.


“Hiksss ....” Helsi juga tidak bisa membendung air matanya. Dia memeluk putranya dan baek juga menepuk-nepuk bahu Jungkook.


“Hiksss Mom, Echa ... Hiks Aeri,” ujar Jungkook terbata-bata. Dia menangis keras, dan Helsi tahu putranya kembali hancur. Dia berumpah akan membalas perbuatan dibalik kecelakaan Echa dan Aeri. Dia tahu ini ada kaitannya juga dengan Hana dan Jhope. Ternyata ini sudah direncakan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2