
Jungkook melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia gusar mendapat telepon dari adiknya Hana. Dia tidak mau anaknya menangis karena orang asing yang Hana ingin jadikan baby sister untuknya. Jungkook keluar dan menatap sekertarisnya yang terkejut menatapnya.
“Akh! Aigo! Anda mengagetkanku, Bos,” serunya dengan sakras.
Jungkook mendengus dan menatap dingin,”Aku harus pulang sekarang. Jika selesai, pulanglah segera.”
Aerum adalah sahabat dari Jungkook, sahabat semasa SMP. Mereka dipertemukan saat Aerum mencoba melamar pekerjaan. Jungkook menerima Aerum bukan karena mereka sahabat, tetapi kinerja Aerum tidak dapat diragukan.
“Bos, kamu cepat pulang dan malam ini malam minggu,” goda Aerum.
“Hus, tidak ada waktu kencang,” kata Jungkook dan berlalu di hadapan Aerum.
Aerum menatap nanar punggung sahabatnya. Dia tahu kisah Jungkook dan dia mengutuk wanita yang menyia-nyiakan Jungkook dan Aecha. Aerum menatap ponselnya dan tersenyum saat kekasihnya telah menunggunya di bawah.
Jungkook mengenderai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia singgah di super market dan membeli beberapa biskuit kesukaan Aecha. Dia membeli beberapa susu juga. Tatapan Jungkook jatuh pada es krim, dia mengambilnya untuk memberikan Hana.
Adiknya akan marah ketika Echa mendapatkan oleh-oleh tetapi dia tidak. Jungkook berarap adiknya mendapat pasangan yang berpikir dewasa untuk menyimbangi sikap mudah merajuk adiknya. Setelah membayar di kasir, dia pulang.
Di dalam rumah megah itu, J-Hope menatap Echa yang sedang terlelap. Dia mengusap kening Echa. J-Hope tersenyum saat melihat kelopak mata Echa mengerjab lucu.
“Uncel Je,” panggil Echa serak.
“Keponakan Uncel sudah bangung,” kata J-Hope sambil mengangkat Echa ke pangkuannya.
“Uncel Je, Cha mau main sama Mommy,” pinta Echa dengan polos.
Dada J-Hope ngilu, selalu itu pinta sederhana Echa. Anak Jungkook sangat cerdas di usianya yang masih belia. Semenjak Hana mengajak Echa bermaian di taman kompeks, di situ Echa berteman dengan anak seusianya. Anak polos yang mempertanyakan keberadaan ibunya,
Flashback
Hana membiarkan Echa bermaian dengan anak seusianya dan dia duduk tidak jauh dari Echa. Melihat anak Jungkook sangat aktif membuat Hana mengajaknya keluar ke taman kompleks.
Echa bermaian sampai di hampiri oleh empat anak kecil. Mereka mulai bermaian bersama, tanpa berkenalan. Polosnya diotak mereka bermaian bersama tanpa ada egonya.
“Ini Daddy dan ini Echa,” kata Echa menunjuk boneka barbie miliknya. Boneka sosok ayah dan anak.
“Mana Mommy, Echa?” tanya anak satunya.
__ADS_1
“Mommy apa? Echa idak punya Mommy,” katanya polos.
“Mommy yang lahirin kita. Echa idak punya Mommy, kami punya Mommy.” Setelah menjelaskan pada Echa mereka menunjuk kepada keluarganya. Di sana ibu dan ayah serta adik mereka bersenda gurau.
“Echa idak punya Mommy,” lirih Echa.
“Hahaha huuuu Echa idak punya Mommy.” Ejekan-ejekan mereka membuat tangis Echa pecah.
Hana berlari ke arah Echa dan merengkuh keponakannya. Dia menenangkan Echa sampai keponakannya memberikan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
“Mommy Echa mana?” tanya Echa.
Hana tertegun, tapi dia mengusap air mata Echa.”Echa, Mommy Echa sedang kerja sayang, nanti dia pulang bawa mainan barbie yang banyak buat Echa,” kata Hana menahan getaran suaranya. Dia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak menetes.
“Echa unya Mommy?!” pekik Echa bahagia.
Hana mengangguk, dan sejak saat itu Echa selalu menanti kedatangan ibunya. Berharap di saat dia terbangun ibunya telah datang. Mengecupnya seperti yang dilakukan Jungkook padanya.
Jungkook sempat marah kepada Hana karena dia tidak tega melihat Echa selalu berharap ibunya datang. Bahkan Echa sering meminta boneka yang utuh kepada Jungkook. Selema ini ketika Jungkook membelikan Echa boneka utuh dengan ayah, ibu dan anaknya. Dia selalu membuang ibunya di gudang, mungkin saja boneka wanita di sana menumpuk mengingat seringnya ia membelikan Echa boneka.
Flashback End
“Echa nggak boleh ngomong gitu, Sayang. Echa harus tahu jika Mommy Echa kerja. Kalau Echa sedih dan nakal, Mommy Echa tidak mau pulang,” kata J-Hope sambil mengendong Echa.
Jemari mugilnya mengusap kasar mata bulatnya saat mendengar penuturan J-Hope jika ibunya tidak akan pulang jika dia sedih dan nakal. Mata sebabnya menatap J-Hope takut.
“Echa idak nakal,” ujarnya sambil menatap penuh harap pada J-hope.
“Uncel tahu, Echa tidak naka. Echa pintar dan baik,” ujar J-Hope.”Ayo kita turun ke bawah, tante Han menunggu di bawah.”
J-Hope mengendong Echa yang kini terlihat ceria. Dia tidak mau sedih karena takut ibunya tidak pulang. Andai dia tahu bahwa kehadirannya bahkan tidak diingkan oleh ibunya. Oh Echa yang malang nian nasibmu.
Jungkook sudah tiba di rumah. Dia menatap Hana dan seorang gadis yang menunduk di samping Hana. Jungkook duduk di depan mereka, menatap tajam gadis di samping Hana. Hana sontak memutar bolah mata kesal melihat sikap kakaknya.
Aeri mengangkat kepala menatap Jungkook. Dia tahu jika di depannya adalah kakak Hana. Hana sudah menagatakan padanya jika dia boleh bekerja di sini jika anak kakaknya menyukainya. Aeri tertegun melihat Jungkook, dia merutuiki dirinya yang terpesona pada seorang pria yang beristri.
Melihat tatapan Jungkook yang tajam bak silet. Aeri menunduk dan itu tidak luput dari pengamatan Hana. Hana menatap kakaknya dengan pandangan kesal.
__ADS_1
“Oppa, Hajima! Oppa bisa menakutinya!” teriak Hana kesal.
“Arasso,” kata Jungkook dan mengulurkan tangan pada Aeri.
Aeri menerimanya dengan takut. Desiran hangat menjalar pada tubuh Jungkook, dia menyeringai melihat Aeri. Perasaan yang lama tidak muncul pada dirinya.
“Kim Ae-Ri,” lirih Aeri.
“Jung Jungkook.” Jungkook menyebut namanya dengan tegas.
Aeri menarik tangannya dan duduk tidak tenang. Aura Jungkook membuatnya sedikit takut dan dia takut juga jika anak Jungkook menolaknya. Tatapan mereka sontak tertuju pada tangga saat derap langkah terdengar.
Sepatu hitam muncul dengan pria yang mengendong seorang anak kecil. Dia tersenyum dan anak kecil itu meronta-ronta saat melihat ayahnya.
“Daddy!” pekiknya.
J-hope mengangguk dan berjalan mendekat, semengat Echa yang melihat Jungkook surut saat matanya melihat Aeri. Matanya berbinar senang.
“Mommy!” pekiknya.
Semua terkejut mendengar pekikan Echa. Aeri sangat kebingunan kenapa Echa malah memanggilnya mommy, bukankah seharusnya anak itu tahu ibunya.
Hana memberi isyarat dengan mata penu permohonan kepadanya. Aeri bingung dan dia melirik Jungkook yang menatapnya penuh permohonan juga. Aeri tidak tahu kenapa mereka memohon, tapi melihat tatapan Echa membuat hatinya mengahangat.
Dia menyukai anak kecil dan nuraninya untuk mengangguk membuat Echa bahagia. Dia berjalan ke arah Echa dan mengendong Echa. Tangan mungil Echa memeluk erat leher Aeri, seolah takut jika Aeri akan hilang jika pelukannya longgar.
“Mommy, Echa idak akal, makanya Mommy pulang?” tanya Echa.
Aeri diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dibenaknya banyak pertanyaan, kenapa anak ini seolah menagatkan jika ibunya tidak pernah pulang? Kenapa kelihatan takut sekali? Aeri berperang batin sampai Hana yang menjawab pertanyaan Echa.
“Echa, Mommy-nya Echa pulang karena Echa tidak nakal, Sayang,” ujar Hana sambil mengkode Aeri.
“Hehehe, iya, Nak. Mommy pulang karena Echa tidak pernah nakal dan Mommy sangat merindukan Echa,” ujar Aeri tulus.
Dada Jungkook menghangat mendengar kata “Nak” muncul di bibir wanita yang bukan ibu kandung Echa. Jungkook bisa melihat ketulusan Aeri. Melihat anaknya berceloteh ria dengan Aeri membuat dia ingin memiliki Aeri.
Hana menyeringai saat melihat tatapan Jungkook yang tidak lepas pada Aeri dan Echa. Hana berharap jika Echa dan Jungkook bisa memiliki Aeri. Sahabatnya juga jomblo dan dia akan membuat keduanya bersatu.
__ADS_1
Apapun untuk kebahagian Echa dan Jungkook akan Hana lakukan. Cukup selama ini dia melihat kakaknya menderit akarena Ahin yang menelantarkan darah dangin serta suaminya. Hana ingin membunuh wanita itu ketika bertemu.
TBC