
Gabriell keluar ruang kerja dan masuk ke dalam kamar miliknya saat malam hari. Pria itu mengedarkan pandangan ketika tak mendapati deandra di atas ranjang. Berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintunya namun tak di dapati sang istri di dalam sana membuat gabriell kembali melangkahkan kakinyak keluar kamar.
"kau lihat istriku? " tanya gabriell ketika berpapasan dengan salah satu pelayannya.
"nyonya ada di dapur tuan" jawab pelayan tersebut.
gabriell mengerenyit bingung sedang apa deandra di dapur.
Kaki panjangnya mulai berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai satu dimana dapur berada.
Begitu memasuki dapur aroma yang berasal dari makanan yang sedang di masak begitu menguar membuat gabriell menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan matanya.
Di sana tepat di depan mata gabriell deandra terlihat sedang memindahkan makanan ke atas piring.
"Kenapa tak makan yang sudah di masak pelayan....apakah tidak sesuai seleramu?" tanya gabriell karena tadi ia melihat di meja makan sudah tersedia beberapa menu yang sudah di masak para pelayan di mansionnya.
Deandra sedikit terkejut karena tak menyadari gabriell yang ada di belakangnya. namun gadis datar itu bisa segera menguasai keterkejutannya.
"Hanya ingin saja" acuh deandra seraya membawa piring yang berisi nasi goreng seafood kesukaannya menuju meja makan.
Deandra sudah duduk di depan meja makan. mengangkat sendok yang berisi nasi goremg dan hendak memasukkan ke dalam mulutnya sampai......
'ehemm' gabriell duduk di depan deandra kemudian berdehem membuat deandra menatap malas ke arahnya.
"apa kau tidak ingin menawariku makan?" tanya gabriell.
"apa harus?" deandra malah balik bertanya.
"Astaga deandra aku ini.... " ucapan gabriell terpotong karena deandra lebih dulu berkata.
"Ya kau suamiku... harus berapa kali kau mengatakannya.... baiklah apa kau mau makan el?" ucap deandra dengan senyum paksa di akhir.
gabriell tersenyum penuh kemenangan.
"Ya.... Ambilkan" titah gabriell.
"El kau punya dua tangan yang sehat....kenapa harus aku yang ambilkan?" geram deandra.
"A..... " gabriell kembali hendak membuka mulutnya.
"ok aku ambilkan....berhenti mengatakan kau adalah suamiku...aku muak mendengarnya" deandra beranjak dari duduknya kemudian mengambil piring gabriell mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk pauk.
__ADS_1
"Selamat makan " ucap deandra seraya menyimpan piring berisi nasi dan lauk pauk itu di hadapan gabriell.
Deandra kembali duduk di tempatnya dan melanjutkan makan yang tertunda.
Gabriell terus menatap deandra tanpa berniat menyentuh makanan yang ada di hadapan nya. Deandra yang sadar terus di perhatikan oleh gabriell menatap pria itu dan memberi isyarat seolah bertanya 'kenapa'.
"Setelah di pikir-pikir aku ingin makanan buatanmu." ucap gabriell
'Brak'
Deandra menancapkan garpu yang di pegangnya ke atas piring dan menatap gabriell dengan tatapan mematikan membuat nyali gabriell menciut.
"Ah.... sepertinya aku tidak usah makan saja" ucap gabriell hendak beranjak.
"Tunggulah" cegah deandra yang kini berjalan menuju dapur dan keluar dengan membawa sepiring lagi nasi goreng yang tadi ia masak.
Deandra menyimpan nasi goreng itu di hadapan gabriell lalu menyingkirkan makanan yang tadi di tolak gabriell.
Gabriell tersenyum dan mulai memakan makanan yang sedari tadi menggugah seleranya itu. Mereka pun akhirnya bisa makan dengan tenang setelah drama yang di ciptakan gabriell.
"Aku sungguh tak menyangka gadis liar sepertimu bisa memasak" ucap gabriell setelah menghabiskan makanannya.
"Ku kira kau hanya gadis manja yang suka memerintah namun ternyata kau istri idaman" celetuk gabriell yang tiada habisnya ingin terus berdebat dengan deandra.
"Maaf mengecewakanmu el.... tapi aku tidak berniat untuk menjadi istri idamanmu"
Gabriell tersenyum menatap deandra yang kini sedang mencuci piring di wastafel.
"Tapi sekarang kau sudah menjadi istri idamanku" ucap gabriell yang langsung lari karena melihat deandra hendak melemparnya dengan spatula.
"kalau tau menikah semenyenangkan ini.... aku akan menikah dari dulu" batin gabriell.
...----------------...
Selesai mencuci piring deandra kembali ke dalam kamar.
Sepi.
gabriell tidak ada disana akhirnya deandra memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian deandra memilih untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut dan membuka laptop miliknya untuk melihat beberapa email yang jo kirimkan padanya.
__ADS_1
'Ceklek'
pintu terbuka menampilkan sosok gabriell yang tersenyum tengil tengah berjalan kearahnya.
"Kau tidur di sofa" ucap deandra saat gabriell sudah mendudukan b*kongnya tepat di samping deandra.
"Kenapa sih kau takut sekali dekat denganku..." gabriell mengambil laptop yang dipangku deandra memindahkannya ke atas meja kecil yang ada di samping sofa.
"Apa kau takut aku melakukan ini" bisiknya di telinga deandra sebelum akhirnya ******* cuping deandra membuat tubuh deandra meremang seketika.
"Hentikan el.... menjauhlah" deandra berusaha mendorong gabriell untuk menjauh darinya namun gabriell malah semakin menempel padanya.
Kini bibir gabriell mulai turun menuju leher jenjang deandra menghisapnya, dan sesekali menggigit kecil disana sehingga meninggalkan bekas merah keunguan yang begitu kontras dengan kulit putih deandra.
Deandra hendak bangkit namun gabriell menahannya sehingga membuat deandra kini terjatuh kembali dengan posisi terlentang di sofa.
Gabriell tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mel*mat bibir yang hendak protes itu dengan ci*man lembutnya.
Deandra terus memberontak berusaha melepaskan diri dari gabriell yang kini tangan nakalnya sudah mulai menyusup ke dalam baju deandra dan meremas lembut sesuatu yang tak tertutupi penghalang lagi itu karena memang deandra tidak pernah memakai br* saat akan tidur.
"emmmm.... "
satu d*sahan lolos dari bibir deandra yang kini sudah tak memberontak lagi.
Namun di luar dugaan gabriell langsung bangun dari atas tubuh deandra dan tersenyum smirk menatap wajah memerah deandra.
"Kau terlihat menikmatinya De...tenanglah aku takkan menyentuhmu seperti waktu itu lagi... anggap saja saat itu aku terbawa suasana sampai-sampai kebablasan menidurimu yang bukan tipeku ini" celetuk gabriell seraya melenggang menuju kamar mandi dengan senyum penuh kemenangan.
Deandra mengedipkan matanya beberapa kali mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
'Apa katanya? '
'Terbawa suasana? '
'bukan tipenya? '
Deandra langsung duduk dan mengambil bantal sofa kemudian melemparnya kearah pintu kamar mandi.
"Gabriell sialan" pekiknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1