
Setelah restoran tutup gina bergegas menghampiri mobil renald yang terparkir agak jauh.
Gadis itu sengaja menyuruh renald menunggunya disana agar tidak di ketahui kedua sahabatnya.
Gina berjalan sambil sesekali menengok ke belakang memastikan jika sahabatnya sudah pulang sehingga tidak akan ada yang melihatnya. setelah memastikan semua aman gina pun masuk ke dalam mobil.
"Ck... kau lama sekali"
renald berdecak sebal.
Gina memutar bola matanya malas sambil memasang seat belt.
"Memangnya siapa yang menyuruh anda menungguku tuan... apa kau tidak punya pekerjaan selain mengusik hidupku" kesal gina.
Renald memilih diam dan mulai melajukan kendaraan roda empatnya menuju rumah gina.
Keduanya terdiam dengan renald yang sesekali mencuri pandang ke arah gina. Renald akui gadis di sampingnya itu cukup cantik dan yang paling penting ke angkuhan gina yang mampu membuat renald bertekad untuk menaklukannya.
Sebagai seorang cassanova tentu saja ia merasa tertantang ketika ada gadis yang menolak pesonanya.
Perlahan sebelah tangan renald menggenggam tangan gina membuat gina yang sedang menatap jalanan langsung mengalihkan perhatiannya.
"Jangan kurang ajar!" tegas gina menghempaskan tangan renald.
renald tersenyum sinis penolakkan inilah yang membuatnya semakin tertantang.
"Kau jangan lupa jika selama sebulan ini kau adalah pacarku" ucap renald.
"Pacar kontrakmu tapi bukan jalangmu ingat itu tuan renald yang terhormat"
Renald menghembuskan nafas kasar harus bagaimana lagi ia menjerat gina. Pria itu sudah mencoba menunjukkan pesonanya begitu pun dengan harta yang di milikinya namun gina tetap saja tak tertarik.
Hingga mobil renald berhenti di depan rumah gina seketika gadis itu terbelalak kaget melihat pemandangan yang ada di hadapan rumahnya. Tanpa berpikir lagi gadis itu gegas turun dan menghampiri kedua orang tuanya yang terlihat bersimpuh di hadapan beberapa orang.
"Ayah... ibu...apa yang terjadi" ucap gina sambil merengkuh tubuh kedua orangtuanya.
Kedua orang tuanya hanya menangis membuat gina menatap dua orang yang berdiri sambil memandang sinis ke arahnya.
"heh gadis tengik kedua orang tuamu itu sudah menggadaikan rumah ini pada bos kami dan sekarang sudah lewat jatuh tempo tapi mereka belum juga mengembalikan uangnya jadi kalian harus pergi dari sini" ucap salah satu pria yang berkepala plontos
Gina mengurai pelukannya dan menatap kedua orang tuanya.
"apa itu benar ayah?"
Pak wahyu yang merupakan ayah gina hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" tanya gina tak habis pikir bagaimana bisa ayahnya menggadaikan satu satunya tempat mereka berteduh.
"Waktu itu adik kamu kecelakaan dan menabrak seorang anak kecil sampai harus di larikan ke rumah sakit... ayah terpaksa menggadaikan rumah ini untuk biaya rumah sakit dan mengganti motor yang di pinjam adikmu" ucap pak wahyu penuh sesal.
Gina menggelengkan kepalanya bagaimana ini bisa terjadi,sekarang ia dan keluarganya harus kemana?
Ia menatap Rama adiknya yang hanya mampu menunduk tanpa berani menatap gina. gadis itu benar benar tidak tahu kapan adiknya kecelakaan namun ia ingat beberapa waktu lalu adiknya sempat tidak ada di rumah selama seminggu namun ketika ia bertanya pada ayah dan ibunya mereka hanya menjawab kalau rama sedang menginap di rumah temannya.
'mungkinkah waktu itu rama kecelakaan dan bukan menginap di rumah temannya? ' batin gina merasa tak percaya kedua orang tuanya menyembunyikan hal sebesar itu darinya.
"Sudah cukup dramanya segera pergi dari sini" bentak pria berambut pirang.
"berapa hutang ayah saya?" tanya gina.
"dua ratus juta sudah berikut bunganya"
Gina tampak terdiam berpikir dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu.
"Beri saya waktu satu bulan saya akan membayarnya" ucap gina.
kedua pria bertubuh tegap itu tertawa. salah satu dari mereka berjalan menghampiri gina dan menatap gina dari atas sampai bawah dengan tatapan seperti menelanj*ngi.
"Kau mencoba bernegosiasi dengan kami?" ejek pria itu.
"Tapi... tubuhmu bagus juga pasti bos kami akan senang.... bagaimana kalau kau ikut dengan kami dan keluargamu bisa kembali tinggal di rumah ini" lanjut pria bernama danar itu.
Gina beringsut mundur seiring langkah pria itu yang kian mendekat.
"Jangan.... saya mohon jangan bawa putri saya" pak wahyu memelu erat kaki anton ketika pria itu hendak menarik tangannya namun denga tidak berperasaan anton menghempaskan tubuh ringkih pak wahyu.
"Minggir... dasar pria tua tidak berguna" ucapnya sambil berusaha menarik lengan gina dengan kasar.
"Singkirkan tangan kotormu darinya"
Tiba tiba suara bariton terdengar membuat semua mengalihkan pandangannya pada sosok renald yang entah kapan turun dari mobil dan kini tengah berdiri menyaksikan drama yang sedang terjadi di keluarga gina.
"Apa kau ingin menjadi pahlawan kemalaman" ejek danar tersenyum sinis.
"Aku akan membayar hutang mereka kau boleh pergi dari sini sebelum aku menghajarmu" ucap renald santai.
"Apa kau berniat menipu kami" ucap anton.
"Apa tampangku seperti seorang penipu... pulanglah besok kalian bisa ambil uangnya karena aku tidak membawa uang cash sebanyak itu"
kedua pria itu menatap renald dari atas sampai bawah. pakaian mahal dan jam tangan mewah yang melekat di tubuh pria itu juga mobil mewah yang terparkir di depan rumah membuat mereka merasa renald bukan orang sembarangan sehingga akhirnya mereka pun percaya.
__ADS_1
"Baiklah kami akan kembali besok jika uang itu tidak ada besok mereka harus pergi dan aku akan memberimu pelajaran karena sudah menipuku" ucap anton sebelum berlalu pergi.
Gina menatap Renald dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Dia siapa gina?" bisik pak wahyu namun masih terdengar oleh renald.
Renald berjalan menghampiri Pak wahyu dan bu Laras yang tengah di bantu berdiri oleh gina.
"perkenalkan saya renald adalah pacar gina pak bu.." ucap renald seraya sedikit menundukkan kepalanya.
Gina menatap tajam pada renald sementara pak wahyu langsung menghampiri renald.
"Nak renald terima kasih sudah menolong kami"
"Tidak perlu berterima kasih pak saya senang melakukannya" ucap renald.
"Ya ampun gin kamu kok punya pacar gak bilang bilang mana ganteng begini lagi udah gitu baik banget" ucap bu laras.
Gina hanya mampu tersenyum paksa mendengar sang ibu yang terus memuji renald.
"Nak renald ayo masuk" ucap pak wahyu.
Baru saja renald hendak menjawab namun gina sudah lebih dulu menyahut.
"Pak bu ini udah malem renald pasti mau istirahat iyakan?" gina tersenyum manis menatap wajah renald.
Renald yang terpesona dengan senyuman gina hanya menganggukan kepalanya membuat gina langsung mendorong tubuh pria itu menuju mobilnya.
"Ayah sama ibu mending masuk ke dalem bawa tuh rama sekalian udah malem" ucap gina.
"Kau apa-apaan sih aku kan mau masuk" kesal renald.
"Kamu yang apa-apaan...besok aku harus cari kemana coba uang dua ratus juta belum lagi kamu yang berulah pake bilang pacar aku segala" ketus gina.
"Aku kan emang pacar kamu dan masalah uang dua ratus juta aku yang akan membayarnya"
Gina menghela nafas kasar kalau sudah begini ia akan terus terikat dengan renald bagaimana bisa ia melunasi hutangnya yang semakin besar pada pria itu.
gina yakin renald memiliki niat tersembunyi di balik pertolongannya itu.
"Tentu saja itu semua tidak gratis kau harus membayarnya" ucap renald seakan paham isi pikiran gina.
'Nah kan sudah ku duga ini tidak akan mudah'
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya gina yang sudah pasrah dengan keadaannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...