Nikah Kontrak? Deal!!

Nikah Kontrak? Deal!!
17


__ADS_3

Deandra menatap mata gabriell yang menatapnya penuh harap.


"Baiklah..." putus deandra dengan yakin membuat gabriell bersorak kegirangan


"Tapi..." deandra kembali berucap


"Tapi apalagi sih sayang ayo kita ke kamar"


Baru saja Gabriell hendak mengangkat tubuh deandra sebelum akhirnya deandra mengucapkan kata yang membuat pria itu mengusap wajahnya frustasi.


"Tidak sekarang" ucap deandra sambil tersenyum kaku.


"Astaga.... kenapa tidak sekarang?... bukankah besok atau sekarang sama saja....ayolah sayang" rayu gabriell yang sudah tak kuat lagi menahan keinginannya.


"Masalahnya aku sedang kedatangan tamu bulanan" ucap deandra tanpa merasa bersalah.


Gabriell langsung menjatuhkan kepalanya pada bahu deandra dengan ekspresi lesu.


Baru saja di terbangkan ke langit ke tujuh dan langsung di hempaskan seketika.


Deandra yang cukup iba dengan nasib suaminya hanya mengelus-ngelus kepala pria itu.


"Apa tidak bisa di usir dulu tamunya sayang?" ucap gabriell dengan polosnya.


'Aww'


Deandra menghadiahi cubitan di perut pria itu karena kesal memangnya suaminya pikir tamu bulanan bisa di usir dan di datangkan semaunya.


"Kau sungguh istri yang jahat sudah tidak memberiku jatah juga melakukan kdrt" Ucap gabriell yang tak di respon deandra yang seakan tak peduli sama sekali karena pandangan wanita itu tetap terfokus ke layar televisi yang sedang menampilkan berita mengenai kasus Kdrt.


"Berapa lama biasanya?" tanya gabriell.


"Satu minggu" jawab deandra tanpa menatap suaminya itu.


gabriell langsung beranjak meninggalkan deandra dengan wajah kesalnya. Karena kesal pria itu sampai menabrak salah satu pillar yang terdapat di mansion tersebut.


"Si*lan sejak kapan ini ada disini?" gerutunya.


"Bi Sari..... " teriak pria itu pada seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan di mansionnya.

__ADS_1


Bi sari langsung berjalan cepat menghampiri tuannya.


"Ya tuan... " ucapnya seraya membungkuk hormat.


"Sejak kapan pilar ini ada disini hah? apa bibi tidak lihat kalau ini menghalangi jalanku?" bentak gabriell dengan urat-urat yang menonjol di rahang tegas nya.


sementara bi sari hanya mampu menunduk ketika melihat kemarahan gabriell yang menurutnya tidak masuk akal.


Bukankah pilar itu sudah ada sejak mansion di bangun lalu kenapa sekarang tuannya ini mempermasalahkannya.


"Panggil Parman kemari" ucap gabriell kemudian yang membuat bi sari bergegas melaksanakan perintah gabriell.


Sementara renald yang berjalan memasuki ruangan dimana insiden itu sedang terjadi tampak mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar suara kemarahan gabriell.


"Apa deandra membuat ulah lagi? " pikir renald karena memang hanya deandra yang bisa membuat emosi gabriell seperti roller coaster.


"Ada apa?" tanya renald pada deandra karena ia tak berani mendekati gabriell yang di selimuti amarah itu.


"Entahlah.... tanyakan saja pada bos mu itu" ucap deandra datar kemudian beranjak dari duduk nya dan berlalu pergi melewati gabriell begitu saja.


Tidak tahukah deandra kalau singa itu mengamuk karena dirinya?


Tak lama setelah kepergian deandra datang lah bi sari beserta seorang pria yang sudah berumur kepala empat.


Keduanya langsung menghadap gabriell sementara renald hanya menatap malas sahabat sekaligus bos nya itu karena ia sudah hafal betul tabiat gabriell ketika sedang emosi pria itu akan meluapkannya pada orang yang tidak tahu apa-apa.


"Mang Parman aku ingin besok singkirkan semua hiasan-hiasan tidak berguna ini....mataku sakit melihatnya sungguh kuno sekali" ucap gabriell sambil menunjuk beberapa lukisan,guci,juga pernak-pernik yang menghiasi ruangan tersebut.


Parman dan bi sari hanya tertunduk tak berani membantah sedikit pun setiap arahan dan perintah yang di berikan gabriell.


"Aku ingin besok ini semua sudah harus di singkirkan" ucap gabriell membuat bi sari dan parman hanya mampu mengelus dada.


Karena keduanya tahu kalau tuan mudanya sudah seperti ini itu berati gabriell sedang marah dan ingin melampiaskan kemarahannya.


"Baik tuan besok akan saya kerjakan" ucap parman pada akhirnya.


Namun gabriell masih terus mengoceh seperti burung beo. Sepertinya gabriell belum puas melampiaskan amarahnya dan bi sari juga parman hanya mampu menunduk mendengarkan semua kemarahan yang di lontarkan gabriell pada mereka.


...----------------...

__ADS_1


satu jam berlalu gabriell baru menyusul deandra yang tadi pergi ke kamarnya.


Mungkin pria itu sudah selesai melampiaskan amarahnya pada kedua manusia tidak bersalah itu.


Baru saja pria itu menutup pintu tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang. Dapat gabriell rasakan wangi khas tubuj deandra yang menandakan istrinya itu yang kini tengah memeluknya.


"Apa kau sudah marah-marahnya?" tanya deandra yang kini menempelkan wajahnya pada punggung gabriell


Gabriell langsung membalikan tubuhnya sehingga kini mereka sudah saling berhadapan.


Direngkuhnya tubuh ramping itu agar menempel pada tubuh gabriell.


"Apa kau tak merasa bersalah karena sudah membuatku memarahi orang lain" ucap gabriell menatap lembut deandra.


deandra berdecak sebal.


"Ck.... memangnya apa salahku"


Gabriell mengangkat dagu deandra agar mendongak menatap kearahnya yang memang postur tubuhnya lebih tinggi ketimbang deandra.


"Kau yakin tidak tahu apa salahmu"


"Aku tidak tahu...kalau masalah datang bu.... " ucapan deandra terhenti karena gabriell sudah lebih dulu membungkam bibir mungil istrinya dengan miliknya.


pria itu ******* bergantian atas dan bawah menikmati rasa manis yang membuatnya candu apalagi kini istrinya itu sudah mulai membalas setiap lum*tan yang ia berikan. Perlahan mulut deandra terbuka yang membuat lidah gabriell leluasa masuk untuk menyecap lebih dalam lagi.


Saat merasakan deandra mulai kehabisan nafas gabriell baru menyudahi kegiatannya. Nafas keduanya memburu. Gabriell menatap wajah deandra yang sedang mengatur nafas,diusapnya dengan lembut bibir deandra yang terlihat memerah dan sedikit bengkak karena ulahnya itu.


"Tidurlah jangan buat aku semakin menderita" ucapnya sambil menggiring tubuh deandra ke ranjang.


"Jangan marah-marah lagi" ucap deandra sebelum merebahkan tubuhnya.


Gabriell menutupi tubuh deandra dengan selimut kemudian melabuhkan kecupan hangat di kening istrinya itu.


"Tidurlah... aku tidak akan marah-marah lagi" ucapnya lembut.


Deandra mulai memejamkan matanya dan perlahan gabriell naik keatas ranjang mengambil posisi tidur di samping deandra dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Lu emang playboy kelas gurame ya el....


__ADS_2