
"Turun" perintah gabriell dingin.
"Loh bukannya kamu mau ajak aku dinner kenapa malah nganterin aku pulang?" tanya chika.
Ya gabriell malah melajukan mobilnya menuju apartemen wanita itu alih-alih mengajaknya kencan seperti apa yang ia ucapkan pada deandra.
Gabriell pikir sandiwara untuk hari ini cukup sampai disini saja. Tinggal menunggu bagaimana respon deandra.
"Sorry chika aku ada urusan mendadak jadi kita batalkan dulu rencana kita... aku janji lain kali aku akan menggantinya"
Chika mendengus sebal rupanya wanita itu berpikir kalau gabriell benar-benar memberikan lampu hijau untuknya dan tidak sadar kalau ia hanya di manfaatkan oleh gabriell.
"Baiklah kalau begitu aku akan menagih janjimu" ucap chika sambil membuka seat belt.
Chika mencondongkan tubuhnya ke arah gabriell dan tanpa di duga wanita dengan berani mengecup pipi gabriell membuat pria itu membelalakkan matanya.
"Bye el" ucap chika sebelum turun.
Sementara gabriell masih dengan keterkejutannya hanya mampu terdiam.
"Haisshhh... apa-apaan sih si chika pake cium-cium segala kalau deandra tahu gimana? " gerutu gabriell sambil mengambil tisu untuk membersihkan pipi yang di cium chika.
Setelah memastikan tidak ada lagi bekas ciuman chika di pipinya gabriell lekas melajukan mobilnya menuju sebuah cafe dimana renald sudah menunggunya disana.
...----------------...
"Gimana? " tanya renald saat gabriell mendudukan dirinya tepat di samping renald.
Gabriell berdecak sebal karena ia tak yakin rencananya berhasil atau tidak.
"Respon deandra tidak sesuai yang ku harapkan" lesu gabriell.
Renald manggut-manggut mengerti karena memang tadi sebelum berangkat ke cafe renald tak sengaja melewati deandra yang tengah menonton televisi yang menayangkan drama genre romantic comedy yang merupakan kesukaan wanita itu, dan dapat renald lihat dengan jelas jika wanita itu sama sekali tidak terusik dengan kepergiaan gabriell dan chika terbukti dari deandra yang terus tertawa terbahak-bahak sambil memakan cemilan tanpa beban sedikit pun.
"Apa mungkin aku salah" gumam renald yang masih bisa di dengar gabriell.
Gabriell langsung menatap renald.
"Ya maksudku mungkin deandra tidak mencintaimu...... "
"Stop aku yakin deandra mencintaiku dan aku akan membuatnya mengakui perasaannya" kekeh gabriell.
__ADS_1
"terserah kau sajalah el suka suka hatimu lah" batin renald.
"Jadi apa rencanamu sekarang....kau tahu hari ini deandra pergi ke kedai es krim bersama dengan seorang pria" celetuk renald.
Gabriell yang sedang menyeruput kopi miliknya langsung terbatuk mendengar penuturan renald.
"Uhukkk"
"Tau dari mana kau?"
Tatapan tajam langsung gabriell hunuskan pada renald.
"Dari orang-orang suruhanku sesuai perintahmu untuk menjaga deandra dari kejauhan"
Seketika gabriell tertawa membuat renald memicingkan matanya apakah sahabatnya ini sudah benar-benar gila sekarang.
"Itu tidak mungkin ren kau jangan mengada-ngada...lagi pula siapa yang mau mendekati istriku yang judes dan angkuh itu" ucap gabriell dengan tenang seraya meminum kembali kopi miliknya.
Renald memutar bola matanya jengah kemudian menyodorkan ponselnya ke hadapan gabriell.
"Lihatlah"
"Ini tidak bisa di biarkan"
gabriell langsung mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja dan berlalu dari sana tanpa sepatah katapun.
"Woy el lo mau kemana?" teriak renald namun gabriell tidak menggubrisnya.
"Ini siapa yang bayar"
Renald menatap kepergian gabriell dengan nanar niat ingin ngopi gratis malah berakhir dirinya harus membayar pesanan miliknya dan juga gabriell.
Niat hati ingin untung malah buntung.... nasib... nasib.... nasib...
...----------------...
Gabriell melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tangannya memegang kemudi dengan begitu erat sesekali memukulnya dengan kasar berusaha menyalurkan amarah yang kini menguasai dirinya.
Senyum itu.
Senyum yang tak pernah deandra berikan padanya namun kenapa dengan pria itu istrinya bisa tersenyum bahkan tertawa lepas.
__ADS_1
Rasanya begitu tak terima ketika melihat deandra bersama pria lain.
Dasar pria memang egois dirinya bebas bersama wanita lain tapi tidak terima ketika istrinya bersama pria lain.
Gabriell terus mengemudi dengan sesekali umpatan yang terus terdengar keluar dari bibirnya ketika bayang-bayang senyum deandra bersama lelaki itu menari-nari di pikirannya.
Sesampainya di mansion pria itu memarkirkan mobilnya sembarangan kemudian setengah berlari memasuki mansion.
"Deandra! " teriaknya.
pria itu hendak memasuki lift namun lebih dulu mendengar suara tawa sang istri yang berasal dari ruang keluarga membuat pria itu memutar langkah menuju asal suara.
Benar saja deandra kini tengah duduk lesehan di karpet berbulu sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Deandra"
panggilan gabriell membuat deandra yang sedang fokus menonton menoleh ke arah pria itu.
Deandra mengerutkan keningnya menatap sosok gagah yang kini berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang terkepal.
"bukannya dia pergi berkencan lalu kenapa jam segini sudah pulang" batin deandra
Gabriell menghampiri deandra dan menarik pergelangan tangan wanita itu memaksanya untuk berdiri.
"Siapa dia hah?" bentak gabriell.
Deandra hanya meringis sambil menatap bingung gabriell yang terlihat begitu marah.
Tapi kenapa gabriell marah deandra benar-benar tak mengerti.
"Apa maksudmu el....lepas sakit"
deandra berusaha melepaskan cekalan tangan gabriell namun rupanya gabriell yang di selimuti amarah tak memperdulikan ringisan deandra dan malah menatap wanita itu dengan senyum mengejek.
"Apa kau selalu bersikap murahan seperti itu lari dari satu pria ke pria lainnya?" ejek gabriell.
'Plak'
satu tamparan mendarat di pipi pria itu yang berasal dari tangan deandra yang tidak di cekal gabriell.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1