
Saat hendak beranjak, karena sudah terlalu lama menunggu. Sebuah notif pesan dari Rafael meminta untuk menunggunya lima belas menit.
Nadya pun kembali duduk.
Sesuai waktu yang dijanjikan, Rafael datang dan langsung duduk di depan Nadya.
"Sudah pulang?" tanya Rafael.
"Ijin" seru Nadya singkat.
"Apa yang kamu lihat tadi tak seperti yang kamu kira sayang" kata Rafael masih bisa menyebut sayang kepada Nadya setelah apa yang dilakukannya pagi tadi.
"Aku nggak bodoh mas Rafa" tukas Nadya.
"Sudah berapa lama?" tegas Nadya.
Rafael diam.
"Mas..." panggil Nadya kembali.
"Tiga bulan" kata Rafael.
Nadya membuang muka, terlalu bodoh bagi dirinya terlalu mempercayai Rafael selama ini.
"Apa kamu tak mau menanyakan alasanku kenapa melakukan itu?" tanya Rafael.
"Kalau kamu cinta padaku, apa itu perlu alasan?" sela Nadya.
"Alasan macam apapun, tak membenarkan untuk sebuah perselingkuhan. Jika kalian saling suka, nikahi dia mas. Jangan berbuat zina" tegas Nadya.
"Apa kamu mau dipoligami?" ucap Rafael.
"Aku mundur!" seru Nadya meninggalkan tempat itu.
Rafael tertegun sejenak, sedetik kemudian Rafael kejar Nadya.
"Jangan pergi dulu, kamu belum dengar kenapa aku melakukan itu" seru Rafael menahan laju motor Nadya.
"Pengakuan yang kamu berikan sudah cukup bagiku, dan aku tak perlu mendengar alasanmu" tangan kanan Nadya mulai menggerakan laju motor.
Rafael tak bisa menahannya.
Kejutan yang diberikan Rafael terlalu mengagetkan Nadya.
Laju motor entah akan ke mana. Nadya hanya mengikuti arus lalu lintas yang sedang terik-teriknya itu.
Air mata sudah tak bisa ditahannya.
Untuk mengurangi kegundahan hati, Nadya terus saja melajukan motor kesayangannya.
Sungguh tega Rafael melakukan itu pada Nadya.
Apa karena tuntutan Nadya untuk mempunyai anak, membuatnya melakukan semua. Nadya tak habis pikir untuk itu.
Mau pulang ke orang tua, tak mungkin dilakukan Nadya sekarang.
__ADS_1
Nadya teringat bagaimana kekeuhnya dia mempertahankan Rafael di kala kedua orang tuanya tak menyetujui hubungan nya dengan Rafael.
Nadya seakan menutup mata dan hati, saat orang tuanya membeberkan semua kejelekan Rafael.
Bagi Nadya saat itu, jika tak suka ya tak suka aja. Jangan menjelekkan.
Nadya bahkan sempat lari dari rumah untuk mendapatkan restu orang tua.
Yang pada akhirnya membuat kedua orang tuanya menyetujui Nadya menikah dengan Rafael. Nadya yang merupakan putri semata wayang, tentu saja kedua orang tua nya tak ingin kehilangan putri satu-satu nya itu.
Pernikahan impian Nadya pun direalisasikan oleh kedua orang tuanya, yang juga berprofesi guru seperti Nadya saat ini.
Keluarga Rafael tak ada satupun yang memberikan sumbangsih untuk acara itu. Orang tua Nadya tetap diam.
Bahkan selama menjalani biduk rumah tangga, Nadya menerima berapapun nafkah yang diberikan oleh sang suami.
Rafael selalu beralasan, jika uang gajinya untuk bayar cicilan mobil dan memberi ke orang tuanya.
Nadya pun masih dibebani bayar cicilan rumah yang tentu saja lebih besar daripada cicilan mobil.
Nadya rela SK nya diagunkan ke sebuah bank untuk memiliki sebuah rumah impian bagi setiap pasangan muda.
Sisa gaji dan uang pemberian Rafael yang tak seberapa lah yang dijadikan Nadya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Nadya mengusap air mata, saat laju motornya dihadang oleh lampu merah di depannya.
"Menangis ternyata buat haus juga" hibur Nadya pada dirinya sendiri.
Dia belokkan motornya ke sebuah gerai minuman pinggir jalan, untuk memenuhi hasrat hausnya yang ditahannya sedari tadi.
"Hangat atau dingin?" tanya penjual minuman itu.
"Dingin aja" tak menunggu lama Nadya telah mendapatkan pesanan yang diingini.
"Makasih kak" seru Nadya. Dan langsung dia teguk saja minuman yang baru didapatnya itu.
"Uhhhh segarnya" kata Nadya mengomentari minuman yang tinggal separuh itu.
Sepertinya ke mall lumayan untuk ngilangin penat. Jalan-jalan aja kan nggak buat tongpes. Pikir Nadya.
Tongpes alias kantong kempes. Emang sudah aslinya kempes. Batin Nadya menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan nasib yang harus dilewatinya saat ini.
"Ademnya..." ujar Nadya saat memasuki lobi mall.
"Cari toilet dulu ah. Malu juga ngemall masih pake baju seragam gini" Nadya tengak tengok mencari keberadaan toilet. Sementara tas ransel yang selalu setia menemani sudah menyanggong cantik di bahu Nadya. Tas yang berisi baju ganti.
"Nah, gini kan nggak kelihatan kalau aku pulang duluan" gumam Nadya.
Jalan-jalan cuci mata, untuk menghilangkan masalahnya sejenak.
Dengan headset setia menempel di telinga, dan penampilan bak ABG saat ini siapa yang tahu jika Nadya telah bersuami.
Lantai demi lantai Nadya susuri tanpa tujuan. Tak berasa waktu sudah menjelang sore.
Puluhan pesan dari Rafael pun Nadya skip begitu saja.
__ADS_1
Tidak hanya Rafael, nasib pesan yang lain pun sama. Ke skip.
Hingar bingar musik mall juga lewat begitu saja, karena telinga Nadya tertutup head set. Yang kali ini malah mengalunkan 'Sisa Rasa by Mahalini'.
"Nih lagi buat galau saja" ujar Nadya mematikan musik yang ada di smartphone miliknya.
Waktu sudah menunjukkan senja, saat Nadya hendak keluar mall.
"Nadya simpan energi kamu, jangan pikirin hal-hal yang tak guna" hibur hati Nadya.
Baru saja mengatakan itu, Nadya dihadapkan pandangan yang tak ingin dilihatnya.
Anggun bergelayut manja di lengan Rafael suaminya.
"Cobaan apa lagi ini Tuhan?" gumam Nadya yang tertegun di tempat.
Niat hati ingin menghibur diri, tapi malah dihadapkan dengan kenyataan pahit tak berujung.
"Hai Nadya" sapa Anggun tanpa rasa malu. Dengan menahan tangan Rafael yang coba melepas rangkulan Anggun.
Tangan Nadya menggenggam erat, rasanya ingin memberikan bogem mentah ke muka wanita tak tahu malu ini. Tapi Nadya masih mempunyai harga diri untuk melakukan itu.
Nadya mendekat, "Selamat ya, sudah berhasil menggaet suami orang. Julukan apa yang pantas buat kamu? Pelakor atau ******? ****** gratisan?" olok Nadya telak.
"Aku tahu Rafael tak punya uang untuk memberi kamu sesuatu. Jadi gratisan pantas disematkan untuk kamu" bisik Nadya tanpa didengar Rafael.
Nadya melenggang begitu saja meninggalkan mereka berdua, meski air mata kembali lolos begitu saja dari kedua sudut mata nya.
Tak perduli lagi akan Rafael yang berusaha mengejarnya kali ini.
Bahkan saat tangan Rafael menggapai, ditepis begitu saja oleh Nadya.
Hari ini terlalu pahit dirasakan oleh Nadya.
Pengkhianatan dan pengakuan sang suami terlalu membuatnya terkejut.
Kali ini kemana Nadya akan pergi, tentu saja melajukan motornya ke arah rumah yang sertifikatnya saja masih berada di bank.
Setelah membersihkan diri, Nadya merebahkan badannya di atas ranjang. Sendirian.
Hampir lewat tengah malam, matanya belum juga bisa terpejam. Rafael pun juga belum pulang.
Nadya ogah lihat ponsel dan dibiarkan begitu saja tergeletak di atas nakas.
Beberapa kali notif pesan masuk dan dibiarkan begitu saja.
"Orang-orang itu pada nggak capek apa, malam-malam masih suka iseng kirim pesan. Paling juga chat grub yang ramai" gumam Nadya.
Tak tahu jam berapa Rafael datang karena Nadya telah terlelap.
Tahu-tahu saat bangun Rafael telah tidur seranjang dengan Nadya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1