Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Cerita Andrew


__ADS_3

Nadya melajukan mobil menuju rumah.


Keinginan untuk beli serum wajah sesuai niatnya awal diurungkan.


Mood menurun drastis setelah bertemu Anggun tadi.


Ponsel Nadya berulang kali terdengar saat dirinya berada di jalan.


Dan itu bukan Andrew ataupun ayah yang biasa nelponin Nadya.


Beberapa notif pesan pun masuk ke ponsel dan belum Nadya buka sampai dirinya di rumah.


"Sore amat pulangnya" sambut mama.


"Iya Mah, mampir nyariin sesuatu dulu" kata Nadya dan melangkah masuk kamar.


Dia rebahkan tubuhnya di ranjang, dan dibukanya beberapa pesan yang terlewat saat dirinya di jalan tadi.


Salah satunya dari pak Oka.


"Apa benar berita yang aku dapat tadi Bu Nad?" ketik pak Oka.


Nadya hanya membalas dengan emoji senyum tanpa mengetik sesuatu.


Besok pasti berita ini akan menyebar luas. Batin Nadya.


Nadya tentu harus menyiapkan mental lebih dengan statusnya yang sekarang.


Pasti akan banyak berita negatif yang akan terdengar oleh nya.


.


Dan benar adanya, semua sesuai prediksi Nadya.


Bu Aning yang datang lebih pagi daripada Nadya beserta rekan guru yang lain terlihat mencibir.


"Hati-hati lho jeng, jaga suami nya. Sekarang banyak loh pelakor dan janda berkeliaran" sindir bu Aning.


Nadya masih diam.


Kalau sampai bu Aning dengar, bisa jadi informan pertama nya adalah pak Oka.


Pandangan Nadya beralih ke pak Oka yang saat itu juga menatap ke Nadya.


"Pak Oka, jangan sampai pertunangannya gagal loh karena ulah wanita tak bertanggung jawab dan sok kegatelan" bu Aning sengaja mengatakan itu membuat pak Oka tersenyum paksa ke arah bu Aning.


"Nggak akan kok bu. Kita sudah berkomitmen" tanggap pak Oka.


"Nikah aja bisa gagal, apalagi tunangan" sela bu Ambar yang mengajar kelas lima.


"Sudah...Sudah... Pagi-pagi nggibah aja" kata bu Susi sebagai kepala sekolah menengahi.


Nadya beranjak duluan meninggalkan ruang guru untuk menyambut para siswa nya yang baru berdatangan.


Bu Aning dan bu Ambar saling berbisik dan arah pandangan ke Nadya.


Nadya sebagai guru paling yunior, tentu saja dari segi usia dia yang paling muda. Dan dari segi penampilan, tentu saja yang lain kalah modis daripada Nadya.


"Nggak baik loh bu nggosip. Kasih contoh yang baik tuh siswa-siswanya" sela pak Oka agar bu Aning dan bu Susi membubarkan diri.


Dan semakin hari semakin liar saja gosip yang beredar. Sampai ada juga yang menggosipkan Nadya selingkuh dan menggaet laki-laki beristri dengan merayu anaknya.


Hal itu tak sepenuhnya salah, karena akhir-akhir ini Nadya lebih sering bersama Joe.


Andrew yang sedang mengerjakan proyek di kota tempat tinggal Nadya tentu saja wara wiri dan lebih sering berada di sana.


Seperti hari itu, Joe kembali membuat ulah dengan memaksa Dad untuk mengantar ke sekolah Nadya.


Semakin tak dituruti Joe semakin tantrum.


"Oke... Oke... Dad anter. Tapi ingat!!! Nggak boleh gangguin Mom saat ngajar. Dan harus ditemanin sama Sus Rani" jelas Andrew karena tak bisa membujuk Joe agar menunggu Nadya pulang sekolah.


Joe mengangguk karena permintaannya akan dituruti Dad.


"Makasih Dad" Joe kembali ceria.


"Isssshhh modus kamu ada saja Joe" Andrew mengacak rambut Joe yang nyatanya masih pendek itu.


Dan anak kecil itu melihatkan deretan gigi seri yang tertata rapi itu.


"Love you Dad" seru nya.


"Heleh gini aja bilang love you. Coba tadi, saat Dad nggak mau nganterin kamu ke Mom" bilang Andrew.


Andrew saja dibuat heran dengan kedekatan Joe sama Nadya.


Begitu kenal langsung akrab dan seperti kenal sudah lama.


Joe datang saat Nadya tengah istirahat dan langsung menyusul ke ruang guru.


Andrew yang sangat sibuk tak bisa mengantar Joe menemui Nadya.


"Loh, sama siapa?" tanya Nadya yang melihat Joe menyusul ke sekolah untuk kedua kalinya.


"Sama Sus Rani sama pak sopir" jelas anak kecil itu.


"Abis mom lama, jadi aku nyusulin ke sini aja" kata Joe yang meski berusia tiga tahun lebih dikit sudah jelas sekali.


"Mom kan sudah janji, pulang sekolah nyusulin ke hotel" bilang Nadya.


Mendengar kata hotel maka bu Aning pun nyeletuk.


"Sudah sering ke hotel ternyata" kata bu Aning yang sepertinya menyindir Nadya.


Joe menengok ke bu Aning, "Emang nggak boleh ke hotel?" tanya anak kecil itu dengan polos.


"Bu Nadya, dipanggil bu Susi ke ruangannya" kata pak Oka yang barusan masuk.


"Baik pak" Nadya beranjak sambil menggandeng Joe.

__ADS_1


"Sebaiknya anda sendiri saja" imbuh pak Oka.


"Joe bersama Sus Rani bentar ya, Mom menghadap ibu kepala sekolah dulu" kata Nadya memberi penjelasan kepada Joe.


Seakan mengerti jika Nadya akan membicarakan hal yang penting, Joe pun mau tanpa ada drama.


Di ruangan Nadya, ibu kepala sekolah yang terkenal disiplin itu ternyata menegur Nadya dengan adanya berita miring yang selama ini beredar.


"Apa ibu percaya?" tukas Nadya dengan menatap bu Susi.


"Selama ini juga tak ada bantahan dari anda" tanggap bu Susi.


"Untuk apa bu? Apa setiap orang yang menggunjing, musti kita tanggepin?" Nadya menyampaikan argumennya.


Nadya keluar ruangan bu Susi dengan wajah biasa saja. Padahal barusan dia mendapat teguran dari bu Susi agar selalu menjaga nama baik sekolah.


.


Joe menunggu Nadya di mobil selama Nadya mengajar.


Joe pun memaksa ikutan mobil Nadya, sementara Sus Rani bersama sopir yang mengantar balik hotel. Itupun setelah Nadya bilang akan ijin tuan mereka secara langsung.


Nadya melihat jam tangannya, ternyata waktu jam makan siang.


"Joe, makan dulu yuk" ajak Nadya.


"Ayam goreng?" tanya Joe.


"Boleh. Tapi Mom ijin dulu sama Dad ya" kata Nadya memberitahu.


Saat lampu merah, Nadya mencari nomor Andrew dan meloudspeaker panggilan agar tak repot memegang ponsel saat berkendara.


"Halo Dad" sapa Joe mendahului.


"Halo, ada apa sayang?" tanya Andrew di seberang.


"Aku bersama Mom mau makan siang. Encusss sama pak sopir pulang duluan" Joe yang akhirnya minta ijin.


"Oke, makan di mana? Kalau sudah selesai, ntar Dad nyusul dech" tukas Andrew.


Giliran Nadya menjelaskan sebuah resto yang akan mereka berdua tuju.


Nadya membelokkan arah mobil ke basement mall terbesar di kota itu.


Dengan menenteng tas ransel Nadya menggandeng Joe bersamanya.


Dan kini mereka berdua duduk di area food court menunggu pesanan datang.


"Joe senang nggak?" tanya Nadya.


"He..em..." Joe pun mengangguk.


"Hai anakku" seru Anggun dan langsung duduk saja di depan Nadya dan Joe.


Joe bersembunyi di balik punggung Nadya.


Joe takut melihat wanita bermake up tebal itu.


"Hei, jaga omongan kamu. Joe masih kecil, belum saat nya tau problem kamu sama Dad nya" bisik Nadya dengan ketus.


"Ha...ha... Lebih cepat tahu akan lebih baik" tanggap Anggun dengan suara yang tak dipelankan.


"Dan asal lo tau Nadya. Seperti yang pernah aku bilang, jika Andrew adalah sosok laki-laki impot3n. Jika kamu berharap bersamanya, siap-siap saja tak punya anak seperti yang lo inginkan saat bersama Rafael dulu. Makanya Andrew mau saja merawat Joenathan yang aku tinggalin dan nyatanya bukanlah anak biologisnya" kata Anggun dengan sinis.


Nadya tersenyum, "Sudah puas? Apalagi yang ingin kamu ceritakan? Dilanjut saja. Toh aku tak akan mendengarkannya. Joe, mau pindah meja?" tatapan Nadya beralih ke Joe yang tak berani melihat ke arah Anggun yang notabene ibu kandungnya. Meski Joe belum tahu kenyataan yang sebenarnya.


Anggun meninggalkan meja Nadya dengan kaki menghentak. Sebal dengan jawaban Nadya tentunya.


Nadya senyumin aja, karena dirinya tak jadi pindah meja.


Sementara Andrew dari kejauhan sengaja menghentikan langkahnya saat melihat Nadya tengah bersama Anggun dalam satu meja.


Melihat Anggun yang menjauh dengan muka masam, Andrew yakin kalaulah Nadya bisa mengatasi Anggun.


"Hai Boy..." sapa Andrew dan duduk di sebelah kursi yang tadi diduduki oleh Anggun.


"Hai Dad, my name is Joe. Not Boy" tolak Joe.


"Ha...ha... Oke Joe. Dad mengaku salah" Andrew terbahak.


Sementara Nadya menatap lekat ke arah Andrew.


"Ada apa?" telisik Andrew.


"Ntar aja dech. Aku suapin Joe duluan" Nadya meraih piring yang berisi nasi dan ayam goreng pesanan Joe yang barusan datang.


Dengan sangat lahap Joe makan. Karena disuapin Nadya tentunya.


"Sendirian aja?" tanya Nadya.


"Heemmm, yang lain pada makan di lokasi dekat proyek" terang Andrew.


"Hanan, asisten kamu?" tanya Nadya yang juga sudah mengenal asisten Andrew itu.


"Balik ke proyek. Dia cuman nganterin aja aku ke sini. Kuajakin makan sekalian dia nggak mau" imbuh Andrew.


Mereka pulang dengan Andrew nebeng di mobil Nadya.


Karena kenyang dan juga lelah tentunya, Joe tertidur di pangkuan Nadya saat berada di mobil.


"Gimana kalau ke rumah aku aja. Lokasi proyek kamu akan lebih dekat daripada ke hotel" usul Nadya.


"Iya juga sih. Biar nggak repot Sus Rani kutelpon aja ntar biar nyusulin" imbuh Andrew.


"Enggak usah, biar Joe sama aku aja. Dia nggak merepotkan. Yang ada malah ayah sama mama senang sekali" ucap Nadya menimpali.


"Nad, apa tadi kamu bertemu Anggun?" tanya serius Andrew.


"Lo tahu?" Andrew pun mengangguk.

__ADS_1


"Apa dia bilang?" Andrew ingin mengorek sedikit dan melihat tanggapan Nadya seperti apa.


"Kira-kira apa?" tanya balik Nadya.


"Mana aku tahu" ujar Andrew mengedikkan bahunya.


"Anggun bilang kalau lah Joe bukan anak kandungmu. Apa benar itu?" tanya Nadya.


"Aku belum pernah uji DNA sih. Tapi untuk apa seandainya itu aku lalukan? Itu tak akan merubah semua pandangan aku terhadap Joe. Dia tetap menjadi putraku selamanya" seru Andrew bijak.


"Betul apa kata kamu" tanggap Nadya.


"Seandainya Anggun memintanya kembali?" kata Nadya berandai-andai.


"Tak akan kubiarkan itu" sergah Andrew tegas.


Baru saat ini Nadya melihat muka Andrew serius dan sedikit marah.


Nadya memegang lengan Andrew untuk meredam emosi.


"Sudah biarin aja. Kita juga nggak ngerti apa yang akan terjadi esok" terang Nadya.


"Nad, seumpama kita coba hidup bersama bagaimana?" tanya Andrew tiba-tiba.


"Maksud kamu" sela Nadya.


"Yaacch kita menikah saja" tandas Andrew.


"Heeiii.... Ceritanya lo mau ngelamar gue gitu? Ha...ha....nggak romantis banget" Nadya menganggap jika seruan Andrew barusan hanyalah lelucon.


"Ha...ha... Beneran gue serius. Tapi pasti lo sudah mendapat omongan dari Anggun dech. Lo tolak juga nggak papa kok" lanjut Andrew.


"Yeeiiii...menyerah sebelum angkat senjata" olok Anggun.


Mimik muka Andrew berubah serius.


"Boleh aku cerita?" tanya Andrew dengan tetap fokus menyetir mobil Nadya yang typenya tentu sangat berbeda dengan milik Andrew.


"Heemmm... Oke. Aku akan jadi pendengar yang baik" tukas Nadya.


.


Andrew pun mulai bercerita.


Andrew dan Anggun menikah saat mereka telah berpacaran mulai dua tahun lamanya.


Meski warga keturunan, kakek Belanda nenek Jawa. Andrew hanya berasal dari keluarga yang notabene bukan keluarga yang sangat mampu, tapi nenek masih ada keturunan ningrat.


Kedua orang tua Andrew telah meninggal dengan meninggalkan satu putra yaitu Andrew seorang.


Awal-awal pernikahan, seperti pasangan lainnya mereka sangat bahagia. Susah senang ditanggung bersama.


Badai pernikahan mulai muncul saat usia pernikahan menginjak tiga tahun.


Anggun mulai banyak tuntutan. Meski telah bekerja keras gaji Andrew cuman cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Hingga suatu saat Andrew sering tidak pulang sehabis kerja, bilangnya sih lembur.


Memang diakui Andrew, mulai saat itu dia mulai hilang rasa dengan Anggun.


Setiap Andrew pulang dan Anggun ingin mengajak hubungan suami istri, Andrew merasa malas melakukan.


Apa karena itu atau entah sebab lain, Anggun selingkuh di belakang Andrew.


Andrew bukan tak tahu tapi semakin diingatkan maka Anggun semakin brutal.


Hingga akhirnya Anggun dinyatakan hamil.


Meski jarang melakukan hubungan dengan Anggun, Andrew masih bertanggung jawab atas kehamilan Anggun karena status pernikahan mereka yang masih sah di mata hukum.


Hingga puncaknya Anggun meninggalkan rumah kontrakan saat Joenathan masih berumur sebulan.


Saat itu Andrew harus banting tulang pontang panting sana sini untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga beli susu Joenathan.


Tiap malam mata tak pernah bisa terpejam, sambil nungguin Joe tidur Andrew tak lepas dari tab nya. Tentu saja untuk main saham.


Ketekunan Andrew berbuah manis. Tabungan makin lama makin bertambah, hingga akhirnya Andrew memutuskan untuk membuka usaha properti dan juga sekolah internasional.


Tak perlu makan waktu lama, usaha itu telah berkembang pesat.


"Apa Anggun tahu tentang semua keberhasilan kamu saat ini?" sela Nadya.


"Enggak lah. Bodoh kali aku jika sampai Anggun tahu" seru Andrew dengan senyum paksa.


"Beberapa kali dia ketemu sama kamu, apa nggak pernah nanyain si Joe?" tanya Nadya penasaran.


"Ha...ha...menurut kamu?" Andrew membalikkan pertanyaan itu pada Nadya.


"Tadi dia bilang sih waktu di mall, tak akan meminta Joe. Alasannya tak mau direpotkan" jelas Nadya.


"Nah, itu kamu tahu" tandas Andrew.


Sampailah mereka di kediaman Nadya.


Andrew mengambil alih menggendong Joe yang tertidur pulas.


Ayah yang kebetulan berada di depan menghampiri.


"Wah, cucu ayah tidur ya? Nad, bawa ke kamar kamu aja" suruh ayah.


"Kasihan kalau keganggu tidurnya nanti" lanjut ayah.


Nadya dan Andrew saling pandang. Kalau ayah menyuruh begitu, otomatis Andrew masuk kamarnya dong.


"Loh, kok masih diam di situ? Ayo lekas. Kasihan Joe tuch" kembali ayah menyuruh.


"Nad, tunjukin kamarnya. Biar nak Andrew yang menggendong ke sana" kata ayah tanpa beban.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2